
Mei dan xing berjalan beriringan ke arah ruangan tempat mommy zein di rawat. Tampak xing yang memeluk pingang mei seakan dia tak ingin berjauhan dari mei.
Ada perasaan cemas serta khawatir menyelimuti hatinya, apalagi saat membicarakan mengenai livia. Dia tahu ketenangan yang mereka rasakan saat ini adalah awal dari sebuah badai. Dia tahu jika livia hanya menunggu waktu untuk menyerang, entah kapan waktu itu akan datang. Tapi dia tetap waspada.
'Aku tidak tahu akan seperti apa nantinya jika kamu pergi meninggalkanku.' Batin xing.
Mei yang merasakan ke khawatiran tengah menyelimuti xing pun memegang tangan xing yang ada di pingangnya.
"Semua akan baik baik saja. Yang bisa kita lakukan saat ini hanyalah waspada, gunakan waktu yang kita miliki untuk hal hal yang menyenangkan." Ucap mei mencoba untuk menenangkan xing.
Xing tersenyum tipis dan menatap mei dengan teduh. "Aku tahu, aku tidak akan pernah meninggalkan kamu apa pun yang terjadi."
"Ya, aku juga tidak akan pernah meninggalkanmu apa pun yang terjadi." Jawab mei tersenyum.
Tak lama kemudian mereka sampai di depan kamar tempat mommy zein di rawat. Setelah itu mereka masuk ke dalam kamar tersebut, tetapi mereka di buat bingung karena melihat koper dan juga penampilan mommy zein yang terlihat sangat rapi.
"Lho mom, kok sudah rapi. Bukannya mommy baru boleh pulang minggu depan ya?." Tanya mei bingung.
Mommy zein tersenyum dan menatap mei. "Kata dokter mommy sudah pulih dan boleh pulang. Kondisi mommy saat ini ternyata di luar prediksi dokter, mommy pulih lebih cepat. Lagi pula mommy sudah sangat rindu dengan mei kesayangan mommy ini." Jawab mommy zein.
Mei yang mendengar jawaban dari mommynya pun langsung tersenyum cerah, lalu dia berjalan ke arah mommynya dan memeluknya.
"Akhirnya mommy boleh pulang juga. Aku sudah sangat rinduu sekali dengan mommy. Nanti malam aku ingin tidur dengan mommy ya." Ucap mei dengan ceria.
Mommy zein langsung muram saat mendengar ucapan mei.
Mei yang melihat wajah muram mommy zein pun langsung menatap mommy zein dan mengengam tangannya.
"Kenapa mommy muram seperti ini? Apa momny tidak ingin tinggal denganku?." Tanya mei lirih, hatinya langsung kalut saat membayangkan jika dia harus jauh dari mommynya lagi. Dia tidak sanggup jika harus jauh dari mommynya.
__ADS_1
Mommy zein yang melihat putri kesayangannya sedih pun langsung menangkup pipinya. "Kenapa malah sedih seperti ini. Mommy bukannya tidak ingin tinggal denganmu, justru sebaliknya. Momny sangat ingin tinggal denganmu, tapi mommy takut malah merepotkanmu." Jawab mommy zein dengan lembut.
"Noo mom.. Mommy tidak pernah merepotkanku sama sekali. Justru dengan mommy tinggal denganku, aku jadi bisa merawat mommy. Kita juga bisa bercada tawa seperti dulu, aku amat sangat meridukan masa masa saat aku masih kecil dulu. Meski kita tinggal di tempat yang sangat kecil dan berada di tengah hutan, meski kita harus berburu dan menanam sayur mayur di dekat pondok kecil kita. Tapi aku sangat bahagia, aku ingin menebus seluruh waktu yang sudah terlewatkan. Aku ingin berada di sisi mommy zein, xing, mommy angela, daddy julius dan yang lainnya. Bersama kalian semua aku merasakan bagaimana indahnya cinta kasih." Ucap mei, matanya berkaca kaca saat mengingat bagaimana dia jauh dari mommy zein. Bagaimana kerasnya kehidupan yang harus di jalani olehnya sejak dia masih anak anak. Dia tidak ingin merasakan itu lagi.
Mommy zein yang melihat mata putrinya yang berkaca kaca pun langsung memeluknya dengan erat. Air matanya tumpah saat membayangkan seperti apa yang harus di lalui oleh putrinya saat dia jauh darinya. Hatinya sudah sangat sakit saat harus melihat air matanya menetes karena kesedihan, apalagi saat harus melihatnya menderita. Dia tidak akan mampu hidup dengan tenang.
"Tidak sayang, kita tidak akan pernah terpisah. Maafkan mommy yang tidak mampu melindungimu hingga membuatmu menderita. Maafkan mommy.. Maaf.." Ucap mommy zein parau.
Mei melepas pelukannya dan menghapus air mata mommynya. "Jangan pernah meminta maaf mom, apa yang sudah mommy lalui itu sudah sangat menyakitkan. Aku tidak ingin mendergar mommy meminta maaf lagi ok."
