
Di sepanjang perjalanan mereka berdua hanya terdiam dengan pikiran masing masing. Hingga membuat suasana di dalam mobil tampak sunyi dan suram. Mereka berdua tampak sedang memikirkan sesuatu.
"Xing, aku tidak tahu harus bagaimna lagi jika nanti livia benar benar melakukan sesuatu." Ucap mei dengan tatapan kosong.
Xing melirik mei sekilas. "Aku tidak tahu apa yang akan dia lakukan kali ini. Tapi satu hal yang pasti, aku akan mencegahnya untuk menyakitimu. Obsesinya sudah benar benar tidak bisa di biarkan lagi, sepertinya kali ini di akan menunggu waktu dan merencanakan rencananya jauh lebih matang dari sebelumnya." Jawab xing mengeluarkan seluruh hal yang ada di pikirannya mengenai livia kepada mei.
Mei menoleh dan menatap xing dengan intens. "Ya, sudah berbulan bulan sejak perang dan kita membebaskan livia. Dia tidak melakukan apapun, dia bahkan tidak memunculkan dirinya di hadapan kita sama sekali. Bukannya mau menuduhnya atau bagaimana, tapi dia terlalu licik xing.."
Mei menutup matanya dan menghela nafasnya. "Perubahannya terlalu jauh, sampai sekarang aku masih berharap jika dia akan berubah. Jujur saja aku tidak sampai hati untuk menyakitinya setelah apa yang aku lakukan di masa lalu." Ucap mei dengan sendu.
Xing mengelus kepala mei dengan lembut untuk menenagkan emosinya. "Kamu sangat baik sekali, terkadang aku masih tidak percaya jika kamu adalah mei, olivia mei. Aku memang sangat senang dengan perubahan yang kamu miliki saat ini, tapi rasa takut itu kadang menghinggapi ku mei."
Mei yang masih memejamkan matanya pun seketika langsung membuka matanya dan melihat xing dengan tatapan bingungnya. "Kenapa kamu takut?." Tanya mei bingung.
"Kamu terlalu baik sayang, kamu sangat perasa hingga membuatku takut jika ada orang yang berusaha untuk memanfaatkan kebaikan kamu."
"Aku tidak sebaik itu xing. Aku masih membalas orang yang mencoba untuk menyakitiku, tapi aku tahu bagaimana membalasnya dengan setimpal tanpa harus berlebihan. Mungkin hanya dengan livia saja aku masih sedikit lunak karena masih terbayang bayang dengan masa lalu."
Mei sedikit kurang setuju dengan penilaian xing mengenai dirinya. Menurutnya dia bukan orang sebaik seperti yang ada di pikiran xing. Dia bisa marah dan juga kesal, dan menurutnya memaafkan itu adalah keharusan jika memang ada yang meminta maaf, apa lagi jika orang yang meminta maaf itu sangat tulus. Dia tak sampai hati untuk terus membenci orang lain.
Karena dulu di kehidupannya yang terdahulu dia sudah merasakan bagaimana pahit dan juga sakitnya di benci oleh orang lain sejak dia masih sangat kecil. Jadi dia tidak mau orang lain merasakan dengan apa yang dia rasakan hanya karena sebuah kebencian semata.
"Jangan terus terbayang bayang oleh masa lalu sayang. Kamu bilang kamu ingin terus maju, suatu saat kamu harus bisa menghadapi livia."
"Ya, aku sudah sejak lama berusaha untuk mampu menghadapi livia secara emosional. Aku berusaha untuk tidak terbayang bayang oleh masa lalu walaupun pada akhirnya saat aku mengahadapi livia rasa bersalah itu langsung muncul dengan sendirinya. Tapi aku juga sadar jika aku tidak bisa terus menerus seperti ini."
"Aku percaya kamu pasti bisa."
__ADS_1
Mei tersenyum, "Terima kasih kamu sudah mau menerimaku setelah apa yang aku lakukan kepadamu di masa lalu."
Xing menghentikan laju mobilnya, kemudian dia menakup pipi mei. "Kenapa harus berterima kasih, kamu adalah belahan jiwaku. Sudah takdir kita untuk terus bersama, bahkan di luar dari takdir kita sebagai belahan jiwa aku sudah sangat mencintaimu meski berbagai penyangkalan yang sudah ku lakukan tapi cinta itu tidak pernah pudar sama sekali." Ucap xing dengan tulus.
Mei ikut menagkup pipi xing dan menempelkan dahinya di dahi xing. "Aku adalah wanita yang paling beruntung di dunia ini. Aku memiliki keluarga yang sangat mencintaiku, di tambah belahan jiwa yang sangat mencintaiku.."
