Reinkarnasi Belahan Jiwa

Reinkarnasi Belahan Jiwa
97. Masa Lalu Viagra


__ADS_3

Di lain sisi rei yang melihat camila dan viagra telah bersatu pun menjadi sangat terharu.


"Akhirnya mereka berdua berani mengungkapkan perasaan masing-masing. Heran, kok pakai butuh waktu bertahun-tahun dulu sih baru mau berterus terang kayak gitu." Ucap rei dengan gemas.


"Kamu tidak tahu bagaimana sakitnya jauh dari orang yang kita cintai. Banyak hal yang membuat orang berat untuk mengungkapkan perasaan." Ucap seseorang tiba-tiba.


Rei yang mendengar itu pun langsung membalikkan badannya. Tampak viagra serta zuu yang bejalan beriringan ke arahnya.


"Tahu apa kamu tentang hal itu?." Tanya rei sewot.


"Tentu saja, aku sangat mengetahuinya. Sangat sakit saat harus merelakan orang yang sudah kita percayakan sebagian hatinya untuk menjauh dari kita. Terkadang, takdir itu sangat menyakitkan." Jawab viagra sendu.


"Memangnya kamu pernah kehilangan orang yang paling kamu sayangi?." Tanya zuu penasaran karena melihat raut wajah viagra yang terlihat sangat sedih.


"Dulu, 300 tahun yang lalu. Aku harus rela kehilangan kekasihku dan adik perempuanku. Mereka berdua tewas di tangan sekelompok vampire." Jawab viagra dengan lirih.


Matanya menerawang saat bagaimana dia merasa jika dunianya langsung runtuh saat mendengar kabar tersebut. Butuh waktu bertahun-tahun baginya untuk bisa bangkit dan tidak terpuruk dalam kesedihan serta kehilangan. Dia memilih untuk meninggalkan negaranya dan tinggal bersama julius ayah dari mei.


Mereka berdua yang mendengar hal tersebut pun sontak langsung terkejut. Mereka berdua tidak menyangka jika viagra yang biasanya terlihat ceria ternyata menyimpan masa lalu yang cukup kelam dan sangat menyakitkan.


"Kamu tahu kelompok vampire mana yang telah melakukan hal yang keji itu?." Tanya rei dengan hati-hati.


"Ya, mereka kelompok vampire yang memang di perintahkan untuk membuat kekacauan di keluarga ku. Mungkin karena di sana ada adikku maka dari itu mereka langsung menyerang dan membunuhnya."Jawab viagra.


Hatinya bergemuruh sesak karena mengingat hal tersebut. Tiada hari baginya untuk tidak mendoakan mereka berdua. Dua princessnya, dua gadis yang sangat dia cintai tewas di waktu yang sama. Itu terlalu menyakitkan.


"Sorry, bukan maksudku untuk melukai hatimu dengan menanyakan hal yang sensitif seperti itu. Aku tidak tahu jika kamu menyimpan luka sedalam itu. Kamu sangat kuat." Ucap rei tak enak hati saat melihat mata viagra yang sudah mulai mengembun.


Viagra menarik nafasnya, dia mendongak menatap langit yang terlihat cerah.


"Tidak apa-apa. Melihat mereka berdua seperti itu. Membuatku mengingat masa-masa saat aku masih bersama kekasihku saja. Lagi pula dia sudah berada di tempat terbaik di surga. Dan mereka kelompok itu telah musnah, bahkan yang menyuruh mereka pun juga sudah musnah menjadi abu. Tak ada satu pun anggota dari mereka yang tersisa." Ucap viagra.


"Tidak ada rencana untuk membuka hati lagi?." Tanya zuu.


Viagra terkekeh kecil dan mengacak-acak rambut zuu dengan gemas.


"Kenapa menanyakan hal yang seperti itu? Aku tidak ingin memiliki kekasih dulu, lebih baik kamu tuh menanyakan hal itu kepada felix agar kamu bisa antri jadi ratunya." Viagra justru malah menggoda zuu.


Mendengar nama felix, wajah zuu langsung merona merah.

__ADS_1


'Aihh.. Kenapa malah aku yang di goda begini.' Rutuk zuu kesal.


Zuu mengerucutkan bibirnya, dia menatap viagra dengan cemberut. "Aku tidak ingin pacaraan dulu. Aku masih kecil, kata mei aku harus fokus belajar." Ucap zuu mengebu-gebu.


Rei mengangkat sebelah alisnya. "Hey anak kecil, santai aja dong jawabnya. Lagi pula itu kenapa pipinya merah gitu. Apa kamu pakai blush on sekilo." Tanya rei ikut menggoda zuu.


"Iya, malu-malu tapi mau. Persis kayak mei, mulutnya bilang A tapi hatinya bilang B." Sahut viagra.


Zuu yang mendengar hal tersebut pun wajahnya semakin memerah karena kesal. Telinganya serasa berasap karena ledekan dari mereka berdua.


