
...°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°...
...Kamu yang sakit, tapi aku yang enggak berdaya......
...###...
...Terjemahan ada paling bawah!...
"Sayang, kamu jangan deket-deket."
Rea menumpukan dagunya di atas dada bidang Levi yang terbalut piyama tidur. Menatap suaminya yang sedang memejamkan matanya dengan nafas yang tak beraturan.
"Kenapa?, kamu gak mau aku peluk?", tanya Rea dengan suara yang bergetar dan mata yang berkaca-kaca. Membuat Levi menghela nafas panjang lalu membuka matanya yang terlihat sayu.
"Bukan gitu, entar sakitnya pindah ke kamu. Kasihan anak kita dong", Levi mengelus surai panjang Rea mencoba untuk memberi pengertian kepada istrinya yang sangat sensitif tersebut.
"Tapi aku maunya peluk kamu", kukuh Rea dan kembali membaringkan wajahnya di atas dada bidang suaminya. Memeluk Levi dari samping, walau agak sedikit sulit karena terhalangi oleh perutnya yang buncit.
Levi refleks memijit pelipisnya yang terasa berdenyut. Ini siapa yang sakit, siapa yang rewel.
Levi hanya tak ingin Rea sakit di masa kehamilannya seperti ini. Karena Levi tak kan sanggup bila melihatnya. Tadi Levi bahkan sempat ingin mengisolasikan dirinya ke kamar yang ada di lantai atas.
Namun Rea dengan segala didikan yang berasal dari sinetron dan drama yang ditontonnya. Malah menangis kencang dan mengatakan kalau Levi sudah tak lagi cinta kepadanya.
Obat sakit kepala yang diminumnya saja bahkan tak mampu meredakan kepalanya yang seakan ingin pecah.
"Makanya kamu tuh pas aku bilangin makan ya makan. Jangan pacaran sama kertas dan laptop kamu terus. Enggak bosen apa lihat huruf-huruf kayak gitu. Kalau udah jatuh sakit gini gimana?, kamu sendiri juga kan yang repot. Sehat itu mahal Levi, selama Tuhan kasih kita badan dan jiwa yang sehat. Seharusnya dijaga dan bersyukur", omel Rea persis seperti seorang ibu yang tengah memarahi anaknya yang enggak bisa dibilang.
Bandel banget emang si Levi, ngalahin bocah SD.
"Iya-iya", sahut Levi sekenanya dengan mata yang terpejam.
Rea mendengus dan bangkit dari baringan nya. Menarik gel penurun demam yang lengket di kening Levi. Bahkan benda itu pun sudah terlihat mengering.
Mengambil termometer dan mengecek suhu tubuh Levi untuk kesekian kalinya.
Mulut Rea mendesah pelan saat melihat angka 39 pada termometer. Cuma turun satu angka dari 40 derajat celcius.
Dengan telaten Rea memeras kain kompres yang ada di atas nakas samping tempat tidur. Membuka kancing piyama yang Levi kenakan. Dan mengelap tubuh kekarnya yang terasa sangat panas.
Setelah itu, Rea melekatkan kembali gel penurun demam yang baru pada kening Levi.
"Cepat sembuh, my dear", ujar Rea sembari mengelus surai hitam Levi.
"Aku ke dapur dulu ya, ambil minum sama ganti air kompresan", tambah Rea kemudian.
Levi hanya menggumam tak jelas sebagai respon.
Rea turun dari ranjang dan keluar dari dalam kamar dengan membawa baskom berukuran kecil.
Beberapa menit setelahnya, Rea kembali ke dalam kamar. Dan hal yang pertama dilihatnya adalah selimut yang sudah jatuh ke atas lantai.
Lantas Rea berjalan dengan cepat meletakkan baskom yang dibawanya ke atas nakas. Menghampiri Levi yang terlihat gelisah di atas kasur. Bahkan seprei nya sudah tidak berbentuk.
Ada apa dengan suaminya itu?.
__ADS_1
"Levi?, sayang", Rea menepuk pipi Levi pelan dengan kekhawatiran yang terukir jelas di raut wajahnya.
"Ma, Mama", racau Levi dengan tubuh yang mengulet sana-sini.
"Levi...", cicit Rea pelan. Rea mendadak merasa takut ketika melihat sudut mata Levi yang berair. Bahkan suhu tubuhnya terasa lebih panas dari sebelumnya. Kulit Rea terasa terbakar saat menyentuhnya.
