
Mei menatap xing dengan cemberut. "Kenapa mengingatkanku tentang itu." Rengek mei.
"Tidak perlu bicara seperti itu, sudah beberapa kali lho aku berusaha bersikap romantis kepadamu. Tapi balasannya apa, kamu malah mukul aku." Ucap xing malas.
"Iya, iya semua salah aku. Aku yang salah, xing selalu benar." Jawab mei ketus.
'Ketiban karma ini mah namanya.' Batin mei kesal.
"Makanya, tidak usah malu-malu segala. Giliran ada yang jauh lebih berani, kamu iri. Dasar aneh." Ucap xing seraya mencubit hidung mei gemas.
Mei memeluk leher xing dan membenamkan wajahnya di dada xing. Xing sendiri hanya terkekeh geli karena menurutnya sifat pemalu dan bar-bar mei itu terlalu unix dan menggemaskan.
'Ini yang membuatku tidak bisa marah kepadamu mei.' Batin xing, dia mengusap pungung dan puncak kepala mei sayang.
'Nona muda, ada beberapa kupu-kupu pembawa pesan yang mengarah kepada anda.' Ucap seseorang melalui telepati.
Mendengar hal itu sontak saja membuat mei langsung menegang dan waspada.
"Turun, kita turun sekarang xing!." Ucap mei serius.
Xing yang melihat wajah mei yang terlihat serius dan waspada pun langsung menuruti keinginan mei. Dia membawa mei turun, mei langsung melopat turun dari pelukan xing. Tatapannya menusuk saat melihat sekelompok kupu-kupu pembawa pesan yang terbang ke arahnya.
"Kupu-kupu pembawa pesan." Gumam xing, dia melirik mei sekilas. Sedangkan mei hanya bisa menggeleng tanda tidak tahu siapa yang akan mengirimi pesan di saat dan tempat yang tidak biasa seperti ini.
Tanpa menunggu waktu xing langsung membuat segel untuk melindungi dirinya dan mei dari bahaya. Dia tidak ingin menyepelekan sesuatu yang remeh seperti itu. Bisa jadi itu adalah salah satu siasat untuk melukai dirinya dan mei.
"Kenapa kamu membuat segel segala xing?." Tanya mei bingung.
Setelah mengaktifkan segel rune dia langsung menarik mei kedalam pelukannya.
"Kupu-kupu itu terlalu mencurigakan. Siapa yang dengan iseng mengirim pesan kepada kita sampai di hutan seperti ini. Ini bukan zaman kita dulu, sekarang sudah ada tempat tinggal yang alamatnya tepat dan akurat. Kenapa harus mengikuti kita, kenapa tidak di kirim ke rumah atau mansion klan sekalian hmm." Jelas xing.
"Benar juga ya. Aku tidak terfikirkan sampai di situ, padahal para penjaga memberitahuku dengan nada suara yang terlihat waspada. Maka dari itu aku langsung tegak dan waspada." Ucap mei.
__ADS_1
'Apa ini perbuatan livia. Dia benar-benar tidak pernah berubah. Orangnya memang menghilang dari pandangan tapi perbuatannya sangat terlihat nyata.' Batin xing geram.
Mei mendongak menatap xing dengan lembut. Tangannya menjulur dan mengusap rahang xing dengan pelan dan lembut.
"Jangan menuduh orang sembarangan xing. Tidak baik." Mei meperingatkan xing agar dia tidak berpikiran aneh-aneh.
Xing mengeratkan pekukannya. "Bukannya berpikiran aneh atau menuduh orang sembarangan. Tapi siapa lagi yang ingin menyakitimu kalau bukan dia." Bisik xing.
"Dia orang yang sangat mencintaimu, bahkan kamu dulu sangat mencintainya. Dia hanya cemburu xing."Ucap mei dengan wajah yang terlihat muram.
"Aku tidak pernah mencintainya seperti aku mencintai kamu." Jawab xing cepat dan yakin, hatinya bergemuruh saat melihat wajah muram yang di tunjukan oleh mei tadi.
Mei terbelalak menatap xing tidak percaya. "Benarkah? Tapi bukankah dia adalah kekasihmu di kehidapanmu yang terdahulu?." Tanya mei bingung.
'Masa orang secerdas xing pernah salah tafsir sih.' Batin mei penuh tanya.
"Kita memang pernah menjadi sepasang kekasih. Tapi asal kamu tahu, saat livia memakiku dan memintaku meninggalkannya, itu tidak jauh lebih sakit saat aku mengetahui jika orang yang tinggal bersamaku selama beberapa tahun adalah kamu, Olivia Mei orang yang selama ini aku tangkap,aku buru dan bersumpah ingin aku bunuh. Rasa sakit karena aku ternyata masih sangat mencintai kamu meski aku sudah tahu jika kamu adalah musuhku. Itu sangat menyakitkan hingga membuatku tidak ingin hidup lagi." Jawab xing.
Degg
Jantung mei mencelos sakit saat mendengar penuturan xing tersebut. Tubuhnya langsung lemas, meski dia sudah mengetahuinya tapi dia tetap tidak mampu mendengarnya. Hatinya sangat sakit bagai di tusuk benda yang sangat tajam, masa lalunya terlalu menyakiti banyak orang.
'Kenapa harus aku yang melakukan itu semua, kenapa dulu aku tidak bisa menjadi baik, kenapa aku harus jahat.. Kenapaa..' Batin mei meratapi masa lalunya yang kejam dan penuh darah.