Mei menjeda ucapannya dan menatap mata xing, lalu tersenyum lebar.
"Padahal kamu bisa menggunakan ikatan belahan jiwa ini untuk mengeksploitasi kekuatan dari silver blood di tubuhku dengan sangat mudahnya. Tapi kamu justru menjagaku dengan sepenuh jiwa raga kamu. Aku tidak tahu apakah aku dulu pernah melakukan kebaikan hingga pantas mendapatkan ini semua." Ucap mei terkekeh dengan dirinya sendiri seakan mengejek seluruh kejahatan yang telah di lakukan olehnya di masa lalunya.
Xing menjauhkan dahinya dari dahi mei dan menatap mei. "Kamu pantas mendapatkan kesempatan kedua karena kamu sangat tulus dan benar benar menyesal dengan seluruh kesalahn yang sudah kamu lakukan di masa lalu. Kamu sudah melakukan banyak kebaikan untuk menebus seluruh kesalahn yang sudah kamu lakukan di masa lalu, bahkan kepada keluarga daniel huang pun kamu juga sudah menebusnya. Mereka klan huang dan klan song yang bereinkarnasi di masa ini sudah hidup bahagia itu pun tak lepas dari campur tangan yang kamu lakukan. Kesempatan kedua itu datang kepada siapa pun yang mau berubah dan benar benar tulus mau berubah."
"Aku tahu itu, tapi kadang kadang aku masih tidak percaya jika aku mendapatkan kesempatan itu setelah itu semua."
"Kamu harus percaya jika kamu pantas mendapatkannya. Waktu akan terus berjalan, dan kita tidak boleh menyia-nyiakan waktu itu." Xing tersenyum dan mengacak acak rambut mei hingga membuat mei protes karena rambutnya yang berantakan.
"Ishh xingg.. Jadi berantakan kan." Ucap mei dengan kesalnya.
"Noo.. Aku akan tetap optimis dalam menghadapi masa depan, aku akan terus belajar dan belajar untuk menjadi lebih baik lagi. Meski menyakitkan jika harus mengenang masa lalu itu, tapi kita juga harus menggunakannya sebagai cerminan kita agar hal yang sama tidak akan terulang lagi dan kita akan menjadi lebih baik." Ucap mei dengan yakinnya.
Xing yang baru saja melepas seatbeltnya pun menatap mei dengan bangga. "Bagus, itu baru mei kesayanganku. Mei yang tidak pernah menyerah dan selalu kuat dalam menghadapi apa pun."
Mei melihat ke arah xing dan ikut tersenyum. "Itu semua berkat kebijaksanaan kamu. Kamu selalu mendukungku agar aku selalu berpikiran positif dan juga optimis dalam menghadapi permasalahan yang ada. Aku tidak tahu akan bagaimana tanpamu xing."
Xing mengerutkan keningnya. "Sudah aku tidak ingin mendengar kamu berbicara seperti itu. Kita akan selalu bersama sampai kapan pun."
Xing sedikit tidak suka jika mei membicarakan mengenai mereka yang akan sendirian tanpa satu sama lain.
__ADS_1
"Kenapa?." Tanya mei bingung.
"Jangan pernah membicarakan jika seakan akan kita akan berpisah suatu saat nanti." Ucap xing dengan penuh penekanan.
Mei tersenyum kecut. "Ya, aku tidak akan pernah berbicara seperti itu lagi."
"Bagus, ayo kita keluar dan menjenguk mommy zein." Xing mengajak mei untuk segera keluar dari mobil dan menjenguk mommy zein.
Kemudian mereka berdua turun dari mobil dan berjalan masuk ke dalam rumah sakit.
Saat mereka tengah berjalan xing tiba tiba xing berhenti.
"Ada apa?." Tanya mei bingung.
"Kamu tidak bawa makanan atau apa gitu?." Tanya xing, karena mereka terlarut dalam percakapan hingga mereka berdua lupa membawa makanan atau buah buahan sebagai buah tangan.
"Hehee.. Lupa, aku tidak bawa apa apa."Ucap mei dengan geli sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Xing menatap mei dengan malas, lalu dia menghembuskan nafasnya. " Ya sudah, kita sudah sampai di sini tidak mungkin jika kita harus kembali untuk membeli makanan. Tidak apa apalah." Ucap xing pasrah.
"Maaf xing, aku lupa." Ucap mei tak enak hati.
"Tidak apa apa, sudah tanggung juga ini. Ayo kita jalan!." Jawab xing.
Lalu mereka berdua melanjutkan berjalan ke arah ruangan mommy zein di rawat.
'Maaf mom.' Batin mei tak enak dengan mommynya.
__ADS_1
***
Jangan Lupa dukungannya ya teman teman😘😘