
...°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°...
...Bisa karena terbiasa, dan nyaman karena merasa aman......
...###...
Ting tong
Levi menekan bel rumah itu seraya mengetuk pintu jati besar berwarna putih tersebut.
Selepas pulang dari kuliah, Levi langsung meng-gas mobilnya menuju kediaman Allandra. Setelah membeli dua kotak martabak telur tentunya. Karena Levi tak ingin dicap sebagai menantu durhaka yang pelit.
Tak berselang lama kemudian. Pintu terbuka dan menampilkan seorang perempuan yang mampu membuat Levi tak fokus dengan pelajarannya hari ini. Bagaimana bisa fokus jika benaknya hanya diisi oleh bayangan wajah-wajah Rea.
"Eum, kamu...udah pulang?", ujar Rea mencoba untuk berbasa-basi, walau itu sulit. Bukankah Rea mengatakan kalau ia ingin mendedikasikan dirinya untuk suami dan keluarganya kelak. Maka hal pertama yang harus dilakukannya adalah berperilaku layaknya seorang istri. Dan mencoba berinteraksi sebanyak mungkin dengan Levi. Sebab jika Rea terus kaku dan dingin, maka pernikahannya tak mungkin bertahan lama. Dan Rea tak ingin hal itu terjadi.
Levi mengangguk singkat dan menarik kepala Rea. Mencium kening istrinya itu cukup lama. Hal tersebut sudah menjadi rutinitasnya sejak tadi pagi, saat Levi hendak berangkat kuliah. Dan kini itu telah menjadi candu untuknya.
Sementara Rea yang di dekap pun hanya bisa menatap lantai yang dipijaknya dengan telinga yang terasa panas. Rea akui jika selama masa kehamilannya ini ia lebih mudah untuk mengekspresikan apa yang ia rasa dan inginkan.
Air matanya mudah jatuh bila melihat atau mendengar hal yang menurutnya menyedihkan. Pipinya mudah memerah jika merasa malu. Serta emosinya yang meledak-ledak tak tentu arah.
Dan Rea menyadari betul perubahannya yang sangat drastis itu.
"Ayo, masuk", ajak Rea setelah Levi menyapa anaknya terlebih dulu. Cewek itu mengambil alih bingkisan martabak telur dari tangan Levi.
Levi melangkahkan kakinya di belakang Rea. Dirinya merasa dejavu. Dulu kehadirannya sangat di tolak di kediaman Allandra. Dan sekarang Levi leluasa untuk bergerak di rumah besar tersebut.
Bukankah Levi sudah menjanjikannya, dan sekarang janjinya telah terbukti.
"Itu Oma dan Opa", bisik Rea saat mereka sudah sampai di ruang keluarga.
Levi lantas sedikit menundukkan kepalanya seraya menyapa dengan sopan, "Sore, Oma, Opa."
"Om", Levi memandang ke arah Reagan yang juga tengah menatapnya.
Vina yang mendengar itu sontak berdiri dari duduknya dan menghampiri Rea serta cucu menantunya itu.
"No Om, that's your father in law son. Come on, don't be so stiff", ujar Vina dengan friendly sembari menepuk pelan pundak Levi. Membuat cowok itu tersenyum tipis.
Awalnya Vina marah saat mengetahui kalau cucu nya telah dinodai. Bahkan ia ingin sekali menggorok cowok bejat itu. Sebab Vina tak ingin lagi melihat perempuannya menangis. Cukup Arinta saja yang waktu itu terlihat sangat rapuh.
Namun niatnya itu ter-urung setelah Reagan menceritakan bagaimana dengan kukuh nya Levi meminta restu dari Reagan dan cowok itu yang telah berhasil mengambil hati Deri.
Bagi Vina, siapapun orang yang dapat mengambil hati Deri adalah orang yang sangat spesial. Karena Deri bukanlah sosok yang mudah membela seseorang.
Dan cucu menantunya itu pasti bukanlah orang biasa.
"Jika saja tenaga saya masih kuat seperti dulu, mungkin malam ini kamu akan menginap di rumah sakit", celetuk Zhein dengan menatap tajam ke arah Levi.
"Maaf, Opa", sahut Levi dengan pandangan yang sangat tulus.
"Tapi saya belum bisa maafin kamu kalau belum jalani hukuman dari saya", tambah Zhein yang membuat semua orang menatap ke arah pria paruh baya itu.
"Apa itu?", tanya Levi. Zhein tersenyum dalam hati saat melihat keberanian yang terpancar dari mata Levi. Cowok itu benar-benar lelaki sejati.
"Push-up empat ratus kali."
Levi menganggukkan kepalanya membuat Rea menatap cowok itu dengan tak percaya.
"Duduk gih sana", Levi menyuruh Rea untuk duduk karena istrinya itu sedari tadi berdiri disampingnya.
