Reinkarnasi Belahan Jiwa

Reinkarnasi Belahan Jiwa
111. Salah paham


__ADS_3

Mei menatap Xing dengan nyalang. Kemudian dia mencubit tubuh Xing dengan keras.


"Nih.. Rasain kamu tadi mengelitiki ku bukan. Sekarang rasakan balas dendam dariku. Nih.. Rasakan.." Mei mencubit serta memukul Xing dengan keras hingga membuat Xing mengaduh kesakitan.


"Aw.. Aw sayangg.. Aw stop sakit sayang.. Aw.." Pekik Xing kesakitan.


Mei menghentikan cubitan serta pukulannya kepada Xing. Dia menatap dengan puas tubuh lebam xing akibat cubitan yang di lancarkannya.


'Maha karya yang sangat spektakuler. Master piece Mei Shine Azar memang di patut di acungi jempol.' Batin Mei puas melihat lebam biru tua yang ada di lengan hingga leher Xing.


Xing melotot menatap Mei dengan tatapan tajamnya. Dia sangat kesal bagaimana bisa Mei malah menatapanya dengan tatapan sangat senang seperti itu, seakan sangat bahagia karena mendapatkan lotre senilai satu miliar.


"Apa.." Tanya Xing sewot.


Mei melipat tangannya di dada dan menyeringai. Dia menujuk tubuh Xing yang lebam. "Ini, ini, ini dan ini. Mereka adalah hasil mahakarya dari seorang Mei Shine Azar. Lihat! Warnanya sangat cantik seperti bunga." Ucap Mei dengan ekspresi puasnya.


Xing berjalan ke depan cermin besar yang ada di kamar Mei. Matanya langsung melotot saat melihat bercak lebam berwarna biru tua yang ada di tangan dan lehernya. Lalu dia mengangkat kaos yang di pakainya dan terlihat lebam yang sama menghiasi perutnya.


'Sial, hobby sekali sih dia menyiksa fisikku seperti ini.' Umpat Xing.


Xing melesat ke arah Mei dia memepetkan tubuh mungil Mei ke tembok dan mengungkungnya.


"Kamu sangat puas hmm?.." Desis Xing dengan suara rendahnya. Dia lalu meraih tangan Mei dan mengigit kecil tangan Mei hingga muncul lebam sama seperti yang ada di tubuhnya.


"Aw.." Pekik Mei kesakitan hingga membuat Mei secara reflek memukul pundak Xing.


"Kenapa mengigitku? Sakit tahu, kamu ini jahat sekali." Ucap Mei dengan kesal.


"Cih.. Jahat, yang mulai itu kamu duluan Mei sayang. Aku hanya membalasnya saja, masih untung hanya satu tangan. Tidak seluruh tubuhmu, bisa habis kamu nanti." Ucap Xing dengan cuek.


Mei meraih pingang Xing dan memeluknya, dia mendongak menatap Xing dengan ekspresi cemberut menghiasi wajahnya.


"Aku baik hati kok, tidak jahat. Pak santa saja selalu memberiku kado natal setiap tahunnya, tidak pernah bolong." Ucap Mei, memasang wajah imutnya.


Xing terkekeh geli dan mencubit pipi Mei. "Benarkah, memangnya ada Sinterklas. Mereka hanya karangan bangsa manusia Mei sayang." Ucap Xing gemas dengan tingkah Mei.


"Ada kok, daddy dan kak sean selalu menjadi sinterklas dan memberiku kado setiap tahun."

__ADS_1


Xing terdiam, membayangkan bagaimana penampilan kekar serta atletis julius dan sean berubah menjadi sinterklas yang biasanya di identikkan dengan badannya yang berisi serta agak buncit di bagian perut.


Tubuh Xing bergidik membayangkan penampilan aneh dari julius dan sean.


Mei menutup mulutnya menahan tawa saat melihat wajah bengong Xing. Dia tahu, pasti Xing membayangkan bagaimana penampilan daddy-nya dan sean akan seperti apa jika di balut pakaian sinterklas yang merah cerah bagai buah stroberi itu.


"Wajah kamu kenapa aneh seperti itu Xing? Masih tidak percaya ya?." Tanya Mei, berpura-pura tidak tahu apa tang tengah di bayangkan oleh Xing.


"Kamu yang benar saja. Masa daddy julius dan kak sean yang atletis memakai pakaian siterklas. Pasti baklan aneh penampilan mereka berdua." Ucap Xing tanpa sadar mengatakan apa yang di pikirkannya.


Mei melotot menatap Xing dengan tajam. "Apa? Daddy dan kak sean anehh.." Ucap Mei dengan penuh penekanan.


Xing terbelalak menatap Mei dengan cangung. Dia mengaruk plipis-nya yang tidak gatal.


'Aduh, salah lagi kan, Xing bodoh.' Teriak Xing dalam hati mengumpati dirinya sendiri.


"Sorry sayang. Bukannya mau mengejek mereka berdua, hanya saja. Coba kamu bayangin bagaimana penampilan mereka berdua dengan pakaian yang berwarna ngejreng seperti itu."


