
Viagra dan Mei saling melirik dan tertawa bersama.
"Aku pikir Dia sangat bar-bar seperti Kamu. Tapi ternyata Dia sangat dewasa." Ucap Viagra setelah tawanya mereda.
Mata Mei mendelik, menatap Viagra dengan tatapan tidak sukanya. "Yang bar-bar itu Kamu, bukan cuma bar-bar tapi tidak dewasa juga." Ucap Mei sewot.
"Hey Aku itu fleksible tau, saat orang-orang bercanda ya Aku juga bercanda. Tapi jika orang sedang serius ya Aku juga serius." Protes Viagra yang tak terima dengan perkataan Mei.
"Whatever.." Mei melesat meninggalkan Viagra yang tengah kesal.
"Bunga.." Gumam Mei saat melihat bunga yang tersampir di sepedanya. Dia berencana untuk bersepeda keliling kota untuk mengalihkan perasaan buruk yang menyelimuti dirinya akhir-akhir ini.
Dia mengambil bunga anyelir berwarna putih tersebut. "Siapa yang memberikan bunga ini." Gumam Mei sembari mengengok ke kanan dan ke kiri, berharap menemukan siapa orang yang memberinya bunga.
Dia sangat tahu jika bunga tersebut sengaja di taruh oleh seseorang untuknya, terbukti bunga tersebut di sampirkan di gangang sepedanya. Karena Dia menempelkan papan peringatan di sepedanya, tidak ada yang boleh menyentuh sepedanya tanpa izin. Dia bahkan sampai menaruh cctv di garasi, agar tahu siapa yang berani menyentuh sepeda kesayangannya.
'Apa mungkin Xing ya, tapi Dia bukan tipe orang yang suka memberikan bunga seperti ini.' Batin Mei menerka-nerka siapa yang telah memberikan bunga kepadanya.
Mei melihat bunga tersebut dengan tatapan menyelidiknya hingga tatapannya tertuju di sebuah gulungan kertas kecil yang terikat di salah satu batang bunga anyelir tersebut. Mei meraih gulungan tersebut dan mengurainya.
Aku Sangat Mencintai Kamu. Kenapa Kamu menyiksaku dengan tidak bisa menemuimu. Please ralat ucapan Kamu ya, Aku sangat merindukan kamu. Rasanya sangat sepi dan kososng tanpa tingkah konyol Kamu di sampingku.
Your Soulmate
Xing Aladric
Mei tersenyum tipis saat membaca pesan menyentuh yang di berikan oleh Xing. Dia tidak menyangka jika Xing akan melakukan hal ini, Dia berpikir jika Xing hanya akan menelfon atau mengirim pesan kepadanya seperti biasa saat mereka jarang bertemu karena kesibukan masing-masing.
"Dia bisa romantis juga ternyata." Kekeh Mei, Mei lalu melesat ke dalam kamarnya dan mengambil vas yang sudah di isi oleh air, kemudian dia menaruh bunga tersebut ke dalam vas.
__ADS_1
"Aku juga sangat merindukanmu Xing, tapi ini adalah keputusan yang tepat. Aku tidak ingin membebani Kamu dengan masa laluku yang tidak ada habis-habisnya menerorku. Aku tahu Kamu akan mengatakan jika Aku tidak akan pernah merepotkan mu. Aku tahu itu, tapi Aku juga tidak ingin Kamu menjadi pelampiasan mood ku yang sangat berantakan seperti ini." Ucap Mei dengan lirih, matanya memandang bunga di depannya dengan tatapan sendu.
"Aku mencintaimu, sangat mencintaimu. Kamu segalanya bagiku Xing, Aku akan melakukan apa saja demi Dirimu. Sekali pun nyawaku yang menjadi taruhannya."
***
Xing mengintai rumah Mei, sudah beberapa hari ini Dia sengaja memilih untuk mengintai Mei dari jauh. Dia tahu alasan Mei kenapa Dia memilih untuk tidak bertemu dengannya. Dia sendiri setuju dengan keinginan Mei agar Mei tidak terpaku dengan masa lalunya. Mei harus berjuang, agar Mei bisa terus berjalan maju tanpa terbayang-bayang dengan masa lalunya. Mei harus tahu, terkadang hal yang menjadi pelipur lara bagi kita tidak harus terus menerus hal yang sama. Boleh menyukai hal-hal tertentu, tapi tidak boleh berlebihan dalam menyukainya hingga sangat mempengaruhi hidupnya sebesar itu.
Xing melihat Mei yang meraih bunga yang telah di sampirkan di sepedanya, Dia juga melihat Mei yang tengah membaca surat yang sudah di buatnya dan Dia ikatkan di batang bunga anyelir tersebut.
"You look happy, Aku harap kamu selalu bahagia seperti ini. Aku percaya jika Kamu bisa happy dengan segala hal, tidak tergantung pada satu hal." Gumam Xing senang saat melihat raut wajah bahagia Mei.
Saat melihat Mei melesat masuk ke dalam rumah Xing langsung mengikutinya, dia memilih berubah menjadi Kelelawar Kecil agar Mei tidak menyadari jika Dirinya ternyata sudah di intai.
Xing melihat Mei yang menyiapkan vas bunga dan memasukkan bunga tersebut ke dalam vas.