"Terserahlah mau bilang apa. Lihat saja aku akan mengadukan kalian ke dosen kalian. Kalau kalian sengaja bolos biar tahu rasa." Sungut zuu. Dia pergi meninggalkan mereka berdua dengan kaki yang terhentak karena kesal.


'Dasar lucknut.' Umpat zuu.


Rei dan viagra yang mendengar ancaman dari zuu pun sotak saja langsung terkejut dan mengejar zuu yang sudah pergi meninggalkan mereka berdua.


"Hey, hey zuu jangan begitulah. Masa kamu tega melihat kita berdua di omeli sama dosen kita sih." Ucap viagra mencoba untuk membujuk zuu agar dia tidak di laporkan ke dosen mereka.


"Iya zuu, kamu itukan baik, cantik dan imut. Jadi jangan jahat sama kita ya. Kamu tahu dosen yang mengajar di kelasku itu sangat killer zuu." Sahut rei yang juga mencoba untuk membujuk zuu.


Sedangakan zuu sediri terus saja berjalan dengan santai tanpa memperdulikan permohonan mereka berdua.


'Mampus..' Bantin viagra dan rei.


"Tapi zuu." Rengek mereka berdua.


"Aku tidak perduli." Ucap zuu dengan tajam.


Di lain sisi victor dan camila yang melihat hal tersebut pun hanya bisa terkikik geli.


"Jadi dari tadi kita ada penonton geratis ya." Ucap camila geli.


"Iya, ternyata ada yang kepo." Kekeh victor.


"Mungkin kita harus mencarikan jodoh untuk rei agar dia tahu bagaimana rasanya punya kekasih. Bagaimana rasanya kita gugup dan juga salah tingkah saat kita berdekatan dengan kekasih kita." Ucap camila menyarankan kepada victor agar dia mencarokan jodoh untuk rei.


"Ohh.. Jadi kamu saat dekat denganku merasa gugup dan salah tingkah ya?." Tanya victor dengan jahil.


Camila membuang mukanya saat mendengar hal tersebut.

__ADS_1


"**.. Tidak kok, biasa saja. Aku tidak pernah gugup." Jawab camila dengan gugup.


"Kok terbata-bata gitu jawabnya. Kalau tidak gugup pasti tidak terbata-bata seperti ini. Harusnya lancar seperti jalan tol." Victor semakin menggoda camila saat mendengar cara bicaranya yang terlihat terbata-bata itu.


"Ya suka-suka aku dong mau bicaranya kayak gimana. Hak aku." Ucap camila sewot.


"Iya hak kamu kok. Jadi lain kali bicaranya yang elegan, anggun gitu. Jangan bar-bar!." Ucap victor.


Camila langsung menoleh dan menatap victor dengan tajam. "Ohh.. Jadi aku bar-bar gitu, memangnya kenapa kalau bar-bar hah. Ada masalah, sini gelut yuk!." Ucap camila yang terlihat semakin sewot dan kesal kepada victor.


'Dia kalau kesal gini jadi kelihatan makin cantik.' Batin victor.


Camila yang melihat victor hanya diam dan menatapnya tanpa ada respon pun menjadi semakin kesal. Lalu dia kembali mencubit perut victor dengan keras hingga membuat victor berteriak kesakitan.


"Aww... Kamu itu kok suka banget cubit perut ku sih. Sakit ini, lama-lama perut six pack ku bisa hilang. Nanti kamu tidak bisa cuci mata lagi." Omel victor.


Camila mencebikkan bibirnya dan menatap victor dengan datar. "Bodo amat, sekalian biar ginjalnya hilang semua."


Victor bergidik ngeri saat mendengar hal tersebut."Kamu kok kejam banget sih, nanti kalau ginjal aku hilang aku tidak bisa gendong kamu lagi dong." Ucap victor jahil.


"Kok bisa begitu?." Tanya camila bingung.


"Iyalah, orang yang tidak memiliki ginjalkan tidak bisa mengangkat beban yang berat. Dan kamu itu beraaat sekali." Jawab victor lalu mencubit hidung camila.


Camila melotot menatap victor dengan tajam. "Apa kamu bilang. Aku gendut hah.. Wah minta di beri pelajaran ini."


Kemudian camila menggulung lengan bajunya dan mencubit badan victor.


"Aduhh.. Sayang stop aduh sakit aww.. Aduhh.. Sakit ini heyy.."


"Kamu bilang aku gedut, nih makan gendut nih rasain.. Sekali kamu bilang aku gendut lagi aku makan seluruh organ dalam kamu biar tahu rasa." Ucap camila gemas dia terus mencubit badan victor hingga victor memegang kedua tangannya dan menatapnya dengan tatapan memelas.


"Sudah sayang, sakit sekali ini. Aku janji aku tidak akan bicara seperti itu lagi. Promise." Ucap victor lembut.


"Promise?."Tanya camila.


"I'm promise." Jawab victor.


...****************...

__ADS_1


Jangan lupa dukungannya teman-teman 😘😘


__ADS_2