
Xing menatap aurel dengan tajam. "Jika anda tidak ingin saya blacklist, perbaiki sikap anda! Anda harus profesiona, bagi saya bisnis adalah bisnis. Tidak ada yang namanya hal pribadi masuk ke dalam ranah bisnis. Atitude anda yang akan menunjukkan seberapa pantas anda harus di hormati oleh orang lain." Ucap xing dingin.
"Baik pak, saya akan lebih profesional. Saya akan fokus berkerja dan akan berperilaku lebih baik. Tapi saya mohon pak jangan pecat dan blacklist saya pak." Sahut aurel dengan cepat, dia menatap xing dengan tatapan yang memohon.
"Tunjukkan! Saya tidak suka orang yang hanya berbicara di mulut saja tapi tidak ada prakteknya. Tunjukkan dengan benar apa yang sudah anda katakan tadi, awas saja jika berani macam macam!!." Jawab xing tajam. Dia sudah terlalu kesal dengan kelakuan aurel, di tambah peghinaan yang di lakukannya terhadap mei yang justru membuatnya semakin kesal.
Lalu xing menatap mei yang sedari tadi hanya diam memperhatikan mereka berdua. "Sayang, kita pergi sekarang. Aku sudah tidak tahan dengan suasana di sini, aku harap leon segera kembali." Ucap xing.
Mei tersenyum. "Kamu bisa keparkiran dulu, aku ada urusan sebentar."
Xing menaikkan sebelah alisnya saat mendengar jawaban dari mei tersebut, dia menatap mei dengan intens sebentar. "Baiklah, aku akan menunggu di mobil. Tapi jangan terlalu keras ya." Kata xing sembari memperingatkan mei seakan dia tahu apa yang akan di lakukan oleh mei.
"Tidak akan, aku akan lembut kok." Jawab mei main main.
Xing berjalan kearah mei dan mencium pipinya sebentar, setelah itu dia pergi meninggalkan ruangannya.
'Aku harus melihat melalui cctv, sepertinya akan menarik.'
Mei tersenyum memandang kepergian xing, setelah xing sudah benar benar pergi jauh, mei berjalan menghampiri aurel yang masih menatap kepergian xing dengan nanar.
"Apakah sudah puas memandangnya?." Tegur mei.
Aurel langsung menengok ke arah mei. "Kamu, gara gara kamu pak xing jadi marah kepadaku. Sihir apa yang sudah kamu lakukan hah." Teriak aurel.
Mei menatap aurel nyalang. "Sepertinya anda melupakan peringatan yang sudah di berikan oleh xing kepada anda. Apakah anda benar benar ingin di blacklist hmm.." Ucap mei main main.
Aurel semakin menatap mei dengan tajam, kemarahannya kembali memucak hingga nafasnya sudah naik turun tak beraturan. "Dia tidak akan pernah memblacklist ku, aku pastikan itu." Jawab aurel dengan pdnya.
Mei menyeringai. "Percaya diri sekali anda, anda sudah tidak mendengarkan peringatan yang xing berikan. Otomatis xing akan langsung memblacklist anda."
"Dia tidak akan melakukan itu dan saya sama sekali tidak melangar peringatannya."
"Anda menyalahkan saya karena xing marah kepada anda dan anda menuduh saya melakukan sihir kepada xing. Bukankah tadi xing sudah memperingatkan anda untuk berperilaku sopan dan tidak menghina saya. Saya akan bilang kepada xing apa yang sudah anda katakan kepada saya. Saya akan bilang kepadanya jika anda sama sekali tidak mengindahkan peringatannya."
"Silahkan anda bilang kepada pak xing, toh anda juga tidak memiliki bukti sama sekali bukan."
Mei kembali menyeringai saat mendengar jawaban dari aurel. Kemudian dia menunjuk ke arah cctv yang ada di ruangan tersebut. "Lihat itu! Ada cctv. Tanpa saya memperlihatkan bukti pun xing pasti sudah melihatnya. Dan saya juga tidak perlu bukti, xing pasti akan mempercayai saya."
Aurel terbelalak saat melihat cctv yang di tunjuk oleh mei.
'Apa.. Bagaimana bisa, bagaimana bisa aku seceraboh ini. Harusnya aku sadar jika ada cctv di ruangan ini. Bagaimana nanti jika aku benar benar di blacklist.' Batin aurel cemas, dia merutuki kecerobohannya sendiri.
__ADS_1
Mei menyeringai melihat aurel yang sudah terlihat cemas, dia lalu berjalan ke arahnya hingga berada tepat di depan meja kerja aurel.
"Mulai cemas hmm. Anda tahu, saya memang jauh lebih muda dari anda. Tapi saya tidak bodoh, saya sudah belajar dari yang terburuk hingga sekarang. Jangan anda pikir karena saya masih muda saya tidak mampu melakukan apa saja." Desis mei dengan suara rendah.
Brakk
Mei mengebrak meja kerja milik aurel hingga hancur. Seluruh dokumen dan laptop yang ada di meja tersebut ikut jatuh dan berhamburan.
Aurel yang melihat hal tersebut pun menatap mei dengan nanar, dia sangat terkejut dengan tenaga yang di miliki oleh mei.
"Bbb.. Bagaimana bisa?." Cicit aurel linglung. Perasaan takut langsung menyelimuti hatinya saat melihat hal tersebut.
