
Hari ini mei berangkat ke kampus dengan berjalan kaki bersama viagra dan zuu. Dia tidak ingin di antar oleh xing, karena dia tahu hari ini jadwalnya sangat padat.
"Zuu, kamu kemarin kok tidak ikut kumpul sih. Menyenangkan lho, walau viagra dan kedua adik xing kayaknya lagi banyak masalah. Orangnya diem aja, tidak ada satu atau dua kata yang keluar dari mulut mereka. Padahal ya kemarin itu aku di kerjain habis-habisan tahu. Mereka cuma melihat dan tidak menolong sama sekali, itukan nyebelin." Curhat mei.
"Aku hanya menikmati pemandangan yang langka saja. Nanti kalau aku ikut menjahili kamu bakalan tambah menderita tujuh turunan." Sela viagra cuek.
Mei melotot dan menatap viagra nyalang. "Minta aku pukul hah." Ucap mei sembari menunjukkan kepalan tangannya.
"Memangnya langka bagaimana?." Tanya zuu bingung.
"Ya langka. Kapan lagi dia di kerjain, biasanya kita yang di kerjain. Sekali-kali balas dendam tidak apa-apa lah."
"Ahh.. Iya juga sih, mei memang orangnya jahil dan kadang nyebelin." Zuu menyetujui pendapat viagra mengenai mei.
"Kamu yang baru mengenalnya saja langsung setuju apa kabar aku yang berada di dekatnya sejak dia masih bayi. Jennie beruntung banget sih sekarang sudah melepas status sebagai ibunya mei. Jadi tidak perlu menanggapi kejahilan dia lagi."
"Berarti kalian menderita sekali dong selama ini." Tanya zuu.
"Banget, dia itu sudah kejam manja pula."
Mei yang sedari tadi di abaikan bahkan mereka dengan terang-terangan membicarakan mengenai dirinya di depan matanya pun di buat geram. Bahkan mukanya sudah merah padam saat mendengar pembicaraan mereka.
'Kurang asem. Mereka tidak mengangap ada aku apa.' Batin mei geram.
"Kalian itu kalau mau mengosipin orang jangan di depan orangnya dong. Panas ini telinganya, mana membicarakan yang buruk-buruk lagi. Kalian anggap aku ada tidak sih?." Ucap mei mencak-mencak.
"Kamu itu titisan iblis makanya terlihat hanya sekilas saja." Jawab viagra dengan wajah tanpa dosanya.
Mulut mei langsung ternganga saat mendapat jawaban yang jahat dari viagra. "Dari pada kamu titisan boneka chucky." Sungut mei.
Kemudian mei melengos pergi meninggalkan mereka berdua. Hatinya dongkol saat mendengar itu.
"Yah ngambek lagi kan dianya."
"Biarin, dia itu memang masih anak-anak yang hobinya ngambek. Aku heran dengan xing kok dia bisa suka sama dia." Ucap viagra.
"Mereka belahan jiwa jadi mau tidak mau xing harus tahan saat dekat dengan mei. Kalau mereka bukan belahan jiwa sudah aku pastikan mereka tidak akan bersama." Jawab zuu dengan yakin.
__ADS_1
Viagra mengkreyitkan dahinya. "Sepertinya ada atau pun tidaknya ikatan itu, mereka akan tetap bersama. Cinta mereka sudah terbentuk jauh sebelum mereka bereinkarnasi. Mungkin tuhan ingin mereka berdua saling menyadari perasaan mereka masing-masing melalui reinkarnasi ini."
Viagra menerawang di saat dulu mei patah hati dan menyalahkan dirinya sendiri saat melihat xing untuk pertama kalinya. Dia bahkan terlihat sangat putus asa meski tanda belahan jiwa mereka sudah muncul, dia semakin berusaha menjauh dari xing saat itu.
"Benarkah? Wow, itu artinya mereka sudah melalui berbagai hal di dalam hubungan mereka ya." Ucap zuu, dia tidak tahu jika sepelik itu hubungan yang harus di lalui oleh mereka berdua. Dulu saat dia masih dalam wujud kucing dia memang sering melihat mei murung dan juga sedih, tapi dia tidak tahu jika saat itu mei tengah terpuruk karena hubungan mereka berdua.
"Ya itulah, pelik sekali."
Mei yang sudah sampai di kampus pun langsung menuju ke kelasnya, tetapi di tengah perjalanannya dia melihat seseorang yang cukup familiar.
'Itu camila bukan sih. Kok dia bisa di kampus ini, apa dia juga pindah.' Batin mei penuh tanya.
"Camila." Panggil mei.
Merasa ada yang memanggil dia langsung berbalik badan. Dia terkejut saat melihat siapa yang memanggilnya.
"Meii.." Camila berjalan menghampiri mei.
"Camila.. Aku kangen banget sama kamu. Kita ke taman yuk! Ngobrol." Ucap mei.
"Ayok. Aku juga kangen banget sama kamu hehe."
"Kok kamu bisa ada di sini sih?." Tanya camila.
"Akukan sudah memutuskan untuk keluar dari kampus sebelumnya. Aku ingin fokus dengan perang dan saat ini perang telah usai dan mommy zein juga sudah pulih maka dari itu aku memilih untuk kuliah lagi, tapi tidak di tempat yang terdahulu hehe." Jawab mei. "Kamu juga kok bisa pindah di sini?."
