Reinkarnasi Belahan Jiwa

Reinkarnasi Belahan Jiwa
57. Harus Jujur


__ADS_3

Setelah mereka semua selesai memakan makanan mereka xing mengajak mei untuk berbicara secara pribadi dengannya.


"Mei, bisa kita bicara sebentar?." Tanya xing lembut.


Mei menatap xing untuk sementara dan menganggukan kepalanya.


Kemudian mei dan xing memilih untuk berbicara di atas balkon yang ada di kamar mei.


"Kamu ingin berbicara mengenai apa?." Tanya mei.


Xing menghela nafasnya sebentar. "Tapi kamu harus berjanji. Kamu harus jujur kepadaku, aku tidak ingin kamu berbohong." Ucap xing sembari mengulurkan tangannya.


Mei menatap tangan xing sebentar, dan menerima uluran tangannya.


"Aku berjanji. Aku akan jujur."


Xing menarik nafasnya sementara dan mulai kembali berbicara dengan raut wajah yang serius.


"Apakah benar jika kamu pernah bertemu dengan livia." Tanya xing dengan seriusnya.


Degg


Mei sangat terkejut saat mendengar pertanyaan dari xing tersebut.


"Aakku.."


"Jawab dengan jujur." Desis xing, dia tidak ingin mei berbohong kepadannya.


Mei tersentak saat mendengar nada bicara xing tersebut.


'Apakah dia sudah mengetahui segalanya.' Batin mei khawatir.


Xing yang melihat mei tersentak pun berusaha untuk berbicara dengan halus.


"Aku hanya tidak ingin kamu berbohong mei." Ucap xing dengan lebih halus.


"Ya. Aku pernah menemuinya." Lirih mei, dia tidak berani menatap xing.


Xing mengangkat dagu mei agar dia melihat matanya. "Lihat mataku jika sedang berbicara denganku. Apa yang kalian bicarakan saat itu."


Mei semakin gugup saat mendengar pertanyaan xing yang semakin menuju ke inti.


"Aaku hanya ingin meminta maaf kepadanya. Karena telah membantai keluarganya. Aku benar benar menyesal xing.." Mata mei mulai berkaca kaca saat harus kembali mengingat kesalahannya di masa lalu.

__ADS_1


"Tidak apa apa. Itu hanya masa lalu, yang terpenting kamu telah belajar menjadi lebih baik di masa kini." Xing berusaha untuk menenangkan mei yang terlihat ingin menangis.


"Bagaimana reaksinya saat melihatmu waktu itu?."


Mei semakin engan untuk menjawab pertanyaan xing.


"Jangan seperti ini. Kamu sudah berjanji untuk jujur, aku tidak akan marah kepadamu?." Dia berusaha untuk membujuk mei agar bisa lebih terbuka dan jujur kepadanya.


"Saat itu dia langsung mencekik leherku dan menyuruku untuk melepas ikatan kita." Cicit mei.


Xing langsung marah saat mengetahui hal tersebut. Matanya berkilat dengan tajam.


"Lalu.." Xing berusaha untuk meredam amarahnya, dia tidak ingin jika amarahnya berdampak buruk ke mei.


"Dia bilang karena ikatan kita, kamu... hufff.. Kamu terpaksa membatalkan pernikahan kalian. Kamu juga terpaksa mendekatiku agar tidak kesakitan karena efek dari tanda ikatan belahan jiwa yang kita miliki." Ucap mei dengan serak. Dia mulai tidak sanggup berbicara lagi bahkan air matanya sudah mulai mengalir.


Dadanya sangat sesak, dia takut jika xing mulai mengetahui kebenaran itu. Dia akan memilih meninggalkannya.


'Jangan tinggalkan aku. Aku tidak akan sanggup.' Batin mei dengan pilu.


Xing yang melihat mei menangis pun langsung memeluk dan menenangkannya. Sesekali dia mengecup puncak kepala mei.


"Jangan percaya kepadanya. Aku tidak merasakan sakit sama sekali. Dan ya aku memang akan menikah dengannya.."


Xing melepas pelukannya dan menatap mei. Dia kesal karena mei memotong perkataannya.


"Ishh.. Dengarkan dulu kalau orang lagi bicara, jangan di potong. Saat itu daddy yang meminta kita untuk menikah. Karena menurutnya kita, aku dan kamu adalah musuh. Dan ikatan ini tidak ada apa apanya. Saat itu aku juga masih menyangkalnya, tapi tetua felis dia mengatakan jika belahan jiwa tidak bisa di pisahkan sama sekali. Jadi daddy dan mommy terpaksa menerimanya..."


"Kenapa kamu tidak mendengarkan perkataan daddy kamu saja hiks.. hikss. Dia benar, ini tidak ada apa ap.. hiks.. apaa.. Livia bahkan lebih cocok saat bersamamu.. hegg.. hikss..hiks.." Raung mei dengan kerasnya.


Xing pun langsung menghapus air mata mei dan berusaha untuk menenangkannya.


"Hey.. Hey.. Lihat aku. Lihat, aku sudah bilang jika aku sedang berbicara dengarkan dulu. Jangan potong ucapan ku." Ucap xing dengan lembut.


Mei hanya bisa menganggukan kepalanya. "You ok. Udah tenang." Mei kembali menganggukan kepalanya.


