
...°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°...
...Tidak ada yang bisa berdusta bila dihadapkan dengan cinta, cerita indah tiada akhir......
...###...
Bugh
"Berengsek lo David!."
Reagan memukuli dengan membabi buta seorang pria yang sudah terkapar di bawahnya. Tak memberikan lawannya kesempatan untuk menyerang balik. Mendominasi penuh pertengkaran tersebut.
Egonya sebagai seorang Ayah sangat tergores saat David mengatakan jika putrinya adalah seorang pelacur.
Hell, seribu pelacur pun belum tentu bisa dibandingkan dengan putrinya yang berharga itu. Bahkan bidadari yang digadang-gadang sebagai wanita tercantik pun belum tentu bisa mengalahkan kecantikan yang dimiliki oleh Rearin.
Bagi Reagan, putrinya adalah yang tercantik di seluruh penjuru alam semesta. Paling suci, baik, anggun dan ber-attitude.
"Mati aja lo sana anji*g!", Reagan dengan geram meninju wajah David sampai tak berbentuk.
"Reagan udah!", Arinta mencoba untuk menarik suaminya yang terlihat gelap mata. Ia tidak ingin sehabis dari sini mereka harus pergi ke kantor polisi.
Namun Reagan seperti orang tuli yang tidak mendengar teriakan Arinta dan Rea yang menyuruhnya untuk berhenti.
"Lo yang pelacur bangsat!, bahkan kekayaan yang lo punya ini belum bisa membeli kehormatan anak gue", sarkas Reagan sambil terus melayangkan pukulannya.
"Te-telpon polisi Syam", ujar David dengan susah payah menyuruh satpam rumahnya untuk menghubungi polisi.
Syamsuar, atau yang kerap disapa Pak Syam itu lantas mengangguk dan langsung berjalan cepat kearah telpon rumah.
Rea yang melihat itu sontak memeluk Papi nya dari belakang, "Papi udah, Rea takut", cicitnya. Ia takut jika Reagan benar-benar akan diangkut oleh pihak yang berwajib.
Mendengar lirihan putrinya Reagan lalu memejamkan matanya dan bangkit dari atas tubuh David yang sudah terlihat tak berdaya. Bahkan setitik noda darah pun tidak ada yang keluar dari tubuh Reagan. Wajahnya masih mulus serta tubuhnya yang masih utuh tanpa tergores sedikit pun.
Reagan benar-benar akan gelap mata saat berkelahi. Dengan Ardean yang notabenenya sahabatnya sendiri saja Reagan memukulinya sampai habis-habisan. Apalagi David yang hanya sebatas mantan relasi bisnisnya.
"Jangan sentuh telponnya kalau lo masih mau hidup", ujar Reagan dengan suara beratnya yang terkesan datar.
__ADS_1
Pak Syam yang hendak mengambil gagang telepon pun langsung berhenti lalu berbalik menatap orang yang tiba-tiba datang dan membuat kerusuhan di rumah majikannya itu.
"Ja-jangan dengerin dia Syam", David mencoba untuk bangkit. Reagan yang hendak kembali melayangkan pukulannya pada pria yang sudah terlihat sempoyongan itu pun langsung ter-urung saat Arinta dan Rea dengan sigap memegang kedua lengannya.
Pria paruh baya itu dengan gemetar ketakutan menuruti apa yang diperintahkan oleh majikannya. Namun ucapan dari Reagan membuatnya berhenti seketika dan mati kutu ditempat.
"Sekali lagi lo gerak, hidup lo benar-benar tamat", ancam Reagan dengan menodongkan pistol yang diambilnya dari dalam saku jasnya. Sebagai pengusaha sukses yang memiliki musuh disana-sini tentu saja Reagan harus waspada akan keselamatan nyawanya dan orang-orang terdekatnya.
Arinta dan Rea yang melihat itu sontak melototkan mata tak percaya dengan apa yang dipegang oleh Reagan.
"Lo diam, kalau gak mau malaikat Izrail datang sebelum waktunya", Reagan mengarahkan pistolnya kepada David yang hendak kembali melayangkan perintah. Membuat pria itu langsung bungkam tak bersuara.
Dulu Allndr's Group dan Devora corporation pernah menjadi teman kerja yang sangat harmonis. Pada masa kepemimpinan Angkasa Leon Devora. Bahkan mereka menjalin hubungan kerja sama lebih dari tujuh tahun. Sebelum Devora corporation diambil alih oleh David Pavel Devora. Tujuh tahun itu kini tak bersisa. Dua perusahaan besar itu sekarang menjadi saingan berat yang sudah bukan rahasia lagi dalam dunia perbisnis-an.
Sudah banyak hal-hal licik dan kotor yang dilakukan oleh David untuk menjatuhkan perusahaannya. Namun Reagan tetap diam karena masih memandang Almarhum Angkasa yang sudah tenang di alam kubur sana.
Tapi kesabarannya habis ketika Reagan mengetahui jika laki-laki yang sudah berani menodai putrinya adalah orang dari keluarga Devora. Terlebih saat David mengatakan jika putrinya adalah pelacur. Darahnya seakan mendidih seketika.
Awalnya Reagan datang dengan baik-baik, bermaksud untuk menyelesaikan masalah antara anak mereka dengan kekeluargaan. Meminta pertanggung jawaban Levi atas putrinya. Tapi apa, penyambutan yang sangat kasar didapatnya dari David.
