
...°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°...
...Disaat berada di titik terendah dalam hidup, ingat lah selalu jika akan ada tawa setelah air mata.......
...###...
"Astaghfirullah", Rea menghela nafas panjang setelah melangkah keluar dari ruang kepala sekolah. Cewek itu menyandarkan tubuhnya ke dinding samping pintu kaca tersebut. Memejamkan matanya erat, sampai matanya terasa sakit. Lalu Rea membuka matanya dan menatap nanar selembar surat yang ada dalam pegangannya. Surat yang tak pernah Rea bayangkan akan ada dalam sejarah hidupnya.
Dengan gerakan lemah Rea mendekatkan surat tersebut ke depan wajahnya. Dan membaca isi yang tertera di dalam, "Dengan surat ini kami menjatuhkan hukuman tingkat berat kepada anak didik kami tersebut berdasarkan keputusan dari seluruh komite sekolah. Mencabut hak dan kewajiban dari Rearin Kalyca Allandra selaku siswa di SMA Angkasa", Rea memejamkan matanya, tak sanggup melanjutkan isi surat tersebut. Hatinya seperti diremas oleh ribuan tangan tak kasat mata. Membuat dadanya terasa sakit dan sesak. Semangat yang telah berusaha dibangunnya sudah raib semua. Habis tak bersisa. Bahkan tidak meninggalkan puing apapun.
"Maafin saya yang menjadi aib keluarga ini", gumamnya lirih kala mengingat senyuman Arinta saat ia membahas cita-citanya. Dan semangat Reagan ketika mengajarinya. Semuanya tiba-tiba seperti kaca yang retak. Terbagi menjadi beberapa potongan kecil yang sangat menyakitkan. Hancur berderai-derai.
Kesuciannya, pendidikannya, kariernya, dan hidupnya sudah hancur berantakan. Semuanya tak lagi berada dalam genggaman.
Padahal sudah susah payah Rea belajar agar nilainya memuaskan dan bisa masuk ke SMA Angkasa. Sekolah impiannya dari ia kelas lima SD. Tapi sayang, kejadian satu malam sudah menghancurkan segalanya. Membuat usahanya sia-sia dan tak bermakna.
Piala dan piagam penghargaan nya yang segudang pun tak dapat menolong. Satu yang pasti, mulai hari esok ia bukan lagi peserta didik di Angkasa. Dirinya di drop out sebelum dapat merasakan hari kelulusan. Bahkan ia belum duduk di bangku akhir masa sekolahnya.
"Bunda, maaf saya belum bisa jadi dokter. Saya belum bisa ngobatin Bunda dan Papi di hari tua. Saya gagal, hidup saya udah hancur. Putri yang membanggakan ini sekarang menjadi putri yang sangat memalukan. Menamparkan kotoran kepada wajah orang tuanya", air mata Rea jatuh saat mengucapkan kalimat terakhirnya. Ia tak sanggup membayangkan bagaimana Reagan dan Arinta di caci nantinya. Kepala yang dulunya selalu terangkat dengan hormat, suatu hari nanti akan tertunduk malu. Dan itu karena dirinya. Sang aib keluarga.
Rea menghapus air matanya. Mencoba selalu menyakinkan dalam dirinya kalau ini semua adalah kehendak Tuhan. Alur yang telah diciptakan semesta untuknya. Dan menyerahkan seluruh hidupnya kepada sang pencipta.
Lalu dengan langkah yang lunglai. Rea mengayunkan kakinya. Berjalan menyusuri koridor yang ramai. Namun terasa sepi bagi Rea. Seperti hanya ada dirinya dan beban hidupnya. Benar-benar menyedihkan.
...###...
"Senang bekerja sama dengan anda."
Kedua laki-laki bersetelan jas mahal dan rapi itu berjabat tangan dengan ramah. Sebagai tanda persetujuan dari kedua belah pihak.
__ADS_1
"Saya duluan."
Levi mengangguk tanpa ekspresi yang terlihat. Mempersilahkan relasi bisnisnya itu untuk berlalu pergi.
Ini adalah hukuman dari Papa nya, karena Levi tidak mendapatkan kelulusannya pada tahun ini.
"Huft", Levi menghela nafas pendek. Sudah tiga hari ini ia tidak melihat mawar nya secara langsung. Ada kerinduan yang tak dapat diartikan.
Lalu saat cowok itu ingin melangkahkan kakinya keluar dari kafe tempat pertemuannya dengan kliennya tersebut. Getaran dari dalam sakunya menghentikan langkahnya. Levi lantas merogoh ponselnya dan melihat siapa gerangan yang menelponnya.
Romi.
Melihat nama tersebut Levi langsung mendekatkan ponselnya ke telinga. Jika Romi yang menelponnya, sudah pasti itu bersangkutan dengan Rea.
