Reinkarnasi Belahan Jiwa

Reinkarnasi Belahan Jiwa
88.Berkacalah!


__ADS_3

Di lain sisi aurel yang melihat kemesraan antara xing dan juga mei, menatap mereka berdua dengan geram. Perasaan cemburu dan juga kesal menyelimuti hatinya.


"Sial, kok bisa bisanya pak xing bisa suka sama anak kecil modelan kek gitu." Geram aurel.


Aurel menatap mereka berdua dengan tajam. Dia bahkan tidak mengerjakan pekerjaannya karena saking geram dengan kemesraan mereka berdua.


"Awas saja akan ku beri peringatan anak kecil yang tidak tahu diri itu agar dia jauh jauh dari pak xing. Enak saja dia deket deket seperti itu, pokoknya pak xing harus jadi milikku. Kalau aku jadi istrinya pak xing apa pun yang aku inginkan pasti akan mudah untuk ku dapatkan."


'Lihat saja pasti pak xing lebih memilihku yang sempurna ini dari pada anak kecil sepertinya, cihh calon istri. Memangnya tahu apa dia tentang jadi istri, paling juga tahunya jajan sama nongkrong saja. Pasti dia akan memilihku secara aku jauh lebih dewasa dan akan jauh lebih mengerti tentangnya dari pada anak kecil itu.' Batin aurel dengan pdnya.


Sepertinya dia lupa dengan penolakan halus dan juga bagaimana xing menyindirnya tadi. Dia terlalu percaya diri dengan dirinya sendiri hingga meremehkan orang lain dengan begitu mudahnya.


***


Mei yang melihat aurel tidak berkerja dan malah melamun pun menatapnya dengan tatapan tidak suka.


"Xing, kok kamu bisa bisanya sih nerima orang yang tidak profesional macam mak lampir itu?." Tanya mei dengan geram sembari menunjuk aurel yang masih melamun dari tadi.


Xing mengangkat sebelah alisnya, lalu menengok ke arah aurel. Xing yang melihat aurel tidak berkerja pun menatapnya dengan tajam. "Apa yang dia lakukan, seharusnya dia mengerjakan pekerjaannya. Bukankah banyak pekerjaan yang harus dia handle, bahkan satu hari saja belum tentu selesai seluruh pekerjaannya."


"Yahh, mungkin dia sedang mengerjakan pekerjaan lain seperti bagaimana cara merebut xing aladric agar dia jadi miliknya." Celetuk mei acuh tak acuh.


"Dari mana kamu tahu? Kamu tidak seperti viagra yang bisa membaca pikiran orangkan?." Tanya xing heran.


Mei menatap xing dengan bosan. "Xing aladricku yang tersayang. Kamu itu ya benar benar tidak peka, bukankah tadi mak lampir itu berusaha untuk memisahkan kita dengan mengatakan jika sebentar lagi kamu harus menemui klien. Dia bahkan menatapku dengan tajam, bahkan saat kita makan dia menatap kita dengan tajam seperti orang yang sedang cemburu karena melihat kekasihnya sedang bersama dengan wanita lain." Jelas mei mengebu gebu.


"Bagaimana aku bisa merasakannya, aku terlalu fokus kepadamu."


Mei yang mendengar jawaban dari xing pun mukanya langsung memerah. Sontak saja mei langsung memukul lengan xing, "Ishh.. Memangnya untuk apa pakai fokus kepadaku segala, akukan bukan artis." Ucap mei dengan gugup hingga dia menjawab agak sedikit absurd.


"Kamu memang bukan artis, tapi apa pun yang ada di dalam diri kamu aku akan menyukainya entah baik atau buruk. Lihat saja, aku tetap memakan mie kamu yang pedas banget itu sampai habis, bahkan aku mencicipi sup aneh kamu yang rasa manisnya ngak ketulungan itu."


Xing yang mendapat jawaban seperti itu pun langsung cemberut. "Kamu ini mau muji atau nyindir sih. Pakai komentar makanan yang aku bawa segala." Gerutu mei.

__ADS_1


"Bukannya nyindir sayang, mungkin kamu satu satunya orang di dunia ini yang membuat dan memakan sup yang rasanya manis seperti ini."


"Hey mana ada yang seperti itu, pasti ada kok yang membuat dan memakan sup yang manis." Protes mei yang tak terima.


"Ada tapi mungkin cuma beberapa, harusnya sup kan rasanya gurih pedes bukan manis." Ucap xing dengan entengnya.


"Aisshh, terserah apa kata kamu lah. Xing yang paling benar di dunia ini." Ucap mei kesal.


"Hahaha.. Kamu ada ada saja sih, yasudah kamu pulang saja gih, aku anterin ok." Kekeh xing.


Mei menatap xing dengan tajam. "Kamu mau ngusir aku supaya kamu bisa deket sama mak lampir berbadan balon itu hah." Sungut mei.


"Bukan seperti itu, memangnya kamu tidak kangen dengan mommy zein? Bukankah dia belum sembuh, kamu harus selalu menjenguk dan merawat mommy zein. Untuk saat ini mommy zein lebih penting dari pada aku, aku masih sehat dan bisa menjaga diri aku sendiri. Lagi pula aku tidak akan tertarik dengan aurel." Jawab xing dengan lembut.


"Kamu perhatian sekali."


"Tentu saja, dia adalah mommy kamu. Masa aku hanya perhatian dengan anaknya saja sih. Nanti kamu menjenguknya jagan lupa bawakan makanan, tapi jangan kayak begini makanannya. Bukannya sembuh nanti malah tambah sakit."


