Rearin

Rearin
Perusuh


__ADS_3

...°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°...


...Tentang cinta, Tuhan lebih tau siapa yang pantas dan siapa yang harus tuntas......


...###...


Levi tersenyum kecil menatap Rea yang berjalan di depannya. Dengan rambut yang sedikit basah hingga membuat baju bagian belakangnya juga ikut basah. Padahal Levi sudah menyuruh Rea untuk mengeringkan rambutnya terlebih dahulu. Namun perempuan hamil itu menolak dan hanya mengeringkan rambutnya dengan handuk.


Kata Rea waktu itu, "Aku enggak mau ya Levi teman-teman kamu mikir yang enggak-enggak tentang kita."


Lucu. Istrinya itu sangat lucu. Lagian apa salahnya kalau teman-temannya memang memikirkan yang tidak-tidak tentang mereka. Apa yang di malukan, mereka sah kok baik secara agama maupun hukum.


Apalagi bila mengingat desakan Rea yang terputus-putus saat meminta untuk menuntaskan urusan mereka dengan cepat. Membuat bibir Levi tertarik sempurna.


"Kenapa nih, turun-turun kok rambutnya pada basah?", Ammar menaikkan kedua alisnya menggoda pasangan suami istri yang baru saja memasuki ruang tamu.


"Ck, lo enggak peka, Bang. Diluar kan hujan, ya cari yang anget-anget lah", timpal Bryan dengan mata yang fokus pada ponsel.


"Wedang jahe gitu?", Bara berceletuk dengan polosnya.


"Iya, minum wedang jahe di atas ranjang berdua", Ammar tersenyum jahil menatap Rea yang masih berdiri dengan kepala tertunduk.


"Emangnya habis ngapain Bu bos?", giliran Romi yang ikut-ikutan menggoda istri ketuanya itu, "Kita nge-ganggu ya. Duh sorry lah kalau gitu."


Levi mendudukkan tubuhnya di sofa single yang ada di sana, "Itu tau, masih aja datang."


"Emangnya mau berapa ronde kalau kami enggak datang?", tambah Romi yang berani menatap langsung Levi yang justru terlihat santai. Berbanding terbalik dengan sang istri.


"Rencananya sih sepuluh."


"Huanjir, lo langsung mau proyek anak kedua apa?!", Ammar menatap kaget Levi sebelum tertawa pelan.


"Paketu emang gila", Bryan ikut terkekeh sambil menggelengkan kepalanya.


"Kasihan Bu bos."


Levi hanya mengangkat bahunya acuh. Menoleh ke arah Rea yang berdiri di sampingnya masih dengan pandangan menatap lantai.


Lalu seringai-an tipis terbit di wajah Levi kala melihat telinga Rea yang memerah. Dan tangan perempuan itu yang saling bertautan gelisah.


"Kenapa berdiri disitu?, sini duduk", Levi menarik tangan Rea seraya menepuk paha nya.


Rea mendongak dan menatap tajam Levi yang terlihat menyebalkan dimatanya. Melirik ke arah empat orang cowok yang tengah bersiul menggodanya.


"Sini sayang, entar kakinya tambah capek", tambah Levi ambigu yang langsung membuat sorak-sorakan heboh memenuhi ruangan.


"Ayo si-"


"Duduk sendiri sana!", ketus Rea sembari melemparkan bantal sofa ke arah wajah Levi. Lalu berjalan cepat meninggalkan tempat yang mampu membuatnya mati karena malu.


"HAHAHA."


Rea mengumpat dalam hatinya ketika mendengar suara tawa yang pecah. Dan sialnya, ada suara suaminya dalam keramaian tersebut.

__ADS_1


Ya Tuhan, mengapa akhlak Levi itu minim sekali. Entah pergi kemana Levi saat pembagian akhlak.


"Jangan capek-capek Bu bos, kan kakinya masih pegel."


"Rea!, mau satu dong, nasi goreng."


"Lo, otaknya makanan melulu. Enggak ada pikiran selain, bagaimana cara membuat perut buncit aesthetic."


