
Kedatangan mei menjadi pusat perhatian bagi para karyawan di perusahaan tersebut. Pasalnya tidak biasanya ada seseorang yang dapat masuk ke dalam perusahaan xing's corp dengan mudah.
"San, dia siapa ya?." Bisik seorang karyawan kepada temannya yang dia panggil san tersebut.
"Tidak tahu jess, mudah sekali ya dia masuk ke sini." Jawab temannya.
Mei lalu mendekati ke arah meja resepsionis. Mei tersenyum, "Mbk ruangannya xing di mana ya?." Tanya mei dengan ramah.
"Maaf anda siapa? Tidak semua orang bisa menemuinya tanpa ada bukti jika anda dapat menemuinya." Jawab petugas resepsionis tersebut.
"Emm.. Mbak bisa nelfon xingnya dulu. Bilang dari mei gitu." Ucap mei.
"Baik nona." Petugas resepsionis tersebut langsung menelfon xing.
"Hallo, tuan xing. Ini ada seorang gadis yang bernama mei yang ingin menemui anda tuan." Ucap petugas tersebut sembari melirik mei.
"Suruh dia langsung ke ruangan saya." Jawab xing
"Baik tuan." Petugas tersebut menutup telfonnya.
"Nona anda bisa langsung ke ruangan tuan xing, ruangannya ada di lantai paling atas di gedung ini." Ucap petugas tersebut.
"Ahh baik, terima kasih mbak." Mei lalu berjalan menuju ke ruangan xing dengan menggunakan lift.
Setelah sampai di lantai paling atas mei langsung membuka ruangan yang merupakan ruangan xing. Di lantai paling atas terdapat sebuah pintu yang berisi ruangan xing dan sekertarisnya.
Tetapi saat mei membuka pintu mei langsung di suguhkan dengan pemandangan yang menurutnya membuat sakit mata. Di samping xing terdapat seorng wanita yang memakai pakaian minim.
'Cihh.. Pasti dia memakai pakaian minin kayak taplak meja itu buat ngrayu xingku. Badan kayak balon aja di pamerin, gak bakalan nafsu dia.' Batin mei sinis.
Xing yang mendengar suara pintunya di buka langsung menengok ke arah pintu, senyumnya langsung merekah saat dia melihat siapa yang sudah membuka pintu ruangannya. Sontak saja dia langsung berdiri dan menghampirinya.
"Sayang." Xing langsung memeluk pinggangnya dan mencium pipi mei.
Mei yang mendapatkan perlakuan seperti itu pun wajahnya memerah malu.
Sedangkan wanita berpakaian minim tersebut, melihat pemandangan di depannya dengan geram.
'Cih, gadis berbadan datar kayak triplek seperti itu saja di sukai. Mata tuan xing itu katarak atau apa sih, bagusan juga badanku yang bagus kayak gitar spanyol.' Batin wanita tersebut tak kalah sinis.
"Ekhemm.. Tuan, sebentar lagi anda akan ada pertemuan dengan klien tuan." Ucap wanita tersebut sengaja menganggu kemesraan mereka berdua.
Mei langsung menatap tajam wanita tersebut. Lalu dia menatap xing, "Sayang, masa kamu mau ninggalin aku sih. Kamu juga belum makan lho, makan dulu ya. Memangnya pertemuannya harus sekarang?." Tanya mei dengan keras agar wanita tersebut mendengar perkataannya. Padahal tidak perlu keras keras pun wanita tersebut juga akan mendengarnya.
Xing menatap mei dan tersenyum. "Pertemuannya masih nanti kok, kita masih ada waktu yang lama untuk makan." Jawab xing, dia sengaja menekan kata waktu yang lama. Dia tahu jika mei sengaja berkata seperti itu untuk membuat sekertarisnya kesal.
__ADS_1
'Dia kalau cemburu ternyata sangat menggemaskan.' Batin xing dengan geli.
