Reinkarnasi Belahan Jiwa

Reinkarnasi Belahan Jiwa
104. Dua Sisi Yang Berbeda


__ADS_3

Xing menyeringai saat mei langsung setuju dengan hukuman yang telah di tentukannya.


"Bagus, radius satu kilo dari sini terdapat aliran sungai. Dan saat ini ada sekawanan rusa yang tengah meminum air di sungai tersebut. Kita lihat, siapa yang lebih dulu mendapatkannya itulah pemenangnya." Ucap xing, dia sudah menganalisis semuanya sebelum memberi tantangan kepada mei. Tidak butuh waktu lama baginya untuk menganalisisnya, dalam waktu sekejap segalanya sudah terencanakan.


'Sialan, ternyata dia sudah merencanakannya. Apes banget sih, dia selalu berada satu langkah di depanku... Whyyy..' Gerutu mei dalam hati.


Mei menggeram, menatap xing dengan tatapan tajamnya. "Grrr.. Kamu sengaja mengerjaiku.. Lihat saja nanti aku akan membalasnya." Raung mei.


'Isshh.. Kenapa walau dia dalam wujud serigalanya tapi dia tetap lucu sih.' Batin xing gemas dengan tingkah mei.


"Tidak kok, aku sudah memberitahumu dan kamu sudah deal lho. Jadi tidak salah dong." Ucap xing cuek.


"Grrrr.. Terserah, yang pasti aku akan memenangkan tantangan ini. Kamu akan kalah dan menerima hukuman." Raung mei,tanpa menunggu aba-aba terlebih dahulu mei langsung melesat meninggalakan xing.


"Shhh... Mau curang rupanya." Desis xing.


Xing langsung terbang dan menggunakan kemampuan teleportasinya hingga otomatis dia sudah ada di sungai tersebut. Setelah itu dia langsung menyergap seekor rusa. Xing berdiri di pinggir sungai sembari menghisap darah dari rusa tersebut, di hisapnya perlahan agar nanti mei melihatnya.


Di lain sisi mei sudah melesat dengan cepat hingga dia mencapai sungai yang di maksud. Tetapi dia malah di kejutkan dengan keberadaan xing yang terlihat tengah menghisap darah dari sesekor rusa.


Mei berubah menjadi manusia dan menatap xing dengan wajah cemberutnya. "Bb.. Bagaimana bisa kamu sudah samapai sini.." Rengek mei.


Xing melepas hisapannya dan berjalan ke arah mei. "Teleportasi." Ucap xing.


"Curangg.." Teriak mei memprotes xing yang menurutnya telah berbuat curang.


Xing menyeringi. "Tidak ada aturan sama sekali bukan, jadi tidak ada yang namanya kecurangan." Ucap xing datar.


'Kenapa sih dia tidak bisa romantis dikit, sukanya ngerjain orang aja. Semuanya salah aku, kapan benernya coba. Dasar kelelawar berbulu hyena.' Omel mei dalam hati.


Mata mei mendelik menatap xing dengan perasaan kesal. "Licik.." Desis mei.

__ADS_1


"Harus dong, apa lagi sama kamu. kamu itu sangat mudah terpancing dan di manfaatkan. Aku hanya mengajari kamu untuk lebih waspada."


Xing memberikan rusa yang ada di gengamannya kepada mei. "Ini, makan semua! Supaya kamu cepat besar dan tidak seperti anak-anak lagi."


Mei mencebikkan bibirnya dan menerima rusa tersebut dengan kasar. "Kamu saja yang tua." Ucap mei dengan kesal sembari memotong rusa tersebut menggunalan kukunya yang tajam.


"Saya sudah dewasa sayang.." Ucap xing meralat ucapan mei yang mengatakan jika dirinya sudah tua.


Mei mengeluarkan katung khususnya dan memasukkan daging rusa tersebut ke dalam kantung. Tak lupa dia juga menyisihkan untuk dirinya sendiri. Setelah selesai mei duduk dan memakan daging rusa tersebut.


"Hmm.. Daging rusa memang paling the best deh.." Ucap mei di sela-sela makannya.


Xing menatap mei dengan kesal karena dirinya malah di cueki olehnya.


'Hiss.. Makan tidak ajak-ajak. Malah di cueki gini.' Gerutu xing dalam hati.


"Ehemm.." Xing berdehem berharap dapat mengalihkan atensi mei ke arahnya lagi.


Xing melotot menatap mei dengan tajam. "Kamu itu tidak ada perhatiannya sama sekali. Kayak gini kok pengen di romantisin." Ucap xing dengan ketus.


Mei menatap xing dengan tatapan datarnya. "Halah aku protes juga kamu cuek aja. Malah nyalahin aku." Jawab mei tak kalah ketus.


Xing menghela nafasnya pelan, kemudian dia duduk di samping mei dan menatapnya dengan tatapan lembut. "Aku pernah mencoba romantis sayang, tapi kamunya saja yang masih labil hingga membuatnya gagal total. Kamu selalu aja ada hal yang membuat momen romantis itu jadi buyar seketika. Jadi aku harus bagaimana hmm?."


