
Xing menggendong Mei dan mendudukannya di kasur. Kemudian Xing bersimpuh di depan Mei dan menggengam tangan Mei.
"Kita berdua adalah Belahan Jiwa, tidak akan ada pertaruhan di antara kita. Itu akan percuma, hasilnya akan sama. PENDERITAAN." Ucap Xing dengan penuh penekanan.
Xing mengusap wajah Mei dengan lembut. "Apa yang akan kita dapatkan selain rasa sakit. Aku tidak ingin kamu mempertaruhkan nyawa kamu hanya untukku. Kamu menghilang meninggalkan dunia ini dan aku akan merasa sangat hampa dan juga sakit di setiap detik serta di setiap nafasku."
Mei menatap Xing dengan tatapan sendunya. "Lalu apakah aku harus merasakan hal yang sama untuk yang kedua kalinya? Tidak Xing, kamu ingin melihatnya melalui Empati agar melihat sendiri bagaimana gilanya aku saat itu." Bibir Mei bergetar menahan tangis.
Perasaannya yang sudah kacau balau menjadi semakin kacau dengan pembahasan yang lagi-lagi mengenai rasa sakit di masa lalunya.
'Kenapa tidak ada habis-habisanya. Aku lelah membahas masa lalu terus, kenapa selalu saja ada hal yang membuat masa lalu ini selalu muncul dan memblengu ku. Apa aku tidak pantas bahagia dengan kehidupan baruku? Kenapa aku harus bereinkarnasi jika masa laluku selalu mengikatku seperti ini? Kenapa.'
Batinnya meraung, dia sudah sangat lelah dengan semua ini. Seakan-akan masa lalunya tidak ingin membiarkan dia bahagia meski hanya sementara.
Xing duduk di samping Mei dan menyatukan kening mereka berdua. "Bukan seperti itu, jika kamu mati saat itu maka aku akan mati saat itu juga. Kita hidup bersama, mati pun akan bersama. Tidak perlu melakukan Empati untuk bisa melihat penderitaan yang kamu alami saat itu. Hanya dengan mendengarnya dari bibir kamu sendiri, aku sudah sangat mengetahuinya. Aku tahu bagaimana penderitaan kamu saat itu."
Xing memejamkan matanya dengan tangannya masih mengelus pipi Mei. "Segala hal yang kamu rasakan, aku bisa merasakannya."
Mei terpaku menatap Xing yang masih memejamkan matanya serta mengelus pipinya. "Maaf.." Ucap Mei dengan lirih.
Xing langsung membuka matanya saat mendengar kata maaf yang keluar dari bibir Mei. "Kenapa meminta maaf, kamu tidak memiliki salah sama sekali." Ucap Xing dengan lembut.
"Maafkan aku yang terlalu terpaku dengan perasaanku sendiri. Aku terlalu berkubang dengan perasaan yang memblengu diriku sendiri hingga membuatku tidak mampu merasakan rasa sakit yang kamu rasakan. Maaf, karena aku tidak bisa memahamimu seperti kamu memahamiku. Aku selalu mempertahankan argumen yang aku miliki tanpa mendengarkan argumen dari kamu. Aku tidak dewasa sama sekali, sangat kekanak-kanakan."
Perkataan Xing tadi bagaikan tamparan yang sangat keras baginya. Dia melupakan jika mereka Belahan Jiwa, mereka berdua mampu merasakan rasa sakit masing-masing. Dan dia dengan sepihak tanpa mendengarkan Xing terlebih dahulu memilih memutuskan segalanya sendiri, seakan-akan apa yang sudah di lakukannya adalah yang paling benar dan yang paling tepat.
Mei menangkup wajah Mei. "Hey.. Kamu melakukan hal yang menurut kamu yang terbaik. Aku selalu berda di samping kamu untuk menarik kamu jika memang suatu saat keputusan kamu itu membuatmu tersiksa dan sakit."
"Tapi semua keputusanku selalu saja salah dan aku tidak pernah menyadarinya. Bagaimana bisa aku seperti ini." Ucap Mei dengan suara parau.
"Tatap mataku! Sudah aku bilang jika aku akan selalu ada di samping kamu untuk menarik kamu. Dan kamu tidak pernah sekali pun protes atau membrontak dari tarikanku. Kamu selalu mendengarkan, terkadang keputusan yang kita ambil memang bisa salah. Tapi apakah karena kesalahan itu kita harus stop untuk membuat keputusan yang terbaik bagi hidup kita. Kita tidak bisa stuck di satu langkah. Setiap langkah yang kita lalui itu adalah sebuah keputusan." Ucap Xing dengan lembut.
Dia berusaha memberi tahu Mei jika semuanya memang membutuhkan keputusan untuk bisa tetap maju menjalani hidup.
