Reinkarnasi Belahan Jiwa

Reinkarnasi Belahan Jiwa
107. Mei Makin Kesal


__ADS_3

Mei duduk di sebuah kursi yang sudah bersih sambil memakan makanan manis. Setidaknya dia bisa memakan makanan manis sepuasnya hari ini sebelum dia tidak bisa memakannya selama tiga bulan kedepan. Hukuman yang hendak di jalani akan di mulai besok pagi hingga selesai.


'Hah.. Setidaknya hari ini aku masih bisa makan makanan manis.' Batin mei.


Dia memandang xing yang tengah bersih-bersih, masih dengan raut wajah kesalnya.


"Bwahahaha.."


Mereka berdua yang mendengar suara orang tertawa pun seketika langsung menoleh.


"Rick, jansean.. Mommy, daddy.. Kalian.." Pekik xing terkejut dengan kedatangan keluarganya serta teman-teman mei.


Xing langsung menoleh, menatap mei dengan tajam. Mei yang merasakan tatapan tajam xing pun balik menatap xing dengan tajam seakan mengatakan jika dirinya tidak takut sama sekali.


"Kak xing.. Kenapa kakak pakai apron? Harusnya kakak pegang paci atau teflon bukan kemoceng seperti itu. Tidak cocok tau.." Ucap jansean geli melihat oenampilan kakaknya tersebut.


"Jangan meledek kakak kamu jansean." Ucap rick memberi peringatan, meski dirinya juga geli dengan penampilan kakaknya yang aneh tersebut. Tapi dia mencoba menahannya agar tidak membuat kakaknya semakin malu.


Alastor dan alice menatap xing dengan tajam. "Bersihkan dengan benar, jangan sampai kamu meninggalkan setitik debu pun di mansion ini." Ucap alastor dingin.


Mereka semua sangat terkejut saat mendengar perkataan dari alastor. Terutama xing yang hanya bisa menelan salivanya dengan kasar, dia tidak menyangka jika daddy-nya akan berbicara seperti itu.


Sedangkan mei yang mendengarnya justru menyeringai senang.


'Rasain..'Batin mei senang.


"Ayo sayang kita pergi, lebih baik kita menemui calon besan kita saja. Anak muda jaman sekarang itu memang benar-benar mengerikan. Mommy tidak tahu bagaimana bisa mereka sangat mudah sekali dekatnya, kita saja dulu butuh waktu yang lama untuk dekat sekedar berpegangan tangan saja." Ucap mommy alice, yang heran dengan gaya berpacaran anak jaman sekarang.


Dia sendiri masih ingat saat dulu dia dan alastor sangat malu hanya untuk bepegangan tangan saja.


"Om tante, sekarang beda dong sama yang dulu. Kalau dulu ya dulu, kalau sekarang ya sekarang. Yang lalu biarlah berlalu om tante." Ucap rei mengatakan hal yang ada di pikirannya.


Alastor dan alice melayangakan tatapan tajam dan menusuk kepada rei.


"Kamu ingin membelanya anak muda." Tanya alastor tajam.


Glek

__ADS_1


"Say-saya tidak akan pernah membelanya tuan. Tidak pernah dalam pikiran saya. Saya hanya mengeluarkan opini saya kok tuan, beda jaman beda budaya bukan." Jawab rei gugup.


Jantungnya serasa berdetak kencang karena mendapat tatapan seperti itu.


'Aihh, kok aku jadi gugup begini sih. Padahal aku adalah seorang pemburu.' Batin rei merutuki dirinya sendiri.


"Masa kamu tidak pernah terpikirkan untuk membela xing sih rei. Memangnya kenapa?." Tanya mei penasaran.


Rei menatap mei dengan tatapan datarnya. "Bagaimana bisa aku membela orang yang sudah menghukumku di hari pertama kuliahku. Aku orang pertama yang di hukum olehnya di kelas saat itu lho." Jawab rei dengan ketus. Dia masih ingat bagaimana malunya dia saat itu.


"Kamu masih dendam rei?." Tanya camila.


"Bukan dendam, tapi kesalnya masih ada. Untung sekarang sudah tidak menjadi dosenku, kalau masih menjadi dosenku aku tidak tahu akan seperti apa hidupku nanti. Bisa stress gara-gara di beri nilai F, ipk ku jelek semua dong di setiap semesternya nanti." Ucap rei dengan lebaynya.


"Hey tuan rei. Memangnya salah siapa, yang membuatmu mendapatkan nilai rendah itu anda sendiri. Saya hanya memberi peringatan agar anda belajar dengan benar, anda masuk di jurusan yang bukan jurusan sembarangan ya." Sahut xing, dia menatap rei degan tajam. Seakan mengatakan jika dia tidak suka dengan perkataan rei.


