
Xing dan mei masih saja dalam posisi berpelukan di atas pohon. Saat tengah mengedarkan pandangannya xing tidak sengaja melihat seekor kelelawar kecil yang tengah menatap ke arahnya. Tampak mata kelelawar tersebut berwarna merah darah.
"Vampire.." Desis xing,matanya berkilat tajam.
Mei langsung mendongak saat mendengar desisan xing. "Maksud kamu apa?." Tanya mei bingung. Dia melihat tatapan mata xing yang berkilat tajam.
"Ada vampire yang mengintai kita dari tadi. Dia sudah pergi." Jawab xing dingin.
Mei menghembuskan nafasnya dengan kasar. "Sepertinya dia pelaku pengiriman kupu-kupu itu."
Xing memejamkan matanya sebentar. "Ya, bisa jadi. Aku sudah mencium eksistensinya sedari tadi, maka dari itu aku memilih diam. Siapa pun dia, dia pasti akan senang saat melihat kita justru panik dan takut. Tak akan aku biarkan rencananya berjalan mulus, biarkan dia murka karena rencananya tidak berjalan sesuai dengan ekspektasinya." Ucap xing.
"Aku kok tidak merasakannya ya." Ucap mei bingung sendiri.
'Masa radarku udah tumpul sih.' Batin mei.
"Mungkin radar kamu sudah tumpul kali." Ucap xing cuek.
Mei terkejut menatap xing dengan tatapan tidak percayanya. "Kok kamu tahu?." Ucap mei polos.
'Nih anak kok bisa-bisanya percaya. Heran, mana mei yang kejam dulu. Benar-benar, bisa di manfaatin orang lain dengan mudah kalau dia sifatnya jadi kayak begini.' Batin xing gemas sendiri dengan tingkah polos mei.
Xing mencium dan mengigit pipi mei. "Tentu saja tahu, aku tahu segala hal yang ada di dalam diri kamu. Segalanya." Ucap xing dengan penuh penekanan.
Mei yang mendengar hal tersebut secara reflek langsung menutup kedua mata mei dengan tangannya. "Segalanya, termasuk itu." Tanya mei seraya mengerakkan jari telujukknya, padahal dia menutup mata xing. Jadi mana tahu xing apa maksud mei.
Xing sendiri cukup terkejut saat tiba-tiba mei menutup matanya, dia di buat bingung dengan hal yang di lakukan olehnya.
'Kenapa mataku di tutup segala.' Batin mei bingung.
Xing mengiyakan perkataan mei dengan mantap. "Iya, aku tahu semuanya. Tidak satu pun hal mengenai kamu yang tidak aku ketahui" Jawab xing yakin.
Mei ternganga, matanya membulat terkejut. "Bbb..Bagaimana kamu tahu?." Tanya mei dengan suara terbata-bata.
"Kamu itu belahan jiwaku. Segalanya sudah terlihat tanpa aku harus memejamkan mataku. Dalam sekejab saja segalanya terlihat."
Mei langsung terkesiap saat mendengan jawaban gamblang dari xing.
'Kok aku tidak pernah melihatnya.' Batin xing makin bingung.
__ADS_1
Dia menatap seluruh tubuh xing dengan intens, tetapi tak terlihat sama sekali.
"Tidak kelihatan kok." Gumam mei.
Xing mengreyitkan dahinya saat mendengar gumaman mei. "Apa?." Tanya xing untuk memastikan jika dia tak salah dengar.
Mei menurunkan tangannya. Dia menatap nyalang kepada xing. "Bagaimana bisa kamu melihatnya sedangkan aku tidak bisa." Desis mei.
Xing menatap mei bingung, "Memangnya kamu tidak mencintaiku?." Tanya xing.
"Kenapa malah menanyakan itu, tidak nyambung tahu." Ucap mei sewot.
"Jika kamu mencintaiku kamu harusnya tahu bagaimana perasaanku seperti aku tahu perasaan dan pikiran kamu. Berada jauh dari mu saja aku sudah tahu bagaimana perasaan kamu, apa lagi saat dekat begini aku semakin tahu. Jika kamu tidak bisa melihat apa yang aku rasakan itu artinya kamu tidak mencintaiku. Lalu apa yang kita lalui selama ini hanyalah sandiwara dan sia-sia. Apa tidak ada artinya bagimu?." Ucap xing kecewa.
Dia sangat kecewa saat mengetahui jika mei ternyata tidak mencintainya.
'Kenapa kamu tega bersandiwara sampai sejauh ini mei, apakah kamu masih dendam kepadaku.' Batin xing kecewa.
Mei langsung glagapan saat mendengar jawaban xing yang di luar dari apa yang ada di pikirkannya.
"Jjj.. Jadi maksud kk kamu, kamu bisa melihat apa yang tengah aku rasakan dan pikirkan gitu. Bukan itu.." Ucap mei sembari menggerakkan kedua jari tekunjuk dan tengahnya secara bersamaan di kedua tangannya, serta tatapan mata mei yang mengarah ke seluruh tubuh xing.
Xing yang melihat gerakaan serta tatapan mei pun seketika di buat blank hingga tawanya langsung pecah saat mengerti apa maksud mei.
Wajah mei langsung memerah layaknya kepiting rebus, rasa malu menyelimuti dirinya saat menyadari kesalahannya.
'Mei bodoh, bagaimana bisa kamu perpikir seperti ini. Malu-maluin, mau di taruh mana mukaku ini.' Rutuk mei sebari memukul kepalanya pelan.
Mei menutup wajahnya menggunakan kedua tangannya, karena merasa sangat malu.
