
...°°°°°°°°°°°°°°°°°...
...Dahulu kisah kita di awali oleh sebuah drama, dan kini di akhiri dengan karma......
...###...
Tok tok tok
"Rea", Arinta mengetuk pintu kamar putrinya setelah mendapatkan laporan dari salah satu ART nya yang ingin mengantarkan makanan untuk Rea, namun tidak dibukakan pintu oleh cewek tersebut. Dan mbok Narti mengatakan kalau nona muda nya itu sedang menghidupkan musik yang sangat keras di dalam kamarnya. Membuat Arinta penasaran sekaligus khawatir. Sebab Arinta paling mengenal bagaimana sifat putrinya itu. Rea paling anti dengan yang namanya kebisingan dan keributan.
Dan sudah lima menit lebih Arinta berdiri di depan kamar Rea sambil terus mengetuk pintu jati berwarna putih tersebut. Namun sekali pun tak ada sahutan dari dalam. Malahan suara musik semakin terdengar sangat keras dari dalam sana.
"Rea, ini Bunda sayang, buka pintunya dulu boleh?", sekali lagi Arinta mencoba untuk memanggil anak perempuannya itu. Tapi lagi-lagi tetap tidak ada respon sama sekali dari Rea. Pintu itu masih tertutup dengan rapat.
Ada apa dengan Rea. Arinta sudah curiga kalau ada yang bermasalah dengan putrinya itu. Mengingat tingkah Rea yang belakangan ini sering melamun. Namun berulang kali Arinta mencoba bertanya, Rea selalu saja mengatakan jika dirinya baik-baik saja.
Dan Arinta tau, jika Rea sedang berbohong padanya. Karena tidak ada yang lebih bisa mengenali anak-anaknya selain seorang ibu.
Lantas dengan khawatir Arinta berteriak memanggil mbok Narti.
Tak berapa lama kemudian, wanita paruh baya itu datang dengan tergopoh-gopoh.
"Ada apa, Nya?."
"Saya mau kunci duplikat kamar Rea", jawab Arinta cepat yang langsung diangguki oleh mbok Narti. Membuatnya bergegas turun ke bawah.
Selama menunggu mbok Narti mengambilkan kunci duplikat tersebut. Arinta berusaha sekali lagi untuk memanggil Rea. Mana tau cewek itu tiba-tiba bersedia membuka pintunya.
Tok tok tok
"Sayang, jangan buat Bunda khawatir. Buka nak pintunya, kamu ada masalah apa?, ayo kita selesaikan sama-sama. Jangan kayak gini sayang, Bunda takut", ujar Arinta dengan suara yang bergetar. Ia takut Rea melakukan hal yang tidak-tidak di dalam sana. Sebab selama ini Rea tak pernah berperilaku begini. Sekali saja tidak mengangkat panggilan dari Arinta, maka anaknya itu akan meminta maaf berulang kali.
Tapi sekarang, Rea sama sekali tidak menyahutnya.
"Rea..."
"Ini, Nya kunci nya."
Arinta kontan menoleh saat mendengar suara mbok Narti. Lalu dengan cepat Arinta mengambil kunci tersebut dari tangan mbok Narti. Membuka pintu kamar itu dengan tak sabaran.
Jika saja terjadi sesuatu dengan Rea, apa yang harus dilakukan oleh Arinta. Itu putri satu-satunya. Berlian berharga tunggal dari Allandra. Bidadari yang akan mengantarkan nya ke surga kelak.
Ceklek
Arinta menahan nafasnya saat melihat kondisi kamar Rea yang dalam keadaan gelap gulita. Pikiran buruk langsung menghinggapi kepalanya. Membuat Arinta dengan gemetar menekan saklar lampu. Arinta takut jika saat lampu menyala ia malah mendapatkan tubuh putrinya yang sudah tergeletak tak bernyawa.
Namun Arinta langsung menggeleng. Menepis pikiran kotor tersebut.
Saat lampu sudah menyala, Arinta sama sekali tidak mendapati Rea di dalam kamar. Ruangan bernuansa monokrom tersebut terlihat rapi, seperti tidak tersentuh sama sekali.
Namun saat matanya tak sengaja menoleh ke arah balkon kamar. Ia membelalakkan matanya ketika melihat Rea yang berdiri menatapnya dengan pandangan yang kosong. Seperti sebuah penampakan horor.
"Rea!", Arinta refleks berteriak sambil berjalan menuju balkon. Ketakutannya semakin kuat saat mengetahui kalau pintu kaca itu juga terkunci dari luar. Ditambah dengan Rea yang terlihat berjalan mundur.
"Buka pintunya, sayang!", Arinta menggedor pintu balkon itu dengan air mata yang perlahan turun. Tubuhnya gemetar ketakutan saat melihat Rea yang hanya menatapnya seperti mayat hidup.
"Ayo, buka pintunya sayang", Arinta mencoba bernegosiasi seraya menganggukkan kepalanya. Berusaha meyakinkan Rea kalau semuanya akan baik-baik saja.
__ADS_1
Tapi Rea malah menggelengkan kepalanya, sambil terus berjalan mundur.
