
"Hey nona pemukul jangan cemberut terus nanti cantiknya hilang lho." Xing menarik ujung bibir mei.
"Ishh.. Apaan sih, jadi aku dulu tidak cantik begitu." Sewot mei, setelah memukul tangan xing menjauh dari wajahny.
"Kamu cantik kok, dari dulu kamu selalu cantik. Tetapi kalau lagi cemberut seperti ini kamu cantiknya hilang. Jadi senyum ya," Jawab xing, sembari mencolek dagu mei.
"Aku mah cemberut tidak cemberut tetap cantik dan banyak yang suka." Ucap mei dengan pdnya.
"Ohh jadi kamu pengen tebar pesona hmm." Ucap xing dengan nada suara yang rendah.
Mei yang mendengarnya pun di buat merinding. "Hehee.. Kenapa kan aku benar." Ucap mei.
"Iya kamu memang cantik, tapi bukan berarti harus tebar pesona juga." Jawab xing dengan cemburu.
"Cemburu ya.. pasti cemburu nihh." Mei menggoda xing.
"Iya aku cemburu, makanya jangan pernah tebar pesona." Jawab xing dengan lugas.
Mei yang mendengar jawaban jujur dari xing pun seketika langsung terdiam.
Xing yang melihat mei terdiam pun tersenyum sendiri.
"Kamu tahu aku tidak akan pernah berbohong mengenai perasaanku jika aku cemburu aku akan bilang cemburu tapi jika tidak aku juga akan bilang tidak." Ucap xing dengan tulus.
"Benarkah." Ucap mei, dia masih ragu dengan semua ini. Di lain sisi dia ingin percaya dengan semua yang xing lakukan untuknya selama ini, tapi di sisi lain dia tahu jika ini semua adalah salah satu caranya untuk membuatnya menderita.
Xing yang melihat keraguan di diri mei pun memegang bahunya dan menghadapi mei.
"Apa kamu masih ragu dengan perkataanku, apakah kebersamaan kita selama ini belum juga membuatmu bisa percaya kepadaku."
Xing mengusap pipi mei, "Aku tidak akan pernah berbohong kepadamu, aku sangat serius dengan perasaanku selama ini. Sedikit pun tidak pernah terpikirkan olehku untuk membohongimu. Aku takut melihatmu kecewa mei."
"Bahkan jika aku dulu pernah menyiksamu, bahkan aku pernah menipumu, memanfaatkanmu. Apakah kamu gila, jangan pernah menyukai orang yang bodoh ini. Kamu itu sangat pantas bersama dengan livia, dia baik, cantik dan dia adalah orang yang selalu bersama denganmu. Aku tidak akan pernah pantas untukmu, meski pun kita adalaha belahan jiwa. Mungkin dewi sal..."
Xing langsung memeluk mei agar dia berhenti untuk merendahkan dirinya sendiri. Menurutnya dia adalah orang yang paling pantas untuknya, baginya masa lalu adalah salah satu cara dewi untuk mempererat ikatan mereka. Dengan rasa sakit itu cintanya akan tetap kuat.
"Ssttt.. Jika kamu bilang seperti itu lagi, aku akan sangat marah. Kamu adalah yang paling pantas untukku. Dan ya aku gila karena aku sangat mencintaimu, aku gila karena aku tidak akan pernah bisa berpaling darimu, ke livia pun tidak akan bisa. Karena kamu adalah satu satunya belahan jiwa ku, cinta dalam hidupku. Dewi tidak pernah salah, biarlah masa lalu menjadi kekuatan kita agar ikatan kita semakin kuat." Ucap xing, menenangkan histeria mei.
__ADS_1
'Ingin sekali aku berteriak untuk berhenti berbohong xing, aku sudah sangat lelah dengan ini semua. Kenapa kamu harus sepandai ini dalam mempermainkanku. Aku bahkan tidak bisa membedakan mana yang benar dan mana yang tidak. Aku benar benar sangat lelah.' Batin mei dengan pilu.
"Jika memang kamu masih ragu, aku akan tetap menunggu kamu hingga keraguan kamu menghilang. Aku tidak ingin memaksakan kehendak kamu, aku ingin kamu bahagia." Ucap xing sembari mencium puncak kepala mei.
"Aaku hanya takut di saat kita benar benar menjalin hubungan yang lebih serius kamu akan meninggalkan aku. Aku tidak tahu jika hal itu benar benar tejadi xing, aku pasti akan hancur." Ucap mei dengan sendu, hingga tanpa sadar air matanya mengalir.
Xing yang melihat mei menangis pun langsung menghapus air mata mei. "Aku berjanji tidak akan pernah meninggalkanmu. Bagaimana bisa aku meninggalkan belahan jiwa aku, bagimana mungkin aku meninggalkan orang yang paling aku cintai ini hmm.."
'Cinta ya.' Batin mei tidak yakin.
"Hh siapa tahu kamu hanya terpaksa menjalani ini semua karena kita terikat dengan belahan jiwa ini." Lirih mei.