"Tapi wanita itu bilang jika kamu akan bertemu dengan klien sebentar lagi, aku akan menunggu sebentar tidak apa apa kok. Aku tidak ingin mengganggu pekerjaan kamu."
"Masih lama kok, bahkan aku bisa membatalkan pertemuan untuk makan bersama kamu." Ucap xing dengan lembut.
Mei tersenyum senang. "Benarkah."
Xing tersenyum dan menganggukan kepalanya. "Aku akan melakukan apa pun untuk terus berada di samping kamu."
Wanita berpakaian minim yang mendengarkan hal tersebut pun semakin di buat geram dan kesal.
"Tapi tuan, klien ini sangat penting tuan." Ucap wanita tersebut.
Xing langsung menatap wanita tersebut dengan tajam. "Aurel, Ini perusahaan saya. Dan kamu tahu bagaimana independennya perusahaan saya. Jika hanya kehilangan satu klien itu tidak akan menjadi masalah yang besar bagi saya. Terima kasih sudah mengingatkan saya, kamu bisa balik ke tempat kamu sekarang. Jangan ganggu waktu saya dengan calon istri saya." Ucap xing dengan tegas.
Mei menatap wanita tersebut dengan seringai puasnya.
'Rasain tuh mak lampir berbadan balon, mau godain kok ngodain yang sudah punya belahan jiwa sih. Apa lagi belahan jiwanya mei shine azar.' Batin mei puas.
Aurel pun langsung berjalan pergi kembali ke ruangannya, dia menatap mei dengan tajam.
'Sial, ini tidak bisa di biarkan. Masa aku bisa kalah dengan gadis berbadan triplek itu sih.' Umpat aurel dengan kesal.
"Kamu suka sekali melihatnya." Ucap xing.
Mei tersenyum dan menatap xing. "Iya dong, aku sudah puas melihat pelakor gagal itu kesal. Dasar mak lampir berbadan balon." Jawab mei sembari berjalan menuju sofa. Lalu dia mengeluarkan kotak bekal dari tas ranselnya dan menyusunnya.
Xing mengakat sebelah alisnya. "Berbadan balon bagaiman?." Tanya xing bingung.
"Iyalah badan balon. Lihat saja dada sama bok*ngnya saja kelihatan tidak realistis, bentuknya kayak balon. Pasti itu hasil dari rumah sakit, hasil dari rumah sakit sih tidak masalah yang penting tidak di gunakan untuk mengganggu orang yang sudah memiliki pasangan dong." Jawab mei dengan muka yang terlihat masam sembari melirik aurel.
"Awas saja kalau kamu berani berselingkuh dengannya." Acam mei sembari memperlihatkan kepalan tangannya.
Xing duduk di samping mei dan langsung memeluk pingang mei dengan erat. "Tidak akan, lagi pula dia hanya sekertaris sementara aku. Leon sedang ada urusan, maka dari itu dia menyuruh aurel untuk menggantikannya sementara. Aku terlalu mencintaimu, mau badannya kayak apa pun aku tidak akan pernah meliriknya sama sekali." Ucap xing jujur.
Mei mendongak dan mentapa xing. "Aku tahu kamu tidak akan tergoda dengannya. Tapi aku tidak suka saja dengan orang yang tidak profesional, lihat saja pakaiannya yang sudah kayak tamplak meja. Dia pasti berpakaian seperti itu untuk menggoda kamu, lain kali suruh dia pakai pakaian yang sopan."
Xing tertawa kecil dan mecubit hidung mei. "Iya sayang, nanti aku akan menyuruhnya untuk berpakaian sopan dan tidak terbuka seperti itu. Kamu menggemaskan sekali sih jika sedang kesal dan cemburu seperti ini."
"Aku itu tidak cemburu, aku kan hanya bilang agar dia berpakaian sopan. Memang ini pantai apa pakai pakaian yang seperti itu." Sungut mei kesal.
