Reinkarnasi Belahan Jiwa

Reinkarnasi Belahan Jiwa
117. Are You Sereously?


__ADS_3

Xing tersenyum tipis, dia tidak menyangka jika Mei menjadi sedewasa itu. Tak pernah terbayangkan olehnya jika Mei yang kekanak-kanakan, bicaranya suka ngegas dan centil, sekarang sudah dewasa.


Mei yang melihat Xing terus memandanginya di tambah dengan senyum tipis yang menghiasi wajahnya pun di buat bingung sendiri. Dia lalu menjewer telinga Xing agar Xing segera tersadar dari lamunannya.


"Aw.. Kenapa kamu menjewer ku sih." Pekik Xing yang terkejut karena di jewer oleh Mei.


"Kamunya saja yang nglamun. Pakek senyum-senyum segala, ada yang salah dengan wajah ku hah." Ucap Mei dengan sewot.


'Aku ralat deh.. Dia masih kekanak-kanakan.Tidak dewasa sama sekali.' Batin Xing kesal.


"Tapi tidak perlu jewer aku dong. Sakit tahu, tenaga kamu itu sudah kayak bison tahu." Ucap Xing datar.


Mei hanya terkikik kecil saat melihat Xing yang justru malah terlihat lucu.


"Hehe.. Maaf maaf, aku hanya gemas melihat kamu yang malah melamun seperti itu."


"Memangnya aku bayi, pakai gemas segala."


Mei memutar bola matanya dengan malas. Terkadang dia agak sedikit kesal dengan Xing yang tidak bisa di ajak bercanda sama sekali. Kaku seperti kanebo kering, giliran dia yang sedang tidak ingin bercanda tapi Xing justru malah menjahilinya habis-habisan. Hingga dia pernah berpikir jika Xing memiliki kepribadian ganda.


'Dasar nyebelin.' Batin Mei kesal.


"Xing sayang.. Sebentar lagi aku akan wisuda, jadi kamu harus kasih aku hadiah ya." Ucap Mei dengan ceria seakan tidak merasa kesal tadi.


"Kamu serius ingin mempercepat kuliah kamu. Tidak akan menyesal di kemudian hari?." Tanya Xing dengan serius.


Mei mengeryitkan dahinya saat mendengar pertanyaan aneh dari Xing.


"Aku sudah bilang jika aku sangat serius, lagi pula kuliah itu bukan untuk main-main. Memangnya kita akan hidup selamanya, hidup ini hanya sebentar. Jadi ya jangan cari masalah, jangan main-main. Jika tidak ingin menyesal ya kita harus tahu yang terbaik bagi kita." Jawab Mei dengan yakinnya.

__ADS_1


'Look, kamu sangat dewasa tapi kenapa juga kekanak-kanakan.' Batin Xing.


"So, kamu ingin hadiah apa?. Aku akan memberikan apa yang kamu inginkan, apa pun."


Mata Mei langsung berbinar-binar saat mendengar apa yang di katakan oleh Xing. Dia menatap Xing dengan tatapan bahagianya.


"Really, apa pun. Aku bisa meminta apa pun?." Tanya Mei, dia menatap Xing dengan tatapan berbinarnya.


"Ya.. Apa pun." Jawab Xing dengan mantap.


"Jika aku sudah lulus kualiah nanti. Kita akan menikah bukan.."


"Menikah.. Setelah kamu wisuda kamu ingin menikah saat itu juga gitu?." Tanya Xing memotong perkataan Mei, dia hanya ingin memastikan apa yang ada di pikirannya.


Xing menatap Mei dengan tatapan horornya, tiba-tiba dia merasakan perasaan yang kurang enak.


"Iya, aku ingin menikah tepat setelah wisuda. Memangnya ada masalah, kenapa terkejut seperti itu?."


Xing mau saja jika dia dan Mei langsung menikah tepat setelah wisuda Mei, mau banget malah. Tapi dia hanya tidak ingin pernikahan tersebut akan menghambat segala goals yang sudah di susun oleh Mei.


