Rearin

Rearin
Dear 'Rearin'


__ADS_3

...°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°...


...Aku hanya ingin memeluk mu seperti ini sampai mata ku terpejam dan tak bisa terbuka lagi......


...###...


Teruntuk kamu....


Bidadari tak bersayap yang dikirim Tuhan padaku. Ratu hati ku yang menguasai seluruh jiwa dan raga ku. Tak menyisakan tempat untuk yang lainnya masuk.


Rearin Kalyca Allandra. Nama yang begitu indah bukan. Nama yang dari dulu hingga kini terlukis indah di hati ku. Tak pernah terganti bahkan sedetik pun tak pernah bergeser ke manapun.


Banyak orang menganggap ku gila. Banyak yang mengatakan kalau perasaan ku kepada mu hanyalah obsesi semata.


Ya aku gila, aku sudah gila karena dengan bodohnya menyeret gadis lugu dan polos seperti kamu ke dalam kehidupan ku yang kacau.


Mungkin aku adalah seorang pengecut yang ulung. Dengan alasan takut ditolak kembali, aku memberikan mu sebuah penderitaan yang sangat besar. Hingga kini pun aku masih merasa menyesal jika mengingatnya.


Mengingat bagaimana kamu mendapatkan hinaan dari murid-murid. Kamu yang harus berhenti sekolah karena hasil perbuatan ku. Air mata yang jatuh adalah saksi bagaimana kamu menderita.


Maafkan aku....


Aku bukanlah orang yang baik. Tapi aku akan berusaha menjadi suami yang bisa kamu andalkan. Aku tak bisa berjanji untuk tidak membuat kamu menangis. Sebab aku hanyalah manusia biasa yang tak luput dari kesalahan.


Namun satu hal yang harus kamu tau, aku akan selalu berusaha agar kamu terus merasa bahagia dengan ku. Mungkin menangis, tapi bisa kupastikan jika itu hanyalah air mata kebahagiaan.


Cukup kemarin aku membuat air mata mu turun karena kesalahanku. Tak akan terulang lagi untuk yang kesekian kali nya. Aku janji.


Rea, tau kah kamu jika perasaan ku tak pernah berubah kepadamu mulai hari dimana kamu menolak ku. Waktu kita masih sama-sama mengenakan seragam merah putih. Untuk pertama kalinya aku merasakan yang namanya patah hati.


Bahkan tatapan datar dan ucapan mu yang menolak ku di hari itu masih terekam jelas di benak. Menjadi motivasi ku untuk berubah agar bisa bersama mu.


Namun siapa sangka, perubahan itu justru membuat mu tak kenal lagi pada ku. Jangan kan kamu, aku pun tak lagi kenal dengan jati diriku sendiri.


Anak geng motor, psikopat?. Club yang selalu menjadi destinasi setiap malamnya, bengis dan tak pandang bulu dengan siapa berbicara.


Tapi yang perlu kamu ketahui, aku tak pernah sekalipun menjalin hubungan serius dengan wanita pun. Mereka hanya jadi pelarian untuk melupakan mu. Namun Tuhan dengan kejamnya membuatku tak bisa berpaling dari mu.


Aku terbelenggu dalam perasaan yang tak pernah pudar. Membuat ku tersiksa hingga nekad menyakitimu.


Tapi aku selalu bersyukur dengan Tuhan. Karena kesalahan satu malam itu membuatmu selalu berada disisi ku.


Kala pagi menyapa, ketika mata ku terbuka sempurna, senyuman di bibirku selalu hadir saat menangkap mu yang damai dalam pelukanku. Mengucapkan syukur seraya mengagumi keindahan Tuhan yang dulu selalu aku impikan.


Bidadari ku, istri ku, wanita terhebat ku, ibu dari anak-anakku dan rumah yang selalu membuatku ingin pulang.


Keberadaan Rea adalah salah satu hal yang berharga dalam hidupku. Memberi warna dalam kehidupan seorang Levino Altan Devora yang semulanya gelap dan suram.

__ADS_1


"Morning", sapaku ketika kelopak mata yang berbingkai bulu mata lentik itu terangkat perlahan. Mengerjap pelan hingga senyumannya terbit menatapku. Senyuman yang selalu berhasil membuat jantung ku berdetak cepat.