"Mereka awalnya terpaksa. Tapi saat livia bilang kepada orang tuaku jika dia akan memisahkan kita berdua dengan cara apa pun. Hal tersebut yang membuat mommy dan daddy tidak menyukainya." Xing kembali menjelaskan dengan nada yang lebih lembut dan menenagkan.


"Tapi livia dia juga mengatakan kepadaku jika kamu menerima ikatan ini karena kamu ingin membuatku menderita. Dia bilang kamu ingin menikah denganku kemudian kamu masih akan berpacaran dengan livia." Lirih mei.


Degg


Xing sangat terkejut saat mendengar hal tersebut.

__ADS_1


'Ternyata dia sudah mengetahuinya. Pantas saja dia sangat meragukanku.' Bantin xing kecut.


"Aaku memang pernah berpikiran seperti itu. Tapi itu hanyalah sebatas di pikiranku saja. Aku telah merenungkan segalanya, hingga aku memantapkan hatiku untuk menerima ikatan kita. Aku masih sangat mencintai kamu, itu adalah pemikiran terbodoh yang pernah aku pikirkan selama ini. Aku sangat menyesal sekali." Ucap xing dengan penuh penyesalan.


"Maaf jika karena pemikiran bodoh aku, ini menjadi membuatmu seperti ini. Aku tidak pernah menyangka jika livia akan menggunakan ini sebagai salah satu cara untuk menghasutmu hingga menyakiti hatimu seperti ini."


Mei memandang xing dengan serius, meski dia masih sedikit terisak isak. "Aku juga meminta maaf, kalau saja aku bisa lebih terbuka dan percaya kepadamu maka kita akan jauh lebih bahagia, kita tidak perlu harus merasakan rasa sakit ini dan kita juga tidak perlu salah paham juga. Ini semua juga salah aku xing, aku minta maaf." Mei merasa jika dia juga ikut andil di dakam peliknya hubungan yang mereka jalani selama ini.


"Ini memang karena kita yang tidak bisa lebih terbuka satu sama lain. Tapi ini juga karena livia yang terlalu egois. Aku tidak akan pernah memaafkannya, dia sudah keterlaluan." Xing kembali menjadi marah saat mengingat perkataan mei tadi. Dia tidak terima jika mei di perlakukan seperti itu oleh livia.


"Tidak xing. Ini juga salahku, dia pantas marah kepadaku karena aku sudah melenyapkan seluruh klannya. Aku bahkan mengambil cintanya."


"Kamu tidak pernah mengambilku dari livia. Dari dulu aku sangat mencintaimu. Bahkan hingga kini aku tidak pernah berhenti mencintaimu." Xing langsung menyangkal perkataan mei tadi.


Sedangkan mei kembali di buat terkejut oleh pernyataan xing. "Dari dulu.." Lirih mei, dia menatap mata xing seakan meminta penjelasan.


"Di kehidupan pertama kita, saat di desa itu. Aku jatuh cinta kepadamu, bahkan saat kamu melepas penyamaran kamu aku masih mencintaimu. Aku memilih membakar diriku di api abadi karena aku tidak sanggup jika aku harus menyakitimu. Aku terlalu mencintaimu."


Mei yang mendengar hal itu pun langsung memeluk xing dengan eratnya.


"Bodoh.. Kamu tahu, aku sangat hancur saat melihatmu memasuki api abadi. Saat itu aku merasa sangat kosong dan juga hampa, aku sangat bingung kenapa aku bisa seperti itu. Bahkan aku berusaha untuk membangkitkanmu, selama 8 tahun aku tidak berhenti mencoba untuk membangkitkamu." Gumam mei, dia benar benar sangat sakit saat kembali mengingat masa lalunya saat bersama dengan xing.


Xing mengeratkan pelukannya terhadap mei dan menghirup aroma shampo di rambut mei. "Maaf.. Aku tidak tahu, jika sampai membuatmu seperti itu. Aku saat itu hanya bisa memikirkan untuk mengakhiri hidupku. Aku juga tidak tahu jika kamu juga mencintaiku."


"Hahaha.. Ternyata kita berdua memang bodoh dan berpikiran pendek ya. Mudah di manipulasi orang lain haha." Mei hanya bisa menertawakan kebodohan mereka berdua.


Xing melepaskan pelukannya dan memandang mei dengan intens. "Maka dari itu, kita sekarang harus bisa mempercayai satu sama lain. Kita tidak akan menjadi orang yang bodoh lagi. Kita tunjukan cinta kita kepada orang lain, sampai mereka iri."


Mei menganggukan kepalanya dan tersenyum dengan cerah. "Aku mencintaimu dulu, sekarang dan selamanya." Ucap mei, pipinya merah padam saat mengatakan itu kepada xing.


Xing tersenyum, "Aku juga mencintaimu dulu, sekarang dan selamanya."Ucap xing dan kembali memeluk mei dengan erat.


"I love you tuan pencuri." Gumam mei.


"I love you too nona pemukul." Jawab xing kemudian dia mencium puncak kepala mei sedikit lebih lama. Dia merasa sangat lega saat segalanya sekarang lebih clear.


***


Drama🙄🙄


Bab baru telah di buat~


Jangan lupa dukungannya teman teman😘😘

__ADS_1


__ADS_2