Xing langsung masuk ke dalam kamar Mei dan berubah ke wujud manusianya. "Kenapa Kamu mengatakan itu, Aku tidak suka jika Kamu mempertarukan nyawa kamu untukku. Aku ingin melihatmu selalu hidup." Ucap Xing dengan serius.
Mei terlonjak kaget saat mendengar perkataan serta kedatangan Xing yang tiba-tiba.
"Xing, kenapa Kamu bisa ada di sini?." Tanya mei dengan ekspresi terkejutnya.
Xing mendekat dan meraih pingang Mei. Dia mengusap pipi Mei dengan lembut, "Aku mengintaimu, Aku tidak akan sanggup jika jauh darimu. Bagaimana aku bisa jauh dari belahan jiwaku hmm.. Ini sangat menyiksa ku sayang."
Mei menatap Xing dengan tatapan sendunya, sejujurnya Dirinya juga sangat tersiksa saat harus jauh dari Xing. Tapi Dia tidak mau Xing menjadi objek kemarahan dan kekesalannya. Saat ini emosinya benar-benar tidak stabil dan kacau.
Mei menangkup wajah Xing dan mengelus-elus rahangnya. "Aku tahu, Aku juga sangat tersiksa. Tapi aku tidak mau membuatmu menjadi objek kekesalanku. Saat ini emosiku benar-benar kacau Xing." Ucap Mei dengan lirih.
"Lalu apa gunanya Aku sebagai pasangan Kamu jika Aku tidak di butuhkan di saat-saat seperti ini. Aku pernah mengatakan kepada Kamu agar kita selalu bersama-sama berjalan maju. Ujian utama Kita adalah masa lalu Kita. Lalu jika Kamu melaluinya sendiri, apa gunanya Aku sebagai pasangan Kamu, sebagai Belahan jiwa Kamu. Apa gunannya?."
__ADS_1
Sejujurnya Xing tidak pernah Mempermasalahkan Mei untuk menyelesikan masalahnya sendiri. Tapi, Mei juga harus tahu jika terkadang Mei juga membutuhkan bantuan orang lain untuk menyelesaikan masalah tersebut.
Mata Mei terbelalak saat mendengar Xing mengatakan hal tersebut. Dia tidak menyangka jika Xing sampai merasa tidak berguna seperti ini. Dia hanya tidak ingin Xing terluka atau pun kecewa. Hidupnya akan hancur saat itu juga jika dia melihat raut wajah kecrwa itu lagi. Dan saat ini dia secara tidak sengaja membuat Xing kecewa.
Mei membungkam bibir Xing dengan tangan kanannya, Dia menatap Xing dengan nanar.
"Jangan mengatakan itu! Bagaimana bisa Kamu mengatakan itu. Aku hanya tidak ingin membuatmu kecewa. Aku akan hancur jika sampai itu terjadi, maaf bukan maksudku membuatmu merasa seperti ini. Maaf.." Ucap Mei parau, air matanya jatuh seketika.
Bibirnya terasa kelu, tidak tahu harus berbicara apa lagi. Membuat Xing kecewa bukanlah keinginannya.
Xing meraih tangan Mei yang ada di bibirnya, Dia menciumnya sebentar, lalu Dia mencium kening Mei cukup lama.
"Kenapa minta maaf hmm.. Tidak masalah, aku tidak kecewa. Aku hanya sedih jika harus melihatmu berjuang sendirian. Harusnya kita bisa melaluinya berdua, Dan jangan pernah mengatakan jika Kamu akan mempertarukan nyawa Kamu untukku. Aku tidak menyukainya, Kehidupan Kamu jauh lebih berharga dari pada diriku sendiri." Ucap Xing dengan lembut
Mei menatap Xing dengan tajam. "Jika kamu tiada, maka Aku juga tiada Xing. Di masa lalu Kamu meninggalkanku sendirian, 10 Tahun Aku mencoba untuk membangkitkanmu. 10 Tahun Aku hidup dalam rasa putus asa dan juga rasa hampa. Aku hidup dalam kebingungan, bagaimana bisa Aku sangat hancur saat kehilanganmu. Bukankah itu yang Aku inginkan. Tapi Aku hancur sehancur-hancurnya Xing. Lalu bagaimana bisa Aku harus hidup seperi itu lagi? Aku memiliki tubuh tapi jiwaku jauh bersama dengan jiwa kamu. Sangat menyakitkan tapi tidak ada darah karena memang lukanya tidak terlihat."
Perasaan Xing mencelos, hatinya sangat sakit bagai di tusuk belati. Dia melupakan hal itu, Dia langsung memeluk mei dengan erat.
"Maaf, bukan maksudku untuk menakutimu. Aku juga tidak akan sanggup jika harus kehilangan Kamu." Xing memenjamkan matanya.
"Mari kita hidup bersama selamanya sampai di surga. Kita akan mati bersama." Hatinya sangat sesak saat mengatakan hal tersebut. Masih banyak kenangan indah uang ingin dia ukir bersama Mei.
'Tuhan, aku ingin hidup dan mati bersama dengannya. Jangan pernah pisahkan kami.' Batin Xing.
Mei hanya bisa mengeratkan pelukannya, bibirnya terkunci rapat. Dia sudah tidak sanggup harus berbicara apa lagi. Dia sangat lelah.
...****************...
Jangan lupa dukungannya teman-teman 😘😘
__ADS_1