
Di lain sisi mei yang sudah membaca pesan dari xing langsung tersenyum sendiri.
"Dih, tuan pencuri sok romantis. Tapi seneng sih dapet pesan kek begini." Gumam mei dan tersenyum sendiri.
"Aishhh.. Kenapa kayak anak kecil saja sihh aku." Teriak mei, gemas kepada dirinya sendiri.
"Dan apaan itu, tinggal satu atap. Mau kencan saja tidak ada waktu, apalagi mau nikah, dasar xing bodoh." Gerutu mei.
Dia tidak berhenti merutuki xing dan teriak teriak sendiri sudah seperti orang gila.
"Kira kira konfrensinya kapan ya?." Gumam mei.
Dia memutuskan untuk pergi ke bawah untuk menanyakan kepada daddynya. Tetapi di hentikan oleh panggilan telefon dari handphonenya.
"Ishh.. Baru juga tadi telfonan kok sudah nelfon lagi sih, awas kalau mau godain lagi, akan aku pukul sampai pingsan dia kalau nanti bertemu." Gumam mei antara kesal dan senang.
-> Apa?
Mei berteriak dengan sewotnya.
-> Shine, kok sewot sihhh..
Mei yang mendengar suara wanita pun langsung melihat nama yang tertera di layar telefonnya.
"Ehh.. Camila ternyata, tumben nih anak nelfon, biasanya ngak pernah." Gumam mei, saat melihat ternyata yang menelfonnya camila.
-> Hehe camila, maaf aku pikir xing. Dia tadi nelfon aku sebentar.. Ada apa?
Mei cengesan sendiri, tidak enak karena sudah sedikit membentak camila.
-> Kenapa kamu tidak masuk ke kampus selama beberapa hari ini?. Kangen tauu
Camila dan yang lainnya selama beberapa hari ini memang sedikit bingung mencari mei, karena dia tidak masuk ke kampus selama beberapa hari. Baru hari ini dia bisa menelfon mei, selama beberapa hari ini dia sangat sibuk hingga tidak kepikiran yang lainnya.
-> Maaf camila, aku berhenti dulu untuk sementara, ada hal yang sangat penting yang aku urus. Jadi kalau pun aku tetap kuliah, maka kuliah aku akan terbengkalai maka dari itu aku memilih untuk berhenti dahulu.
-> Ohh.. Semoga cepat selesai ya.
-> Sama sama.. Kamu memang yang terbaik.
Camila yang mendengar itu hanya bisa tersenyum tipis.
__ADS_1
-> Oh ya shine, mr xing dan mrs livia mereka berdua sudah tidak menjadi dosen di kampus lagi, sepertinya mereka memang memiliki hubungan yang serius deh.
Mei yang mendengar itu hanya bisa tersenyum.
'Mana mungkin mereka masih memikirkan untuk menjadi dosen. Situasi saat ini saja sudah sangat rumit. Aku saja sampai pusing sendiri.' Batin mei.
Camila yang tidak segera mendapat jawaban dari mei pun sedikit cemas.
'Apakah dia patah hati, setelah mendengar perkataanku tadi.' Batin camila cemas.
-> Shihe, are you ok? Maaf ya, kamu pasti sedih saat mendengar perkataanku tadi.
Camila benar benar tidak enak hati. "Ishh.. Lagian ini mulut, tidak bisa di kondisikan." Gumam camila kesal pada dirinya sendiri dan memukul mulutnya pelan.
Apa dia tidak sadar jika tadi mei berkata kepadanya jika dia mengira yang menelfonnya adalah xing. Jadi ya mana mungkin mei patah hati, xing saja setiap hari menelfon mei atau hanya sekedar berbalas pesan saja.
Dasar camila.
-> Aku baik baik saja kok tidak apa apa. Mungkin urusan mereka sangat penting hingga mereka berdua memutuskan untuk berhenti menjadi dosen.
-> Beneran kamu tidak sedih?.
Mei dengan jahilnya malah menanyakan hubungannya dengan victor.
Camila yang mendengar hal itu pun tiba tiba langsung tercekat.
'Kok dia tahu sih.'
-> Kok kamu bisa tahu, perasaan aku tidak pernah bilang apa apa deh.
Dia bingung sendiri kok bisa bisanya mei sampai tahu mengenai perasaannya.
-> Tentu saja tahu, terlihat jelas saat kita berbicara terakhir kali di kantin saat itu. Aku tahu yang kamu maksud adalah victor.
Camila menghela nafasnya sedikit.
-> Aku benar benar bimbang saat ini. Dia sepertinya tidak menyukaiku, aku sedikit marah dengannya saja, dia tetap saja cuek.
