Rearin

Rearin
Keciduk


__ADS_3

...°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°...


...Jangan takut jodoh mu diambil, karena Tuhan sudah menggantungnya tinggi-tinggi, tinggal menunggu waktu saja, antara menurunkannya untuk mu atau semakin menggantungkannya ke sisi Tuhan......


...###...


Rea mencepol rambutnya ke atas setelah tiga menit duduk bersandar di kepala ranjang. Melirik ke arah Levi yang terlihat mengerutkan keningnya dengan mata yang terpejam.


Lalu Rea menggeserkan tangan Levi yang bertengger di atas pahanya. Menyibak selimut yang menutupi separuh badannya. Dan Beringsut ke tepi ranjang.


Baru saja Rea hendak menapakkan kakinya ke lantai. Sebuah lengan kekar lebih dulu melingkari perutnya. Menahannya untuk tetap duduk di tepi ranjang.


"Mau kemana hm?", Levi membenamkan wajahnya di pinggang belakang Rea. Kembali memejamkan matanya yang terasa masih berat.


"Lapar", jawab Rea jujur.


Mendengar itu sontak saja Levi menjauhkan wajahnya dan tersenyum miring, "Capek ya?", tanyanya seraya mendusel-dusel di punggung Rea. Membuat bumil satu itu mendengus. Sepertinya tidak ada satupun bagian tubuhnya yang tidak dijadikan Levi sebagi tempat menggesekkan hidungnya. Apa Levi ingin memamerkan kepadanya kalau dia memiliki hidung yang mancung.


"Geli", Rea mencubit pelan lengan Levi yang masih memeluk perutnya.


Levi terkekeh dan menjauhkan wajahnya. Menyerongkan posisi duduk Rea menghadapnya. Mengelus perut buncit yang berisi bakal calon anaknya tersebut.


"Good morning jagoan", ujar Levi pelan sambil menciumi permukaan perut Rea setelah menyingkap ke atas kaos oversize yang dikenakan oleh Rea.


Untuk beberapa detik Levi asik dengan kegiatannya itu sampai membuat Rea jengah. Jujur, cacing-cacing di dalam perutnya sudah melakukan unjuk rasa sekarang. Tapi Levi malah melama-lama menahannya di dalam kamar.


"Udah ih, awas. Enggak tau apa kalau laparnya udah sampai tahap akut", gerutu Rea dan mendorong Levi untuk menjauh. Menurunkan kembali kaosnya dan segera turun dari ranjang sambil mengomel-ngomel tak jelas.


Membuat Levi menyunggingkan senyumnya. Rea selalu bisa membuatnya jatuh cinta untuk kesekian kalinya.


Sementara itu Rea berjalan menuruni undakan anak tangga sambil terus menggerutu. Kalau saja anaknya nanti kena busung lapar gimana?. Rea akan memotong habis senjata Levi.


"Pagi Bik", Rea menyapa Bik Mirna yang sudah berada di dapur.


Wanita paruh baya itu mendongak dari kegiatannya memotong sayuran. Tersenyum menatap majikannya yang sedang berdiri di depan kulkas. Bik Mirna sangat senang saat mengetahui kalau Levi berhasil membawa Rea kembali ke rumah empat hari yang lalu.


Semoga saja hubungan antara Levi dan Rea semakin langgeng setelah diterpa badai kali ini. Semakin rapat hingga tak ada celah untuk orang ketiga menyalip.

__ADS_1


"Pagi calon mama."


Rea menoleh dan tersenyum ke arah Bik Mirna. Mengambil sekotak salad buah hasil buatannya. Lalu mengambil duduk di meja makan.


Memakannya dengan tenang sambil sesekali mengelus anaknya yang rewel. Sudah Rea bilang kan, kalau pagi-pagi begini perutnya sering kali keram.


"Makan sendiri."


Ketenangan yang baru saja Rea rasakan sebentar seketika buyar ketika Levi dengan tiba-tiba menarik kotak salad miliknya dan memakannya sendiri. Duduk di sampingnya tanpa menggunakan baju. Membuat tubuh bagian atas cowok itu terlihat jelas.


Rea mendengus, kebiasaan.


"Mau kemana?", tanya Levi melihat Rea yang bangkit dari duduknya.


"Ambil lagi", jawab Rea dengan sinis.


Levi mengangguk, "Enggak usah, kita bagi dua aja."


Rea mendengus, "Apanya yang mau bagi, udah habis gitu", ketusnya dan melengos ke dalam dapur.


Saat Rea hendak kembali duduk di meja makan dengan membawa sekotak salad, kakinya tak sengaja tersandung satu sama lain. Membuat tubuhnya tak seimbang dan hampir saja tersungkur ke depan kalau tidak ada tangan yang menahannya.


