Rearin

Rearin
Mau adek cewek!


__ADS_3

...°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°...


...Waktu berjalan dengan cepat, meninggalkan kenangan-kenangan yang hanya dapat diingat......


...###...


"Eungh", lenguh Rea saat merasakan tidurnya terusik karena sinar matahari yang perlahan masuk ke dalam kamarnya. Membuat Rea mau tak mau harus rela membuka matanya yang masih terasa berat.


Salahkan Levi yang mengajaknya melakukan ibadah setelah mereka melakukan sholat shubuh. Jadi nya kan gini, Rea bangun kesiangan.


Baru saja Rea hendak bangkit dari baringan nya. Pergerakannya seketika berhenti saat melihat wajah damai suaminya. Wajah yang empat tahun belakangan ini sudah mengisi hari-harinya. Dengan penuh suka cita dan kegembiraan. Tak pernah sekalipun Levi cacat dalam menjalankan tugasnya sebagai seorang suami dan Ayah.


Walau di awal-awal pernikahan mereka harus menjalani melo drama rumah tangga.


"Ganteng banget sih, suaminya siapa ini?", gumam Rea sambil mencium kening Levi yang sama sekali tidak terusik dengan tindakannya.


Sepertinya Levi benar-benar kelelahan.


"Kasihan", Rea mengelus lingkaran hitam yang menghiasi wajah Levi, namun sialnya kadar ketampanan Levi tak pernah berkurang sedikitpun. Malah semakin bertambah umur, suaminya itu kelihatan semakin tampan dan dewasa.


Garis rahangnya yang tegas, yang menunjukkan betapa berwibawa dan berkharisma nya Levi ketika menghadapi klien kantornya. Bibir merah yang tak pernah tersentuh tembakau, yang selalu berhasil membuat Rea melayang karena ucapan manisnya. Hidung mancungnya yang menjadi salah satu daya tarik Levi. Lalu yang terakhir, sepasang manik abu-abu yang selalu menatapnya penuh cinta.


Dengan Levi, Rea merasa menjadi wanita yang paling beruntung. Dengan Levi, Rea dapat merasakan apa definisi dari kata queen itu. Levi benar-benar menjadikannya seorang ratu dalam kehidupan dan istana kecil mereka.


"Kok lentikkan punya kamu sih", gerutu Rea ketika matanya menatap kelopak mata Levi yang tidak tertutup sempurna. Levi kalau tidur memang begitu, matanya pasti sedikit terbuka. Itu menandakan kalau Levi tidur dengan sangat nyenyak.


Sedetik kemudian, otak Rea tiba-tiba saja mendapatkan sebuah ide yang cemerlang. Dengan gerakan pelan namun pasti. Rea berlari ke arah meja riasnya, mengambil pouch yang berisi alat-alat tempur para ciwi-ciwi untuk dapat tampil cantik.


Entah setan jahil mana yang merasuki Rea hingga ia memiliki niatan untuk mengaplikasikan make-up pada wajah tampan Levi.


Rea sangat ingin melihat Levi memakai make-up dari dua hari yang lalu. Namun suaminya itu terus saja menolak dan mengatakan kalau dirinya masih laki-laki normal. Dan tak mungkin memakai hal yang sangat feminim tersebut.


Tapi sekarang, tidak ada satupun yang bisa mencegah keinginan Rea itu.


Tangan terampil Rea mulai bermain-main dengan wajah Levi yang masih tertidur damai. Mulai dari menggunakan foundation, concealer, bedak, pensil alis, eyeliner, eyeshadow, blush on hingga lipstik sebagai penutup.


"Uuh, cantik banget sih?", Rea gemas sendiri melihat rupa Levi yang tampak asing namun sangat cantik menurut Rea. Bahkan membuat rasa iri melingkupinya.


Kalau saja Levi itu perempuan, mungkin Rea akan kalah cantik darinya.


Tak ingin melewatkan momen, Rea pun lekas mengabadikan pemandangan tersebut dalam kamera ponselnya. Mungkin Rea akan menjadikannya sebagai wallpaper ponsel.


"Kenapa sih?."


Rea tersentak kaget, "Hah?."


"Kamu kenapa?."


Dengan cepat Rea menggeleng dan menyembunyikan pouch make-upnya ke belakang tubuh.

__ADS_1


"Enggak ada, tadi ada nyamuk. Tidur lagi gih, aku mau turun dulu", Rea mengecup singkat kening Levi, membuat Daddy muda itu kembali memejamkan matanya.


Rea menghela nafas lega dan perlahan turun dari atas ranjang. Menyimpan kembali pouch berwarna putih tersebut ke tempat semula. Dan segera berlalu keluar dari dalam kamar. Sebelum Levi bangun dan menyadari perbuatannya.


Tanpa Rea sadari, Levi sudah bangun semenjak istrinya itu mulai mengaplikasikan maskara pada bulu matanya. Namun Levi tak jadi membuka mata setelah mendengar ocehan istrinya yang terdengar sangat senang.


Levi membuka mata dan tersenyum menatap pintu kamar yang sudah tertutup, "Semoga aja itu tanda", gumam nya.


Kemudian Levi memeluk erat bantal guling dan memejamkan matanya kembali. Melanjutkan mimpinya yang tertunda. Namun alis mata Levi yang sudah dibuat cantik oleh Rea itu perlahan menyatu.


Menyentuh bibirnya dan mengumpat keras saat melihat warna merah-merah yang lengket di tangannya.


Levi lantas mengambil ponselnya, "Sialan!, jelek banget gue", umpat Levi menatap dirinya pada layar ponsel yang mati. Seperti bencong-bencong yang nongkrong di perempatan jalan.


Huh, untung sayang.


...###...


