
Mei menatap Xing dengan tatapan lembutnya, senyum cerah tampak terlukis di wajah manisnya.
"So, kita menikah tepat saat hari wisuda ku?." Tanya Mei meminta kejelasan kepada Xing.
Xing terkekeh pelan, lalu dia menarik hidung Mei pelan. "Harusnya aku yang melamarmu tapi ini malah kamu yang melamarku. Kamu benar-benar penuh kejutan." Ucap Xing dengan lembut.
Dia benar-benar tidak habis pikir dengan pemikiran Mei yang di luar dari pemikirannya sendiri. Sering kali dirinya di buat terkejut dengan pemikiran Mei.
"Nunggu kamu itu lama." Ucap Mei dengan datar.
"Tidak lama kok. Aku sudah mengatakan kepadamu jika aku akan menikahi kamu setelah kamu lulus. Sesuai dengan permintaan Daddy Julius, tapi sepertinya kamu sudah ngidam pengen nikah." Ucap Xing enteng.
Mei melotot, menatap Xing dengan cangung. Tiba-tiba perasaan malu menyelimuti dirinya.
'Iya juga ya. Kok aku tidak sabaran begini sih.' Rutuk Mei dalam hati.
"Memangnya kenapa jika aku ingin segera menikah? Ohh kamu tidak mau menikah denganku?." Tanya Mei ketus, dia berusaha menutupi rasa malunya dengan berbicara ketus seperti itu.
"Aku sudah bilang ya jika aku akan menikahi kamu setelah kamu lulus kuliah." Ucap Xing dengan penuh penekanan.
Mei langsung meringis setelah mendengar perkataan Xing. Lagi-lagi dia di buat mati kutu oleh jawaban dari Xing.
'Aih.. Kok aku jadi makin bodoh begini sih. Pelupa pula, dasar Mei lemot.' Rutuk Mei dalam hati.
Xing terkekeh geli saat melihat wajah muram Mei. "Kenapa mukanya jadi masam begini?" Goda Xing.
"Tidak kok. Aku ceria tahu, pokoknya nanti aku ingin kita menikah di Shangri La ya."
Xing mengerutkan dahinya. "Shangri La.." Gumam Xing.
__ADS_1
"Ya.. Aku ingin kita menikah di Shangri La." Ucap Mei mantap.
Xing menatap Mei dengan tatapan seriusnya. "Kenapa kamu ingin menikah di tempat itu? Akses untuk ke sana tidaklah mudah. Aku sudah pernah merasakannya, susah sekali untuk dapat masuk kesana. Tidak semua makhluk bisa memasuki Shangri La." Ucap Xing dengan serius.
Sejujurnya Xing sangat ragu dan juga sedikit terkejut dengan keinginan Mei. Dia tahu resikonya akan sangat besar jika ada yang mencoba memasuki Shangri La. Nyawa yang akan menjadi taruhan, dia sendiri pernah merasakannya.
Mei tersenyum tipis saat melihat raut serius yang di tunjukkan oleh Xing. Dia tahu apa yang ada di pikiran Xing.
"Aku tahu resikonya sangat besar dan tidak semua makhluk bisa memasukinya. Shangri La adalah tempat yang sangat suci, maka dari itu aku sangat ingin menikah di sana. Tadinya aku ingin menikah di hutan. Tapi resikonya jauh lebih besar jika kita menikah di hutan." Ucap Mei serius.
Xing semakin di buat bingung. "Bagaimana bisa resiko menikah di hutan bisa jauh lebih besar di banding dengan kita menikah di Shangri La. Kamu tahu, sekali kita di tolak masuk ke tempat itu. Kita akan langsung hangus tak bersisa."
"Kamu tahu peraturan untuk masuk ke sana bukan. Hati yang bersih adalah kunci dari Shangri La itu sendiri, bahkan banyak yang bilang jika Shangri La adalah hati yang bersih itu sendiri. Ujian yang harus di lewati saat akan memasuki gerbang hanyalah agar kita menjadi goyah hingga kita menyerah. Hati yang bersih saja tidak cukup, tekat yang kuat itu juga sangat di butuhkan. Sedangakan mereka yang berhati gelap sudah di pastikan akan di tolak dan tidak akan mampu memasukinya. Jika terus memaksa masuk hingga menggunakan cara yang di larang maka mereka akan musnah, hancur menjadi abu." Jelas Mei.
"Tapi kita tidak tahu isi hati seseorang sayang. Bagaimana jika salah satu dari keluarga kita tidak memiliki hati yang bersih. Mereka malah tidak bisa menyaksikan pernikahan kita."
