
"Jadi, kamu mau menikah denganku." Tanya xing dengan serius.
Mei hanya menganggukan kepalanya saja. Xing yang ingin mendengar jawaban dari mulut mei pun langsung melepas pelukannya.
"Kamu mau menikah denganku tidak, kamu harus menjawabnya. Jangan hanya mengangguk saja." Xing kembali bertanya.
Mei yang mendengar itu pun hanya bisa tertawa sedikit dan mencoba menjahilinya.
"Tidak mau. Kamu sudah tua." Jawab mei dengan jahilnya.
Xing yang mendengar hal tersebut pun tidak menyukainya.
"Hey, aku tidak setua itu juga. Kita hanya beda 8 tahun saja." Protes xing.
"Tapi kan. Umur kamu sama dengan umur kakak aku. Lebih baik kita jadi saudara saja." Mei semakin menjahili xing.
"Kamu tidak mau menikah denganku karena aku sudah tua ya. Ok nanti aku akan berbicara dengan daddy kamu agar kita besok segera menikah." Ucap xing dengan serius.
'Aduhh.. Gawat. Kok malah aku yang kena.' Batin mei.
"Bukan, bukan seperti itu. Kita akan menikah tapi setelah aku lulus kuliah dulu." Mei langsung mengatakan keinginannya.
Xing menyeringai saat mendapat jawaban yang di inginkannya. "Gitu dong. Tidak usah sok jahil, pasti bakalan gagal total." Ucap xing sok meremehkan mei.
"Ish.. Menyebalkan." Gerutu mei.
Cupp
Xing tiba tiba mengecup pipi mei, "Tidak usah mengerutu seperti itu. Tadi saja nangis nangis kayak anak kecil." Ledek xing.
Mei memukul xing dengan keras, "Ishhh.. Aku kan nangis karena takut kamu meninggalkan aku... Kalau tidak cinta juga tidak bakalan takut sampai nangis segala." Cicit mei di akhir perkataannya. Mukanya semerah tomat saat mengatakan hal tersebut.
Xing mengelus elus pipi mei. "Kenapa merah seperti ini. Kamu tahu, sikap kamu yang menggemaskan ini yang membuatku semakin mencintaimu." Ucap xing dengan tulus,
Wajah mei semakin memerah, bahkan detak jantungnya berdetak sangat cepat.
'Aduuhh.. Kok makin romntis sih.. Ishh bikin jantungku deg degan saja.' Raung mei di dalam hati .
"Aku tidak menggemaskan kok. Tapi aku cantik," Ucap mei dengan gugup.
"Kamu memang cantik." Jawab xing.
'Ngak bisa ngalihin pembicaraan dong kalau begini.' Batin mei dengan kesal, menurutnya jika terlalu lama bersama xing itu sangat tidak baik bagi kesehatan jantungnya.
"Emm.. Apakah kamu tidak mengajar di kampus. Kamu sudah lama lho ada di sininya." Ucap mei berusaha intuk mengalihlan prmbicaraan lagi.
Xing tersenyum geli saat mengetahui jika mei sedang berusaha untuk mengalihkan pembicaraan. Dia bisa mendengar suara detak jantung mei yang berdetak dengan cepat.
Tapi saat mendengar tentang kampus xing jadi mengingat livia.
'Aku harus berbicara dengannya.'
__ADS_1
"Tidak ada kok. Hanya saja pejerjaanku yang lain mungkin sudah menggunung." Jawab xing acuh tak acuh.
"Pekerjaan lain." Beo mei.
"Iya. Daddy kamu memiliki rumah sakit bukan. Begitu juga denganku.."
"Kamu juga mempunyai rumah sakit." Potong mei, kelihatan sekali jika dia sangat takjub.
"Kebisaan deh suka memotong pembicaraan orang. Tentu saja tidak, aku pemilik dari salah satu perusahaan otomotif dan juga pemilik dari agensi Xentertaiment." Jawab xing dengan bangga.
"Wahh.. Jadi aku bisa masuk ke agensi kamu supaya bisa jadi artis." Tanya mei dengan antusias.
"Noo.. Kamu tidak boleh jadi artis. Nanti banyak laki laki yang melirik kamu." Jawab xing dengan dingin.
"Ishh kan keren jadi artis. Bisa tanda tangan, terus bisa fan meeting juga." Ucap mei cemberut.
"Kamu lupa sama tujuan kamu masuk ke fakultas hukum hmm.." Xing menginggatkan mei.
"Iya aku ingat kok. Tapi kamu saja bisa jadi dosen terus bisa jadi pengusaha juga. Jadi aku pasti juga akan bisa jadi artis dan pengacara juga dong."
'Pintar banget sih cari alasannya.' Batin xing, gemas sendiri dengan mei.
