
...°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°...
...Kecewa adalah luka yang paling dalam......
...###...
"Kan aku udah bilang kamu tunggu di mobil aja."
Levi menghela nafasnya mendengar omelan sang istri yang sedang kesal. Tanpa menyahuti, Levi berjalan memutari mobil dan mendudukkan tubuhnya di samping kemudi. Setelah membukakan pintu untuk ibu dari anak-anaknya itu.
Netra abu-abu Levi menatap lekat Rea yang membuang pandangannya ke samping jendela.
"Kan aku takut kamu kenapa-napa", sahut Levi kemudian lalu mengambil sebelah tangan Rea untuk digenggam.
"Kamu seneng kan dideketin cewek-cewek kayak tadi", ketus Rea dan memutar tubuhnya menghadap Levi. Dengan bibir bawahnya yang mencebik serta manik indahnya yang sudah berkaca-kaca. Membuat Levi gelagapan dan mengurungkan niatnya untuk mengemudi.
Menarik sang istri dalam dekapan dan melayangkan kecupan-kecupan ringan di atas puncak kepalanya, "Ngomong apa sih."
Semenjak menonton drakor yang bertemakan pelakor. Rea selalu memikirkan yang tidak-tidak. Membuatnya menjadi lebih posesif terhadap suaminya. Dan Levi pun hanya bisa pasrah menerima semua kecemburuan dan kecurigaan tak jelas itu.
"Hiks, kamu pantang nampak yang bening dikit. Aku gendut kayak gini kan juga karena kamu", cerocos Rea dalam dekapan Levi.
Levi mengulum senyumnya, "Yang bilang kamu gendut siapa sayang?, kamu itu adalah definisi dari kata sempurna", tanggap Levi dengan tangan yang setia mengelus punggung tertutup dress selutut motif bunga-bunga itu.
"Terus kenapa kamu tadi pakai acara pegang-pegang pinggang dia?. Iya aku tau, pinggang aku udah enggak ramping lagi", Levi mendengus, ia paling tidak suka dengan sikap Rea yang insecure seperti itu.
"Dia tadi mau kepeleset, dan pas banget aku yang ada di samping dia. Refleks aja sayang, sebagai sesama makhluk sosial", jelas Levi dengan lembut.
Rea menguraikan pelukannya dan menatap kesal Levi, "Tapi kenapa lama banget tatap-tatapan nya?. Dia itu nampak banget Levi kalau suka sama kamu",
"Tapi kan yang penting aku gak suka sama dia. Hati aku udah stuck di kamu. Mentok, gak bisa oleng lagi."
Halah, gombal.
Rea memalingkan wajahnya ke samping dengan menahan kesal saat mengingat adegan di toko kue tadi. Rea tidak buta, ia bisa membedakan mana yang betul-betul kepeleset, sama yang caperan ke suami orang.
Dan perempuan berpakaian ketat tadi jelas sekali mencoba untuk menarik perhatian Levi. Dan bodohnya, suami jeniusnya itu malah percaya dengan kepolosan yang dibuat-buat.
Huh, menyebalkan. Rea kan jadi keinget dengan drama yang ditontonnya kemarin. Perselingkuhan, pengkhianatan, perceraian. Ah, sangat menyeramkan.
"Udah dong, katanya ulang tahun. Senyum dong sayang", Levi menangkup wajah Rea agar menatapnya, "Kamu mau aku digebukin Papi karena udah buat anak ceweknya nangis?."
Spontan Rea menggelengkan kepalanya lemah.
Levi tersenyum manis. Rea selalu bisa membuatnya jatuh cinta berkali-kali.
"Ka-"
"Levi", sela Rea dengan memanggil suaminya pelan.
__ADS_1
"Hm?", Levi menaikkan sebelah alisnya bertanya.
Rea menunduk seraya memainkan jari-jemarinya. Levi mengernyit karena Rea tak kunjung bicara.
"Kenapa sayang?, ada apa hm?, apa yang kamu pikirin?", tanya Levi tak sabar.
"Levi kamu gak akan pernah selingkuh dari aku kan?", Rea mendongak menatap Levi yang terlihat cukup kaget atas pertanyaannya.
"Kamu enggak akan pernah nge-cewain aku kan?, gak bakal pernah ninggalin aku sama anak kita?, kamu bakal tetap a-"
Cup
Levi membungkam mulut Rea, membuat ucapannya tergantung di udara.
"Aku bakal tetap ada disamping kamu sampai ajal menjemput. Kita akan sama-sama melihat cucu-cucu kita yang berlarian dan berteriak memenuhi rumah."
"Kejauhan, anaknya aja belum lahir, kamu udah malah mikirin cucu", Levi terkekeh dan mencium pipi Rea yang tengah mengerucutkan bibirnya.
"Sekali lagi, selamat ulang tahun cantik", ujar Levi dengan senyuman tulus yang terpatri di wajahnya. Yang seketika menular pada Rea.
Rea mencium sekilas pipi Levi dan berujar, "Makasih ganteng."
Rea dibuat sangat-sangat senang dengan kejutan Levi tadi malam. Suaminya itu sangat romantis dengan membelikannya kue dan satu buah kalung berlian yang cantik.
...###...
Namun bumil satu itu tak pernah sadar diri.
Tanpa menunggu lama lagi, Levi langsung menyusul Rea dengan beberapa paper bag di tangannya. Levi takut Rea berlari dan tiba-tiba kesandung.
"Kamu itu jangan buat aku jantungan bisa enggak?", cerca Levi saat sudah berhasil menyamai langkah istrinya.