Xing memeluk erat tubuh mei yang terlihat lemah dan sangat terguncang tersebut. Mereka berdua duduk dengan tubuh yang saling berpelukan. Tenaga yang mereka miliki tiba-tiba langsung menguap tak bersisa saat kembali mengingat masa lalu yang sangat menyakitkan tersebut.
"Maaf.. Maafkan aku, maaf karena terlalu jahat. Andai saja jika saat itu aku tidak kabur dari sel dan di eksekusi. Mungkin semuanya tidak akan semenyakitkan ini." Lirih mei di sela-sela isak tangisnya.
Sedangkan xing sendiri yang mendengar perkataan mei tubuhnya langsung kaku dan tegang. Jantungnya berdetak kencang, dia menangkup wajah mei yang masih bersandar lemah di dadanya.
"Mungkin memang segalanya akan sangat berbeda. Tapi akankah aku bisa hidup tanpa belahan jiwaku? Aku akan selamanya kosong, hidup tanpa arah dan merasakan rasa sakit tanpa tahu mengapa itu semua terjadi. Aku akan hidup bagai makhluk tanpa jiwa. Merasa kosong dan hampa tanpa tahu alasan dari kekosongn dan kehampaan tersebut. Bukankah itu jauh lebih menyakitkan dan menyiksa."
Mei menatap mata xing dengan intens. "Bukankah kamu biasa saja dulu, kamu bisa menolong banyak orang. Kamu bisa tersenyum cerah dengan orang lain, kamu bisa mencintai livia. Kamu bisa melakukan apa saja."
__ADS_1
"Apakah kamu yakin? Kamu tahu, kehidupanku memang terlihat biasa saja dan tanpa gangguan. Tapi saat aku melihat ke atas ke arah bintang, saat aku tidur, saat aku sendirian, selalu ada bayangan seorang gadis dengan seringai tajamnya yang selalu hadir. Cara bicaranya yang kekanak-kanakan serta centil itu selalu hadir dalam mimpi dan pikiranku." Ucap xing, dia menatap wajah mei yang tetlihat sembab kini di hinggapi oleh rona merah yang menjalar hingga ke leher.
'Aku tidak centil tahu.' Batin mei.
"Bahkan saat aku melihatmu saat itu jantungku bergejolak tajam berbagai penolakan dan sangkalan selalu menyelimuti hatiku, meski tahu jika itu adalah nyata dan bukan hanya sekedar mimpi. Bayangan itu hilang tergantikan olehmu. Saat aku menyelamatkanmu saat itu aku sangat bahagia karena aku tahu jika kamu adalah orang yang selalu ada di setiap nafasku. Yang terbayang tanpa henti, kecemasanku seketika hilang saat mengetahui jika bukan olivia mei yang menjadi takdirku. Walau ternyata kalian adalah orang yang sama." Lanjut xing.
"Apakah kamu menyesali segala hal yang sudah terjadi?." Tanya mei.
"Dulu memang ada penyesalan, tetapi seiring berjalannya waktu penyesalan itu sirna. Sekarang kita jauh lebih dewasa dan tahu harus menaggapi seperti apa suatu peristiwa yang mengiringi hidup kita. Tidak bisa kita terus menyesalinya, tidak akan ada kebahagiaan jika kita terus menyesali dan berkubang dalam penyesalan." Jawab xing lembut.
"Lalu bagaimana bisa kamu bersama livia menjadi kekasih saat ada bayanganku di setiap langkahmu." Jujur saja ada sedikit rasa cemburu di hatinya.
Xing terkekeh kecil saat melihat mei yang cemburu tersebut. "Bukankah aku sudah pernah mengatakan kepadamu jika aku tidak pernah memiliki saudara perempuan. Maka dari itu saat livia datang dalam hidupku aku merasa harus selalu menjaganya dan memberinya kebahagiaan. Melihatnya tersenyum itu membuatku sangat bahagia, maka dari itu aku salah menafsirkannya sebagai cinta kepada kekasih. Baru saat aku bertemu denganmu dan menolongmu saat itu aku sadar jika ternyata aku hanya mencintainya sebagai adik bukan sebagai kekasih." Jelas xing.
"Kenapa bisa seperti itu?." Tanya mei bingung, dia sedikit bingung bagaimana biasa xing membedakan rasa cintanya itu.
"Saat aku bersamamu dulu aku tidak hanya merasa ingin menjaga dan membuatmu bahagia. Aku ingin kamu selalu ada di sampingku dan menjadi ibu dari anak-anakku. Pemikiran tersebut benar benar serasa menghantamku hingga aku tersadar dengan perasaanku selama ini. Bahkan sekarang aku jauh lebih posesif, melihatmu dekat dengan viagra saja itu sudah sangat membuatku cemburu." Jawab xing, dia terkekeh sendiri saat mengingat dulu dia sangat cemburu ketika pertama kali melihat viagra berjalan berdua bersama mei.
Mei terperangah menatap xing dengan tatapan tidak percaya. "Kkkamu cemburu dengan viagra.." Ucap mei tidak percaya dengan apa yang di dengar.
"Iya sangat cemburu.." Jawab xing jujur.
"Jang.."
Duarr Brukk
Tiba-tiba terdengar suara ledakan yang cukup keras yang membuat mereka langsung terkejut.
...----------------...
......................
Jangan lupa dukungannya teman-teman 😘😘
__ADS_1