Rea mendengar jelas godaan dan perdebatan alot para laki-laki itu. Dikarenakan mereka yang berbicara seperti di dalam hutan. Enggak sah kalau enggak teriak-teriak.


"Mbak, hari hujan loh", Bik Mirna muncul di samping Rea yang tengah melamun di depan meja makan.


Rea melirik ke arah pintu belakangnya yang terbuat dari kaca. Menampilkan rintik-rintik air yang turun dari langit itu semakin deras dan lebat.


"Iya Bik, mana lebat lagi."


"Ho'oh, maka nya Bibik tanyain mbak, hujan begini basah rambut, enggak dingin?."


Rea yang tadinya asik melihat hujan sontak menoleh ke arah Bik Mirna yang tersenyum penuh arti menatapnya.


Seketika itu juga Rea ingin sekali rasanya memotong habis rudal milik Levi.


Ya Tuhan, Rea malu.


...###...


"Pelan-pelan sayang", tegur Levi melihat Rea yang memakan sandwich buatannya dengan belepotan. Padahal Rea sudah menghabiskan tiga potong sandwich sebelumnya. Tapi perempuan hamil itu tetap saja makan seperti ada orang yang ingin merebutnya.


Selama masa kandungannya, ***** makan Rea memang meningkat drastis. Membuat tubuh istrinya itu terlihat semakin berisi. Terutama di bagian-bagian tertentu.


Sementara Rea langsung mendorong bahu Levi dengan tangannya, "Ih, Levi!, bibir kamu itu berminyak, jangan cium-cium."


Levi mendengus dan kembali menyantap mie rebus miliknya.


Mie rebus spesial di hari hujan begini, memang sebuah nikmat yang tiada tara. Terlebih... ekhem, mereka sudah melakukan sesuatu yang sangat menguras tenaga tadi.


"Jangan sering makan pedas, Bar. Enggak bisa punya anak lo entar, baru tau rasa", celetuk Ammar kemudian dengan menatap kuah mie rebus mangkok ketiga milik Bara itu dengan bergidik ngeri. Warnanya merah ke hijau-hijauan gitu. Udah kayak pup nya Melky, kucing kesayangan Ammar.


"Lah apa hubungannya be*o", sewot Bara seraya mengangkat mangkok miliknya untuk menyeruput langsung kuah mie.


"Adalah hubungannya gobl*k. Kalau kecebong lo anget terus dia ngambek gak mau buahi sel telur. Mamp*s lo, dikatain impoten", tukas Ammar dengan menggebu-gebu.


"Masa?, tapi mie nya udah habis gimana dong", cengir Bara tak berdosa sambil menunjuk mangkoknya yang sudah kosong melompong.


Ammar melirik sinis Bara dan mendengus keras.


"Benar kata Ammar, Bar. Kamu jangan sering makan pedas sama mie instan, enggak bagus buat kesehatan."


Kelima laki-laki yang ada di sana sontak terperangah menatap Rea yang terlihat santai meminum susunya.


Kemana gunung es yang menjulang tinggi itu?. Apakan benar-benar sudah mencair tak bersisa?.


"Ngapain kamu perhatian sama Bara sih. Yang suami kamu itu aku, bukan Bara. Jadi perhatian kamu cuma boleh untuk aku", dumel Levi cemburu yang lagi-lagi membuat Ammar, Bara, Bryan dan Romi cengo tak percaya.

__ADS_1


Apakah cinta memang se-ajaib itu hingga mampu merubah dua orang yang terkenal kaku dan dingin tersebut.


Rea mengangkat bahunya acuh. Lalu menatap ke arah teman-teman Levi yang juga tengah menatapnya, "Eh, Morgan mana, kok enggak ikut?", tanya Rea yang terdengar akrab. Entahlah Rea sendiri pun tak tau mengapa mood nya pagi ini sangat bagus sekali.


"Biasalah, si Morgan lagi sibuk sama calon bini nya", Romi yang menyahut dengan santainya.


