
...°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°...
...Tuhan tau untuk siapa cinta mu tertuju, dan Tuhan lebih tau siapa yang terbaik untuk mu......
...###...
"Saya terima nikah dan kawinnya Tiffany Aurellie binti Andreas Pratama dengan mas kawin tersebut dibayar tunai."
"Bagaimana para saksi?, sah?."
"SAHHH"
"Alhamdulillah."
Rea mengusap sudut matanya yang berair ketika mendengar tiga huruf, satu kosa kata itu terlontar begitu nyaring. Tegas, lantang, dan yakin. Memenuhi seantero ruangan yang dijadikan tempat berlangsungnya ijab kabul tersebut.
Dirinya ikut terharu melihat kebahagiaan yang terpampang nyata di hadapannya. Semoga saja Tiffany dan Morgan selalu bahagia seperti itu. Perempuan seperti Tiffany berhak untuk mendapatkan yang terbaik.
"Kenapa nangis?, kan udah pernah berada di posisi itu?", bisik Levi tepat di samping telinga Rea.
Rea menoleh, menatap suaminya yang sangat terlihat tampan hari ini. Kemeja batik dipadukan dengan celana kain hitam. Rambutnya yang klimis tertata rapi. Bahkan Rea bisa melihat jika sedari tadi banyak mata sepupu perempuan Morgan yang melirik ke arah Levi. Bukan sekali dua kali, berkali-kali. Membuat Rea kesal bukan main.
"Kenapa ganteng-ganteng banget sih", Rea tak menghiraukan pertanyaan retoris yang Levi ucapkan. Tangannya dengan cepat mengacak-acak rambut depan Levi. Namun sialnya, Levino Altan Devora terlihat semakin tampan. Membuat Rea berdecak malas.
Levi mengangkat salah satu sudut bibirnya. Menyugar rambutnya kembali dengan jari-jari tangannya. Mengundang banyak mata hawa menatap ke arahnya.
Rea menekuk kesal wajahnya dan memandang lurus ke arah Tiffany dan Morgan yang sedang sungkeman kepada para orang tua.
Namun sedetik kemudian, Rea meringis pelan ketika merasakan perutnya seperti disengat listrik, tapi ada sensasi geli nya. Rea mengelus lembut perut anaknya, berbicara pelan agar anaknya kembali tenang.
Levi yang mendengar bisik-bisikan kecil dari sampingnya pun menoleh. Memandang Rea yang sedang berbicara serta mengelus perutnya sendiri.
"Kenapa?, anak Daddy rewel ya?", Levi meletakkan telapak tangan besarnya ke atas perut Rea. Menggantikan tangan istrinya untuk mengelus sang jabang bayi.
Rea menyandarkan kepalanya seraya menatap wajah tampan suaminya, "Hu'uh, repotin kayak bapaknya", canda Rea.
Levi menyeringai dan mendekatkan wajahnya ke depan wajah Rea, "Masa?."
Rea mengangguk singkat, "Bapaknya repotin banget."
"Buat Mommy nya capek ya?", Levi dengan usil menggesekkan hidungnya dengan hidung mancung nan mungil milik Rea.
Tidak sampai disitu saja, Levi yang tak pernah mempedulikan sekitarnya pun memiringkan kepalanya hendak mencium bibir Rea.
"Levi", tegur Rea pelan berusaha menahan dada bidang Levi. Suaminya itu memang tak tau tempat. Dimana saja jadi. Menganggap kalau dunia ini hanya milik mereka berdua. Yang lainnya ngontrak.
"Rea...", panggil Levi pelan kala Rea menutup mulut Levi dengan keempat jarinya. Lalu Levi dengan tak tau malunya malah menjilat jari-jari Rea. Membuat perempuan hamil itu sontak melotot.
"Levi!, kamu enggak boleh tidur sama aku malam ini", bentak Rea tanpa sadar sedikit keras. Orang-orang yang duduk didekat mereka pun lantas melirik ke arah suami istri tersebut.
__ADS_1
"Mamp*s lo", terdengar ejekan dari belakang. Levi memandang ke arah teman-temannya yang duduk di barisan belakang. Menggelengkan kepala seraya tersenyum lebar.
"Keganjenan sih bos", celetuk Romi yang memakai pakaian formal.
Levi mendengus dan kembali mendudukkan tubuhnya ke kursi. Mengusap perut buncit yang berisi calon anaknya itu.
"Yakin kamu bisa tidur tanpa aku malam ini?."
Rea mendongak dan mengumpat dalam hati ketika melihat Levi yang tersenyum miring. Tahukah anda wahai human yang bernama Levino, bahwa ketampanan anda itu di atas rata-rata.
"Ganteng banget ya Allah, sayangnya udah punya bini, tapi kalau dia mau poligami, gue rela dah jadi yang kedua."
Rea membrengut sebal saat telinganya mendengar ucapan seorang gadis yang duduk disamping kirinya. Yang tengah menggosipkan ketampanan suaminya.
"Yakin lah", jawab Rea jutek. Dan meluruskan pandangannya ke arah pengantin baru yang sedang bersalam-salaman dengan para tamu.
"Kantung mata gue besar banget gila", Ammar yang duduk di samping kanan Levi berceletuk seraya menatap kamera ponselnya.
"Lo sih begadang terus, ngapain lo emangnya?", timpal Bara yang berada di belakang Ammar. Jangan tanyakan lagi cowok itu sedang apa, yang pasti saat ini mulutnya sedang asik mengunyah keripik kentang yang entah dari mana.
