Reinkarnasi Belahan Jiwa

Reinkarnasi Belahan Jiwa
115. Gugusan Bintang


__ADS_3

Xing tertawa lepas saat melihat wajah lucu Mei. Di tambah aksen berbicaranya yang jadi aneh akibat pipinya di cubit olehnya.


"Hahaha.. Kamu imut banget sih." Xing yang sudah sangat gemas pun langaung mencium kedua pipi Mei yang tampak memerah.


Mei cemberut, dia mengusap pipinya dengan kasar seakan mencoba untuk menghilangkan bekas ciuman dari Xing.


"Tuan pencuri.. Kamu sangat menyebalkan, nanti pipiku melar seperti bapao." Protes Mei.


"Kamu juga mencubit kedua pipiku lho."


"Pipi kamu itu keras macam tembok, jadi mustahil bisa melar." Ucap Mei dengan ekspresi cemberutnya.


'Pengen aku cuci deh otaknya biar pikirannya tidak absurd seperti ini.' Batin Xing gemas sendiri.


"Wajahku ramah seperti mister bean lho ya. Tidak datar macam tembok, jangan samakan aku dengan vampire karya imajinasi bangsa manusia ya." Ucap Xing menyangkal perkataan Mei.


"Ramah dari mana coba. Kamu saja dosen paling killer di kampus saat itu, kamu bahkan sering bicara datar dengan orang lain lho ya." Ucap Mei mengingatkan Xing bagaimana perlakuan Xing kepada orang lain.


Xing menyenderkan kepalanya di bahu Mei dan menatap Mei. "Sayang, aku harus tegas dong. Kalau aku tidak tegas bagaimana bisa aku mengajar mereka agar mereka menjadi pandai. Agar mereka tidak malas-malasan, jika aku tidak tegas bagaimana bisa aku memimpin perusahaan." Ucap Xing dengan lembut.


"Kamu benar sih, tapi apa tidak bisa gitu kamu senyum sedikit. Kasian mereka terintimidasi." Ucap mei, dia mengingat bagaimana dulu dia sempat terintimidasi oleh Xing hingga membuatnya sangat sedih.


Xing menghela nafasnya dengan kasar. Selalu saja begini, dia selalu kalah berargumen dengan Mei. Pasti ada saja jawaban ya g terlontar dari bibir Mei hingga membuatnya terdiam dan tidak bisa berkata-kata.


'Kamu akan jadi pengacara yang handal. Aku saja kalah terus jika harus adu argumen denganmu.' Batin Xing.


"Baiklah, aku akan lebih ramah." Ucap Xing, tersenyum manis. Dia lebih memilih mengalah karena pada akhirnya dia juga akan kalah dari Mei.


Mei tersenyum lebar, dia lalu membalik badannya dan mengalungkan tangannya di leher Xing.


"Apa?." Tanya Xing bingung kenapa Mei tiba-tiba mengalungkan tangannya di lehernya. Di tambah dengan senyum lebar yang menghiasi wajah Mei.


"Gedong lah, pakek nanya lagi. Ayo kita masuk kedalam rumah! Aku ingin melihat apa ada taman di kamar utama atau tidak." Ucap Mei antusias.


"Tapi kamu berat sayang." Ucap Xing dengan jahilnya.


Mei melotot menatap Xing dengan tatapan tajamnya. "Kamu bilang aku berat, lemah banget. Masa kalah sama aku yang bisa menggendong lima puluh pria seukuran kamu." Ucap Mei sewot.

__ADS_1


Xing terbelalak, terkejut dengan ucapan menohok yang di lontarkan oleh Mei. Niat hati ingin menjahilinya tapi malah dia yang kena mental.


'Salah lagi apes lagi.' Gerutu Xing dalam hati.


Xing yang kesal pun langsung mengangkat tubuh Mei. Dia melesat masuk ke dalam rumah dengan Mei yang ada di dalam dekapannya.


"Xingg.. Selow dong, pelan-pelan." Pekik Mei terkejut dengan tindakan Xing yang melesat tanpa memberi aba-aba kepadanya terlebih dahulu.


Xing terus melesat masuk ke dalam kamar utama tanpa menghiraukan pekikan Mei. Dia lalu menurunkan tubuh Mei setelah sampai di kamar utama.


Mei yang hendak protes dan menceramahi Xing pun di buat takjub dengan pemandangan kamar utama yang sangat menakjubkan.


"Oh May God.. It's geat. Bagiamana bisa kamu mendesain kamar ini menjadi semenakjubkan ini. Kamu benar- benar sukses membuatku berdecak kagum sedari tadi." Pekik Mei senang. Dia berlari ke sana kemari untuk melihat detail kamar utama.


"Benarkah."


"Of curse, ini indah sekali. Seperti ada di galaxy." Ungkap Mei, terkesan.


Desain kamar yang sangat realistis bagai di galaxy tampak hampir di seluruh kamar dari dinding, lantai hingga atap plafon pun di penuhi dengan desain gugusan galaxy. Hal tersebut membuat kasur, barang-barang dan taman yang di tanam di dalam kamar tampak seperti melayang di tengah-tenah ruang angkasa.


"Kamu suka tidak?." Tanya Xing.


"Wait, kamu pasti akan lebih jatuh cinta lagi dengan kamar ini." Xing berjalan ke pinggir kamar dan mematikan lampu kamar tersebut.


Mei kembali di buat terperangah dengan pemandangan kamar tersebut. Saat lampu di matikan seluruh kamar semakin berpendar dengan intensitas cahaya yang berbeda-beda hingga kesan gugusan bintangnya semakin nyata.


