Reinkarnasi Belahan Jiwa

Reinkarnasi Belahan Jiwa
116. Mengapa Ingin Menjadi Pengacara?


__ADS_3

Sejak Mei mendapat kejutan dari Xing, Mei lebih memilih untuk fokus di kuliahnya agar lulus lebih cepat. Sekaligus sebagai pengalihan dari kecanduannya dari maknan manis. Hal itu membuat Mei menjadi lebih tenang dan mampu mengotrol emosinya. Bayang-bayang masa lalunya yang menghiasi mimpi Mei pun perlahan-lahan sirna.


"Ternyata begini ya rasanya hidup tenang." Gumam Mei. Saat ini Mei merasa jauh lebih tenang, pikirannya pun serasa jauh lebih jernih.


Saat ini dia tengah berjalan kaki menuju ke ruangan Xing. Dia membawakan makanan untuk Xing. Mei membuka pintu kantor Xing tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu hingga membuat Xing kesal.


"Sayang, kalau mau masuk itu ketuk pintu dulu kek. Jangan asal masuk!." Ucap Xing kesal.


"Tanpa aku mengetuk pintu pun kamu juga pasti tahu kalau aku ada di kantor ini." Ucap Mei sewot.


Xing hanya mengelengkan kepalanya saat mendengar jawaban dari Mei. Dia lebih memilih untuk mengerjakan pekerjaannya yang sangat menumpuk yang jujur saja membuatnya pusing saat melihat berkas-berkas yang tersusun di meja kerjanya.


Mei yang melihat Xing yang tampak sangat serius berkerja pun datang menghampirinya.


"Mau aku bantu?." Tanya Mei, berinisiatif untuk membantu Xing.


"Memangnya kamu bisa mengerjakan ini semua?." Tanya Xing datar.


"Gini-gini aku juga pintar tahu, aku tidak pernah di suruh revisi ulang. Nilaiku selalu sempurna tahu." Ucap Mei tak terima di ragukan oleh Xing.


"Kamu tahu, justru karena nilai semourna itulah. Jarang ada perusahaan yang mau menerima mereka."


Mei mengerutkan dahinya bingung. Dia tidak tahu apa maksud Xing. "Kenapa bisa begitu?." Tanya Mei antara bingung dan penasaran.


Harusnya jika IPk sempurna justru malah bagus dan pasti banyak perusahaan yang memperebutkannya. Kenapa malah sebalikny itulah yang ada di pikirannya.


"Jika kamu memiliki IPK yang sempurna maka orang itu sudah di pastikan sangat cerdas, YA. Tapi perusahaan tidak mau menangung resiko jika ternyata orang tersebut cenderung sombong, dominan dan merasa paling tahu. Orang yang memiliki hal yang di anggap paling terbaik, mereka cenderung merasa pongah dan paling benar serta paling di butuhkan. Dan itu bukan sikap yang bisa di terima, kita harus menemui banyak klien dengan berbagai perangai yang berbeda-beda. Jangan sampai sifat arogan itu yang membuat perusahaan hancur. Biasanya mereka merasa istimewa, itu kenapa banyak perusahaan yang memilih untuk menolak mereka." Jawab Xing denagn lugas.


"I see.. Biasanya orang yang sempurna merasa paling di istimewakan." Gumam Mei.

__ADS_1


"Tapi aku ingin mendapatkan predikat suma cumlaude, Xing.." Ucap Mei dengan cemberut.


"Tidak perlu, cukup cumlaude saja. Nanti kamu jadi sekertarisku jika sudah lulus." Ucap xing sembari memeriksa dokumen-dokumen yang menumpuk di mejanya.


Ingin rasanya dia meminta bantuan sekertaris barunya, tapi dia sudah mrmegang banyak tugas. Jadi dia tidak tega untuk membebaninya lagi.


"Bukankah kamu sudah memiliki Vincent sebagai sekertaris. Kenapa memintaku menjadi sekertarismu?." Tanya Mei bingung.


"Iya Vincent memang mamou menghandle segala pekerjaanku meski kita baru berkerja sama. Tapi, aku masih sangat membutuhkan satu lagi, pekerjaannya semakin hari semakin banyak. Jadi agar lebih efisien lagi, aku membutuhkan satu sekertaris lagi."


"Tapi aku masih lama lulusnya. Aku juga ingin jadi pengacara, jadi kamu harus cari sekertaris yang lain saja. Harus laki-laki ya, jangan sampai sekertarisnya modelan balon air lagi. Kesel aku lihatnya." Ucap Mei dengan penuh penekanan.


'Cemburu rupanya.' Batin Xing.


"Ya sudah, katanya kamu ingin membantuku. Ini kamu bisa mengambil beberapa dokumen untuk di periksa." Ucap Xing lembut.