Rea menurut dan melangkahkan kakinya bersama Vina menuju sofa besar dimana para keluarganya tengah berkumpul. Setelah mengambil kemeja biru yang dikenakan Levi lebih dulu.
Tanpa menunggu lama lagi Levi langsung mengambil posisi untuk push-up.
Cowok itu terlihat mulai goyah saat hitungan-hitungan terakhir. Namun Levi tetap saja menyelesaikan hukumannya tanpa jeda sedikitpun. Membuat kaos putih yang dipakainya basah kuyup.
__ADS_1
Entah perasaan dari mana, Rea merasa matanya berkaca-kaca melihat Levi yang terlihat susah.
"Finish", ujar Levi saat ia menyelesaikan empat ratus kali push-up nya.
Melihat itu Rea langsung sontak menghampiri Levi dan menarik tangan cowok itu untuk menaiki anak tangga menuju kamarnya.
Membuat semua orang yang berada disana tersenyum geli melihat tingkah ibu hamil satu itu.
Sementara Levi yang ditarik pun mengernyit bingung dengan tindakan istrinya.
"Kenapa?", tanya Levi setelah mereka masuk ke dalam kamar Rea.
Rea menunduk dan menggelengkan kepalanya pelan. Ia sendiri pun bingung dengan apa yang dilakukannya. Mengapa Rea tiba-tiba merasa sangat emosional.
Melihat itu Levi memegang dagu istrinya, mengangkat wajah yang tertunduk itu. Dan Levi kaget saat mendapati mata Rea yang berkaca-kaca. Mengapa wanitanya itu menangis. Apa penyebabnya?.
"Kenapa, hm?", tanya Levi seraya menyentuh bawah mata Rea. Membuat air mata itu turun begitu saja. Lalu Levi dengan sigap menghapusnya.
Rea menggelengkan kepalanya, "Enggak tau", jawabnya polos.
Levi menggigit bibir bagian dalamnya. Gemas melihat wajah polos Rea yang menatapnya. Lalu Levi menarik kepala Rea. Dan...
Cup
"Gue mandi dulu", ujar cowok itu dan berjalan masuk ke dalam kamar mandi yang ada di dalam ruangan tersebut.
Meninggalkan Rea yang mematung dengan tangan yang menyentuh bibirnya. Apa yang terjadi barusan?
...###...
"Duduk."
"Enggak."
"Duduk enggak?", Levi memasang wajah garangnya mencoba menakuti istri mungilnya itu.
Namun bukannya takut, Rea malah menggelengkan kepalanya, "Enggak."
"Eng-", Rea menggantung ucapannya lalu menundukkan kepalanya.
Membuat Levi tersenyum geli. Rea selalu bisa membuatnya senyum-senyum sendiri.
Kemudian ia mengayunkan kakinya memasuki dapur kediaman Allandra. Seperti biasanya, Levi akan memasak untuk Rea karena istrinya itu tiba-tiba terbangun di tengah malam dan mengaku lapar.
Melihat Levi yang masuk ke dalam dapur, Rea lantas diam-diam mengikutinya dari belakang. Rea sangat ingin melihat Levi memasak sambil belajar dari sana. Namun suaminya itu menyuruhnya untuk duduk diam di meja makan.
Kalau Levi keras kepala, maka Rea lebih keras kepala.
"Jangan sentuh apapun", ultimatum Levi ketika melihat Rea yang berdiri disampingnya.
Rea menekuk bibirnya. Tidak Bunda dan suaminya sama saja. Sama-sama overprotektif.
Sebuah ide muncul di otak Rea saat melihat Levi yang tengah sibuk memasak membelakanginya. Lalu dengan pelan-pelan Rea mengambil pisau dan mulai memotong tomat merah.
Setelah selesai memotong tomat, Rea merasa ketagihan dan mengambil satu buah timun. Lalu memotongnya dengan pelan. Takut menimbulkan suara dan membuat Levi memandang kearahnya.
Namun ketika hendak memotong, tanpa sengaja tangan Rea berdarah karena terkena pisau. Refleks cewek itu berteriak pelan membuat Levi sontak menoleh ke belakang.
Jantungnya hampir copot saat mendengar teriakkan kesakitan Rea. Melihat tangan Rea yang berdarah, amarahnya seketika meluap.
"Bandel banget sih dibilangin", Levi mengambil jari telunjuk Rea dan menghisapnya dengan pelan. Takut jika istrinya itu merasa perih. Rea memandang Levi dengan pandangan yang sulit di artikan. Inikah cowok yang dulu sempat Rea benci hingga ke tulangnya. Karena telah mengambil kesuciannya hingga menghancurkan masa depannya.
Setelah itu Levi membersihkan mulutnya di wastafel lalu menggendong Rea. Membopong istrinya itu ke arah meja makan. Dan mendudukkannya di salah satu kursi yang ada disana.