"Iya nih rei, salah sendiri tidak membuat video. Padahal itu permintaan dari pihak kampus lho, bukan dari pak dosennya." Celetuk camila.


Rei hanya bisa mengaruk dahinya yang tidak gatal, mukanya memerah karena malu.


"Dia masih membuat ulah di kampus barunya?." Tanya xing sembari membersihkan tembok yang terdapat banyak debu.


"Ti.."


"Kalau itu sudah pasti kak, rei dan viagra mereka berdua aku laporin ke dosen pembimbing mereka karena bolos." Jawab zuu dengan cepat, mencegah rei untuk mengatakan sesuatu.


"Baru juga hari pertama masuk kampus baru, tapi seperti ini kelakuan kalian. Viagra kamu itu lebih tua dari mereka semua harusnya bisa menjadi contoh yang baik untuk mereka semua." Ucap xing.


Viagra yang mendapatkan teguran pun hanya bisa tersenyum kecut.


'Kok aku juga kena ceramahan sih.' Batin viagra.


"Hehe iya pak maaf.. Lagi pula tadinya saya ingin menegur rei agar dia cepat masuk. Tetapi saya malah mendapat pemandangan yang mengharukan walau hanya secuil saja, tapi sangat mengharukan." Ucap viagra sembari melirik camila dan victor.


Xing menaikkan sebelah alisnya dan melirik viagra sebentar. "Mengharukan bagaimana?." Tanya xing.


Camila dan victor saling melirik, mereka berdua bersiap menahan malu karena tahu apa yang akan di katakan oleh viagra.

__ADS_1


"Saya melihat sepasang kekasih yang tengah mengungkapkan pweerasaan masing-masing pak, bagaimana tidak mengharukan." Jawab victor dengan entengnya.


Camila dan victor hanya bisa tersenyum kecut saat tatapan seluruh orang yang ada di sana langsung tertuju kepadanya.


"Memangnya ada yang salah. Suka-suka kita dong, kalian aja yang jomblo lumutan jadi iri." Ucap camila sewot, dia menatap nyalang kepada rei dan viagra.


"Iya sih, kamu benar. Jangan takut untuk mengungkapkan perasaan kalian. Jangan sampai kalian menyesal nantinya." Ucap xing.


Victor tersenyum tipis, dia lalu mencium bibir camila sekilas hingga membuat mereka yang ada di sana memekik iri.


'Aihh.. Kenapa mereka berdua bisa seperti itu tanpa takut hukuman. Cuma ciuman bibir bukan, tidak lebih juga.' Batin mei iri.


"Kalian itu jangan terlalu mesra. Kasian ada yang iri, kalian tidak ada yang melarang. Tapi di sini ada yang harus mendapatkan hukuman berat kalau terlaku mesra seperti kalian." Ucap viagra, menyindir xing dan mei.


Mei dan xing menatap viagra dengan tajam. "Kamu itu tidak perlu seperti itu. Kamu belum merasakan hukuman seperti kita berdua. Nanti aku aduin dengan uncle dean kalau kakak sering bolos kuliah dan tidak menjaga ku dengan baik."Ancam mei.


"Kenapa kamu malah jadi tukang adu sih." Protes viagra.


Mei hanya menatap viagra dengan tatapan datarnya. "Biar kamu ngrasain bagaimana tidak enaknya di hukum." Ucap mei dengan ketus.


Mei yang sudah sangat kesal pun melesat pergi meninggalakan mereka semua. Niat hati ingin mengundang mereka ke mansion agar mereka melihat xing yang di hukum tapi malah dia yang di cueki sedari tadi. Mereka semua justru asyik berbicara dengan xing.


'Menyebalkaaann..' Teriak mei dalam hati.


"Waduh.. Kayaknya kakak ipar ngambek tuh, gara-gara kak viagra nih. Bagaimana kalau dia ternyata ngaduin kakak ke ayah kakak." Ucap jansean, menakut-nakuti viagra.


'Mampus, bisa mati berdiri aku kalau dapat hukuman dari daddy.' Batin viagra cemas.


"Jansean.." Rick menatap jansean dengan tatapan tajamnya.


Jansean hanya nyengir saja saat melihat tatapan dari rick.


'Kenapa aku memiliki saudara yang cuek bebek seperti ini sih.' Omel jansean kesal dengan rick.


...****************...


Jangan lupa dukungannya teman-teman 😘😘

__ADS_1


__ADS_2