Mei berhenti makan dan menatap xing. "Mana tahu aku kalau kamu pernah mencoba romantis. Kamu terlihat cuek kok." Ucap mei datar.


Xing menghela nafasnya dengan malas. "Ya mau bagaimana lagi coba. Aku sudah berusaha loh, coba kamu kapan-kapan mencoba romantis kepadaku."


"Aku sudah pernah mencobanya. Memangnya untuk apa aku datang kekantor kamu hanya untuk memberi kamu makanan. Tapi ya mungkin karena alam tidak merestui kita untuk bersikap romantis ya pasti ada aja hal yang menghancurkannya." Ucap mei kesal.


" Hahaha.. Mungkin kamu benar, alam tidak merestui kita untuk bersikap romantis." Kekeh xing.

__ADS_1


"Tentu saja, daddy sudah memberi kita ultimatum agar tidak aneh-aneh. Maka dari itu alam langsung mengabulkannya karena alam pun juga menghormati daddy." Ucap mei dengan yakin.


Xing mengangkat sebelah alisnya. "Masa ada sih yang seperti itu?." Tanya xing dengan raut wajah bingungnya.


'Ngeri juga ya.' Batin xing bergidik.


"Buktinya kita bertengkar mulu deh kayaknya. Lihat kamu itu bukan hanya ada rasa senang tapi ada rasa kesal juga. Coba kamu bandingkan saat kita hidup di pondok dulu dan sekarang." Jawab mei.


Xing berpikir sebentar, dia mengangukan kepalanya menyetujui perkataan mei.


"Benar juga, kalau di pikir-pikir ya. Dulu saat kita hidup di pondok kita apa-apa bersama. Bercanda bersama, memasak bersama, cuci baju bersama, berburu bersama bahkan kita tidur pun bersama pelukan. Kamukan tidak tahan dingin, kadang aku sampai heran bagaiman bisa seorang vampire bisa tidak tahan dingin." Ucap xing menerawang kehidupannya terdahulu saat dia hidup berdua dengan mei di sebuah pondok.


"Ya dulu kita apa-apa bersama. Tidak pernah terpisahkan, kecuali saat mandi ya. Di mana ada xing di situ ada mei. Mungkin karena itu juga aku jadi bisa merasakan bagaimana rasanya di cintai, di percaya, di perhatikan. Hal yang tidak pernah aku dapatkan setelah kehilangan mommy zein. Walau pada akhirnya tetap hancur saat semuanya terungkap." Ucap mei lesu.


Xing mengangkat mei dan mendudukannya di pangkuannya, dia meraih daging dan menyuapi mei. "Tapi sekarang kita memiliki tanggung jawab yang jauh lebih besar karena kita memegang kepercayaan dari daddy. Dulu kita memang terlihat sangat bebas, karena tidak ada yang melarang atau membatasinya sehingga kita tidak terlalu memikirkannya. Tapi sebebas bebasnya kita, kita tidak pernah melewati batasan." Ucap xing dengan lembut, tak hentinya dia menyuapi mei dan sesekali dia memakan daging rusa tersebut hingga tandas.


"Tidak pernah terpikirkan olehku untuk melewati batasanku xing. Aku saja baru menyadari jika aku mencintaimu di kehidupanku ini, itu pun aku di beritahu oleh keluargaku. Kalau tidak di beritahu aku tidak akan tahu sampai sekarang. Bisa jadi aku akan menghancurkan dengan paksa tanda belahan jiwa kita jika aku tidak mengetahui perasaanku itu."


Xing memeluk mei dengan erat. "Jangan pernah sekali pun kamu berpikir untuk merusak tanda ikatan kita. Ini adalah simbol dari perjuangan kita untuk memahami perasaan kita selama ini. Aku akan hancur jika kamu hancur." Bisik xing.


Mei menjulurkan tangannya dan mengusap wajah mei dengan lembut. "Tidak akan, kamu adalah belahan jiwaku, cinta sejatiku. Bagaimana bisa aku menghacurkannya, aku tidak akan sanggup." Jawab mei dengan lembut.


Xing mencium puncak kepala mei dan menghirup aroma shampoo yang berbau khas coklat maple.


'Kamu tahu sayang, kamu terlalu naif hingga membuatmu dahulu sangat kejam. Kamu terlalu naif hingga dengan mudahnya memaafkan orang lain, bahkan kamu tetap memaafkan meski orang lain sudah memanfaatkan kamu secara terang-terangan. Aku sangat takut jika kenaifan kamu ini membuat mereka orang-orang yang sudah memanfaatkan kamu, kembali memanfaatkan kamu.' Batin xing cemas.


Jantungnya terasa di remas-remas saat harus mengingat bagaimana sifat naif yang di miliki oleh mei membuatnya menjadi sosok yang bertolak belakang di dua kehidupan yang di jalaninnya. Di kehidupannya yang terdahulu mei sangat kejam, dan di kehidupannya yang sekarang mei terlalu baik . Dia tidak tahu harus bersyukur atau bersedih, di satu sisi ada rasa bahagia, tapi di sisi lain ada rasa takut.


...****************...


Jangan lupa dukungannya teman-teman 😘😘

__ADS_1


__ADS_2