"Iya iya kamu tidak cemburu hanya jeleous. Udah, ini apa yang ada di dalam bekalnya. Aku sudah sangat lapar ini." Xing memilih mengalah dan mengalihkan pembicaraan dari pada harus berdebat dan melihat mei semakin cemberut.
"Ahh iya, ini aku buatkan sup iga dan mie." Ucap mei sembari membuka kotak bekalnya.
__ADS_1
Xing langsung mengkreyitkan dahinya saat melihat bekal yang di bawakan oleh mei.
'Kok aneh ya.' Batin xing.
"Sayang, kok sup dengan mie sih. Aneh sekali, lihat ini mienya kuahnya sangat kental dan merah. Harusnyakan sup itu ada nasi gitu." Protes xing, tiba tiba dia tidak berselera melihat makanan aneh di depannya.
Mei langsung menatap xing dengan tajam. "Ishh, ada nasi ini. Kamu tinggal pilih, siapa juga yang akan menyuruhmu mencampur mie dengan sup. Ishh, sudah di buatkan kok pakai protes segala." Ucap mei dengan kesalnya.
"Ya siapa tahu." Gumam xing, lalu dia mengambil sendok dan menyeruput supnya.
'Kok manis sekali, apa karena dia sangat menyukai rasa mais makanya dia sengaja membuat sup yang manis seperti ini.' Batin xing dengan wajah yang terlihat aneh karena merasakan supnya yang rasanya sangat manis tersebut
Kemudian xing memilih untuk memakan mienya dengan menggunakan supit. "Akhh.. Shhh.. Sayang ini kok pedas sekali."
Sontak saja xing langsung meminum minuman yang ada di gelas. "Kamu kok bawain makanan yang rasanya aneh seperti ini. Supnya terlalu manis terus mienya sangat pedas sekali."
"Masa sih mienya terlalu pedas." Ucap mei lalu mei langsung memakan mienya. "Akhh.. Shh.. Hhh.. Iya pedas sekali, astaga. Kok bisa sepedas ini ya."
Mei menatap xing dengan perasaan tidak enak. "Maaf xing, kamu kan suka pedas jadi aku bikinkan mie yang pedas. Tapi sepertinya aku terlalu banyak memasukan bahan bahan yang pedas hingga membuatnya semakin pedas. Aku pesankan makanan lewat online saja ya." Ucap mei tak enak hati.
Xing tersenyum tipis. "Tidak perlu, aku akan memakan mienya. Tidak apa apa kok."
"Tapi terlalu pedas."
"Perutku tidak akan sakit jika hanya memakan mie ini saja."
"Tapi.."
Xing langsung memakan mienya dengan lahap untuk meyakinkan mei jika dia tidak apa apa makan mienya yang pedas itu.
"Lihat, it's ok. Kamu juga makan, kasian tuh supnya sudah memanggimu untuk segera di makan." Ucap xing, lalu dia meneruskan makan mienya.
"Baiklah." Ucap mei dengan lesu, kemudian mei memakan supnya dengan lahap dan sesekali melirik xing.
Tak lama kemudian mereka berdua selesai memakan makanan mereka masing masing.
"Kamu kok bisa makan sup yang manis sekali seperti itu, harusnya supkan rasanya gurih pedas sedikit tapi ini. Sebegitu sukanya kamu sama makanan yang manis ya." Ucap xing dengan geli.
Mei tersenyum dan menatap xing. "Karena dulu hidupku sudah sangat pahit dan menderita, jadi aku memakan makanan manis agar hidupku tidak terlalu pahit." Ucap mei dengan sendu.
Xing yang mendengar itu pun memeluk mei dengan erat. "Sekarang hidup kamu jauh lebih manis dari makanan yang sudah kamu makan itu. Kamu punya banyak orang yang sangat mencintaimu. Jadi kamu tidak akan pernah merasakan kehidupan yang pahit itu lagi." Bisik xing dengan lembut.
***
Jangan lupa dukungannya teman teman😘😘
__ADS_1