Ah, Rea, segala hal tentang mu selalu sukses membuat saraf ku lumpuh tak berdaya.


"Morning too", sapanya dan mencium sekilas pipi ku. Aku pun dengan semangat membalasnya dengan sebuah kecupan di bibirnya yang pelan-pelan berubah menjadi ciuman yang cukup panjang.


Aku melepaskan tautan kami ketika merasakan Rea yang kehabisan nafas. Memandang puas wajahnya yang terengah-engah dengan tatapan kesal kepada ku. Selalu manis.


"Enggak puas apa?", tanyanya yang aku hadiahi kekehan kecil.


Semua hal tentang Rea tak pernah bisa membuat ku puas. Perempuan itu seperti narkoba yang membuat ku candu. Berbahaya, tetapi nikmat.


"Belum, sekali lagi yuk Mommy", bisik ku seraya meniup telinganya sensual.


"Leviii...., capek tau. Emangnya kamu gak capek?", rengekan Rea yang mengundang tawa ku. Jika Rea dan Arthur sedang dalam fruekensi yang sama. Terkadang aku merasa menjadi Daddy dari dua orang anak.


"Harus aku jawab?", aku menaikkan kedua alis ku menggodanya. Rea pun memukul dada ku kesal.


"Konsumsi apa sih kamu sampai kuat banget?", tanya Rea dengan mencebik bibir bawahnya. Aku hanya mampu tertawa lalu menarik ibu dari anak-anakku itu ke dalam pelukan hangat ku.


Pelukan, hanya kehangatan itu yang mampu aku berikan kepada Rea yang sudah banyak berjuang.


"Itu rahasia laki-laki, kamu gak perlu tau, cukup nikmati aja", ujar ku seraya mengedipkan sebelah mata.


Tawa ku pecah ketika melihat pipi Rea yang bersemu merah. Menggemaskan, padahal mereka sudah melakukan itu tidak sekali dua kali. Namun ibu muda itu selalu saja malu.


Rea tampak mendongak menatap ku, "Di dalam negeri aja, kalau jauh-jauh ribet, entar pas aku pulang tau-taunya kamu udah nikah lagi. Terus entar kamu malah nyalahin aku karena terlalu sibuk dengan pendidikan. Terus-"


Huh, otak sinetronnya kumat lagi.


"Terus aku bakal ninggalin kamu dan kita rebutan hak asuh anak. Terus kita kembali layaknya orang asing dengan jalan masing-masing, gitu?."


Rea terperangah lalu sedetik kemudian bertepuk tangan heboh. Huh, istrinya itu benar-benar.... unik.


"Kamu nonton sinetron juga?."


Aku mendengus pelan, bagaimana tidak tau jika Rea selalu bercerita tentang sinetron yang ditontonnya setiap hari, yang sialnya dengan alur yang selalu sama.


"Setelah lulus kamu mau langsung ngambil perusahaan Papi?", tanya ku mengubah arah topik pembicaraan. Jika dilanjut maka Rea dengan segala spoiler nya maka akan panjang urusannya.


Perempuan yang telah memberikan aku satu orang putra itu terlihat memikir sejenak. Pada awalnya Rea memang ingin melanjutkan studi nya setelah Arthur berumur dua tahun. Tapi siapa sangka Rea harus menunda kembali rencananya sampai anak kami dilahirkan dan bisa untuk ditinggal.


Sebenarnya aku kasihan dengannya, jadwal Rea itu lebih padat dari pada jadwal ku. Selain mengurus rumah dan anak-anak. Rea setiap hari harus pergi ke perusahaan keluarganya empat jam sehari. Belajar dengan Papi nya secara langsung untuk mengelola bisnis.


Aku masih teringat ketika Rea harus membagi waktunya antara mengurus Arthur yang waktu itu baru lahir dan ujian sekolahnya. Sangat ribet dan melelahkan.


Namun aku beruntung memiliki istri tangguh seperti Rea yang tak pernah mengeluh sama sekali.

__ADS_1


"Kenapa kamu enggak kayak cewek lainnya yang nekad bunuh diri?", pertanyaan yang tiba-tiba melintas di benakku begitu saja.