"Apaan?", tanya Levi saat sambungan sudah terhubung. Kemudian Levi melanjutkan langkahnya dengan tangan kanan yang memegang tas laptopnya dan yang satunya menopang ponsel di telinga.
"Urgent, bos, urgent."
"Kenapa?", tanya Levi dengan sedikit khawatir. Entah mengapa hatinya tiba-tiba merasa tidak enak. Ada gundah gelisah yang sulit untuk diungkapkan oleh kata-kata.
"Calon ibu bos, dia-"
"Kenapa?", tanpa sadar Levi membentak Romi karena cowok itu yang berujar sambil terbata-bata. Membuang-buang waktunya dan terlalu bertele-tele.
"Dia adu jotos dengan Celine tadi, dan sekarang-"
Belum sempat Romi bisa menyelesaikan ucapannya. Levi lebih dulu mematikan sepihak sambungan tersebut. Lalu cowok itu berlari dengan cepat ke arah mobilnya yang terparkir. Membuka tak sabar pintu mobilnya dan membuang asal tas laptopnya ke jok belakang. Tak peduli jika benda itu terjatuh atau apa. Yang ada di benaknya kini hanya Rea. Mawar nya yang harum dan indah.
Sedetik kemudian Lexus hitam itu membelah jalanan yang padat. Melesat dengan cepat, seperti sekelebat bayangan yang lalu.
__ADS_1
"Sampai dia kenapa-napa, lo habis Celine", gumam Levi dengan pandangan tajam yang menyorot jalanan di hadapannya. Itu adalah sumpahnya, jika saja Rea sampai terluka atau semacamnya. Maka Levi tidak akan lagi memandang Celine sebagai teman kecilnya dan seorang perempuan. Ia akan memperlakukan cewek itu sama dengan orang-orang yang meminta kematian kepadanya.
Dua puluh menit waktu perjalanan, akhirnya Levi sampai ke sekolahnya. Cowok itu mematikan mesin mobilnya di pelataran parkir sekolah. Bahkan rodanya belum benar-benar berhenti, tapi Levi sudah melompat keluar dari dalam mobil. Membuat king of devil itu menjadi pusat perhatian.
Levi berlari dengan sangat cepat. Namun kakinya mendadak berhenti saat melihat seorang cewek yang berjalan di depan sana. Seperti tak berdaya dan tak memiliki semangat hidup.
"Rea", panggil Levi dengan pelan saat cewek itu berada dua meter di depannya.
Saat wajah ayu Rea terangkat dan netra hitam itu memandangnya dengan sayu. Ingin rasanya Levi langsung menarik Rea ke dalam pelukannya. Menenangkan cewek itu dalam kelembutan yang ia berikan.
Sungguh, tatapan kosong yang sarat penuh dengan luka itu seolah menampar keras pipinya. Seperti ada beribu telunjuk yang terarah kepadanya. Menunjuk dirinya sebagai kriminal.
Ya, Levi akui ia egois dan bertindak semaunya. Tak memikirkan perasaan dari gadisnya. Tapi semua itu, Levi lakukan agar Rea tidak diambil oleh orang lain. Jujur, dari hati yang terdalam Levi takut jika ia akan benar-benar kehilangan Rearin nya.
Jika orang lain menganggap kalau cinta Levi ini semata hanya lah obsesi. Maka anggaplah begitu. Karena rasa ini memang tidak pernah hilang untuk Rea. Selalu satu nama yang menghiasi dan mengisi relung hatinya.
Rea langsung memalingkan wajahnya saat melihat orang yang paling tidak ingin ia temukan di muka bumi ini berdiri di hadapannya. Mengapa cowok itu datang dengan pakaian seperti itu. Apa Levi ingin menunjukkan kalau cowok itu adalah makhluk yang paling sempurna. Tidak hanya di bidang akademis, tapi juga pintar dalam mengurus perusahaan di usia yang begitu muda.
Jika benar, maka Rea tidak tertarik sama sekali untuk mengaguminya.
Lalu tanpa membuang waktu, Rea meneruskan jalannya. Tak menghiraukan Levi dan orang-orang sekitar yang menatap ke arah mereka.
Namun saat Rea melewati Levi. Tangan besar itu menariknya. Dan memenjarakan tubuhnya dalam pelukan yang hangat tersebut. Seolah tak mempedulikan dunia sekitar, Levi memeluknya dengan sangat erat. Membuat Rea yang lemah itu tak sanggup lagi untuk memberontak. Dan Rea bisa rasakan jika cowok itu menyamakan wajahnya pada wajah Rea.
Lalu berbisik, "Maaf", di telinga Rea.
Cup
Sebuah kecupan ringan Rea rasakan di pipi kanannya. Membuat sebagian orang yang melihat memekik heboh.
__ADS_1
Bertambah sudah spekulasi orang-orang terhadap Rea.
...~Rilansun🖤....