Merasa putus asa pun Arinta kontan berteriak memanggil putranya yang ada dilantai bawah, "Argan!."
"Argan!, kemari!."
Argan yang sedang bermain game pun merasa terusik dengan teriakan Bunda nya. Tak ingin dipanggil anak durhaka, cowok itu pun lantas berjalan menaiki anak tangga. Menghampiri Bunda nya yang ada di kamar Rea.
"Kenapa sih, Bun?", tanya Argan sedikit kesal karena waktunya bermain sudah diganggu.
Arinta menoleh kebelakang, "Adik kamu Ar. Rea", ujarnya dengan menunjuk-nunjuk Rea yang berada di luar.
Argan mengikuti arah telunjuk Bunda nya. Dan kaget saat melihat kembaran perempuannya berada di luar balkon.
"Anjir, kaget. Gue kira Miss K mana tadi yang nyasar", celetuk Argan sambil memegang dadanya.
"Woi, anak bos Reagan, kenapa lo disitu?, nyari apaan?, coba uji nyali lo?. Kagak usah disitu, coba pergi diskotik diam-diam, terus pulang dalam keadaan mabuk. Beuh, langsung silaturahmi sama malaikat Izrail lo", cerocos Argan asal yang membuat Arinta melemparkan sandal rumahnya kearah putranya itu. Membuat kening Argan yang mulus menjadi landasan dari sendal berbulu tersebut.
"Argan!, cariin Bunda kunci pintu balkon ini sekarang juga", bentak Arinta gemas melihat Argan yang seperti orang bodoh.
"Buat apa?", tanya Argan dengan tampang sok polosnya.
"Rea, dia ngunci diri dari luar, Ar. Cepetan Argan, adik kamu", Arinta menatap Rea yang masih berdiri di tempatnya dengan ekspresi yang sangat datar. Tuhan, ada apa dengan putrinya itu.
Belum sempat Argan melangkah, sebuah suara berat yang familiar itu menginterupsinya.
"Kenapa ribut-ribut?. Bunda sama Rea kenapa?", tanya Reagan yang baru saja pulang dari kantor. Ayah dua orang anak itu langsung bergegas naik kelantai dua saat mendengar suara bising-bising dari dalam kamar putrinya.
Arinta membalikkan badannya dan sontak berlari menghampiri suaminya yang masih terbalut jas kerja.
"Rea, Papi Rea. Dia ngunci diri dari luar", racau Arinta sambil menunjuk putrinya.
"Kamu kenapa sayang?, ayo sini sama Papi", Reagan mencoba berjalan dengan pelan menghampiri Rea yang menggelengkan kepalanya.
Arinta turut ikut menghampiri Rea, "Kamu ada masalah apa sayang?, kamu buat Bunda takut."
"Ja-jangan bunuh anak Rea, Bunda."
Deg
Sepasang suami istri itu kontan berhenti dengan tubuh yang mematung. Menatap tak percaya Rea yang berdiri dihadapannya. Apa maksud dari ucapan putrinya tersebut. Anak apa?, siapa yang ingin membunuh seorang anak?.
"A-apa maksud kamu sayang?", tanya Arinta dengan berusaha membuang segala spekulasi-spekulasi yang muncul karena ucapan Rea tadi.
"Jangan bunuh anak saya. Saya mohon", cewek itu memohon pilu dengan tangan yang menangkup di dada.
"Anak siapa?, apa maksud kamu?", Reagan bertanya kemudian.
"Disini", Rea menyentuh perutnya, "Disini ada anak Rea, Papi. Biarin dia hidup, biarin dia lihat wajah saya", tambahnya seraya menatap kedua orang tuanya dengan air mata yang keluar setitik demi setitik dari sudut matanya.
Arinta refleks membekap mulutnya setelah mendengar penuturan Rea. Reagan serta Argan yang langsung membelalakkan matanya tak percaya. Siapa cowok berengsek yang berani menodai berlian mereka.
"Enggak akan ada yang bunuh anak kamu. Kemari sayang, jangan berdiri disitu nanti kamu jatuh", Reagan mencoba untuk membujuk Rea agar menghampirinya. Sebenarnya sudah banyak sekali pertanyaan-pertanyaan di dalam benaknya. Namun sekarang, keselamatan putrinya adalah yang nomor satu.
Rea menggeleng, "Janji enggak akan bunuh anak saya?. Kasihan dia, dia enggak salah."
"Jangan rebut dia dari saya."
__ADS_1
Arinta tak bisa berkata apa-apa. Air mata terus luruh saat melihat kerapuhan yang ada pada putrinya. Seolah mengingatkannya kembali pada masa-masa kelam dalam hidupnya.
Bahkan untuk menarik nafas saja ia merasa takut.
Bedanya dulu Arinta sangat tidak menginginkan anak tersebut. Tapi kini, keadaan berbalik seratus delapan puluh derajat. Rea sangat menginginkan anaknya, melindunginya dengan segenap jiwa raga.
