Reinkarnasi Belahan Jiwa

Reinkarnasi Belahan Jiwa
33. Tempat Favorite


__ADS_3

Sudah berbulan bulan telah berlalu, hubungan antara xing dan juga mei semakin terjalin dengan erat. Meski mei masih saja mengira jika xing melakukan ini semua hanya untuk membalaskan dendam terhadapnya. Dia selalu menahan rasa sakitnya sendiri saat melihat perhatian xing terhadap livia, dia sangat ingin jika semua perhatian yang di berikan xing kepadanya itu benar benar karena dia mencintainya.


Saat ini xing dan juga mei tengah berada di sebuah bukit, xing mengajak mei ke bukit untuk melihat bintang lebih jelas.


"Lihat ada bintang jatuh, make a wish.. make a wish." Teriak mei dengan heboh.


"Kamu percaya dengan hal yang seperti itu? Kayak anak kecil saja." Tanya xing dan menggoda mei.


Mei yang mendengar perkataan xing pun menjadi kesal sendiri, "Suka suka aku dong, jika kamu tidak mau make a wish ya aku sendiri saja." Gerutu mei dengan kesal.


Kemudian mei memejamkan matanya dan menangkupkan tangannya.


'Aku berharap aku bisa mendapatkan sedikit saja rasa bahagia, Dan semoga xing mendapatkan apa yang dia inginkan.'


Xing yang melihat mei memejamkan matanya pun memandangi wajah mei yang menurutnya sangat menggemaskan.


Xing juga membuat keinginannya, 'Sangat imut, aku berharap agar kita selalu bersama. Aku berharap kejadian di masa lalu tidak akan terulang lagi.' Batin xing tersenyum sembari terus memandangi wajah mei.


Saat membuka matany dia melihat xing yang memandang wajahnya dengan intens, sontak saja wajahnya bersemu merah, Dia sangat malu di pandangi seperti itu oleh. "Apa lihat lihat hah, aku colok mata kamu biar tidak lihatin orang sembarangan." Sewot mei, mencoba untuk tidak terlihat sedang malu sendiri.


Xing yang melihat wajah mei yang memerah karena malu pun terkekeh sendiri, "Hhh.. kamu sangat mengemaskan makanya aku memandangi kamu seperti itu. Benar benar mengemaskan."


Wajah mei semakin bersemu merah saat mendengar punjian yang di lontarkan oleh xing kepadanya.


"Terserah." Ucap mei, kemudian memilih pergi melesat meninggalkan xing.


"Heyy.. mau kemana.." Teriak xing saat melihat mei yang melesat pergi meninggalkannya.


" Ishh kenapa dia semakin hari semakin mengemaskan saja." Gumam xing, xing pun melesat untuk mencari keberadaan mei.


Mei berhenti di bawah pohon yang cukup lebat dan duduk di bawah pohon tersebut.


'Kenapa seperti ini, kamu membuatku bahagia hanya untuk membuatku semakin sakit. Kamu hanya memberikan kebahagiaan sesaat. Terkadang aku hanya ingin tidak tahu, setidaknya aku bisa merasakan sedikit kebahagiaan, meskipun pada akhirnya saat mengetahuinya juga akan merasakan rasa sakit. Tetapi bukankah lebih baik tidak tahu.' Ratap mei di dalam hati.


Sedangkan di sisi lain tampak seseorang yang tengah mengarahkan sebuah anak panah terhadap mei. Kemudian orang tersebut melepaskan bidikan akan panahnya ke arah mei. Tetapi tiba tiba ada yang menangkap dan membalikan anak panah tersebut.


Sett


Anak panah tersebut berbalik mengenai orang misterius itu, "Akhh.. Sialan ternyata ada orang yang telah melindunginya. Lebih baik aku pergi dari sini sebelum ada yang melihatku." Ucap orang tersebut dengan kesal, kemudian orang tersebut melesat pergi maninggalkan tempat itu.


"Nona muda, anda tidak apa apa?." Tanya penjaga tersebut dengan khawatir.


"Iya aku tidak apa apa. Siapa tadi?."


"Saya tidak tahu nona muda, tapi saya telah memerintahkan anak buah saya untuk melacak dan mengejar orang tersebut."


"Terima Kasih ya kamu sudah menolongku." Ucap mei.


"Sudah menjadi tugas saya untuk menjaga anda nona." Kemudian penjaga tersebut pegi meninggalka mei saat mencium bau xing yang sangat dekat dengan mereka.

__ADS_1


"Kenapa kamu melesat pergi meninggalkan ku sendirian hmm.. Bagaimana nanti jika terjadi sesuatu terhadapmu." Xing mengomeli mei, sangat terlihat sekali jika dia sangat khawatir.


"Aku tidak apa apa, lihat aku baik baik saja bukan." Ucap mei dengan ceria, dia menyembuyikan jika tadi ada seseorang yang mencoba untuk melukainya.


"Ishh.. kamu selalu saja membuatku tidak bisa marah kepadamu." Ucap xing berpura pura kesal kepada mei.


"Dari pada aku harus jadi korban bualan kamu lebih baik aku pergi saja." Jawab mei acuh tak acuh.


Xing yang mendengarnya pun tidak menerimanya, "Tidak pernah sekalipun aku berbohong kepadamu mei. Aku mengatakannya dengan jujur." Ucap xing dengan sangat serius.