Mei yang mendengar curhatan dari camila hanya bisa terdiam, dirinya saja saat itu bersama xing butuh waktu yang cukup lama untuk benar benar mengklarifikasi semuanya hingga bisa clear seperti ini. Itu pun masing masing memang sudah berusaha untuk berkomitmen meski ada sedikit kesalah pahaman.
Sedangkan dalam kasus camila dia tidak tahu seperti apa. Apakah mereka saling mencintai atau hanya sepihak saja.
__ADS_1
-> Aku tidak tahu harus bicara seperti apa. Tapi mungkin setidaknya kamu berusaha untuk berbicara sesuatu kepadanya. Mungkin ada hal yang menganjal yang tidak kalian ungkapkan maka dari itu semuanya menjadi canggung dan rumit.
-> Mungkin memang seperti itu. Aku sendiri tidak tahu harus bagaimana, aku merasa sebentar lagi akan ada hal yang buruk akan terjadi. Maka dari itu, aku sedikit mengesampingkan masalah pribadiku shine.
Camila benar benar tidak tahu harus bagaimana, sudah beberapa hari ini perasaannya tidak enak. Dia merasa jika akan ada hal yang sangat buruk yang akan terjadi, dan itu tidak akan lama lagi. Tapi dia tidak mengetahui apa yang akan terjadi nantinya.
-> Mungkin kamu butuh waktu untuk menenagkan diri. Coba dulu kamu berpikiran tenang dan positif, siapa tahu kamu akan mendapatkan sedikit jalan keluar.
Mei mencoba untuk memberika sedikit solusi agar camila bisa sedikit tenang dan mendapatkan sedikit jalan keluar. Dia sendiri tidak bisa berbuat banyak, karena masalahnya pun juga banyak dan sangat rumit.
-> Ya sudah, maaf ya aku jadi curhat kepadamu. Syukurlah jika kamu baik baik saja. Aku tutup dulu ya panggilan telfonnya.
-> Baiklah, semoga semuanya baik baik saja.
Camila kemudian memutuskan panggilan telfonnya dan menatap atap kamarnya dengan kosong. Perasaannya tiba tiba berkecamuk selama benerapa hari ini, lebih tepatnya setelah dari kantin saat itu.
"Aku tidak tahu rasaanmu bagaimana tentangku victor. Tapi, aku sangat mencintaimu. Mungkin jika aku mengatakan ini kamu juga tidak akan menerimaku, bahkan kalau pun di terima. Hubungan kita tidak akan bisa terjalin, kita tidak akan bisa bersama." Gumam camila, hatinya sakit saat kembali mengingat kenyataan yang pahit ini.
Mau sebesar apa perasaannya terhadap victor, itu semua akan sia sia. Mereka tidak akan pernah bisa bersama, sebesar apa cinta itu.
"Kenapa.. Di saat aku bisa mencintai seseorang, seseorang itu adalah orang yang tidak mungkin bisa aku gapai."
Hatinya benar benar sakit, camila sudah sangat mencintai victor sejak mereka masih di bangku junior high school. Dulu dia harus susah payah agar bisa menjadi temannya. Saat itu victor merupakan siswa paling populer di sekolah itu, sehingga sangat susah baginya hanya untuk sekedar menjadi temannya.
"Tapi mau bagaimana lagi, perasaan ku terlalu besar untuk mu. sudah berkali kali aku berusaha untuk menghapus perasaan ku, tapi cinta itu tumbuh menjadi semakin kuat dan besar. Aku harus bagaiman victor.."
Terkadang dia merasa sangat putus asa dan ingin menyerah, tapi hatinya terus saja membuatnya tetap teguh hingga sekarang.
Dia masih bisa mengingat bagaimana dia berusaha mendekati victor saat itu, dia menjahilinya, mengejeknya, tapi victor tetap saja diam dan tidak ambil pusing.
Saat itu dia ingin menyerah hingga rei yang merupakan sepupu dari victor menjadi temannya. Saat itu camila tidak sengaja menemukan dompet rei dan mengembalikannya kepada rei hingga mereka menjadi teman sampai sekarang.
"Klise memang, tapi karena itu aku bisa menjadi lebih dekat dengan victor dan menjadi sahabatnya. Bagiku itu jauh lebih dari cukup." Kekeh camila, saat dia mengingat kembali saat dimana dia bertemu dengan rei hingga persahabatan mereka sampai sekarang masih terjalin dengan baik.
'Terima kasih rei.'
***
Bab baru telah di buat~
Jangan lupa dukungannya teman teman😘😘
__ADS_1