
Sudah berapa hari sejak hukumannya di mulai. Mei semakin menjadi pendiam. Mimpi buruk terkadang menghampirinya hingga membuatnya tidak bisa tidur.
Hal tersebut membuat teman-teman mei, terutama viagra dan zuu menjadi sangat cemas. Dia tidak ceria seperti biasanya, terkadang dia mudah sekali marah.
"Mei, are you ok?." Tanya zuu khawatir melihat mei yang terlihat lesu dan tidak memiliki semangat.
'Sebegitu kecanduannya dia dengan makanan manis sampai mempengaruhinya sejauh ini.' Batin zuu kasihan melihat keadaan mei.
"I'm OK! Hanya kurang semangat dan kurang energi saja." Jawab mei dengan lesu.
"Mei, kenapa kamu bisa sampai selemas ini hanya karena tidak memakan makanan manis, kamu serigala. Makanan utama kita daging." Ucap viagra, penasaran.
Dia sedikit heran kenapa mei bisa sangat kecanduan dengan makanan manis hingga membuatnya seperti mayat hidup seperti ini. Sedikit aneh melihat mei yang ceria tiba-tiba terlihat lesu dan suka uring-uringan seperti ini.
Mei menghela nafasnya, dia menyandarkan kepalanya dan memejamkan matanya. "Dulu saat aku masih kecil, di kehidupanku yang terdahulu. Aku hidup dengan penuh perjuangan, hidupku terasa pahit dan getir. Hingga suatu ketika aku memakan sebuah manisan, sejak saat itu aku sangat menyukainya. Karena bagiku makanan manis adalah pelipur lara dari sekian banyak kehidupan pahit yang ku alami, setidaknya aku merasakan rasa manis dan kebahagiaan, walau hanya sesaat." Ucap mei dengan suara yang tertahan.
Dia masih ingat bagaiamana bahagiannya dirinya saat memakan makanan manis yang dia ambil dari seorang pedagang secara diam-diam. Dia ingat bagaimana enaknya manisan tersebut meski hanya dia jilat dengan ujung lidahnya. Tidak seperti makanan lain yang harus di kunyah terlebih dahulu untuk merasakan rasa dari makanan tersebut. Rasa manis dari manisan tersebut bertahan cukup lama di lidahnya hingga membuatnya sangat menyukainya.
Viagra dan zuu hanya saling memandang dalam diam. Mereka tidak bisa berkata apa-apa jika sudah membahas mengenai masa lalu mei. Banyak hal yang sangat menyakitkan jika harus mengingat lagi.
Viagra mendekati mei dan memeluknya. "Tapi ini adalah kehidupan kamu yang kedua. Kamu sudah tidak merasakan rasa sakit itu. Banyak orang yang sangat menyayangi mu." Ucap viagra dengan lembut.
Air mata mei menetes, mengalir deras tanpa di sadari olehnya. "Aku tahu, hanya saja. Sejak aku tidak makan makanan manis, mimpi buruk selalu menghantuiku. Aku seperti melihat kilas balik dari masa laluku. Itu sangat menyakitkan kak." Ucap mei dengan parau.
Viagra mengurai pelukannya dan menagkup wajah mei. "Hey, kenapa kamu baru mengatakannya. Harusnya kamu mengatakan hal itu dari kemarin-kemarin. Nanti biar zuu yang menemani kamu tidur ya. Supaya kamu tidak mimpi buruk lagi, jika pun kamu mimpi buruk nanti zuu akan menenangkan kamu." Ucap viagra dengan lembut.
"Tapi aku tidak ingin merepotkan kalian."
"Aku tidak akan kerepotan kok. Dulu saja kamu mau merawatku dengan sepenuh hati, kamu tidak merasa kerepotan atau mengeluh. Terus kenapa aku harus merasa kerepotan dan mengeluh." Sahut zuu, menyangkal perkataan mei.
Dia tidak ingin melihat mei tersiksa karena lagi-lagi masa lalunya membayanginya. Dia sebenarnya sangat terkejut dengan dampak dari mei yang tidak makan makanan manis. Dia tidak menyangka dampaknya akan separah ini.
'Hal sepele menurutku ternyata belum tentu sepele untuk orang lain.' Batin zuu.
__ADS_1
"Benarkah?." Lirih mei.
"Tentu saja, aku sangat tidak sabar untuk tidur berdua denganmu. Siapa tahu nanti aku melihat hal aneh saat kamu tidur begitu, seperti kamu tidurnya mangap atau ngorok. Hmm.. Kan bisa aku foto dan video terus aku kirim ke xing deh hehe.." Ucap zuu, sembari menggoda mei agar mengalihkan kesedihan mei.
Mei mendelik menatap zuu dengan cemberut. "Jangan dong.. Ternyata ada udang di balik batu." Sungut mei.