...###...
Kemudian dengan langkah lebarnya Levi berlari memasuki rumahnya. Pikirannya semakin kacau setelah melihat jika satpam yang seharusnya bertugas malah sedang tidak berada ditempatnya.
Langkah cowok itu berhenti saat melihat punggung mungil yang sangat dikenalinya itu tengah berdiri membelakanginya. Orang yang sangat-sangat Levi rindukan berada tak jauh darinya. Namun entah mengapa ia merasa jika sosok mungil itu sangat jauh darinya. Membuat Levi sulit untuk menggapainya.
"Rea", panggil Levi yang sukses membuat semua pasang mata menoleh kearahnya. Tapi kedua netra abu-abu itu malah terfokus pada seorang perempuan yang terlihat sangat rapuh dibalik wajah datarnya tersebut.
"Lo yang namanya Levi?", Reagan bertanya sambil berjalan menghampiri Levi yang berdiri di ambang pintu. Melihat itu Rea langsung dengan cepat menarik tangan Reagan untuk berhenti. Terlebih Papi nya itu masih memegang pistol ditangannya. Rea tak ingin hal yang tidak-tidak terjadi di rumah ini.
"Papi, jangan", sebenarnya Rea sudah menolak untuk datang ke rumah Levi. Namun kedua orang tuanya itu membujuk Rea dengan beribu macam alasan. Dan pada akhirnya sebagai anak yang penurut Rea pun ikut bersama Papi dan Bunda nya datang meminta sebuah pertanggung jawaban.
"Akhirnya kamu pulang juga, tolong urus pelacur kamu itu", celetuk David yang langsung membuat Reagan berbalik dan menonjok tepat di mata pria itu.
Bugh
"Mulut lo bajing*n."
__ADS_1
"Papi!", Rea berteriak histeris saat Reagan mulai kembali menyerang David. Jujur, sebenarnya Rea takut melihat darah yang sudah bercecer-cecer di lantai. Jika diteruskan, entah apa yang akan terjadi nantinya.
Perutnya saja sudah terasa bergejolak dengan kepala yang berdenyut hebat.
Reagan sontak berhenti dan menarik Rea ke dalam pelukannya.
"Jangan Pi, Rea takut."
"Maafin Papi", gumam Reagan seraya mengecup singkat kening putrinya.
Untuk beberapa saat semuanya terdiam sunyi. Tidak ada yang bergerak dari tempatnya. Seolah kaki mereka terpaku pada lantai yang dipijak.
Namun sedetik kemudian, Arinta yang sedari tadi menyaksikan kehebohan yang terjadi berjalan menghampiri Levi yang terlihat bungkam. Berdiri dihadapan cowok yang minim ekspresi itu. Tapi dari pancaran matanya Rea bisa melihat kekhawatiran penuh yang ditunjukkan Levi untuk putrinya.
"Saya gak mau basa-basi. Saya yakin kamu bukan orang bodoh yang enggak tau apa-apa tentang kondisi sekarang. Jujur, sebagai seorang ibu saya sangat terluka atas apa yang kamu lakukan terhadap putri saya. Saya tidak tega melihat dia yang menanggung sendirian dari hasil perbuatan kalian berdua", ujar Arinta dengan nada yang terdengar sedikit tidak bersahabat.
Mendengar itu Levi yang terus menatap Rea sontak menoleh kearah Arinta. Apakah benar yang dikatakan oleh Papa nya waktu di telpon tadi.
"H-hamil?", tanyanya dengan terbata. Entah mengapa seperti ada letusan kembang api yang menghinggapi dadanya.
Arinta tersenyum simpul, "Sesuai dugaan, kamu bukan orang bodoh. Jadi sekarang saya to the point aja. Sekarang Rea sedang hamil, dan kamu pasti tau itu anak siapa. Kalau kamu emang cowok sejati, tanpa saya minta pun kamu paham apa yang saya maksud."
"Saya-"
"Kalau kamu setuju, kamu gak akan bisa bayangin apa yang bakal terjadi sama dia", potong David sambil berusaha bangkit. Dalam hati tak henti-hentinya ia mengumpati Reagan yang sudah membuatnya harus seperti ini.
Levi menegang serta pupil mata yang sedikit melebar. Ya Tuhan, apa yang harus ia lakukan sekarang.
"Kenapa?, kamu gak mau tanggung jawab?", tanya Arinta saat melihat Levi yang tak bergeming setelah mendengar penuturan David.
"Beri saya waktu", ujar Levi dengan menatap datar Arinta.
Mendengar itu Reagan lantas mendengus dan menggiring Rea untuk berjalan keluar dari rumah yang panas seperti neraka tersebut. Saat melewati Levi, mata Rea tak sengaja bertubrukan dengan netra abu-abu itu. Detik yang singkat membuat mereka terhanyut dalam telaga bening masing-masing.
"Kamu enggak mau tanggung jawab?, baik, jangan sampai kamu menyesali apa yang kamu ucapkan hari ini. Asal kamu tau, tidak ada yang bisa berdusta bila dihadapkan dengan cinta", tambah Arinta lalu wanita itu ikut menyusul suami dan putrinya keluar dari kediaman Devora. Meninggalkan Levi dengan perasaan yang sulit untuk diartikan.
...~Rilansun🖤....
__ADS_1