Bagaimana sekarang, apa yang harus Rea lakukan.
Bik Mirna. Ya, Rea harus memanggil wanita paruh baya tersebut. Setidaknya Bik Mirna dapat membantunya mengatasi Levi yang tengah kacau seperti ini. Rea juga tak ingin mengambil resiko kalau-kalau saja Levi tanpa sengaja menendang atau memukul perutnya.
"Gitme, Levi'yi yalnız bırakma",¹ Rea yang hendak melangkah pergi keluar kamar pun ter-urung ketika Levi tanpa sadar menarik tangannya.
Rea mengernyitkan keningnya saat mendengar logat serta bahasa yang asing di telinganya terlontar dari mulut Levi. Sepertinya itu bahasa dari kampung halaman ibu mertuanya.
"Levi iyi bir çocuk olacağına söz verir ama annem Levi Yi terk etmeyeceğine söz verir",² kalau sudah begini, Rea ingin menangis rasanya, karena ia tidak paham dengan apa yang diucapkan oleh suaminya.
Mengapa Rea selalu lupa untuk mempelajari bahasa Turki. Payah memang kalau memiliki pasangan blasteran seperti ini. Karena selain bahasa Indonesia, tentu saja dia bisa bahasa asing dari salah satu orang tuanya.
"MAMA...", Levi berteriak kencang yang membuat Rea tersentak kaget.
"Le-levi, kamu kenapa?", tanya Rea gagap pada Levi yang masih setia memejamkan matanya.
"Cukup Papa aja yang pergi", lirih Levi kemudian yang membuat Rea refleks menutup mulutnya dengan kedua tangan.
Merasa paham mengapa Levi bersikap seperti itu pun, Rea langsung memeluk tubuh Levi yang mulai berhenti meronta. Walau mulutnya masih terus meracau dengan bahasa yang membuat telinga Rea keram.
"Ja-jangan kayak gini, kamu buat aku takut", Rea mendengarkan detak jantung Levi yang berdetak kencang. Sebagian wajahnya terasa terbakar karena bersandar di dada bidang Levi. Padahal sudah tertutupi piyama tidur, tapi hawa panasnya seakan menguap kemana-mana.
"Jangan nangis Daddy", Rea menghapus cairan bening yang turun mengalir di sudut mata Levi yang masih terpejam. Mengecup kedua kelopak mata yang seperti diberi bara api. Sangat panas.
"Mbak."
"Tadi Bibik dengar suara teriakan", ucap Bik Mirna setelah berdiri disamping Rea yang setengah menundukkan tubuhnya.
"Levi Bik", ujar Rea lemah dan kembali menegakkan badannya setelah menyelimuti Levi yang sudah tenang dan terlelap.
"Belum turun mbak panasnya?", Bik Mirna menatap prihatin pada majikannya yang terkulai lemas.
"Belum Bik", sahut Rea lesu, "Kayaknya dia rindu Mama."
"Baru ketemu padahal dua Minggu yang lalu."
Rea mengangguk, membenarkan apa yang diucapkan oleh Bik Mirna. Pada awal bulan kemarin, Ayla memang sempat pulang, bahkan mertuanya itu juga ikut merayakan acara tujuh bulanannya. Namun pada pertengahan bulan, Ayla harus kembali ke Amerika untuk melakukan pengobatan rutinnya.
Dari Levi pada beberapa hari yang lalu, Rea baru tau kalau ibu mertuanya itu tengah mengidap suatu penyakit yang mematikan. Penyakit yang di diagnosis tidak bisa disembuhkan. Lupus, lebih tepatnya drug-induced lupus. Dan tentu saja penyakit itu tidak jauh-jauh dari David.
"Bahaya nya rindu ya ini, bisa buat sakit", tambah Bik Mirna membuyarkan lamunan Rea pada ibu mertuanya.
"Mbak cepat tidur gih, udah malam, si mas juga udah nyenyak kayaknya itu. Kalau ada apa-apa, panggil Bibik ya mbak", Bik Mirna mengusap bahu Rea.
Rea mengangguk, "Makasih Bik."
Bik Mirna tersenyum lalu berlenggang pergi dari dalam kamar majikannya tersebut.