"Ceroboh."


Rea mendongak dan menatap Levi yang terlihat marah kepadanya.


Lalu tanpa aba-aba Levi langsung mengambil alih kotak yang dipeluk Rea dan meletakkannya di atas mini bar. Menggendong Rea ala bridal style. Dan mendudukkan tubuh Rea di atas meja makan.


"Kamu mau aku buat enggak bisa jalan, biar kakinya enggak pecicilan sana-sini?", semprot Levi dengan menatap tajam Rea. Kalau saja tadi tidak ada dirinya bagaimana. Untuk membayangkan hal buruk itu saja Levi tak berani.


"Mau?, kalau mau kita lanjutin yang tadi malam."


Rea melototkan matanya. Hell, apakah Levi tak puas setelah menggempurnya semalam suntuk. Sampai membuat mereka baru bisa tertidur setelah subuh. Dan bangun ketika waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi.


Bik Mirna yang dari kamar mandi langsung berjalan tergopoh-gopoh ke ruang makan setelah mendengar teriakan Rea barusan. Baru saja mulutnya ingin terbuka. Tapi sepertinya kehadirannya hanya akan membuat dua sejoli itu terganggu. Sadar diri, Bik Mirna pun lantas mundur secara teratur.


"Mau enggak Mommy?, hm?", Levi menaikkan sebelah alisnya menggoda Rea seraya mendekatkan wajahnya. Membuat Rea memundurkan tubuhnya ke belakang.

__ADS_1


"Enggak", jawab Rea tegas sembari mendorong bahu telanjang Levi.


"Yakin?."


Rea rasanya ingin mencakar wajah Levi ketika cowok itu tersenyum seperti om-om penjahat kelamin.


Saat Rea hendak kembali memundurkan tubuhnya, Levi langsung menarik Rea untuk mendekat. Mengikis jarak diantara mereka berdua. Membuat Rea membelalakkan matanya saat bibir mereka hampir saja bertemu kalau Rea tidak menahan tubuh Levi dengan kedua tangannya.


"Daddy belum dapat morning kiss loh, Mom", ujar Levi pelan dengan menatap lekat manik hitam yang selalu bisa membuatnya mabuk.


"Kiss sendiri sana", Rea mendorong dada Levi saat hembusan nafas cowok itu menerpa langsung wajahnya.


"Enggak enak. Enggak ada manis-manisnya", sahut Levi semakin memajukan wajahnya. Memiringkan sedikit kepalanya agar memudahkan aksinya. Baru saja Levi ingin menempelkan bibirnya. Deheman keras dari seseorang membuat keduanya gelagapan.


"Ekhem."


Rea mendorong kuat tubuh Levi ke belakang. Lalu turun dari atas meja dengan susah payah. Levi sialan emang.


Istighfar Rea, ingat itu suami kamu. Surga kamu ada padanya.


"Eum, sorry ganggu", Tiffany menggaruk pelipisnya yang tak gatal. Ia bingung harus bersikap bagaimana. Mau keluar, tapi sudah terlanjur masuk.


"Enggak apa-apa", Rea tersenyum canggung menatap Tiffany yang salah tingkah. Itu semua karena Levi yang enggak ada akhlak. Rea curiga kalau nilai Levi yang bagus itu adalah hasil sogokan. Ditambah keluarga cowok itu yang memiliki sekolah. Ingin mendapat nilai A plus dua pun mungkin-mungkin saja.


Lalu Rea menoleh ke arah Levi yang berdiri disampingnya dengan wajah datarnya. Dasar, siluman buaya.


"Pakai baju sana, kalau enggak, jangan harap kamu bisa masuk kamar malam ini", Rea mencubit pelan perut Levi dengan menatap tajam suaminya itu. Levi kalau tidak diancam dia enggak akan nurut. Sampai berbusa pun mulut Rea mengingatkannya, tetap saja Levi hanya akan menganggapnya sebagai angin lalu.


Setelah itu Rea berjalan menghampiri Tiffany, membawa cewek itu untuk duduk di ruang tamu rumahnya. Meninggalkan Levi yang mengelus perutnya yang terkena cabe jalapeno. Tak ingin ancaman Rea menjadi kenyataan, Levi pun lantas bergegas menuju kamarnya.


Sudah cukup dua Minggu lebih semalam Levi tidur sendirian tanpa ada yang menemani.


For your information para jomblo. Tidur sendirian itu enggak enak. Makanya segeralah mencari jodoh. Jodoh halal.


...~Rilansun🖤....


......Hayuk yg jomblo merapat🙂, sama" meratapi nasib🤧. Mohon bersabar, jomblo pasti berlalu dan jodoh pasti bertemu😘. See you next chap 💞💞💞......

__ADS_1


__ADS_2