Rea manggut-manggut. Tiffany memang sering bertukar kabar dengannya, mengenai perkembangan hubungannya dengan Morgan. Dan Rea selalu mendoakan yang terbaik untuk keduanya.


"Hubungan mereka berdua emang gila ya, mendadak gitu. Ajaib", celetuk Bara yang kini sedang mengunyah buah jeruk yang dikupas oleh Ammar. Membuat Ammar mengomeli sahabatnya itu tanpa henti.


"Ho'oh. Dari Morgan, gue percaya kalau takdir Tuhan itu emang ada", sahut Ammar dan menjeda ucapannya sembari menelan buah jeruk, "Dan dari Levi gue belajar, jangan takut kalau jadi jomblo. Buktinya mau sejauh mana dan sekeras apapun Rea mencoba untuk menghindar dari Levi. Tetap aja yang namanya tulang rusuk pasti bakal balik lagi ke pemiliknya. Jodoh udah ada yang ngatur, tinggal nunggu Tuhan aja nyari waktu yang pas buat bersatu."


Prok prok


"Calon dosen", ujar Bryan kagum yang diikuti oleh Bara dengan tepuk tangan hebohnya.


"Asal dia enggak balik lagi dan buat Morgan berulah lagi", cetus Levi dengan pandangan yang fokus pada ponselnya.


Mendadak suasana menjadi hening seketika. Membuat Rea mengernyit heran. Merasa penasaran pun lantas Rea bertanya pada suaminya itu, "Dia yang kamu maksud siapa?."


Levi menoleh dan tersenyum seraya mengelus puncak kepala Rea, "Cepat habisin sarapan kamu, aku tunggu di kamar", ujarnya bukan menjawab pertanyaan Rea.


"Aelah bos, ngusir nya halus amat."


"Kalau kalian pada paham, ya bagus", sahut Levi enteng dan berlalu kembali ke dalam kamarnya.


"Udah lah ayok kita pulang, yang penting kan perutnya udah pada kenyang. Nanti malam kalau kita lapar, ya balik lagi ke sini", Bara bangkit dari duduknya dan berjalan keluar dari ruang makan seraya mengelus perutnya yang sudah terlihat buncit aesthetic.


"Makasih ya bu bos atas sarapannya", ucap Romi dan menyusul Bara.


"Pada enggak sopan lo pada", teriak Bryan pada Bara dan Romi yang sudah menjauh.


"Sekali lagi makasih ya istrinya paketu udah mau numpang kami sarapan. Bila ada salah kata, mohon dimengerti karena kami lapar sehingga otak dan mulut tidak sinkron. Tanpa penghormatan, saya undur diri", Bryan dengan segala ketidak-jelasannya undur diri dan berlalu pergi.


Meninggalkan Ammar yang menatap tak enak pada Rea. Emang kawan laknat.


"Makasih ya Re, lo baik-baik aja ya sama Levi. Semoga lo dan adek bayi nya sehat terus sampai lahiran", ujar Ammar seraya mengelus puncak kepala Rea layaknya seorang Abang pada adik perempuannya.


"Gue balik dulu ya", baru saja Ammar hendak membalikkan badannya. Suara Rea mengurungkan niatnya.


"Dia yang tadi di bilang Levi itu siapa?", tanya Rea yang masih diliputi rasa penasaran. Bukan apa, Rea hanya saja tak ingin perempuan baik seperti Tiffany tersakiti lagi.


Ammar terlihat menegang sebentar sebelum tersenyum kikuk.


"Bukan siapa-siapa, cuma masa lalu."


Rea mengangguk paham. Sepertinya masa lalu itu terlalu sulit untuk diceritakan. Dan Rea tak akan bertanya lebih jauh lagi.


Jujur, Rea sudah menganggap Tiffany seperti saudaranya sendiri. Dan bila ada kesakitan lain yang ingin menimpa perempuan tersebut. Tentu saja Rea tak akan tinggal diam.


...~Rilansun🖤....


...Penasaran ga tuh.......

__ADS_1


...Happy malmimg jomblo😘...


__ADS_2