Rea mengitari ranjangnya dan mendudukkan tubuhnya di sisi yang kosong. Menatap lamat wajah tampan suaminya yang terlihat damai dalam tidurnya. Walau terkadang dihiasi dengan kerutan halus di keningnya. Entah apa yang sedang dipikirkan Levi di alam bawah sadarnya.
__ADS_1
Ruangan hampa tak bersuara itu menghadirkan getaran hening yang sangat kuat. Hanya suara tik, tik, tik, dari benda bulat yang melingkar di dinding yang terdengar. Cukup nyaring di indra pendengarannya.
Hingga tanpa sadar, jarum jam sudah menunjukkan pukul dua dini hari. Dan hebatnya, mata Rea masih juga belum kunjung terpejam.
Kantuknya hilang ketika setiap setengah jam sekali melihat Levi kembali meracau dengan terus menyebutkan 'Mama jangan pergi'. Takut bila Levi kembali meronta-ronta, Rea dengan setia mengambil kedua tangan suaminya dan menggenggamnya erat. Meletakkan tangan itu ke dadanya agar tetap hangat.
"Kamu jangan sakit-sakit, aku sama anak kita gak sanggup lihatnya", ujar Rea pelan dan mencium punggung tangan Levi.
"Neden?, neden ikiniz beni terk etmek zorundasınız."³
Rea memejamkan matanya saat bahasa planet itu kembali terucap. Mengapa Levi tidak meracau pakai bahasa Indonesia aja sih. Jadikan Rea mudah memahaminya.
"Tidur yang nyenyak, biar cepat sehat", Rea menggerakkan telunjuknya pada kening Levi yang berkerut. Memijit pelan pelipisnya serta kepalanya.
"Rea..."
Rea yang sedang mengompres kain dalam baskom berisi air pun tersentak ketika mendengar suara berat namun lemah itu memanggil namanya. Dengan cepat Rea menoleh dan mendapati Levi yang mencoba untuk bangkit duduk.
"Kenapa?, kamu mau apa?", tanya Rea tak sabaran.
Bukannya menjawab Levi malah balik bertanya, "Kenapa belum tidur?, hem?."
"Kamu kayak gini, mana bisa aku tidur", sahut Rea.
"Aku enggak apa-apa, kamu tidur aja, udah larut banget, enggak baik untuk anak kita."
"Dia enggak mau tidur kalau enggak di peluk Daddy nya."
Levi tersenyum lemah, mengelus surai panjang Rea. Sebenarnya Levi ingin sekali mengusap perut Rea. Namun ia takut kalau anaknya bakal merasa tak nyaman dengan telapak tangannya yang panas.
Segitu sayangnya si calon Daddy.
"Aku mau ke kamar mandi, kamu tidur gih."
"Tapi-"
"Kalau aku balik dan kamu belum tidur. Aku bakal aduin ke Bunda. Biar kena omel sama Bunda", ancam Levi yang langsung membuat Rea cemberut.
"Seneng banget istrinya kena omel", gerutu Rea pelan.
Levi terkekeh pelan, "Demi kamu sayang", sahutnya sebelum beranjak ke dalam kamar mandi. Dengan mata Rea yang terus mengamatinya. Kaki yang biasanya berjalan tegak berwibawa. Kini tampak lesu dan sedikit tertatih.
Sedih Rea tuh lihatnya.
Tiga menit Levi di dalam kamar mandi. Rea melihat layar ponsel Levi yang menyala dengan nada dering spesial yang memang sudah diatur oleh suaminya itu.
Dengan gerakan cepat Rea langsung mengambil benda persegi panjang itu. Jantungnya mendadak berdegup kencang. Jarinya gemetar ketika akan menarik panel hijau itu ke atas.
"Halo?."
...~Rilansun🖤....
1 (Jangan pergi, jangan tinggalin Levi sendirian.)
**2 (Levi janji untuk jadi anak yang baik, tapi Mama janji jangan ninggalin Levi.)
__ADS_1
3 (Kenapa?, kenapa kalian berdua tega meninggalkan aku?.)
... Sedih aku tuh, like ny nurun, gak mau up, tapi ntr targetnya gak kekejar. Yaudah lah ya, up utk yg sedia bc dn like aja. Makasih banyak untuk semuanya, love u...., sampai jumpa kpn"👋**...