Rea yang baru saja menapaki kakinya di lantai satu dibuat mengernyit kala matanya menatap sang putra kesayangan yang berjalan melewatinya membawa banyak bungkus tepung.


Merasa penasaran Rea pun mengikuti langkah Arthur sampai ke dapur. Tak sampai disitu aja, Rea dibuat bingung saat melihat Arthur yang meminta Bik Mirna untuk mengambilkannya baskom dan beberapa telur.


"Ngapain?", Rea bertanya tanpa bersuara pada Laily yang baru saja memasuki dapur. Menunjuk Arthur yang sudah mulai memasukkan tepung ke dalam wadah.


Wanita yang sedang menggendong balita berumur dua tahun lebih tersebut lantas tersenyum penuh arti.


"Lihat aja sendiri", katanya.


"Arthur mau ngapain sih sayang?", tanya Rea pada akhirnya.


Laki-laki yang baru berusia tiga tahun lebih itu refleks mendongak menatap Mommy nya.


"Apa Mommy?", tanya Arthur balik dengan mengerjapkan matanya lucu.


Rea tersenyum gemas, "Itu Arthur mau buat apa?."


"Ini?", tunjuk Arthur pada tangannya yang sudah dipenuhi dengan tepung.


Rea menggangguk cepat.


"Oh, ini Althul mau buat adek", jawaban santai yang diberikan Arthur mampu membuat rahang Rea terasa jatuh.


"Kasih dong Rea, gak kasihan kamu lihat Arthur yang kebelet banget mau punya adek."


Rea menoleh ke arah Laily yang tampak tersenyum jahil kepadanya.


Lalu Rea menelan kasar saliva nya. Rea akui kalau Arthur itu sangat pintar di usianya yang masih tiga tahun. Bahkan berbicara saja sudah sangat jelas, walau masih terdengar cadel. Membuat Rea terkadang khawatir dengan Arthur yang terlalu cepat menanggapi sesuatu yang dilihat ataupun didengarnya.


"Arthur tau dari siapa kalau buat adek itu harus pakai tepung sama telur gini?", Rea berjalan menghampiri putranya yang sudah duduk di atas meja makan. Membuat Bik Mirna dengan sigap menyingkirkan peralatan makan terlebih dahulu.

__ADS_1


"Kata Oma Lily, kalo Althul mau punya adek, halus minta sama Mommy dan Daddy. Tapi Althul udah minta, tapi adeknya gak datang-datang. Ya udah Althul buat sendili aja", sahut Arthur dengan polosnya, dan sedikit terdengar sedih.


Rea menghela nafas. Enggak anak, enggak bapaknya, sama aja. Selalu saja menerori Rea dengan terus meminta Adek. Rea itu hanya ladang yang siap menerima, kalau Tuhan belum mengizinkan bibit Levi untuk kembali tumbuh di rahimnya. Rea bisa apa. Lagipula Arthur masih terlalu kecil untuk memiliki seorang adik.


"Mommy", panggil Arthur yang menyadarkan Rea dari lamunannya.


"Hm?."


"Kapan sih adeknya Althul datang?. Kata Daddy tadi malam udah buat. Mana?, belum dipaketin ya?", Arthur menunjukkan wajah murungnya menatap Rea.


Rea malah menolehkan kepalanya menatap Laily yang menginap dirumahnya mulai dari tadi malam. Karena Ardean yang sedang menjalankan tugas ke luar kota.


"Ini gimana?", lirih Rea mencoba untuk meminta bantuan kepada Laily yang tampak tertawa.


"Mommy?."


Rea kembali mengalihkan pandangannya ke arah putra kesayangannya.


"Nanti ya, adeknya masih di bungkus dulu, kalau udah siap dibungkus baru dipaketin, terus di anter deh ke rumah Arthur", entah anaknya paham atau tidak.


"Bungkusnya lama Mommy?."


Rea menggaruk pelipisnya dan mengangguk ragu.


"Kalau paketnya lama gak?", tanya Arthur lagi. Balita itu terlihat sangat antusias.


"Emangnya Arthur mau punya adek cewek atau cowok?", timbrung Laily.


"Althul mau yang cewek!. Yang cantik kayak Mommy, kalau cowok ental jelek kayak Daddy."


Laily tertawa keras bersama Anta yang sedari tadi fokus bermain ponsel. Sementara Rea hanya tersenyum tipis, entah kapan pastinya Arthur mulai memusuhi Levi. Yang Rea tau, Arthur mulai bersikap jutek ketika Levi melarangnya untuk tidur bersama sang Mommy.


"Arthur, bunyi ambulan gimana?", tanya Antalva yang tiba-tiba. Laki-laki yang berusia enam tahun itu memang dekat dengan Arthur semenjak Anta yang sering dititip ke Rea saat Laily kabur dulu.


"Waw, waw, waw", jawab Arthur dengan kembali fokus pada tepung dan telur dihadapannya.


"Bukan gitu", protes Anta, "Tapi kayak gini. Tipu, tipu, tipu."


Arthur lantas menatap Abang Anta nya itu dengan mata bulat polosnya, "Abang Anta mau nipu Althul?."


Rea terkekeh pelan. Arthur dengan segala kepolosannya yang terkadang menyebalkan.


Waktu terlalu cepat dalam memainkan perannya. Tak terasa bayi merah yang baru kemarin dia gendong, kini sudah bisa berjalan sendiri. Memanggilnya Mommy dan terus mengatakan kalau dia lebih sayang Mommy nya daripada Daddy.


Dan satu lagi yang terus keluar dari mulut mungil Arthur. Adek, Mommy Althul mau adek pelempuan!.


...~Rilansun🖤....


...Iya end nya msih lm, dua atau tiga chap lg😂🤣....

__ADS_1



__ADS_2