"Iya dong.. Nanti aku akan buatkan bubur untuk mommy."


"Kamu bukannya ada pertemuan dengan klien nanti."


Xing tersenyum tipis. "Pertemuannya masih nanti malam sayang. Aurel saja yang suka cari perhatian."


"Cihh.. Dia itu cantik tapi sayang jahat!." Ucap mei dengan sinis sembari melirik aurel.


"Sudah tidak apa apa. Toh dia hanya sementara jadi sekertarisku, lebih baik kita berangkat sekarang!."


"Let's go!." Mei lalu mengandeng tangan xing dan berjalan keluar. Tetapi saat sampai di samping tempat kerjanya aurel mei berhenti sebentar dan menatap aurel dengan tajam.


"Mbak kalau kerja yang profesional jangan ngodain orang! Kerjain semuanya dengan benar! Dan satu lagi, lain kali kalau pakai baju yang sopan jangan baju murahan kayak begini. Saya bisa kok beliin mbak baju sama satu butiknya sekalian buat mbak." Ucap mei dengan tajam hingga membuat aurel semakin geram dan marah, mukanya bahkan sudah merah padam karena marah.


Aurel yang tidak terima pun langsung berdiri dan menujuk mei dengan jari telunjuknya. "Anak kecil tidak tahu diri. Tahu apa kamu tentang kerja, paling juga kamu masih minta jajan sama orang tua kamu. Dan apa kamu tidak pernah di ajari sopan santun sama keluarga kamu hah sampai berani dengan orang yang lebih tua dati kamu." Teriak aurel.

__ADS_1


Xing yang mendengar dan melihat hal tersebut pun mengertakan rahangnya. Dia sangat marah karena mei di perlakukan seperti itu.


"Turunkan jari anda dari calon istri saya! Siapa anda yang berani menunjukan jari anda kepadanya. Dia hanya menegur anda karena anda tidak profesional dalam berkerja. Di sini anda harus berkerja bukan menatap orang dengan sinis dan juga merayu orang. Jangan anda pikir saya diam, maka saya tidak tahu kelakuan anda." Desis xing tajam.


Aurel yang langsung mendengar teguran dari xing pun langsung menurunkan tangannya. Dia langsung terdiam saat mendengar perkataan dari atasannya tersebut.


"Dan satu lagi, anda harusnya berkaca dengan diri anda sendiri. Apakah orang tua anda sudah mengajari anda sopan santun atau justru anda yang tidak mendengarkan perkataan orang tua anda hingga anda dengan sesuka hatinya menghina orang lain." Lanjut xing dengan tajam.


Aurel langsung tertegun saat mendengar perkataan dari xing yang langsung menohok hatinya itu.


'Bodoh aurel, bagaimana bisa kamu mencaci maki anak kecil ini di depan pak xing.' Rutuk aurel pada dirinya sendiri.


"Kenapa anda diam saja?."


"Pppa..k dia menghina saya pak. Saya tidak akan terima, jika ada yang menghina saya. Kalau bapak yang di hina pasti bapak juga tidak akan terimakan." Ucap aurel yang justru menyalahkan mei.


"Menghina di bagian mananya? Apakah ada dari perkataannya yang membuat anda merasa di hina?." Tanya xing dengan halus yang justru semakin menohok.


Aurel glagapan saat mendengar pertanyaan dari xing yang meski tidak tajam tapi malah semakin menohok ke hati.


"Dia mengatakan saya tidak profesional pak, tapi selama saya berkerja dengan bapak tidak sekali pun bapak menegur atau pun mengeluh tentang saya jika saya tidak profesional. Sedangkan dia yang baru bertemu beberapa menit saja sudah menegur dan juga mengeluh terus tentang saya, dia bahkan mengomentari cara berpakaian saya pak." Jawab aurel yang masih saja menyalahkan mei.


"Saya memang tidak pernah menegur ataupun mengeluh mengenai anda sama sekali, karena saya tidak ingin buang buang waktu dan juga energi saya hanya untuk menegur dan juga mengeluh mengenai anda. Seharusnya anda yang sadar diri, dan jangan anda pikir dengan anda berpakaian seperti itu saya akan tergoda. Apakah anda pernah terlihat melirik anda selam anda berkerja dengan saya? Apakah pernah saya berbicara mengenai urusan lain selain pekerjaan? Pikirkan baik baik dengan apa yang sudah saya lakukan selama ini!." Ucap xing dengan tajam.


Aurel menatap xing dengan sorot mata yang sulit di artikan. Dia merasa sangat bodoh setelah mendengar perkataan dari xing hingga dia tidak tahu lagi harus berkata apa.


"Tapi.."


"Berkacalah! Terserah anda mau melakukan apa. Tapi jika anda lalai dalam berkerja dan saya melihat anda menghina atau menatap calon istri saya seperti itu lagi. Saya tidak akan segan segan memblacklist anda dari perusahaan saya. Dan ingat satu hal lagi! Anda hanya sekertaris sementara saya saja." Sela xing tajam.


Aurel yang mendengar jika dirinya akan di blacklist pun langsung membulat dan menatap xing dengan tatapan memohon. "Pak jangan blacklist saya pak, jika bapak memblacklist saya nanti saya bisa menjadi pengangguran karena tidak ada satu pun perusahaan yang mau menerima saya pak " Ucap aurel dengan histeris.


***

__ADS_1


Jangan lupa dukungannya teman teman😘😘


__ADS_2