
Keesokan harinya xing dan juga livia berangkat ke kampus bersama sama dan bergandengan tangan saat memasuki area kampus tempat mereka mengajar, sontak hal itu membuat heboh para guru dan juga mahasiswa yang ada di sana, pasalnya mereka memang di rumorkan perpacaran tetapi mereka berdua tidak pernah mengkonfirmasikan hal tersebut.
"Wihh.. Mereka udah go public kayaknya." Celetuk rei.
"Go public." Beo mei.
"Iya, dari rumor yang beredar kalo mr xing dan mrs livia itu berpacaran. Tetapi rumor itu belum ada yang tahu benar atau salah, karena mereka berdua terkenal dengan ke killerannya. Bahkan mereka berdua tidak pernah berangkat bersama, dan sekarang mereka berangkat bersama bergandengan tangan pula." Jelas camila.
"Mungkin mereka berdua sudah tunangan sehingga mereka berdua berani go public." Sahut rei.
Mei yang mendengar informasi itu semua pun matanya berkaca kaca dan air matanya hampir mengalir.
'Mereka berdua berpacaran, bahkan sudah tunangan. Apa aku benar benar tidak mempunyai kesempatan untuk memperbaiki segalanya.' Batin mei, kecut.
'Kenapa, di saat aku menyadari perasaanku, bahkan sebelum aku memulai segalanya sudah di patahkan seperti ini.'
Victor yang melihat mata mei berkaca kaca pun bertanya kepadanya.
"Shine, are you ok?." Tanya victor, khawatir.
"I'm Ok." Jawab mei, gemetar.
Camila dan rei pun menengok melihat shine.
"Tapi kok mata kamu berkaca kaca." Ucap camila, khawatir.
"Aku hanya merasa kurang enak badan sedikit aja kok." Ucap mei, mencoba untuk meyakinkan mereka agar mereka tidak khawatir.
"Kalau begitu kita ke klinik ya." Bujuk rei.
"Tidak perlu aku tidak apa apa kok, sebentar lagi kan jam masuk ke kelas." Kata mei.
Mereka semua hanya mengiyakan perkataan mei tanpa membantah lagi.
" Ya sudah kalau begitu kita ke kelas. Tapi kalau kamu merasa ngak enak badan banget bilang ke aku ya." Ucap camila.
Mei hanya mengangguk saja, kemudia mereka semua ke kelas dalam diam.
Selama kelas berlangsung mei tampak diam, tidak ceria seperti biasanya. Dia hanya menatap dengan tatapan kosong yang membuat teman temannya khawatir.
"Mr. Xing." Panggil camila tiba - tiba.
"Iya ada apa?." Tanya xing.
"Bisa saya izin untuk mengantar shine sebentar, sepertinya dia sedang tidak enak badan." Ucap camila, tampak sangat khawatir dengan keadaan mei.
Xing pun melihat ke arah mei yang terlihat seperti tengah sibuk dengan fikirannya sendiri.
'Kamu kenapa mei, apa mungkin yang di katakan oleh livia itu benar.' Batin xing, khawatir.
"Baiklah kamu bisa membawanya ke klinik, tapi hanya kamu ya yang membawanya." Jawab xing.
__ADS_1
"Baik mr. xing."
Camila pun memegang bahu mei, sedangkan mei yang bahunya ada yang memegangnya pun terkejut dan menengok siapa yang memegang bahunya.
"Camila ada apa." Tanya mei, bingung.
"Kita ke klinik yuk, sepertinya kamu memang butuh istirahat." Jawab camila.
Mei yang memang merasa jika dia sedang tidak fokus dan butuh waktu untuk sendirian pun mengangguk dan mengiyakan saja.
Camila dan mei pun meninggalkan kelas untuk menuju ke klinik.
'Ada apa dengan mu mei.' batin xing khawatir.
'Ishh untuk apa aku memikirkannya.' Pikir xing, lalu kembali mengajar.
***
Camila menemani mei sampai ke dua saudara mei menghampiri mei.
"Shine, kamu istirahat dulu saja aku akan menemani kamu." Ucap camila.
"Kamu bisa kembali ke kelas kok, aku di sini sendirian tidak apa apa kok."
"Ngak, aku akan menemani kamu. Kamu bisa beristirahat saja." Kekeh camila.
"Huft.. Baiklah, maaf ya aku jadi merepotkanmu padahal ini hari kedua kamu kuliah." Ucap mei, tak enak hati.
Mei pun memilih memejamkan matanya untuk beristirahat sebentar.
Setelah beberapa saat viagra dan jennie pun ke klinik
Cklek
Camila menengok ke arah pintu.
"Oh kak jennie, kak viagra, kalian cepat sekali ke sininya?." Ucap camila.