"Sekali tidak ya tidak. Sudah, lebih baik aku kerja saja. Nanti kamu malah tambah aneh aneh kalau aku turutin." Jawab xing dengan kesal. Dia ingin mei hanya bersamanya tanpa banyak sorotan nantinya.
"Tapi xingg.." Rengek mei.
"Tidak ada tapi tapian." Jawab xing. Dia berjalan keluar dari kamar mei.
Xing hanya diam saja dan tetap berjalan keluar, hingga mereka sampai di ruang tamu dan bertemu dengan keluarga mei.
"Tuan, nyonya. Saya ingin pamit pulang dulu, banyak pekerjaan saya yang menumpuk." Xing meminta izin kepada orang tua mei dengan sopannya.
"Tidak usah memanggil kita tuan dan nyonya. Kamu bisa memanggil kita mommy dan daddy saja, kamu kan calon suami putri saya." Ucap mommy angela dengan lembutnya.
Xing menjadi sangat senang saat mendapat lampu hinau dari mommynya xing, sedangkan mei yang mendengar hal tersebut mukanya tampak memerah.
'Calon suami.' Batin mei.
"Baiklah mom, dad. Saya akan pulang terlebih dahulu." Xing membungkukkan badanya sebentar.
Mommy angela dan julius pun menganggukan kepalanya tanda mengizinkannya.
Setelah mendapatkan izin xing melesat pulang. Sedangkan mei yang melihat itu pun langsung memanggil xing dengan keras.
"Xinggg.." Teriak mei, tapi xing sudah terlebih dahulu melesat jauh. "Ishh.."
"Tidak usah teriak deh. Mentang mentang sudah baikan dan jadian, di tinggal sedikit sudah teriak teriak kayak toa. Lebay tau." Ucap sean sewot.
"Bukan begitu, tapi aku ingin membujuk xing agar dia mau menjadikan aku artis di bawah naungan agensinya." Ucap mei. Dia tidak terima di bilang lebay oleh kakanya.
Mereka yang mendengar hal itu pun langsung menatap mei dengan tajam. "Tidak usah aneh aneh." Ucap mereka bersamaan.
__ADS_1
"Tappi.." Mei berusaha untuk protes, tapi saat melihat tatapan tajam dari seluruh keluarganya. Nyali mei mendadak ciut seketika.
'Ishh... Nyebelin.'
Mei pun memilih kembali ke kamarnya dengan perasaan dongkol. Keluarganya yang melihat hal tersebut pun hanya bisa mengelengkan kepala mereka saja.
'Dasar bocah.' Batin sean.
Sampai di kamarnya mei hanya bisa berteriak dengan kesal. "Arghhh.. Kenapa tidak di bolehinn."
***
Sedangkan xing tidak pulang seperti yang dia bilang. Dia langsung melesat menuju ke rumah livia.
Tok tok tok
Xing mengetuk rumah livia. Setelah beberapa saat livia membuka pintu rimahnya.
Dia sangat senang saat xing datang ke rumahnya, karena xing memang sudah jarang datang ke rumahnya.
"Silahkan masuk xing. Kenapa kamu tidak bilang jika kamu akan ke rumahku. Aku kan menjadi tidak bisa bersiap siap untuk menyambutmu." Ucap livia dengan senang.
"Tidak pelu. Aku ke sini hanya ingin berbicara secara pribadi denganmu." Ucap xung dengan dingin.
Livia pun menyuruh xing untuk duduk. "Kamu ingin aku buatkan apa." Tanya livia.
"Tidak perlu. Aku tidak ingin terlalu berlama lama. Banyak perkerjaan yang menungguku." Jawab xing dingin.
Livia terpaksa duduk dan memandang xing. Dia sangat bingung, tidak biasanya xing seperti ini.
'Ada apa ini.' Batin livia dengan cemas.
"Apa benar jika mei pernah datang ke rumah kamu dan meminta maaf kepadamu." Tanya xing langsung to the point.
Livia sangat terkejut saat mendapat pertanyaan itu dari xing.
'Bagaimana ini.' Livia semakin cemas.
"Dia memang pernah ke sini, tapi dia tidak pernah meminta maaf kepadaku xing. Dia justru mengancamku, bahkan dia mencekik leherku." Dia berusaha untuk memutar balikkan fakta.
Xing yang memang berusaha untuk menahan amaranya pun langsung tidak bisa menahannya. Dia sangat marah saat mendengar hal tersebut.
Sedangkan livia sangat senang saat melihat xing tampak sangat marah. Dia mengira jika xing marah karena mengetahi jika mei mengancam dan melukainya.
'Rasakan kamu mei.' Batin livia dengan senang.
***
Kok makin amburadul ya🙈🙈
Kek gini nih kalau yang bikin suasana hatinya lagi tidak bagus😑😑
__ADS_1
Jangan lupa dukungannya teman teman😘😘