"Anda masih tanya bagaimana bisa? Hati hati, jika meja ini bisa saya hancurkan dengan mudah. Lalu apa yang bisa saya lakukan kepada anda." Tanya mei dengan senyum yang mengerikan, menurut aurel.
Deg deg deg deg
Jatung aurel berdetak dengan kencang saat dia mendengar apa yang di katakan oleh mei.
'Apa yang dapat dia lakukan terhadap diriku. Jika meja saja bisa hancur seperti itu, mungkin tubuhku bisa patah dengan mudahnya di tangannya.' Batin aurel ngeri saat membayangkan apa yang dapat mei lakukan kepadanya.
Lalu dia menatap mei yang masih menyeringai. 'Sepertinya aku salah telah berurusan dengannya.'
"Anda tahu, anda sangat cantik, berpendidikan tinggi dan juga memiliki pekerjaan yang sangat bagus. Tapi sayang atitude anda sangat rendah, di luar sana masih ada orang yang jauh lebih cantik dan juga jauh lebih kompeten dari anda." Ucap mei dengan sinis.
"Anda menyia nyiakan diri anda sendiri nona."
Setelah mengatakan itu mei langsung pergi meninggalkan ruangan tersebut.
"Skakmat." Gumam mei dengan bibir yang menyeringai .
Aurel yang masih syok hanya bisa memandang tembok dengan nanar, kemudian dia terduduk memandang meja kerjanya yang hancur akibat gebrakan mei.
"Bodoh, bodoh, bodoh bagaimana aku bisa seperti ini." Umpat aurel kepada dirinya sendiri sembari memukul kepalanya dengan tangannya.
"Hancur.. Sekarang hacur seluruh karirku, jika sudah seperti ini, aku hanya tinggal menunggu kehancuranku. Aku harus bagaimana.. Arghhh.. Sial, hacur semuanya hacur. Bagaimana bisa kamu sampai seceroboh ini aurelll" Teriak aurel marah kepada dirinya sendiri
Aurel hanya bisa meratapi nasibnya yang sebentar lagi akan hancur hanya karena kecerobohan dan kelakuannya sendiri.
***
- Di Mobil
__ADS_1
Xing melihat drama di dalam kantornya melalui televisi yang berada di dalam mobilnya, dia sudah menghubungkan televisi tersebut dengan cctv yang ada di dalam kantornya. Dia sangat ingin melihat apa yang akan di lakukan oleh mei-nya tersebut.
"Bagaimana bisa mei yang manis dan juga baik bisa seganas ini?. Biasanya dia sangat mudah memaafkan orang lain." Gumam xing antara takjub dan juga bingung dengan apa yang di lakukan oleh mei.
"Kamu melihat apa yang sudah aku lakukan?." Tanya mei sembari memasang sabuk pengaman.
Xing melihat mei dan tersenyum tipis. "Ya aku sudah melihatnya. Kamu sangat ganas sekali." Jawab xing.
Mei menatap xing cemberut. "Bagaimana tidak ganas, dia secara terang terangan mencoba merebutmu dariku. Aku tidak akan membiarkannya."
"Kamu bisa ganas kepada aurel, tapi kenapa dengan livia kamu malah memaafkannya dengan mudah. Apa yang telah di lakukan oleh livia itu jauh lebih jahat dengan apa yang baru saja di lakukan oleh aurel lho."
Mei langsung terdiam saat mendengar jawaban dari xing. "Karena walaupun aku berusaha untuk acuh tak acuh dan berdamai dengan masa lalu. Rasa bersalah itu tetap ada dan sangat susah untuk di lupakan."
Xing mengelus pipi mei dengan lembut. "Aku tahu akan sangat susah untuk meredam rasa bersalah yang sudah kita rasakan. Tapi jika kamu terus diam saat menghaadapi livia, dia akan semakin melunjak. Ok saat ini dia memang tidak melakukan apa pun, tapi aku yakin dia akan melakukan sesuatu suatu saat nanti." Ucap xing dengan lembut.
Mei menghela nafas dan memejamkan matanya. "Aku tahu, ketenangan ini menyimpan bahaya di masa yang akan mendatang. Tapi apa salah jika kita berharap agar dia bisa berubah. Setiap orang bisa berubahkan." Ucap mei dengan lirih.
Xing tersenyum tipis, lalu dia mencium kedua mata mei yang sudah terpejam hingga membuat mei langsung membuka matanya.
"Xinggg.. Jangan meciumku mulu,nanti jika daddy tahu kamu akan di gantung olehnya." Protes mei dengan muka yang merah padam menahan malu.
"Kenapa? Akukan tidak pernah mencium bibir kamu, jadi tidak masalah." Jawab xing dengan cueknya.
Mei menyilangkan tangannya dan memalingkan wajahnya ke arah luar. "Cihh.. Terserahlah, jalan sekarang!." Sentak mei.
'Ishh mau marah tapi sukaa.. Gimana dong..' Teriak mei dalam hati.
"Dengan senang hati tuan putri." Ucap xing sembari mencium pipi mei kilat.
Muka mei semakin memerah saat mendapatkan perlakuan yang sangat manis dari xing.
'Ishhh dasar tuan pencuri.'
Xing hanya terkekeh geli saat melihat wajah mei yang memerah dan cemberut itu.
'Menggemaskan.'
Kemudian xing melajukan mobilnya untuk menjenguk mommy zein yang masih di rawat di rumah sakit.
***
__ADS_1
Jangan lupa dukungannya teman teman😘😘