Rea menoleh dan tersenyum lebar menampilkan deretan giginya, "Hehe maaf atuh. Aku tuh excited banget mau lihat wajah kagetnya si Argan. Pasti Abang minus akhlak itu langsung guling-guling kalau tau aku beliin dia-"
Bugh bugh
"Papi!", teriak Rea menggelegar ketika melihat kembarannya dipukul habis-habisan oleh sang Ayah.
Tangan perempuan hamil itu mendadak dingin dengan tubuh yang bergetar. Kenapa?, ada masalah apa hingga Reagan memukuli Argan seperti itu. Yang Rea tau, Papinya itu adalah seorang Ayah yang sangat menyayangi anaknya. Bahkan Reagan tidak pernah sekali pun menjentik dan membentak kasar mereka.
Lalu yang dihadapannya ini apa?.
"Hiks", Rea memalingkan wajahnya ke arah sofa yang ada di ruang tengah. Dan matanya seketika membola melihat Dita yang terduduk disana sembari terisak menangis. Dengan ditemani oleh Bunda nya yang turut ikut menangis.
Dengan langkah cepatnya yang diikuti oleh Levi dari belakang. Rea menghampiri sahabat satu-satunya dengan beribu tanya yang ada di kepala.
"Dit, kamu-"
"KENAPA PAPI SELALU NGEKANG ARGAN?."
__ADS_1
Semua orang yang ada disana terlonjak kaget saat mendengar Argan berteriak keras di hadapan Reagan.
Rea yang hendak melangkah mendekat, langsung ditarik oleh Levi untuk menepi. Levi tak ingin mengambil resiko dengan membiarkan Rea melerai dua laki-laki kuat tersebut.
"Apa yang Papi lakuin sampai kamu merasa terkekang?", tanya Reagan dengan guratan marah yang masih tercetak jelas di wajahnya.
Argan mengusap sudut bibirnya yang mengeluarkan darah, "Papi itu terlalu membatasi ruang gerak Argan, tau enggak!."
Reagan tak merespon. Ayah dari dua orang anak itu hanya menatap datar laki-laki yang berdiri dihadapannya. Menunggu sang putra untuk mengeluarkan segala uneg-uneg nya.
Levi, Rea, Arinta dan Dita pun hanya bisa menyaksikan dalam diam.
"Argan itu masih seorang remaja Pi. Ar-"
"Terus kalau remaja kenapa?. Apa remaja itu harus mabuk?, tawuran?, se*s bebas?", tanya Reagan dengan menggebu-gebu.
"Lalu apa bedanya kamu dengan laki-laki yang udah merusak adik kamu?!", Reagan membentak Argan membuat suasana semakin mencekam.
Bukannya takut, Argan malah terkekeh dan tersenyum miring menatap Reagan.
"Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Mungkin ini karma buat Papi. Bukannya Papi gitu juga. Bagi Argan, Papi enggak ada bedanya sama Levi. Dan Argan sama Rea adalah hasil dari-"
Plak
"ARGAN!."
Rea membekap mulutnya kaget ketika tanpa diduga-duga Arinta menampar pipi saudara kembarnya dengan sangat keras. Bahkan nyaringnya seolah bergema ke seluruh ruangan.
"Kamu...", Arinta menunjuk wajah putranya yang tertoleh ke samping karena tamparannya. Tubuhnya bergetar menahan amarah dan air mata.
"Terima kasih karena kamu sudah mengingatkan Bunda, kalau Bunda ini adalah perempuan yang kotor", ujar Arinta dengan tercekat. Sungguh, ia tidak percaya kata-kata itu keluar dari putranya sendiri. Bahkan Argan menganggap dirinya adalah hasil dari aib orang tuanya.
Arinta menghapus kasar air mata yang jatuh dan segera berlalu pergi dari sana. Hatinya sebagai ibu dan seorang perempuan merasa sangat hancur malam ini.
"Kamu berhasil membuat saya merasakan apa yang dirasakan orang tua saya delapan belas tahun silam. Mulai sekarang kamu bebas, hidup lah dengan seperti apa yang kamu inginkan. Karena saya cuma laki-laki bajing*n yang enggak berhak ikut campur hidup kamu", ujar Reagan yang terkesan datar. Tersirat rasa kecewa yang begitu dalam di setiap ucapannya.
"I'm not a good father to you, Son. Sorry", tambah Reagan dengan kekehan kecil di akhir kalimatnya. Menepuk sekilas pundak putranya sebelum berjalan menjauh.
Rea menatap nanar punggung tegap yang selalu melindunginya itu. Namun malam ini pundak yang selalu terangkat gagah itu, menurun layu. Kepala yang selalu terangkat angkuh, kini menunduk menahan air mata.
Rea bisa melihat dengan jelas tadi kalau sudut mata Reagan mengeluarkan cairan bening. Namun Papinya itu dengan cepat menghapusnya. Dan itu adalah kali pertama Rea melihat pria nomor satu dalam hidupnya tersebut mengeluarkan air mata menyakitkan.
"Dita, bisa jelasin?", Rea menatap sahabatnya yang masih duduk di atas sofa. Cewek yang terlihat sangat kacau itu pun mendongak menatap Rea yang berdiri didepannya.
Dita mengangguk sekilas dan kembali menundukkan kepalanya.
...~Rilansun🖤....
...mksih bnyk buat yg udh setia sm Rearin. Buat sider, smoga cpt sdr dn muncul ke permukaan. Semangat ku tergantung dengan laik mu 🙂😘....
__ADS_1