'Bisa malu tujuh turunan nanti.' Batin mei.
"Biar nanti xing tidak kaget saat tidur berdua denganmu, jika sudah menikah nanti. Kalau aku memberikan dia informasi mengenai ini dia pasti akan sangat berterima kasih kepadaku. Dia juga bisa melakukan pencegahan dini nantinya." Ucap zuu dengan entengnya.
'Keren banget, kok aku bisa kepikiran ini ya.. Memang cerdas..' Batin zuu menyanjung dirinya sendiri.
Viagra yang mendengar pikiran zuu pun hanya bisa mengelengkan kepalanya.
'Dasar nih anak muji diri sendiri, tapi benar juga sih. Mei langsung teralihkan dengan mudah.' Batin viagra.
"Memangnya aku bencana alam apa, pakai pencegahan dini segala." Protes mei yang tidam terima dengan bahasa zuu yang seakan-akan mengatakan dia adalah sebuah bencana.
Mei menatap viagra dengan tatapan nyalangnya. "Yang apes itu kalau bersama kamu yang menyebalkan. Sudah tua bangkotan saja tapi sok-sokan gayanya kayak anak muda. Kenapa tidak kayak bayi aja sekalian, pakai popok sana." Ucap mei dengan pedas.
Viagra ternganga lalu menatap mei dengan tajam. "Kamu bilang apa? Tua bangkotan, kamu mungkin yang punya masalah penglihatan." Ucap viagra sewot, tak terima dengan perkataan mei.
'Yahh,malah ribut beneran. Ishh, kak viagra sudah tua tapi kok malah ikut terpancing sih.' Batin zuu kesal.
"Memangnya umur kamu sudah berapa tahun kak. Coba hitung selisih umur kakak dan umur adek." Ucap mei dengan penuh penekanan.
Viagra langsung terdiam. Mau tidak mau dia harus mengakui jika memang umurnya dan umur mei memang selisih sangat jauh. Tetapi bagi bangsa supranatural umurnya masih terbilang masih muda dan di anggap sebagai remaja.
Mei tersenyum puas saat melihat viagra yang terdiam dan tidak berkutik sama sekali.
'Mei di lawan, rasain tuh.. Wleekk.' Batin mei senang.
Viagra yang mendengar pikiran mei pun hanya bisa mendengus kesal.
__ADS_1
"Ok fine, aku memang sudah berumur ratusan tahun. Dan kamu yang masih anak ingusan alias anak bawang harus menurut dan mendengarkan perkataanku yang lebih tua dari kamu. Bersikaplah dengan sopan." Ucap viagra.
"Sopan sama orang nyebelin kayak kamu mah tidak akan bisa. Never.." Ucap mei sinis.
"Makanya kalau tidak bisa bersikap ya diam saja tidak usah bawa-bawa hal yang sensitif dong." Ucap viagra tak kalah sinis.
"Halah kamu aja yang baperan." Balas mei.
"Kalian itu kok malah berantem sih. Pusing aku melihatnya." Ucap zuu dengan keras hingga mengalihkan atensi mereka berdua.
"Dia dulu nih yang mulai." Ucap viagra sembati menujuk mei.
"Kamu dulu ya.."
"Sudah-sudah, kalian berdua sama-sama salah. Kalian berdua salah, mei kamu itu jauh lebih muda dari viagra. Maka dari itu kamu harus sopan dan menghormatinya." ucap zuu dengan serius.
Viagra menatap mei dengan tatapan penuh kemenangan saat mendengar perkataan zuu yang membelanya.
"Dan kamu kak viagra, kamu itu yang paling tua dia rumah ini. Harusnya kakak bisa jadi panutan, bisa jadi contoh yang baik bagi kita yang lebih muda bukannya malah ikut terpancing seperti ini." Ucap zuu.
Viagra tersentak kaget saat zuu juga memarahinya. Dia pikir zuu akan membelanya, tapi ternyata dia juga kena marah.
Zuu sudah sangat kesal dengan keributan mereka berdua yang tidak ada habis-habisnya hingga mambuatnya sangat pusing.
'Apa ini yang di rasakan oleh kak jennie dulu, sangat merepotkan sekali. Mereka berdua benar-benar kekanakan.' Batin zuu kesal dengan tingkah mereka berdua.
"Apa kalian tidak pusing bertengkar setiap hari. Kalian itu sangat kekanak-kanakan tahu." Omel zuu dengan raut wajah kesalnya.
Zuu kemudian pergi meninggalkan mereka berdua dengan perasaan dongkolnya. Sedangkan viagra dan mei hanya bisa diam mematung mencerna perkataan zuu tadi.
...****************...
Jangan lupa dukungamnya teman-teman 😘😘
__ADS_1