Mei mengambil beberapa dokumen yang ada di meja dan membawanya ke sofa. Dia memeriksa satu persatu hingga rampung. Dia juga mengambil dokumen lagi jika sudah selesai. Hingga tak terasa seluruh dokumem yang ada di meja telah rampung, mereka berdua terlalu asyik mengerjakan semuanya hingga membuat mereka melewatkan waktu makan mereka.


"Kamu benar, tapi melihat ini semua menumpuk seperti gunung. Malah membuatku sakit mata dan ingin segera menyelesaikannya."


"Hahaha.. Kamu ini, mana ada yang seperti itu." Kekeh Mei, dia mengambil kotak makanan yang di baeanya tadi dan membukanya.


"Apa yang kamu masak ini, hmm baunya lezat." Xing berjalan menghampiri Mei dan melihat makanan yang di bawakan oleh Mei.


"Ini mie daging sapi." Ucap Mei.


"Mie memang tak ada duanya." Gumam Xing, dia langsung duduk dan memakan mie kesukaanya.


Mei memutar bola matanya dengan malas saat mendengar komentar dari Xing. Xing adalah pecinta mie, sama seperti dirinya yang sangat mencintai makanan manis. Tapi mungkin kadar kesukaan Xing tidak separah dirinya.

__ADS_1


"Xing, nanti kalau kita menikah. Konsepnya seperti apa ya."


"Uhuk.. Uhuk.. Uhuk.." Spontan dia langsung melihat Mei dengan tatapan nanarnya.


"Kamu saja belum lulus kuliah tapi kok sudah memikirkan pernikahan." Ucap Xing sinis.


Mei langsung cemberut saat mendengar jawaban sinis dari Xing. "Xing.. Sayang, aku sebentar lagi lulus kok. Aku sudah memutuskan untuk mempercepat masa kuliahku. Dan ini sudah berjalan hampir satu tahun lebih lho." Ucap Mei dengan suara genitnya.


Xing tersenyum tipis, dia tahu bagaimana Mei sangat serius untuk cepat lulus kuliah. Dia belajar dengan giat, saat ada tugas dia langsung mengerjakannya. Di setiap semesternya pun IPK-nya sangat sempurna.


"Kenapa kamu tidak menikmati masa-masa kuliah kamu dulu? Kamu memiliki banyak teman di kampus bukan."


Mei berdecak pelan saat mendengar apa yang di katakan oleh Xing. Menurutnya itu adalah pertanyaan terkonyol yang di ajukan oleh Xing.


"Kamu tahu aku bagaimana Xing.." Ucap Mei jengah.


Xing terkekeh pelan, dia memakan mie sembari sesekali dia melirik Mei yang tampak memakan mie-nya dengan wajah yang tertekuk cemberut.


Dia tahu meski Mei terlihat kekanak-kanakan. Dia adalah orang yang sangat serius dalam mengerjakan sesuatu. Dia bukan orang yang setengah-setengah. Jika sudah memutuskan suatu hal maka dia akan langsung melakukannya.


'Waktu akan terus berjalan, aku tidak ingin menyia-nyiakan waktu yang ada hanya untuk bermain. Di luar sana pasti ada yang membutuhkan bantuan, jadi aku harua cepat lulus kuliah dan membantu mereka. Aku ingin menebus dosaku di masa lalu. Aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan keduaku.' Batin Mei.


"Aku hanya tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan kedua yang sudah di berikan kepadaku. Saat ini aku hanya ingin menyelesaikan studi ku dan bisa menjadi pengacara. Aku ingin membantu orang-orang yang membutuhkan bantuan. Terutama mereka yang tidak memiliki uang dan di tindas oleh orang lain."


Mei menarik nafasnya dengan perlahan untuk menenagkan dadanya yang tiba-tiba terasa sesak.


"Aku hanya ingin membantu memberi keadilan, hal yang tidak bisa aku dapatkan di masa lalu. Sekarang hukum sudah di atur hingga memberi kita perlindungan. Aku hanya ingin memberikan awareness kepada mereka tentang hukum agar mereka mau melawan ketidak adilan yang mereka alami. Meski ada segelintir orang yang bisa bebas dengan mudah, tapi setidaknya sanksi sosial dari penangkapan terhadap mereka akan mereka rasakan." Ucap Mei.


Xing tersenyum menatap Mei dengan bangga. Perasaannya tersentuh saat mendengar tujuan Mei masuk ke fakultas hukum. Keadilan adalah hal yang berharga bagi mereka yang sangat membutuhkan keadilan tapi justru malah di tekan. Agar mereka tidak speak up tentang apa yang mereka alami.

__ADS_1


...****************...


Jangan lupa dukungannya teman-teman 😘😘


__ADS_2