Reinkarnasi Belahan Jiwa

Reinkarnasi Belahan Jiwa
83. Apa Itu Kuntilanak?


__ADS_3

Setelah mendengar jawaban dari livia, xing langsung berbalik mengajak mei untuk keluar dari rumah tersebut. Dia sudah sangat muak dan gerah berada di dalam rumah livia.


"Kita pergi sekarang!." Dia menatap mei sedikit tajam tanda jika dia tidak ingin di bantah sama sekali.


"Baiklah." Mei terpaksa menuruti keinginan xing, dia tidak ingin ada perdebatan di antara mereka berdua. Apalagi mereka sedang berada di depan livia saat ini, nanti bisa bisa livia akan senang karena melihatnya berdebat dengan xing.


Setelah itu mereka berdua melesat pergi meninggalkan rumah livia, xing juga sudah melepaskan segel yang mengelilingi rumah livia sekaligus menarik seluruh penjaga di rumah tersebut. Meski dia juga berpikir untuk mengerahkan beberapa dari anggota khususnya untuk menjaga livia agar dia tidak membuat ulah lagi.


Sedangkan livia menatap kepergian mereka berdua dengan geram. "Sialan, kenapa aku selalu gagal dan terpojokkan." Geram livia. Dia benar benar marah apa lagi saat melihat sendiri bagaimana perlakuan manis xing kepada mei barusan. Rasa cemburu mengerogoti hatinya.


"Aku harus jauh lebih berhati hati dan tidak boleh ceroboh lagi. Bisa habis aku jika sampai ketahuan oleh xing." Gumam livia.


"Sepertinya aku harus menunda seluruh rencanaku untuk menghabisinya. Aku harus menunggu waktu yang tepat, tidak perduli berapa lama aku harus menunggunya."


Di lain tempat saat ini mei dan xing tengah berada di sebuah pantai yang berada tidak jauh dari kediaman livia. Mereka tengah berkejar kejaran sembari menggengam pasir di tangan masing masing.


"Hey xing.. Jangan kencang kencang larinya, sini kamu. Akan ku beri pelajaran." Teriak mei dengan gaya absurdnya.


'Ishh.. Kalau mau kencan dengan anak satu ini kenapa tidak pernah bisa. Mau romantis tapi endingnya sadis.' Batin xing kesal meratapi nasibnya. Mau ngeluh tapi dia sudah cinta mati, ya terpaksa harus menerima dengan lapang dada.


Pasalnya tadi dia mengelitiki mei dan mereka sempat tertawa dengan lepasnya. Maka dari itu dia semakin gencar menggelitikinya, tapi justru malah berakhir dengan mei yang mengamuk dan mengejarnya. Dia bahkan terus melemparinya dengan pasir, alhasil dia terpaksa ikut melemparinya dengan pasir agar dia bisa lari dari penganiayaan yang di lakukan oleh mei.


"Belum juga nikah sudah kdrt saja." Ucap xing sembari berlari dari kejaran mei.


Mei yang semakin kesal dengan xing pun melirik kiri dan kanan, setelah di rasa aman mei langsung melesat kearah xing hingga dia berada tepat di depannya xing.


"Huaa.. Kuntilanak.." Xing yang terkejut dengan kedatangan mei yang tiba tiba berada di depannya pun spontan berteriak dan mengatai mei dengan sebutan kuntilanak.

__ADS_1


Dahi mei mengkreyit saat dia mendengar xing memanggilnya kuntilanak. 'Kuntilanak.' Batin mei bingung.


"Apa itu kuntilanak?." Tanya mei bingung hingga dia lupa dengan niat awalnya yang ingin melepari xing dengan pasir yang masih berada di genggamannya.


Xing menjadi gelagapan saat mei menanyakan apa itu kuntilanak. 'Aduhh.. Aku harus bilang apa ini, tidak mungkin aku menjawab dengan jujur. Bisa makin ngamuk dia nanti.' Batin xing bingung.


Mei yang melihat xing justru malah terdiam pun jadi kesal sendiri dan benar benar melemparinya dengan pasir hingga membuat xing kelilipan akibat terkena pasir.


"Wasshhh.. Sayang kenapa kamu melempar pasir ke wajahku. Perih ini, kena mata." Ucap xing dengan kesal sembari mengucek matanya dengan menggunakan tangannya.


Mei yang melihat hal tersebut pun langsung memegang tangan xing agar dia tidak mengucek matanya. "Jangan di kucek seperti itu." Ucap mei dengan lembut.


Xing langsung menghentikan kucekannya dan menurunkan tangannya.