__ADS_1
Mei terdiam sementara hingga senyum tipis menghiasi wajahnya, dia lalu mengelus rahang xing. "Kamu benar, di setiap langkah yang kita ambil itu adalah sebuah keputusan. Kita tidak akan bisa maju jika kita takut memutuskan sesuatu hal."
Mei mengulurkan telapak tangannya kepada Xing. "Berjanjilah jika kamu akan selalu berada di sampingku, membimbingku di setiap langkah hidupku. Mari kita belajar bersama!." Ucap mei, tersenyum tipis.
Xing meraih uluran tangan Mei dan mengengam tangan Mei. "Aku berjanji jika aku akan selalu ada di samping kamu. Aku tidak akan pernah meninggalkan kamu. Mari kita belajar bersama!."
Brak
Mei yang moodnya kembali membaik pun langsung menerjang Xing hingga membuat Xing jatuh terjengkang dari kasur. Pungungnya menghantam lantai hingga menimbulkan bunyi yang cukup keras.
"Aw.. Kenapa kamu bar-bar sekali sih.." Pekik Xing, pungungnya sakit karena jatuh dengan keras akibat terjangan Mei.
'Kenapa tenaganya besar sekali sih. Auhh, sakit lagi nih pungung.' Gerutu Xing dalam hati.
Mei mencebikkan bibirnya saat dirinya di katai bar- bar oleh Xing. "Aku hanya senang Xing.."
'Enak saja, yang bar-bar itu Viagra. Bukan aku, anggun gini kok di bilang bar-bar.' Batin Mei mengerutu tak senang dengan perkataan Xing.
'Bilang saja hobby..' Batin Xing kesal.
Mei menyengir menatap Xing dengan ekspresi tanpa dosanya.
"Itu bukan kdrt tahu.. Kamu saja yang refleknya payah." Ucap Mei enteng.
Xing menatap mei dengan tajam, lalu dia mengangkat tubuh mei dan mengelitikinya.
"Kamu bilang apa hah.. Payah nih payah.. Payah mana reflekku dengan reflekmu hmm.." Ucap Xing geram, dia terus mengelitiki mei.
"Hahahhaha.. Sudah hahaha.. Xing suda hahah.. Aduh stopp.. Iya aku payah.. aaku payah.."
Air mata mei mengalir karena tak tahan dengan kegelian akibat di gelitiki oleh Xing. Tawanya pecah saat itu juga.
Xing menghentikan gelitikannya setelah mendegar Mei yang mengatakan jika dirinya payah. Dia menatap mei dengan tatapan puas.
__ADS_1
"Makanya tidak usah sombong sayang.. Baru di gelitiki saja sudah langsung menyerah. Apa lagi nanti jika kamu aku gigit sampai abis."Ucap Xing ambigu.
Mei terganga menunjuk Xing di sertai tatapan nanarnya. "Kkka Kamu ingin menjadikanku Vampir.." Pekik Mei.
Xing melongo menatap Mei dengan tatapan tidak percayanya. Dia menggaruk dahinya yang tidak gatal.
'Sial, aku lupa jika pacarku ini sangat polos.' Batin Xing.
Xing berdehem dan menatap Mei dengan tatapan angkuhnya. "Memangnya kenapa jika aku ingin menjadikan kamu Vampire. Bukannya kamu pernah menjadi Vampire ya." Ucap Xing dengan suara rendahnya.
Mei bergidik ngeri, menatapa Xing dengan tatapan horornya.
'Bukankah sakit saat dalam fase perubahan menuju bentuk vampire. Apa lagi gen vampire harus melawan gen serigala.' Batin Mei bergidik, tak sanggup membayangkan bagaimana menderitanya dia jika benar-benar akan di rubah menjadi vampire oleh Xing.
"Aku tidak mau.. Sakit tahu jika harus berubah menjadi vampire, dulu aku sudah terlahir menjadi vampire. Bukan karena di gigit, tidak mauu.." Rengek mei.
Xing terkekeh pelan, dia lalu mencubit hidung mancung mei karena gemas dengan tingkah Mei.
"Hahaha.. Aku hanya bercanda sayang, aku tidak akan pernah merubahmu menjadi vampire. Aku mencintaimu apa adanya." Kekeh Xing.
"Lagi pula akan ada peperangan antara klan azar dan klan aladric jika aku melakukan hal bodoh tersebut." Lajut Xing.
Mei bernafas lega saat mendengar penjelasan dari Xing, dia sudah was-was jika Xing akan benar-benar melakukan hal tersebut.
'Huftt.. Dasar Xing konyol.' Umpat Mei.
Xing yang sudah tidak tahan dengan tingkah menggemaskan Mei pun langsung mencium pipinya kilat.
'Menggemaskan.'
...****************...
Jangan lupa dukungannya teman-teman😘😘
__ADS_1