Mommy zein tersenyum tipis dan mengelus kepala mei. "Putri mommy yang paling cantik sekarang sudah besar ya. Rasanya baru kemarin mommy lihat kamu berkebun menanam sayur hingga berlarian mengejar kelinci. Tapi sekarang sudah sebesar ini dan secantik ini."
"Tentu, aku memang yang paling cantik. Tidak ada yang jauh lebih cantik dariku hahaha." Ucap mei dengan pdnya.
"Cihh, cantik dari mananya. Di lihat dari lubang semut, baru kelihatan cantik." Sahut xing meledek mei.
Mei yang mendengar perkataan xing pun langsung mecebikkan bibirnya. "Cantik tahu, aku kalau ikut jadi miss world aja pasti menang."
"Of curse, aku bukan cuma cantik tapi juga pintar lho. Anak jurusan hukum ini mah." Ucap mei bangga.
"Halah, bilang anak hukum. Dulu saat aku jadi dosen kamu aku tidak pernah melihatmu berpartisipasi tuh, kamunya diam mulu. Malah tebar pesona." Ucap xing datar.
"Heyy, bagaimana mau berpartisipasi atau apa. Lihat kamu aja jantungku udah dag dig dung kayak lagi mau maraton. Bisa gagap nanti kalau aku coba partisipasi." Protes mei tanpa sengaja mengatakan perasaannya dulu saat dia menjadi muridnya.
Xing yang mendengar hal tersebut pun langsung tersenyum tipis dan menatap mei intens, hatinya sangat senang sat mendengar perkataan mei. Dia berjalan kearah mei lalu menarik dan memeluk pingang mei.
"Ahh.. Jadi kamu gugup saat dekat denganku dulu. Pantas saja aku mendengar detak jantungmu seperti di tabuh drum. Ternyata kamu malu, ahh jika tahu seperti itu aku akan menyeretmu ke ruanganku setiap hari." Ucap xing dengan suara rendah.
Muka mei sudah merah padam saat mendengar perkataan serta mendapat perlakuan manis dari xing. "Kkamu apaan sih, di lihat mommy itu."
__ADS_1
Jantung mei sudah dag dig dug. Di tambah ada mommy zein yang melihat perlakuan xing dia semakin gugup dan malu.
Xing melihat ke arah mommy zein. Sedangkan mommy zein yang melihat hal tersebut pun hanya tersenyum tipis. "Apa, kalian masih muda jadi kalau mesra mesraan ya tidak apa apa. Mommy mah cuma lihat aja, lumayan geratis. Yang penting jangan macem macem." Ucap momny zein dengan santainya.
Xing kembali menatap mei. "Tuh, mommy zein aja tidak mempermasalahkan kok. Tapi kamu pakai malu malu aja. Lagian aku hanya melakukan satu macam aja kok, mencintaimu setulus hatiku."
Setelah mengatakan hal tersebut xing langsung mencium pipi dan dahi mei. Sedangkan mei yang mendapat perlakuan manis dari xing pun mukanya semakin merah padam.
'Bagimana bisa dia semanis ini. Ada mommy lagi, dasar xing tak tahu malu.' Batin mei kesal dengan xing.
Mei melepas paksa pelukan xing lalu dia mengambil koper dan berjalan meninggalkan xing dan mommy zein.
"Apaan sih, malu maluin banget. Mana ada mommy lagi ihh.. Dasar xing." Dumel mei. Dia berjalan dengan cepat mukanya terlihat kesal.
Mommy zein dan xing yang melihat kelakuan mei yang terlihat malu malu pun hanya bisa tersenyum tipis. "Kenapa harus malu malu." Gumam xing.
"Nak xing, saya harap kamu selalu bisa membuatnya tersenyum. Jangan pernah membuatnya menangis, jangan pernah menyakitinya." Ucap mommy zein.
"Saya tidak bisa berjanji untuk tidak membuatnya menangis. Ada saat di mana dia akan menangis karena suatu masalah. Tapi saya berjanji saya akan selalu berusaha untuk membuatnya tersenyum. Saya berjanji." Jawab xing dengan serius.
Mommy zein tersenyum. "Doa saya akan selalu menyertai kalian berdua. Semoga kalian selalu bahagia dan tak terpisahkan. Saya hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk kalian berdua." Ucap mommy zein dengan lembut.
"Terima kasih mom, saya berjanji saya akan menjaganya dengan jiwa dan raga saya."
"Saya pegang janji kamu. Ayo kita susul mei, nanti dia semakin ngambek karena menunggu kita."
Mereka berdua pun berjalan menyusul mei yang sudah keluar terlebih dahulu.
***
__ADS_1
Jangan lupa dukungannya teman teman😘😘
Baca juga novelku yang berjudul LIA'S LIFE yha gendrenya beda teman teman😁