Reinkarnasi Belahan Jiwa

Reinkarnasi Belahan Jiwa
114. Segalanya Sudah Tertulis (Takdir)


__ADS_3

Mei berlari mengejar Xing, lalu dia mengandeng tangan Xing. Dia tersenyum manis hingga membuat Xing mengangkat sebelah alisnya, bingung dengan tingkah Mei yang terkadang tak terpikirkan olehnya.


'Lah, bukannya dia tadi kesal ya. Kok bisa langsung tersenyum cerah seakan tidak sedang kesal.' batin Mei bingung dengan tingkah Mei yang berubah-ubah.


"Kenapa kamu senyum seperti itu? Aneh tahu."Ucap Xing datar.


Mei mencebikkan bibirnya. "Aku tidak jadi kesal kok. Nanti kalau kesal mulu,aku jadi kelihatan tua. Seperti kamu yang kelihatan tua banget." Ucap Mei enteng.


Xing langsung menghentikan jalannya dan menatap Mei dengan tatapan tajamnya. "Kenapa kamu suka sekali mengungkit-ungkit umur sih? Aku bukaan tua, tapi sudah dewasa. Tidak seperti kamu yang masih bocah." Sarkas Xing.


Mei melepas gengamannya, dia berkacak pingang menatap Xing dengan tatapan sebalnya. "Aku juga sudah dewasa kok. Buktinya aku makan sendiri tidak minta di suapin. Berangkat kuliah sendiri juga." Ucap Mei sewot.


Xing tersenyum tipis saat mendengar jawaban yang menurutnya sangat lucu dari Mei. Dia lalu mengacak-acak rambut Mei karena saking gemasnya.


"Ishh.. Jangan di acak-acak dong rambutku! Berantakan jadinya." Protes Mei tak suka jika rambutnya di acak-acak oleh Xing.


"Anak kecil umur lima tahun saja juga bisa seperti itu Mei.. Sayang.." Ucap Xing gemas.


Mei yang tengah merapikan rambutnya pun langsung terdiam saat mendengar apa yang di katakan oleh Xing.


'Dia benar juga. Tapi aku tidak terima di bilang masih bocah.. Umur kita cuma beda delapan tahun, tidak seperti Felix dan Zuu yang perbedaan umurnya saja sampai ratusan tahun.' Batin Mei.


Xing terkekeh geli saat melihat Mei yang terdiam dan tampak tengah berpikir keras tersebut. Xing mengengam tangan Mei, dia mengajak Mei untuk masuk ke dalam rumah.


"Xing taman yang ini hijau sekali. Adem deh hawanya, aku suka. Apa lagi ada kolam berenangnya. Ada gazebo di pinggir kolam, terus ini ada batu-batu kecilnya sebagai jalan setapak. Di tambah di masing-masing sisi ada rumput hijau membembentang lagi. Aku tidak pernah berpikiran untuk membuat taman yang seperti ini lho. Kamu pintar juga." Ucap Mei mengomentari desain taman hijau yang menurutnya sangat indah dan sejuk.

__ADS_1


Xing melirik Mei sekilas, senyum tipis tersunging di bibir tebalnya. "Kita hidup dengan alam sayang, dan warna hijau adalah simbol dari alam itu sendiri. Jika kita sudah kembali dan menyatu dengan alam, ketenangan yang akan kita dapatkan. Hal itu yang membuatku mendesain taman ini." Jelas Xing.


"Seperti kamu yang selalu membuatku tenang. Kamu adalah tempatku untuk pulang. Berada di dekatmu aku merasakan bagaimana ketenangan itu. Kamu adalah alam bagiku." Lanjut Xing dengan lembut.


Mei menatap Xing sayang. Hatinya tersentuh saat mendapatkan kalimat yang sarat akan makna dari Xing. "Bukannya Keluarga Aladric adalah tempat kamu pulang." Ucap Mei lembut.


'Bagaimana bisa aku seberuntung ini. Bisa mendapatkan cinta yang sangat besar dari orang yang sangat sempurna sepertimu. Kamu adalah cinta pertamaku, pria pertama yang sangat aku cintai. Kenapa takdir suka sekali mempermainkan kita seperti ini.' Batin Mei.


Xing menghentikan jalannya, dia menatap Mei sejenak. Lalu dia mengajak mei untuk duduk di gazebo yang berada di pinggir kolam. Dia memeluk Mei dari belakang sembari menyenderkan pungungnya di gazebo. Sedangkan Mei sendiri menyenderkan tubuhnya di tubuh Xing.


"Keluarga Aladric memang keluargaku, aku bisa mengunjungi mereka kapan pun aku mau. Di masa lalu aku mengembara jauh dari keluargaku, dan itu baik-baik saja. Bahkan saat aku memutuskan untuk bunuh diri, tidak sekali pun terlintas di benakku mengenai Keluarga Aladric. Hanya kamu yang aku pikirkan. Kamu adalah belahan jiwaku, yang akan ada di setiap nafasku."