"Ngapain lagi kalau bukan-"
"Jangan macem-macem lo, jangan rusak kepolosan bini gue", potong Levi dengan menatap tajam Ammar yang memasang wajah tengilnya.
"Halah, gue yakin semenjak Rea kawin dengan lo, kepolosannya udah enggak ada. Pasti diajarin yang aneh-aneh sama lo, ya kan Rea?."
Tiga orang cowok lainnya bertepuk tangan saat mendengar ucapan savage Bara. Hanya seorang Bara Antonio Prayudha lah yang bisa berbicara seperti itu kepada Levi.
Melihat kebingungan Rea, Levi pun lantas bangkit berdiri dan mengajak istrinya untuk menemui Morgan dan Tiffany. Menjauhkan Rea dari para hama yang dapat merusak kepolosan istrinya.
"Selama ya Tiffany, semoga langgeng sampai akhir", ucap Rea memberi selamat setelah berdiri di depan sepasang pengantin baru tersebut.
Rea tau ini dadakan. Bahkan Ia sampai dibuat kaget saat seminggu yang lalu Tiffany datang ke rumahnya dengan sebuah surat undangan bergaya vintage.
Jika dihitung, Tiffany dan Morgan baru berkenalan sebulan lebih ini. Tapi Rea patut acungi jempol dengan keberanian Tiffany dan Kegigihan Morgan.
"Makasih ya Rea", Tiffany tersenyum tapi Rea merasa senyuman itu tidak sampai ke mata coklat terang yang indah itu.
Kenapa?, apa Tiffany tidak bahagia?. Tapi Tiffany pernah curhat kepada Rea kalau jantungnya sering berdebar ketika berdekatan dengan Morgan.
Lalu apa masalahnya.
"Tiffany, kamu-"
"Gimana?, debay nya sehat-sehat aja kan?", Tiffany memotong ucapan Rea yang pasti akan menanyakan kekalutannya sekarang. Rea itu sangat jeli dan pintar. Maka nya Tiffany suka bercerita dan berteman dengan Rea. Namun untuk masalah yang satu ini, Tiffany belum siap untuk membicarakannya kepada Rea.
Rea pun tersenyum canggung dan menatap tangan Tiffany yang berada di atas perutnya.
"Alhamdulillah, baby girl gimana?, sehat juga kan?", Rea membalas mengelus perut buncit Tiffany yang tertutup baju kebaya pengantin. Usia kandungan Tiffany itu lebih tua satu bulan dari Rea.
__ADS_1
"Sehat, dia aktif banget, sampai buat gue kebangun terus setiap malam", keluh Tiffany yang membuat Rea tertawa pelan.
Lalu dua ibu hamil itu larut dalam pembicaraannya. Mulai dari bagaimana kondisi kandungan masing-masing hingga tas, baju, dan barang-barang perempuan lainnya.
Membuat antrian panjang dibelakang Levi dan Rea.
Melihat orang-orang yang sudah misuh-misuh karena mereka menghalangi untuk bersalaman dengan pengantin. Levi pun lantas dengan cepat menarik tangan Rea yang masih sibuk mengobrol dengan Tiffany.
Dasar ibu-ibu, kalau udah ketemu bahan gibahan ya gitu. Lupa dunia.
"Sekali lagi, selamat ya bro. Kado nya udah gue taruh di kamar kalian, ribet bawanya", Levi menepuk sekilas pundak Morgan lalu segera berjalan menjauh dari pelaminan.
"Kenapa sih?, ganggu aja tau gak", omel Rea karena Levi menariknya paksa.
Levi memutar bola matanya malas.
"Heh, jangan gitu matanya, udah dibilangin berulang kali, bandel banget sih. Kalau dibilangin itu ya di denger. Jangan masuk telinga kanan ke-"
Cup
"Cerewet banget sih", bisik Levi pelan setelah berhasil membungkam mulut Rea yang sedang menyerocos dengan mulutnya.
Rea memajukan bibirnya beberapa centi. Melayangkan tatapan tajam ke arah Levi yang hanya mengangkat bahunya acuh.
Drrt drrt
Rea tersentak ketika mendengarkan nada dering yang mengalun keras.
"Punya kamu, apa punya aku?", tanya Rea asal.
"Punya kamu lah", jelas-jelas suara itu berasal dari clutch bag berwarna coklat yang dibawa Rea.
Rea pun langsung membuka tas tangannya itu dan mengambil ponselnya yang bergetar.
"Halo, Bun?", Rea mendekatkan ponselnya ke telinga setelah melihat nama sang Bunda yang tertera di layar ponselnya.
"Kamu bisa ke rumah uncle Dean, sekarang?."
Rea mengernyit bingung, membuat Levi memandang istrinya dengan penasaran.
"Kenapa Bun?."
"Aunty Laily nikah sama Uncle Dean."
"Hah?", Rea tanpa sadar berteriak dengan mata yang melotot. Telinganya seperti tak percaya mendengar kabar yang barusan diucapkan oleh Arinta.
Ada apa hari ini. Mengapa semuanya menikah dengan mendadak.
...~Rilansun🖤....
__ADS_1
...Mamaaaa pengen nikah juga😭....
...Janlup laik, komen, vote and share ya sayang😘. Ich liebe dich💞💞...