Aku menatap manik mata Rea saat perempuan itu terlihat diam tanpa respon. Lalu sedetik kemudian Rea tersenyum dan menatap ku balik dengan sorot teduhnya.


"Karena ini bukan kesalahan siapa-siapa. Bukan salah aku, kamu ataupun takdir. Aku selalu menganggap ini semua adalah janji yang udah aku buat sama Tuhan sebelum lahir. Menyanggupi kehidupan yang ditawarkannya", aku terenyuh mendengarnya. Rea dengan segala keistimewaannya.


"Bukan Tuhan yang memberi tapi aku lah yang menyetujui", lanjutnya dengan senyuman yang masih terus membingkai wajahnya.


Aku terharu, sungguh.


"Makasih sayang, udah mau nerima aku dengan segala keburukan aku. Udah mau bertahan dengan aku yang belum dewasa ini. Aku enggak janji Rea, tapi aku bakal pastiin kalau kamu bakal bahagia hidup dengan aku. Jika kita di dunia hidup bersama, maka mati pun kita harus bersama. Itulah definisi dari sehidup semati, right?."


Rea tersenyum lebar lalu mengangguk semangat, "Tapi aku selalu minta dengan Tuhan, jangan cabut nyawa ku sebelum aku melihat anak kita bahagia dengan keluarganya masing-masing kelak."


Semakin ku rengkuh tubuh mungilnya dalam pelukan hangat ku. Tubuh kami yang sama-sama polos saling bersentuhan.


"Seni seviyorum karıcığım", ucapku tulus seraya mencium keningnya cukup lama.


"Seni seviyorum kocacığım", aku tersenyum ketika mendengar Rea membalas pernyataan cinta ku dengan gaya dan bahasa yang sama. Kueratkan tanganku pada pinggang rampingnya. Mengikis jarak yang ada di antara kami.


Satu yang selalu aku pinta pada Tuhan, Aku hanya ingin memeluknya seperti ini sampai mata ku terpejam dan tak bisa terbuka lagi.


Setelah kami terdiam cukup lama. Rea berceletuk yang refleks membuat mata ku terlebar sempurna.


"Levi, aku pengen dipeluk dokter Kevin. Gimana ya rasanya?."


Aku menguraikan pelukan kami dan menatap tak percaya Rea yang terlihat sedang membayangkan keinginannya itu.


Yang benar saja, dokter Kevin. Laki-laki yang digadang-gadang bakal jadi Daddy nya Arthur setelah aku meninggal. Heh, enak saja. Mati pun tak akan aku izinkan laki-laki manapun merebut posisiku di hati istri dan anak-anakku.


"Sayang kamu yakin?."


Rea mengangguk yang membuat ku harus menahan nafas. Membayangkan Rea berada di dalam pelukan lelaki lain saja sudah membuat ku sesak nafas. Bagaimana bila itu benar-benar terealisasi. Mungkin aku bakal gila, atau yang lebih parahnya mati ditempat.


"MOMMY!, DADDY!, KOK LAMA SIH TIDULNYA. ADA UNCLE KEVIN TUH DI LUAL."


Mataku seketika menatap horor pintu kamar yang diketuk dari luar oleh Arthur. Apa tadi katanya, uncle Kevin. Astaghfirullah, apakah ini yang dinamakan semesta merestui.


Lalu netra ku beralih ketika merasakan Rea beranjak. Menatap tubuh polos Rea yang tampak berlari semangat memasuki kamar mandi.


Sial, aku menghela nafas dan memejamkan mata ku erat-erat.


Memiliki Rea adalah salah satu anugerah terindah dalam hidupku. Dan segala perkataan serta keinginannya adalah hal mutlak bagi ku.


"Please, jangan jadi Arthur yang kedua", gumam ku. Berharap jika anak kedua kami tidak seperti Arthur yang selalu menginginkan Uncle Kevin yang menjadi Daddy nya. Jika iya, capek dirinya saja yang membuat sementara Kevin yang mendapatkan hasilnya.


...~Rilansun🖤....

__ADS_1


...Huwaaa akhirnya Rearin selesai juga. Walau sedikit lama dari perkiraan. Seni seviyorum all. Tungguin ekstra part nya ya. Jangan buru" di hapus dr library....


__ADS_2