'Indah sekali, ini semakin membuatku bernostalgia saat dulu aku tidur di tengah-tengah rumput dan memandang ke atas. Sayang sekali sekarang aku tidak pernah bisa memandang pemandangan seperti itu. Terlalu banyak polusi dan perubahan yang sangat drastis. Hingga alam pun nampak malu untuk menunjukkan dirinya sendiri.' Batin mei.


Dia sangat rindu dengan pemandangan bintang-bintang yang berjejer dengan indah. Sekaligus sangat menyayangkan bagaimana dunia modern telah membuat iklim yang berubah drastis. Dia sangat merasakan perbedaan tersebut.


Xing yang melihat Mei justru malah terdiam pun memanggil namanya. "Sayang, apa kamu tidak menyukainya?." Tanya Xing.


Mei langsung tersadar dari lamunanya setelah mendapat teguran dari Xing, dia menghampiri Xing dan tersenyum tipis.


"Tentu saja aku sangat menyukainya. Ini jauh lebih indah dari tadi. Sangat indah." Jawab Mei.


"Lalu kenapa kamu malah melamun."

__ADS_1


"Aku hanya teringat saat aku dulu tidur beralaskan rumput dan beratap langit. Dulu setiap malam saat aku akan tidur aku selalu melihat langit. Dengan mudahnya aku akan melihat gugusan bintang yang jauh lebih indah dari ini. Tapi sekarang, sekali pun aku tidak pernah melihatnya. Bumi ini sudah tua,di tambah banyak polusi di mana-mana. Rasanya alam pun engan menampakan keindahannya. Kita sebagai makhluk yang menghuninya terlalu mengeksploitasinya secara besar-besaran. Yang ingin menyelamatkan bumi tidak sebanding dengan yang mengeksploitasinya. Kita perusak terbesar tapi seharusnya kita juga penyelamat terbesar." Ucap Mei bijaksana.


"Hah.. Tapi sayang, kesadaran untuk menjaga lingkungan tidak sebesar kesadaran menjaga diri sendiri." Lanjut Mei, sejujurnya dia sedikit menyayangkan kondisi bumi yang dia huni di jaman ini.


'Bijaksana sekali, kalau saja kamu akan sering seperti ini. Mungkin aku akan sedikit tenang, tapi aku juga suka melihat kamu marah dan ngambek. Aihh.. Kok aku banyak permintaan ya kesannya.' Batin Xing.


"Kamu memang benar, sejujurnya aku juga sedikit terkejut sih. Ternyata perubahannya sesignifikan itu sih. Tapi sudah terjadi bukan, kita hanya bisa berusaha untuk menjaga agar tidak lebih parah lagi." Ucap Xing.


"Iya. Tapi hanya sangat di sayangkan saja sih. Harusnya mereka bisa melihat bagaimana indahnya gugusan bintang ini secara langsung, tidak hanya dari buku atau televisi."


Xing hanya tersenyum tipis, dia sangat bangga dengan pemikiran Mei yang sangat mencintai alam seperti dirinya. Dia lalu menekan tombol lain hingga membuat seluruh atap rumah perlahan-lahan bergerak dan membuka.


Mei ternganga saat melihat hal tersebut, dia menengok menatap Xing dengan tatapan tidak percayanya.


"Are you sereously. Atapnya bisa di buka.. Wow, it's amazing. Kamu melakukan perubahan sebesar ini, pasti menelan biaya yang tidak sedikit Xing." Ucap Mei, yang lagi-lagi di buat terkejut oleh Xing.


"No.. Ini untuk kamu, aku membayangkan pasti akan sangat romantis jika kita makan berdua di atap rumah. Di kelilingi bintang dan juga lilin yang berkedip. Seperti di televisi." Ucap Xing.


Mei mengangkat sebelah alisnya, dan menatap Xing dengan tatapan menyelidiknya. Dia hanya bisa mengedikkan bahunya acuh saat mendengar perkataan Xing. "Yah itu akan sangat romantis memang. Tapi bukankah ini sangat berlebihan."


"Tidak berlebihan, nanti jika kita sudah menikah. Kita akan tinggal di rumah ini. Aku ingin ada hal yang sangat berkesan di setiap sudut rumah ini."


Mei tersenyum tipis, dia lalu memeluk Mei. Dia mendongak dan menatap Xing dengan tatapan yang berbinar-binar.


"So.. Kita menikah sekarang saja."


Xing terbelalak, dia terkekeh pelan. "Nanti setelah kamu lulus kuliah." Ucap Xing dengan lembut.


"Tapi aku ingin tinggal di sini." Rengek Mei.


"Nanti kamu juga akan tinggal di sini kok. Lagi pula kamu masih sangat muda dan daddy juga tidak akan mengizinkan kita menikah sekarang. Dia sudah memberikan kita banyak ultimatum lho ya." Ucap Xing, mencoba mengingatkan Mei mengenai ultimatum Daddy Julius.


Mei cemberut saat di ingatkan oleh Xing mengenai ultimatum yang sudah daddy-nya ucapkan. Mau tidak mau dia harus menurutinya, meski dia sudah tidak sabar untuk menikah dan tinggal di rumah ini.


'Hah.. Harus sabar ya Mei.' Batin Mei, menyemangati dirinya sendiri.


...****************...

__ADS_1


Jangan lupa dukungannya teman-teman 😘😘


__ADS_2