"Tidak perlu membayangkan saja, aku sudah melihatnya. Dan biasa aja tuh penampilan mereka, tidak aneh sama sekali." Ucap mei cuek, padahal dalam benaknya dia membenarkan perkataan Xing.


'Penampilan mereka memang aneh sih. Sinterklas tapi badannya kekar dan atletis.' Batin Mei menyetujui pikiran Xing.


'Apa karena Mei sudah biasa melihatnya maka dari itu Mei merasa tidak aneh.' Batin Xing.


"Benarkah, menurut bayanganku mereka akan terlihat an.."


Brak


Suara gebrakan akibat pintu yang di buka paksa pun langsung mengalihkan atensi mereka berdua. Mei dan Xing menatap ke arah pintu kamar Mei dengan tatapan bingungnya. Tampak jelas Viagra sang pelaku pengebrakan tersebut. Nafas Viagra kembang kempis tak beraturan saat melihat posisi antara Mei dan Xing yang terlihat sangat intim tersebut.


Matanya di buat semakin melotot saat melihat lebam di leher dan tangan Xing. Dia juga melihat lebam yang sama ada di tangan Mei. Matanya berkilat tajam melihat pemandangan tersebut.


"Apa yang sudah kalian lakukan.." Desis Viagra dengan suara rendahnya.


Xing mengangkat sebelah alisnya tanda dia tak mengerti maksud Viagra. Kemudian dia menatap Mei yang di balas gelengan olehnya.


"Maksudnya apa? Kita tidak melakukan apa pun kok." Ucap Xing dengan tenang, meski dia masih bingung dari maksud Viagra. Apa lagi saat melihat raut wajah marah yang di tunjukan oleh Viagra, dia semakin bingung.

__ADS_1


Viagra menatap mereka berdua dengan tatapan berangnya. "Tidak melakukan apa-apa bagaimana. Posisi kalian yang intim seperti itu kok kalian bilang tidak melakukan apa-apa. Jangan bilang tidak melakukan apa-apa jika kissmark di leher dan tangan kamu tidak terlihat Xing, bahkan di tangan Mei pun juga ada kissmark. Seperti itu yang tidak melakukan apa-apa." Raung Viagra dengan wajah murkanya. Terlihat jelas wajah Viagra yang sudah merah padam karena marah.


"Apa karena hukuman yang di berikan oleh uncle julius kurang berat hingga kalian berani melakukan ini." Desis Viagra, mengingatkan hukuman yang harus mereka tangung akibat ciuman di hutan saat itu.


Mereka berdua tertegun tidak menyangka jika ulah keisengan mereka berdua sampai menimbulkan kesalah pahaman seperti ini. Mereka saling lirik dan hanya bisa menghela nafas.


"Kenapa kalian tidak merasa berslah hah. Aku pastikan kalian berdua akan mendapatkan hukuman yang jauh kebih berat." Ucap Viagra datar.


Mereka berdua menghela nafas, lalu mengubah posisi dan menatap viagra dengan tatapan datar.


"Ini tidak seperti apa yang ada di pikiran kamu viagra. Yang ada di leher dan tanganku ini bukan kissmark, tapi bekas cubitan yang di lakukan oleh Mei tadi." Ucap Xing dengan tenang agar tidak menumbulkan masalah lagi.


"Cubitan." Viagra menatap mereka berdua dengan bingung.


"Iya, tadi Xing mengelitiki ku hingga membuatku sangat kegelian. Aku tidak terima dong, ya aku cubit dan aku pukul dia dengan keras." Ucap Mei sewot, dia melirik Xing dengan tatapan sinisnya.


"Kan bisa di gelitiki balik sayang. Sakit ini kamu cubitin, tenaga kamu itu sudah seperti bison tahu." Ucap Xing.


Mei menatap Xing dengan nyalang. "Kayak bison katamu." Pekik Mei.


"That's right. Look! Tubuhku sampai lebam biru seperti ini. Kalau tidak menggunakan tenaga bison kamu ya tidak akan sampai seperti ini." Jawab Xing sembari menunjukkan lebam yang ada di tubuhnya.


Mei tersenyum kikuk dan menatap Xing dengan perasaan bersalahnya. "Maaf Xing, habisnya aku sebal sekali sih."


Xing tersenyum tipis dan merangkul pingang Mei, dia lalu mencium hidung mei kilat. "Tidak apa-apa. Lain kali jangan pakai tenaga super kamu ya kalau sedang sebal denganku." Ucap Xing dengan lembut.


Wajah Mei memerah saat mendapat perlakuan manis dari Xing. "Iya iya. Tapi aku tidak janji ya."


Xing terkekeh geli, dia mencubit pipi Mei karena gemas dengan wajah mei yang terkihat imut saat merah padam seperti ini.


Viagra yang melihat kemesraan mereka berdua pun hanya mendengus kesal, niatnya ingin memarahi mereka berdua tapi malah dirinya yang di cuekin seperti ini.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Jangan lupa dukungannya teman-teman 😘😘


__ADS_1


Baca Juga ceritaku yang sebelah ya


__ADS_2