Xing berusaha untuk menahan tawanya saat melihat mei yang menutupi wajahnya dengan menggunakan kedua tangannya.
'Issh.. Kenapa dia menggemaskan sekali sih, dia polos tapi kok bisa mesum juga.' Batin xing gemas dengan tingkah mei.
Xing meraih kedua tangan mei, dia di buat tersenyum geli karena melihat wajah merah mei yang menjalar dari telinga hingga leher. Dia menangkup kedua pipi mei hingga dia bisa melihat seluruh wajah mei yang sangat merah padam tersebut.
"Bagaimana kamu bisa semesum ini sih? Apa karena bibir kamu baru saja aku kecup tadi. Tapi itu hanya kecupan bukan ciuman yang sebenarnya, akan seperti apa pikiran kamu jika aku menciummu dengan benar." Ucap xing geli.
Mei yang sedari tadi menutup matanya pun langsung membuka matanya. "Ciuman yang sebenarnya bagaimana?." Tanya mei bingung.
__ADS_1
Dahinya mei mengkerut tanda dia tengah berpikir keras dengan apa yang di maksud oleh xing.
Xing tersenyum tipis, dia mengelus dahi mei hingga kerutan di dahinya menghilang. "Tidak perlu kamu pikirkan! Nanti kamu makin omes kalau tahu apa yang aku maksud. Lebih baik kita lanjutkan berburu." Ucap xing sembari menarik hidung mei.
Mei menatap xing dengan wajah cemberutnya. "Memangnya salah ya? Aku hanya ingin tahu kok." Ucap mei ketus.
"Aihhh, lebih baik kamu tidak tahu, belum waktunya."
"Bukannya serigalawi ya kalau penasaran dan ingin tahu."
Xing terkekeh geli saat mendengar istilah aneh yang keluar dari mulut mei.
"Serigalawi itu apa? Bukannya manusiawi ya harusnya." Tanya xing.
"Aku bukan bangsa manusia, aku ini serigala jadi yang benar itu serigalawi. Kalau vampire ya vimpiriawi gitu." Jelas mei.
"Ahh.. Jadi gitu ya, tapi manusia tidak akan ada yang menggunakan istilah itu lho."
"Ya biarkan saja, manusia itu mahkluk yang pintar dan kreatif yang sebagian dari mereka tidak percaya dengan mitos. Mereka hanya menganggap kita itu hanya urban legend dan tidak mungkin ada. Bahkan anggapan mereka mengenai kita saja salah kaprah kok. Jadi tidak akan ada istilah itu di kamus mereka." Ucap mei menggebu-gebu.
'Melihatnya seperti ini benar-benar sangat menghibur.' Batin xing.
"Apa lagi kita hidup di zaman modern yang di mana beberapa mitos dan tradisi sudah tergerus. Hilang di makan zaman dan teknologi yang semakin hari semakin berkembang. Hidup secara tradisional itu tidak masalah bukan, bagaimana jika nantinya seluruh teknologi itu hilang dan musnah. Hisshh, segalanya sekarang menjadi sangat mudah hingga membuat malas. Bisa kelimpungan mereka jika seluruh teknologi musnah." Lanjut mei.
Xing tersenyum tipis saat mendengar ucapan mei yang sangat kritis tersebut.
"Bukankah kita juga menikmati seluruh teknogi yang di buat oleh bangsa manusia. Bahkan beberapa teknologi itu juga ada yang buatan kita makhluk supranatural. Kita juga butuh bertahan hidup dengan memiliki pekerjaan bukan. Kita tidak bisa menyamakan era ini dengan era itu. Segalanya memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing." Ucap xing lembut.
"Iya aku tahu itu. Tapi kita tidak pernah sedikit pun meninggalkan cara hidup tradisional kita." Ucap mei.
"Kita makhluk supranatural memang di ciptakan untuk sangat terikat dengan alam dan insting kita. Jadi, mustahil bagi kita untuk meninggalkan warisan leluhur kita. Kita bisa menggunakan enegi alam untuk menopang kehidupan kita. Mungkin bagi manusia itu hal yang sangat menakjubkan dan ajaib. Tapi bagi kita itu adalah sumber hidup kita. Teknologi tidak bisa menyembuhkan kita. Kekuatan spiritual yang menciptakan kita, dan kita hidup dengan kekuatan itu. Hanya bentuk dan kemampuan saja yang berbeda." Jelas xing. Dia mencoba menjelaskan dengan pelan agar mei bisa memahami maksudnya.
'Kenapa jika seperti ini malah sangat memperlihatkan jika kamu masih sangat muda, membuatku tampak terlihat tua saja.' Batin xing kesal dengan fakta tersebut.
"Di era ini jarang ada bangsa manusia yang memiliki kekuatan spritual. Maka dari itu terciptalah teknologi-teknologi yang mempermudahkan kehidupan mereka. Kita juga merasakkannya bukan, jadi biarlah segalanya berjalan semestinya. Tidak perlu merasa lebih baik atau memikirkan perbedaan. Karena tidak akan ada habisnya jika kita membahasnya. Hidup ini bukan seperti dulu saat kita bisa hidup berdampingan dengan manusia. Segalanya telah sangat jauh berbeda." Lanjut xing.
"Iya iya." Ucap mei dengan lesu.
'Iya bedalah dulu tidak ada es krim, coklat juga jarang.. Kalau sekarang tinggal klik sana klik sini langsung mucul keluar hehe.' Batin absurd mei.
__ADS_1
...****************...
Jangan lupa dukungannya ya teman-teman😘😘