Deg


Keluarganya mengirimnya untuk mengembara agar dia bisa lebih memahami kehidupan masyarakat agar dia tahu bagaiamana atau hal apa yang harus dia lakukan jika nanti dia harus naik tahta memimpin Klan Aladric. Hal itu secara tidak langsung telah memberinya jalan saat dia melakukan bunuh diri saat itu, keluarganya harus terbiasa tanpa dirinya, begitu pula sebaliknya. Sudah takdirnya jika dia harus berpisah dengan keluarganya saat itu. Sakit pasti ada, tapi mereka masih bisa maju dan melanjutkan hidup tanpa dirinya.


Dia bertemu dengan Livia, pembantaian Mei terhadap Klan Song. Dia yang hidup dengan Mei tanpa mengetahui identitas asli dari Mei selama sepuluh tahun. Itu takdir yang sudah tertulis. Dia sudah pernah mengira mencintai Livia, nyatanya dengan begitu mudahnya jatuh cinta dengan Mei yang merupakan seorang yang sangat jahat. Bahkan kebencian yang di kiranya sangat besar terhadap Mei itu tidak lebih besar dari cintanya terhadap Mei. Dia tidak merasakan sakit yang teramat sangat saat Livia menyalahkannya, dia bisa pergi mengembara tanpa Livia. Tapi saat tahu jika Mei yang telah bersamanya selama sepuluh tahun, dia di tipu selama itu. Hatinya sangat sakit, sakit sekali. Dia bahkan tidak mampu untuk menyakiti Mei meski hanya secuil. Dia lebih memilih meninggalkan Mei selamanya,dari pada harus menyakiti orang yang paling berharga di dalam hidupnya.


Dan di kehidupan ini dia tetap memilih Mei meski banyak penyangkalan yang di lakukannya. Bahkan dia berusaha menyakiti Mei dengan sengaja. Tapi yang dia dapat adalah rasa sakit bagi dirinya sendiri. Hatinya ikut merasakan rasa sakit itu.


Karena Mei adalah Belahan jiwanya. Hidupnya, nafasnya, dan tempat berpulangnya.


Mei mendongak menatap Xing sejenak, dapat di lihatnya jika Xing tampak memikirkan sesuatu.


"Apa kamu memikirkan apa yang aku pikirkan?." Tanya Mei dengan lembut.

__ADS_1


Xing membuka matanya, dia langsung melihat Mei. Di cium dahi mei cukup lama untuk menyalurkan segala rasa yang tengah dia rasakan saat ini.


"Ya, aku baru menyadari jika apa yang kita alami entah di masa lalu atau masa kini. Semuanya ada maksud dan tujuan, terkadang takdir itu sangat membingungkan dan mencengangkan." Ucap Xing dengan lembut.


Mei menyandarkan kepalanya di dada Xing, dia bisa mendengar bagaimana degub jantung Xing yang berdegub sangat cepat.


"Kamu benar, mau marah tapi tidak bisa. Tapi terkadang aku menjerit kepada Tuhan, kenapa takdirku harus sekelam itu. Tidak ada satu pun yang bisa membuatku bahagia. Hanya sedikit yang membuatku bahagia. Rasanya aku tidak ingin hidup saja jika harus kembali seperti itu." Lirih Mei.


Xing langsung mengeratkan pelukannya terhadap Mei saat mendengar perkataan Mei. Jantungnya semakin bergemuruh saat membayangkan bagaimana dia hidup jika Mei tidak ada di sampingnya.


"Sudah pernah aku bilang. Jangan pernah mengatakan itu,kamu harus hidup. Bagaimana aku bisa pulang jika kamu pergi meninggalkanku. Hanya bersamamu aku merasa lengkap. Kamu bukan hanya Belahan Jiwaku, tapi kamu adalah cintaku, hidupku." Ucap Xing dengan suara parau.


"Kamu tahu Xing, di kehidupanku yang terdahulu kamu adalah cinta pertamaku. Kamu adalah pria pertama yang yang aku cintai. Kamu adalah orang kedua yang aku cintai setelah mommy ku. Dan di kehidupanku saat ini kamu adalah pria ke tiga yang aku cintai setelah Daddy Julius dan Kak Sean. Orang ke lima setelah Mommy Zein dan Mommy Angela. Dan orang pertama yang paling aku cintai sebagai kekasih, orang pertama yang paling aku cintai setelah nanti menjadi suamiku." Ucap Mei dengan lembut, senyum tipis menghiasi bibirnya saat mengatakan hal tersebut.


Xing mentap Mei dengan tatapan penuh kasih sayang. "Kenapa selisihnya banya sekali di kehidupan kedua mu?." Tanya Xing, pura-pura kesal.


"Tentu saja, mereka adalah cinta pertamaku. Di kehidupanku yang terdahulu, satu-satunya yang mencintaiku tanpa batas adalah Mommy Zein. Sedangkan di kehidupan ini aku memiliki keluarga yang sangat mencintaiku. Bahkan sebelum aku kembali bertemu denganmu, aku saja baru sadar jika aku jatuh cinta denganmu setelah dapat pencerahan dari keluargaku. Jadi mau protes bagaimana hmm.." Ucap Mei.


Xing mencubit pipi Mei dengan gemas. "Aku tidak bisa protes denganmu sayang. Kamu terlalu imut."


Mei ikut mencubit pipi Xing. "Khamu huga heselhin khok.." Ucap Mei tidak jelas karena pipinya di cubit oleh Xing.


...****************...


Jangan lupa dukungannya teman-teman 😘😘

__ADS_1


__ADS_2