'Benarkah, bahkan segala hal yang kamu lakukan untukku hanyalah bagian dari permainan mu. Bukankah itu semua hanyalah kebohongan.' Teriak mei dalam hati, ingin sekali dia mengatakan itu kepada xing dengan keras.


Xing yang melihat mei hanya bengong saja pun melambaikan tangannya di depan wajah mei.


"Are you ok?." Tanya xing dengan khawatir.


"Ahh.. iya iya aku percaya, mr. xing." Jawab mei.


"Jangan panggil aku mr. xing oke?."


"Kenapa memang?." Tanya mei dengan bingung.


"Itu hanya mengingatkan ku jika kamu murid aku di kampus." Xing merasa sangat tua jika harus mengingat hal tersebut.


'padahal usia kita hanya berbeda 8 tahun saja.'


"Kamu memang sudah tua mr xing.. Mr xing... Mr xing." Mei meledek xing terus menerus, dan melesat pergi.


"Woww.. It's so beautiful." Ucap mei dengan takjub.


"Ya.. sangat indah, sangat sangat indah." Xing sangat terpesona oleh kecantikan mei yang tersorot oleh cahaya bulan.


"Ini akan menjadi tempat favorite aku, nanti aku akan ngajak teman teman aku ke sini." Ucap mei dengan sangat bahagia.


Xing pun mengkreyitkan dahinya, "Cukup kita berdua saja yang tahu tentang tempat ini." Ucap xing dengan ketus.


"Kenapa memang."


"Aku mengajakmu ke sini karena memang tempat ini adalah tempat di mana aku sering menyendiri dan berlatih. Hanya aku yang mengetahui tempat ini, dan aku ingin tempat ini akan menjadi tempat pribadi kita nanti." Jawab xing dengan serius.


"Benarkah, memang livia tidak tahu mengenai tempat ini."


"Tidak, dia tidak tahu tempat ini. Hanya aku saja, tidak ada yang lain, bahkan orang tua ku saja tidak tahu."


'Jika tempat ini hanya kamu yang tahu, kenapa tadi ada orang yang ingin mencelakaiku.'


"Sebentar lagi juga akan ada orang yang akan mengetahui tempat ini." Ucap mei.


"Setelah ini aku akan menyegel tempat ini agar hanya aku dan kamu yang bisa memasuki dan mengetahui tempat ini."

__ADS_1


"Lagi pula tempat ini sangat tersembunyi, jadi tidak akan ada yang mengetahui tentang tempat ini." Lanjut xing.


"Terserah." Jawab mei dengan cuek dan memandang pemandangan yang sangat indah di depannya.


"Mei.." Panggil xing dengan lembut.


"Hmm.."


"Lihat ke sini jika aku memanggilmu."


Mein pun dengan terpaksa berbalik dan menatap xing, "Ada apa?." Ucap mei dengan ketus.


"Sudah berbulan bulan telah berlalu, bahkan hampir satu tahun. Menurutku ini sudah saatnya bagi kita untuk menjalin hubungan yang lebih serius, aku ingin kamu menjadi pasangan aku." Ucap xing dengan serius.


Degg Deg Deg


Jantung mei berdetak dengan cepat, ada rasa senang sekaligus sakit. Dia sangat berharap jika ini bukan sebuah permainan.


'Jika saja ini tulus dari hati kamu, aku akan menjadi orang yang paling bahagia.'


"Bisakah beri aku sedikit waktu, aku merasa jika aku belum pantas untukmu. Masih banyak hal yang belum aku perbaiki sama sekali, bahkan aku juga masih belum mendapatkan maaf dari livia. Aku ingin segala masalahku clear dulu." Jawab Mei.


Xing yang mendengar jawaban dari mei pun sangat kecewa, "Baiklah, aku akan tetap menunggumu sampai masalah kamu selesai. Aku akan mencoba untuk berbicara dengan livia agar dia mau memaafkanmu."


"Dan kamu sangat pantas untukku, aku sudah memaafkan mu. Dulu aku memang membencimu, tetapi seiring berjalannya waktu aku belajar untuk menerima semuanya, masa lalu biarlah berlalu." Ucap xing dengan bersunguh sunguh.


'Kalau saja itu benar xing.' batin mei dengan getir.


"Terima kasih, kamu sudah memaafkanku. Walaupun aku sendiri juga sadar jika apa yang aku lakukan kepadamu itu sangat jahat dan tidak pantas untuk di maafkan."


"Sttt.. sudah sudah, kita lupakan saja masa lalu. Kita jadikan saja sebagai pelajaran agar suatu saat hal yang sama tidak akan terulang lagi."


Mei hanya mengangguk saja,


"Ya sudah, lebih baik kita pulang saja."


Mereka berdua pulang dengan menggunakan mobil xing. Setelah beberapa saat mereka telah sampai di depan rumah mei, xing membuka kan pintu mobilnya.


"Silahkan tuan putri."


"Ishh.. ngak usah sok romantis deh. Sudah sana pulang saja."


"Iya iya.. Good Night ya." Ucap xing lalu mencium dahi mei, setelah itu xing melesat masuk kedalam mobil dan melajukan kendaraannya.


"Ihh main asal nyosor aja kayak bebek." Gerutu mei dengan wajah yang bersemu merah.


Kemudian mei langsung melesat menuju kamarnya agar dia tidak di interogasi oleh viagra.


***

__ADS_1


Bab baru telah di buat~


Jangan lupa dukunganya ya teman teman😘😘


__ADS_2