Xing mengkreyitkan dahinya saat mendengar hal tersebut. "Bahkan tanpa belahan jiwa ini aku akan tetap mencintai kamu. Sudah, jangan bilang hal hal yang aneh lagi." Ucap xing, dia sangat tidak menyukai segala perkataan yang di lontarkan oleh mei saat ini.
"Aku hanya bilang fak.."
"Ekhem.."
Mei dan xing menoleh ke asal suara deheman tersebut, saat mereka berdua melihat siapa yang berdehem terdebut xing dan mei pun langaung berpisah.
"Livia, kenapa kamu tidak mengetuk pintu dulu." Tanya xing dengan kesal.
Livia yang melihat xing yang sepertinya sangat kesal kepadanya pun hanya bisa menahan amarah.
"Maaf xing aku tidak tahu jika di sini ada orang lain. Biasanya kan tidak ada orang, adanya hanya kamu makanya aku langsung masuk seperti biasanya." Jawab livia berpura pura merasa bersalah.
"Aaku keluar dulu, permisi mr xing." Mei langsung keluar dari ruangan tersebut.
"Tunggu.." Xing berusaha mencegah mei untuk pergi dari ruangannya tapi mei sudah keburu keluar dari ruangannya.
'Bahkan mereka berdua sudah terbiasa bertemu berdua seperti ini tanpa harus janjian terlebih dahulu, sudah terlihat sekali jika hubungan mereka sangat serius. Bagaimana bisa aku percaya dengan semua perkataanmu xing, harusnya aku sadar diri jika dia tidak akan mungkin mencintai orang yang telah membuatnya menderita. Dia terlalu sempurna untuk orang jahat sepertimu mei. Sadar sadar.' Batin mei kesal dengan dirinya sendiri.
Mei menghapus air matanya dan berjalan menuju ke kantin, untuk menyusul teman temannya.
'Kenapa dia masih saja dekat dengan xing, darel bodoh. Melukai satu orang saja dia tidak becus, awas saja nanti akan aku beri pelajaran kepada darel agar dia bisa menjalankan perintahku dengan benar.' Ucap livia dalam hati, dia sangat kesal sekaligus marah saat melihat livia tidak kenapa kenapa. Justru dia malah mendekati xing seenaknya.
'Dasar kecentilan.'
__ADS_1
"Ada apa kamu kesini livia." Tanya xing berusaha untuk menyembunyikan kekesalannya terhadap livia.
Livia langsung menoleh kearah xing setelah memandang kepergian mei dengan penuh kebencian.
"Aku kesini hanya ingin membicarakan mengenai kejadian beberapa hari yang lalu xing. Aku pikir itu ulah vampire, seluruh ciri ciri yang mereka miliki sama persis seperti gigitan vampire." Ucap livia, berpura pura tidak mengetahuinya padahal itu semua karena ulahnya.
"Aku tahu, aku telah menagkap satu orang. Aku yakin jika dia salah satu vampire yang menyerang bangsa manusia." Jawab xing dengan serius.
'Apa dia sudah mengetahuinya, apa mungkin itu darel makanya dia gagal melukai mei. Karena dia di tangkap telebih dahulu, bagaimana jika darel berbicara mengenaiku.' Batin livia kalut.
"Salah satu vampire, apakah ada vampire lain yang menyerang bangsa manusia." Dia berusaha untuk tidak terlihat cemas di depan xing.
"Menurutku mereka adalah vampire baru, karena tidak mungkin ada vampire lama atau pun vampire yang tumbuh di lingkungan bangsa vampire yang akan berani meminum darah bangsa manusia." Jawab xing.
"Kenapa kamu sangat yakin xing."
"Aku yakin vampire yang telah menyerang mei adalah vampire yang aku tangkap tadi pagi. Detak jantungnya telah berhenti, dan aku yakin jika masih ada vampire vampire lain yang akan menyerang mei. Dan aku akan memburu mereka semua, terutama vampire yang telah menciptakan vampire baru ini, lihat saja nanti." Ucap xing dengan tajam, matanyanya berkilat.
'Sial, jika saja darel tidak tertangkap maka aku tidak akan terancam seperti ini. Aku harus mencari cara agar xing tidak tahu jika aku yang ada di belakang semua ini. Untung saja aku tidak ketahuan, itu artinya darel tidak membicarakan mengenaiku di depan mereka.'
"Tapi kita harus tetap waspada xing, dengan kejadian ini semua maka keselamatan kita terancam. Para pemburu pasti saat ini berjaga di mana mana. Kita tidak bisa gegabah."
"Aku tahu, aku tidak akan seceroboh itu hingga tertangkap oleh mereka." Sarkas xing.
"Baiklah xing, aku hanya ingin membicarakan mengenai ini. Aku harus pergi dahulu ada banyak hal yang harus aku urus."
"Hmm.. kamu bisa keluar."
Livia kemudian pergi meninggalkan xing.
'Sial, kenapa mei selalu saja beruntung. Sedangkan aku selalu saja sial, aku harus bagaimana jika sudah seperti ini.'
Livia benar benar sangat kalut sekaligus marah, setiap rencana yang dia lakukan pasti gagal terus. Tidak ada satu pun rencananya yang berhasil.
***
Bab baru telah di buat~
__ADS_1
Jangan lupa dukungannya teman teman😘😘