Mei menatap mata xing yang memerah. "Maaf ya, jadi merah begini." Ucap mei, dia menjadi merasa bersalah saat melihat mata xing yang memerah. Dia lalu berjinjit dan meniup niup mata xing agar segera reda perihnya.


Xing tersenyum saat mei meniup matanya dengan susah payah mengingat bagaimana tinggi mereka berdua yang jomplang jauh. 'Cantik dan menggemaskan. Dia juga sangat perhatian, walaupun lebih banyak galaknya sih.' Batin xing dengan geli dan juga terpesona.


'Kenapa dia menatapku seperti itu. Apa dia terpesona dengan kecantikanku yang hakiki ini ya.' Batin mei dengan pdnya.


"Aku tahu jika aku cantik. Jadi tidak usah memandangku seperti itu, sampai ngiler tuh." Ucap mei dengan lantang sembari melirik xing.


Xing yang mendengar perkataan dari mei pun langsung tersadar dan reflek mengusap bibirnya. "Tidak kok, kamu saja yang pe-denya melebihi burung merak. Kalau burung merak itu cantik kayak bidadari itu sih pantes pedenya selangit. Lah kamu baru kayak kuntilanak saja udah keterlaluan pedenya." Ucap xing dengan ketus.


Mei langsung menatap xing dengan tajam. "Memangnya kuntilanak itu apa hah? " Sentak mei, dia tidak terima jika xing malah mengolok oloknya. Walaupun dia tidak tahu apa yang di maksud oleh xing, tapi dia merasa jika xing mengejeknya.


Xing kembali gelagapan saat mei kembali menanyakan mengenai kuntilanak.

__ADS_1


'Ishh.. Kenapa nih mulut pakai menyebut mbak kunti lagi sih. Jadi bingung kan mau gimana jawabnya.' Rutuk xing kesal.


"Kuntilanak itu sebutan untuk gadis gadis yang polos tidak tahu tentang fashion dan make up. Makanya mereka kelihatan kurang berwarna dan fresh, karena tidak fashion double. Tidak seperti merak yang penuh warna, iya itu." Ucap xing asal.


'Untung pintar membuat alasan, jadi selamat deh.' Batin xing bangga kepada dirinya sendiri karena berhasil menjawab dengan tepat, menurutnya.


Mei yang mendengar jawaban dari xing pun menganggukan kepalanya. Dia lalu menatap xing sembari tersenyum, yang justru membuat xing jadi bingung sendiri.


'Kenapa malah tersenyum.' Batin xing bingung.


"Ngak apa apa dong kalau polos dan tidak fashion double, yang pentingkan nyaman dan apa adanya. Selagi masih pede kenapa tidak, mau orang lain bicara apa tentang itu sih ya masa bodo. Yang penting kita nyaman dan tidak merepotkan hidup orang lain." Jawab mei dengan bijak, manurutnya mau bagaimana gaya seseorang dalam kehidupan sehari hari itu adalah hak orang itu sendiri. Selagi tidak merepotkan orang lain ya kenapa tidak.


Xing yang mendengar jawaban yang cukup bijak dari mei pun langsung tersenyum dan memeluknya. Dia sangat bangga dengan cara berpikir mei yang sangat terbuka itu. "Kamu sangat sweet sekali sayang." Ucap xing dengan bahagia.


Mei mambalas pelukan xing dan tersenyum manis, dan mendongak menatap xing. "Tentu saja, aku sudah manis dari dulu. Kamunya saja yang tidak terlalu memperhatikan." Jawab mei sembari tersenyum manis.


Xing mencubit hidung mancung mei dengan gemas. "Bagaimana aku mau menyadari kemanisanmu, kamunya saja sangat galak seperti serigala yang mau melahirkan, GANAS." Ucap xing dengan penuh penekanan saat dia mengatakan ganas.


Mei langsung cemberut saat mendengar apa yang di katakan oleh xing, lalu dia melepaskan pelukannya dengan paksa dan menatap xing dengan tajam, masih dengan muka yang cemberut. "Ckk.. Ganas ganas gini tapi sukakan." Ucap mei sewot.


Xing tersenyum tipis. "Suka, sukaaa banget, kamu kalau lagi marah itu jadi semakin menggemaskan. Makanya aku suka sekali menjahilimu dan membuatmu marah." Jawab xing jujur.


Wajah mei langsung memerah layaknya tomat saat mendengar jawaban lugas dari xing tersebut


'Iss.. Kok kalau sudah begini aku selalu langsung mati kutu. Langsung kicep, tidak tahu mau bilang apa lagi.' Batin mei kesal.


***

__ADS_1


Bab baru telah di buat~


Jangan lupa dukungannya buat otor teman teman😘😘


__ADS_2