Arinta bisa melihat ketulusan dalam mata Rea saat putrinya itu menyentuh langsung anaknya. Padahal anak itu belum lahir, tapi sifat keibuan Rea sudah terlihat jelas.
Tuhan, apakah ini karma dari dosanya tujuh belas tahun silam.
...###...
Arinta menjatuhkan tubuhnya ke atas sofa ruang keluarga. Menatap kosong televisi yang berada dihadapannya. Dari dulu Arinta tak pernah percaya dengan yang namanya karma. Sebab bagi Arinta, segala yang ada di dunia ini sudah direncanakan oleh Tuhan dengan sangat baik. Tangis dan tawa, semuanya sudah diatur begitu apik.
Tapi sekarang, setelah melihat dan mendengar apa yang sudah terjadi pada putrinya. Membuat Arinta percaya kalau karma itu benar adanya. Dan apa yang sudah menimpa Rea, adalah karmanya dan Reagan.
"Bun."
Arinta menoleh dan melihat Argan yang berdiri di sampingnya.
"Gimana Rea?", lirih Arinta dengan senyuman sendunya.
"Udah tidur", jawab Argan. Lalu cowok itu merebahkan kepalanya keatas paha sang Bunda. Ia benar-benar tak menyangka jika adik kesayangannya bisa mendapatkan musibah seperti itu. Membuatnya merasa tak becus melindungi Rea sebagai seorang Kakak.
Arinta memang memilih keluar dari dalam kamar dan membiarkan Rea menangis dalam dekapan Reagan. Sebagai seorang ibu, ia tak mampu menatap putrinya begitu rapuh. Menangis sesenggukan sambil terus berkata jangan membunuh anaknya.
Rea tak berkata apa-apa. Cewek itu hanya mengatakan jika saat ini ia memang sedang hamil. Jujur, sebenarnya Arinta sudah memiliki firasat yang buruk setelah melihat Rea yang mual-mual karena mencium bau nasi. Dan putrinya itu yang tak memakan apapun selama seharian ini.
"Jangan pernah nodain cewek, Ar", ujar Arinta pelan. Ia harus mengingatkan putranya itu sebelum terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Sebab Arinta tak ingin karma ini terus berlanjut.
"Setiap kamu melihat perempuan, selalu bayangkan jika itu adalah Bunda dan Rea. Jadi ketika kamu ingin melukainya, kamu akan mengingat kalau kamu juga akan melukai Bunda dan Rea. Perempuan itu tergantung pada laki-lakinya. Jika ia jatuh ke tangan yang lembut, maka ia akan menjadi sosok yang lembut dan baik. Namun jika ia jatuh pada tangan yang kasar, maka ia juga akan menjadi seorang yang kasar dan egois. Hormati perempuan kamu, seperti kamu menghormati Bunda. Jangan lukai dia kalau kamu enggak mau adik kamu dilukai sama laki-laki lain di luaran sana", tambahnya dengan panjang kali lebar.
"Pasti Bun. Tapi entah apa yang Argan lakuin sampai Rea bisa dapat masalah kayak gitu", sahut Argan sambil memejamkan matanya. Membuat Arinta mengelus rambut putranya. Tak pernah Arinta melihat Argan se-serius itu dalam hidupnya.
"Tidur kamar sana."
Argan membuka matanya dan menatap Reagan yang berdiri menjulang tinggi didepannya.
"Rea, gimana Pi?", Argan refleks berdiri dan menatap Papi nya itu dengan khawatir.
"Udah tidur", balas Reagan.
Argan menganggukkan kepalanya. Kemudian cowok itu berjalan dengan lesu ke arah kamarnya yang ada di lantai dua. Tepat di sebelah kamar Rea.
Setelah memastikan jika putranya itu benar-benar masuk ke dalam kamarnya. Reagan duduk disamping Arinta yang terlihat menunduk.
Lalu Reagan merangkul bahu istrinya. Membuat Arinta langsung membenamkan wajahnya di dada bidang Reagan seraya menangis.
"Maafin aku", ujar Reagan sembari mengelus punggung Arinta, "Ini karma aku karena udah melecehkan kamu waktu itu."
"Tapi kenapa harus anak kita?, kenapa harus dia?, kasihan Rea", sahut Arinta.
"Maaf", Reagan menyesal karena sudah mengikuti perkataan Rea beberapa bulan yang lalu. Saat putrinya itu meminta agar Reagan tidak lagi mengirimkan bodyguardnya untuk melindungi Rea. Padahal Reagan sudah menyuruh orang-orangnya untuk mengawasi secara diam-diam. Namun putrinya yang kelewatan pintar itu mengetahuinya dan sedikit memarahi Reagan. Dari situlah Reagan tidak lagi mengirimkan mata-matanya untuk mengawasi Rea.
Namun dengan satu syarat, kalau Rea harus mau diantar dan dijemput oleh Argan. Bagi Reagan, Rea masih terlalu kecil untuk hidup mandiri.
Jika saja Reagan menolak Rea pada waktu itu. Maka hari ini tidak akan terjadi. Dan membuat masa lalu itu terulang kembali.
__ADS_1
...~Rilansun🖤....