"Iya, kita setelah mendengar kabar tentang sakitnya shine pun langsung bergegas kemari. Dia kenapa kok bisa sakit, padahal ngak biasanya lho dia sakit." Jawab viagra, kawatir.
"Ngak tahu tadi kita lagi ngomongin mr. xing dan mrs. livia terus tiba tiba victor bertanya keadaan shine. Dia hanya bilang dia tidak apa apa, kita mencoba membujuknya untuk ke klinik tapi shine tidak mau jadi ya terpaksa kita tetap masuk ke kelas. Tapi saat di kelas shine tetap diam aja, karena terlalu khawatir saya meminta izin ke mr. xing utuk mengajak shine ke klinik dan di izinkan." Jelas camila.
Jennie dan viagra yang mendengar cerita dari camila pun mengetahui apa yang menyebabkan mei menjadi seperti ini.
"Makasih ya. Kalau tidak ada kamu aku tidak tahu apa lagi yang akan terjadi kepadanya." Ucap jennie.
"Kamu bisa kembali ke kelas biar shine kita aja yang menemaninya ok." Lanjut jennie.
Camila pun mengiyakan lalu camila kembali ke kelas untuk mengikuti pelajaran yang saat ini masih berlangsung.
"Dia pasti patah hati saat mengertahui hubungan antara mr. xing dan juga mrs. livia." Gumam jennie.
__ADS_1
Viagra yang mendengar gumaman jennie pun mengangguk.
"Iya, dia pasti sangat sakit hatinya. Setelah 1000 tahun dia baru menyadari perasaannya dan dia ingin meminta maaf, yang bahkan belum di beri maaf oleh mr. xing. Semua harapannya runtuh sebelum dia membangunnya, dia pasti sangat patah hati." Balas viagra.
Viagra benar benar merasa prihatin dengan kisah percintaan sepupu jauhnya itu.
"Itu bukan cinta yang baru tumbuh satu atau dua bulan viagra, makanya sangat menyakitan saat mengetahui jika cinta yang sedang berusaha kamu perjuangkan sudah runtuh bahkan sebelum di bangun, itu benar benar sakit."
Setelah beberapa saat mei pun bangun dari tidurnya, dia mengerjapkan matanya dan melihat jennie serta viagra yang ada di sampingnya.
"Kalian kok di sini?." Tanya mei bingung.
"Kita tadi dapat kabar dari teman kamu camila,jika kamu sedang sakit dan di bawa ke klinik. Jadi kita ke sini." Jawab jennie.
"Kamu sakit karena patah hati ya." Celetuk viagra
"Ishh.." Jennie mencubit pinggang viagra.
"Aw.. Sakit tahu." Teriak viagra, mengelus elus pinggangnya.
"Ngak apa apa kok." Ucap mei dengan kecut.
"Ngak pa pa kok mukanya kusut gitu." Ledek viagra.
"Kamu tuh jangan ledek mei mulu dehh." Tegur jennie.
"Maaf maaf aku hanya ingin dia ceria lagi kok."
"Kak apa aku memang sejahat itu ya. Aku memang berharap untuk xing memaafkanku, aku tahu jika aku berharap untuk dia mencintaiku itu terlalu egois. Sejak awal aku berusaha untuk tidak berharap walau pun susah, karena aku tahu jika itu tidak mungkin."
"Aku tahu diri kok, kalau apa yang aku lakukan kepadanya itu sangat jahat. Tapi harapan itu masih ada walau aku sudah menekannya, tapi itu tidak mudah kak." Ucap mei dengan sedih, matanya sudah berkaca kaca.
Jennie memeluk mei.
"It's ok. Cinta itu memang rumit, dulu kakak juga pernah mencintai seseorang tapi karena satu dan lain hal kita harus berpisah. Walau kakak pikir kisah percintaan kamu terlalu rumit untuk terealisasikan tapi kakak yakin, kamu akan mendapatkan orang yang jauh lebih baik." Ucap jennie mencoba untuk menenangkan mei.
"Tapi kak rasanya terlalu menyakitkan hikss hikss."
"Ehh.. Kok malah nangis." Panik viagra.
"Hikss dulu aku sangat bahagia dengannya,dia satu satunya orang yang sangat tulus, aku saja yang bodoh yang tidak mengetahui perasaan aku sendiri hiksss hiksss.. Jika saja aku tidak terlalu bodoh dan juga takut hikksss jika saja aku jauh lebih jujur.. Mungkin semuanya tidak akan semenyakitkan ini hiksss. Setidaknya semuanya clear saat itu, ini semua salah aku hiksss..." Ucap mei sesenggukan.
"Ini semua sudah takdirnya seperti ini mei." Ucap jennie, mencoba untuk menenangkan mei.
"Hikss hiksss.. "
***
Kasian mbk meiðŸ˜ðŸ˜
Mohon dukungan dan sarannya ya teman teman😘😘
__ADS_1