"Duduk diem disini, awas aja kalau keluyuran", ujar Levi tegas.
"Tapi-"
__ADS_1
"Nurut bisa enggak sih?", potong Levi membuat Rea menundukkan kepalanya. Lalu cowok itu kembali melanjutkan masakannya yang tadi sempat tertunda.
Tak berapa lama kemudian, Levi kembali dengan satu piring besar berisi nasi goreng yang menggunung. Berjalan menghampiri Rea yang terlihat menunduk seraya memainkan jari-jarinya di atas pangkuan.
"Nih, habisin", Levi meletakkan nasi goreng itu di atas meja tepat di hadapan Rea.
Cewek itu tak bergeming yang membuat Levi menaikkan sebelah alisnya.
"Kenapa?, ngambek?", tanya Levi iseng seraya mengambil tempat duduk di samping Rea.
Rea tetap diam tak merespon.
Levi menghela nafasnya dan mengangkat wajah Rea untuk menghadapnya. Dan lagi-lagi ia mendapati netra hitam itu kembali berembun.
"Astaga", seharusnya Levi paham kalau perempuan hamil itu hatinya sangat sensitif. Lalu Levi menghapus air mata yang turun dengan perlahan itu.
Kemudian Levi memegang pinggang Rea dan mengangkat istrinya itu ke dalam pangkuannya. Membuat Rea menatap horor suaminya tersebut.
"Habisin", Levi menyodorkan satu sendok penuh berisi nasi goreng ke arah mulut Rea yang terkatup rapat.
"Makan enggak."
Rea tetap enggan membuka mulutnya.
"Makan atau gue cium", ancaman Levi yang berhasil membuat bibir merah itu terbuka secara perlahan.
Arinta yang hendak memasuki dapurnya pun terpaksa berhenti saat melihat dua sejoli yang tengah berpangku mesra di ruang makan.
Awalnya Arinta terbangun sebab ia mengingat jika Rea sering terbangun di tengah malam karena lapar. Dan berniat untuk membuatkan makanan untuk putrinya itu.
Tapi Arinta terkejut saat mendapati Levi yang menyuapkan Rea dengan telaten. Arinta yakin jika makanan itu pasti di buat oleh Levi. Karena Rea tak mungkin bisa, dan para asisten rumah tangganya pun pasti tengah beristirahat.
Melihat itu Arinta lantas tersenyum dengan lebar. Setidaknya hati Arinta lega bila Rea mendapatkan suami yang perhatian seperti itu. Terlebih pada masa-masa yang sangat berharga tersebut.
Dan satu hal yang membuat Arinta takjub, Levi berhasil membuat Rea menjadi seorang gadis yang manja. Putrinya itu susah kali untuk bersikap seperti itu. Bahkan Rea manja kepada dirinya pun bisa dihitung dengan jari.
Arinta jadi iri dengan menantunya.
"Lihat orang lain lagi bermesraan itu dosa loh, Bun."
Arinta tersentak dan memandang dengan kesal Reagan yang memeluknya dari belakang.
"Kayaknya Levi memang benar cowok baik-baik", Arinta tadi sempat mendengar cerita Vina yang mengatakan tentang Levi yang menyanggupi hukuman dari Zhein. Karena Arinta dan Renata yang sedang berbelanja makanan di luar.
Walau hukuman itu terdengar bukan apa-apa. Tapi push-up empat ratus kali dalam sembilan menit bukanlah hal biasa.
"Semoga aja", sahut Reagan yang terdengar ogah-ogahan. Sebenarnya ia masih merasa ragu terhadap menantunya itu.
"Bunda", rengek Reagan seperti anak kecil.
"Hm?."
"Ayok kita pergi bulan madu."
Arinta sontak memukul lengan Reagan yang melingkari perutnya.
"Aku belum bisa ninggalin Rea", jawaban yang membuat wajah Reagan seketika menekuk dalam.
"Ya udah, kalau gitu sekarang aja bulan madu nya, di rumah", bisik Reagan sensual seraya menggigit pelan telinga istrinya.
Pria itu langsung mengangkat tubuh Arinta dalam gendongannya dan membawa istrinya itu kembali ke dalam kamar. Sebelum protes-an maut keluar dari mulut Arinta.
Sementara Rea yang sudah menghabiskan makanannya pun tanpa sadar merebahkan kepalanya pada dada bidang Levi. Entah mengapa, setiap berdekatan dengan Levi membuat Rea selalu merasa aman dan nyaman.
Setelah melihat mata Rea yang terpejam. Levi lantas melayangkan kecupannya di wajah Rea. Tanpa melewatkan se-inci pun.
Lalu cowok itu berjalan menuju lantai dua seraya menggendong Rea ala bridal style.
__ADS_1
...~Rilansun🖤....
Laik dan komenny dong, biar semangat 😉💞