"Kita tidak ingin menetap di Shangri La Xing. Jadi, cukup dengan kita tidak memiliki niat terselubung untuk memasuki Shangri La serta niat kita yang kuat dan tulus, maka kita akan dapat memasukinya. Lagi pula, tidak ada mahkluk di dunia ini yang benar-benar berhati bersih tanpa noda. Saat kita tumbuh dewasa saat itu juga kesalahan-kesalahan akan kita perbuat, baik yang besar maupun yang kecil, yang sengaja mau pun tidak sengaja. Kemurnian yang sesungguhnya hanyalah di miliki oleh bayi yang baru lahir." Ucap Mei dengan lembut.
'Sangat bijaksana sayang.' Batin xing.
"Kenapa kamu sangat ingin kita menikah di Shangri La? Dan kenapa kamu bilang jika di Shangri La kita akan aman dan tidak beresiko?" Tanya Xing.
"Shangri La adalah tempat yang suci. Orang yang punya niat buruk sejak awal sebelum menginjak Shangri La akan tersesat bahkan bisa musnah. Aku hanya menghindari orang yang berniat jahat saja." Jawab Mei dengan tenang.
Xing mendesis saat mendengar jawaban dari Mei. Dia tahu apa yang di maksud oleh Mei. "Livia Song." Desis Xing.
Mei melirik Xing sekilas, matanya berkilat saat mendengar desisan Xing.
"Ya, feeling ku mengatakan jika dia akan mengacaukan pernikahan kita. Saat ini dia memang tidak mengusik hidup kita, tapi aku yakin dia hanya menunggu saat yang tepat.."
__ADS_1
Mei menjeda ucapannya, matanya berkilat makin tajam.
"Saat yang paling tepat itu adalah saat pernikahan kita." Sahut Xing.
Mereka berdua saling memandang, mata mereka berdua berkilat tajam. Xing lalu berdiri dan berjalan ke arah jendela. Dia menatap ke luar jendela dengan tatapan tajamnya, rahangnya mengeras saat memikirkan kemungkinan yang paling buruk yang akan menimpa mereka berdua nantinya. Dia tahu jika Livia tidak akan pernah berubah, rasa benci dan dendam yang di pupuknya terlalu dalam hingga membutakannya.
"Livia Song, jika sampai dia berani-beraninya menganggu pernikahan kita dan melukai orang-orang yang aku sayangi. Dia akan aku habisi, sudah cukup belas kasih yang aku berikan selama ini. Menurutku apa yang sudah terjadi di masa lalu sudah terbayar lunas di masa ini. Jadi sudah tidak ada hubungannya sama sekali kehidupan masa lalu dan sekarang." Ucap Xing dengan suara rendahnya.
Kali ini dia sudah tidak ingin mendengar masa lalu yang di ungkit lagi. Apa lagi sampai melukai sebegitu dalam, sudah saatnya menunjukkan tempat yang sesungguhnya.
'Semuanya harus tegas.' Batin Xing.
Mei yang melihat Xing di liputi oleh emosinya pun mendekatinya dan memeluknya dari belakang agar emosi Xing sedikit mereda. Dia tahu kesabaran Xing sudah tak terbendung lagi.
"Kamu harus tenang! Tidak bisa kita gegabah, jangan sampai emosi yang mengendalikan kita. Kita harus merencanakan segalanya dengan matang, waktunya masing panjang." Ucap Mei dengan lembut.
Xing memejamkan matanya, setelah mendapat pelukan dari Mei. Emosi yang mengelagak di dalam dirinya seketika langsung surut dan padam. Dia menarik nafasnya dengan perlahan dan kembali membuka matanya. Di elus tangan Mei yang memeluknya dengan lembut untuk menyalurkan segala perasaannya.
"Maaf, aku jadi emosi begini. Aku sudah terlalu lelah dengan seluruh drama yang di lakukan oleh Livia. Kali ini aku tidak akan menurutimu lagi. Aku akan memberinya pelajaran." Ucap Xing tegas.
Mei hanya terkekeh pelan saat mendengar perkataan Xing.
"Ya, aku tidak akan ikut campur lagi. Mungkin memang dia harus mendapatkan sedikit pelajaran. Walau aku masih sangat berharap jika dia akan berubah. Aku harap ini hanya spekulasiku saja." Ucap Mei.
"Kita lihat saja nanti." Ucap Xing dengan tajam.
Jika memang harus melawan Livia, maka dia akan melakukannya. Livia tidak menghargai keputusannya, jadi untuk apa dia harus menghargai Livia. Segalanya harus segera di akhiri.
Mei hanya bisa bungkam, dia tahu jika sudah saatnya segalanya harus berakhir. Sudah bukan waktunya lagi untuk memberikan pengampunan dan juga kesempatan untuk yang ke sekian kalinya. Dia sendiri juga sudah lelah.
__ADS_1
...****************...
Jangan lupa dukungannya teman-teman 😘😘