"Sama, aku juga ingin fokus berperang terlebih dahulu saat itu." Jawab camila.
"Kamu tahu, aku sangat terkejut saat itu. Aku sangat tidak menyangka jika kamu adalah bagian dari makhluk supranatural. Apalagi dari bangsa peri, aku bahkan sampai memandangi kamu terus untuk meyakinkan diriku sendiri jika mataku tidak salah lihat."
"Haha.. Aku juga sangat terkejut saat itu, kamu pemilik silver blood. Itu di luar pemikiranku, bahkan tidak pernah terfikirkan olehku jika kamu bagian dari makhluk supranatural."
"Ternyata kita berdua tidak memiliki kepekaan ya. Harusnya kita bisa merasakan aura yang kita keluarkan. Kita sudah sangat dekat tapi tetap tidak mengetahuinya."
Camila dan mei terkekeh saat baru menyadari ketidak pekaan mereka berdua.
"Iya, kita memang tidak peka." Jawab camila.
__ADS_1
"Victor dan rei mana? Biasanya kalian selalu bersama dan tidak pernah terpisahkan." Ucap mei penasaran karena tidak biasanya camila hanya sendirian seperti ini. "Apa mereka berdua tidak pindah ya?."
"Aku tidak tahu. Kita lost contact sejak perang berakhir." Jawab camila lesu. Wajahnya seketika murung saat mengingat jika dirinya sudah hilang kontak dengan mereka berdua. Terutama victor, waktunya berbaur dengan bangsa manusia hanya tinggal sebentar. Dia ingin menghabiskan banyak waktu dengan mereka berdua.
'Victor, kamu di mana? Aku rindu sekali denganmu. Apa karena aku bagian dari makhluk supranatural dan kamu adalah pemburu makanya kamu menjauh dariku, kamu tidak ingin mengenal dan berteman denganku lagi.' Batin camila sedih.
Mei yang melihat wajah muram dari camila pun merasa tidak enak hati karena sudah menanyakan mengenai victor dan rei. Dia lupa jika camila itu memiliki perasaan kepada victor, di tambah mereka berasal dari kubu yang bisa di bilang berlawanan. Meski mereka para pemburu tidak pernah memburu bangsa peri. Tapi itu sudah jadi penghalang bagi mereka berdua.
'Ishh.. Kok aku bisa bodoh begini sih. Camila kan punya perasaan kepada victor.' Batin mei merutuki dirinya sendiri.
"Maaf ya lla, aku jadi mengingatkan mu pada victor." Ucap mei tak enak hati.
Camila tersenyum tipis. "Tidak apa-apa kok. Kamu tidak perlu meminta maaf, bukan salah kamu kan." Ucap camila dengan lembut.
"Memangnya dia tidak ada inisiatif untuk menghubungi kamu gitu?." Tanya mei hati-hati.
Camila menghela nafasnya dan memandang hamparan bunga yang ada di taman tersebut. "Sekalipun mereka tidak pernah menghubungiku. Mungkin mereka tidak ingin berhubungan denganku, kamukan tahu sendiri jika aku bagian dari makhluk supranatural. Sedangkan mereka bagian dari pemburu." Jawab camila lesu.
Mei menyandarkan badannya ke pohon dan memandang ke arah langit. Dia tidak tahu harus mengatakan apa. Dulu saja dia sangat putus asa saat menghadapi hubungannya dengan xing.
"Mungkin dia hanya butuh waktu untuk bisa menata dan memantapkan hatinya untuk bisa bertemu denganmu. Bukan hal yang mudah untuk berteman dengan kubu yang berlawanan seperti ini. Dulu saja, aku dan xing sangat susah untuk bisa bersama seperti ini. Meski kita belahan jiwa, tetap susah untuk mengakui perasaan masing-masing."
Camila menatap mei sebentar lalu kembali menatap ke arah bunga. "Aku juga berharap seperti itu, sedetik pun aku tidak pernah berhenti berharap. Dia adalah cinta pertamaku. Meski dulu aku juga pernah sangat putus asa dan hampir menyerah hanya untuk menjadi temannya. Meski tidak bisa menjadi kekasihnya, setidaknya kita bisa menjadi teman."
Mei terkekeh pelan. "Bukan hanya tidak peka, tapi kisah cinta kita juga sama-sama pelik ya."
Sungguh ironi jika harus mengingat bagaimana peliknya cinta yang harus mereka perjuangkan.
"Iya, terkadang aku berandai-andai jika aku terlahir sebagai bangsa manusia. Dengan begitu kisah cinta kita tidak akan seperti ini. Mungkin kisah kita ini kalau di jadikan film oleh bangsa manusia judulnya adalah cintaku terhalang dua alam." Ucap camila dengan absurd.
Mei kembali terkekeh pelan saat mendengar jawaban absurd dari camila tersebut. "Ada-ada saja sih kamu."
Camila melirik mei sekilas. "Memang seperti itu bukan, manusia itu makhluk paling kreatif dan juga aneh di bumi ini." Jawab camila acuh tak acuh.
"Iya sih, saking kreatifnya terkadang sampai bikin aku geleng-geleng tidak percaya."
...****************...
__ADS_1
Jangan lupa dukungannya teman teman😘😘