"No. Kita sudah pernah terpisah bahkan sebelum kita menyatakan perasaan kita masing-masing. Itu sangat menyakitkan Xing, aku hanya ingin bersama mu di hidupku saat ini. Dan tentang goals yang ingin aku capai, aku akan tetap bisa melakukannya. Kamu tidak akan pernah mengekangku, aku tahu itu. Maka dari itu aku hanya ingin kita berjalan ke arah yang sama meski different opinion. Tapi aku yakin kita akan tetap mampu mencapai itu, aku tidak pernah seyakin ini Xing." Ucap Mei dengan lembut, dia menatap Xing dengan tatapan teduhnya.


Xing berjalan ke depan Mei, lalu dia bersimpuh di depan Mei yang tengah duduk di sofa. Dia menggengam ke dua tangan Mei dan menatapnya dengan tatapan lembutnya. Keyakinan serta keseriusan tampak tersorot dengan jelas melalui tatapan Xing.


"Jika kamu sudah sangat yakin, nanti kita akan berbicara dengan kedua keluarga kita untuk mengatakan apa yang kita inginkan. Aku sangat yakin jika kelurga kita akan sangat mendukung kita. Mereka akan menjadi yang paling antusias dalam mempersiapkan pernikahan kita nanti." Ucap Xing dengan lembut.


Mei tersenyum tipis, perasaan bahagia langsung membuncah memenuhi relung hatinya. Akhirnya setelah sekian banyak rintangan dan rasa sakit yang harus dia dan Xing rasakan. Mereka akan bersatu dalam ikatan suci.


"Ya, mereka pasti akan lebih antusias dan heboh dari kita berdua. Aku tidak menyangka kita yang dulu bermusuhan setengah mati kini sebentar lagi akan menikah ya." Kekeh Mei.

__ADS_1


Xing terkekeh kecil saat menyadari fakta tersebut, pernikahan antara dirinya dan Mei adalah hal yang sangat tidak mungkin dia pikirkan akan terjadi di masa lalu. Dan kini hal tersebut sebentar lagi akan segera terealisasi. Benar-benar takdir yang aneh dan mencengangkan, dia dan Mei yang notabenenya adalah musuh bebuyutan akan segera menikah.


"Right.. Kok bisa ya kita bisa di takdirkan untuk menjadi belahan jiwa seperti ini. Aku masih ingat bagaimana tatapan mencela serta seringai jahat yang kamu tunjukkan untuk ku dulu. Kamu meski berbicara dengan centil tapi ucapan kamu sangat tajam dan tidak senonoh hingga membuatku sangat emosi." Ucap Xing seraya terkekeh kecil.


Mei melongo menatap Xing dengan tatapan tidak percayanya. "Hah.. Yang benar saja kamu sampai emosi dengan ku saat itu. Kamu terlihat sangat tenang lho. Beda dengan livia yang terlihat sangat marah, mukanya saja langsung gelap dan sangat jelek saat melihat ku. Apa lagi saat aku mulai berbicara, maka muka livia akan semakin gelap dan emosi. Tapi kamu, kamu terlihat sangat tenang tidak menunjukkan emosi sama sekali. Padahal rumor yang aku dengar, livia itu terlihat dingin dan kamu terlihat ramah. Tapi saat aku berhadapan dengan kalian berdua tapi kok malah kebalikkannya. Melihat kamu yang tidak emosi seperti livia malah membuatku kesal dan berusaha memprovokasi kamu. Tapi tetap saja kamu terlihat tenang, itu sangat menyebalkan tahu." Cerocos Mei mengatakan unek-uneknya.


Xing terperangah, menata Mei hingga tak berkedip. Dia menatap Mei dengan tatapan tidak percayanya.


'Bagaimana bisa dia berbicara sepanjang itu tanpa kehabisan nafas. Apa memang benar ya dia calon rapper yang gagal.' Batin Xing nyeleneh.


"Sudah bicaranya?."Tanya Xing dengan wajah datarnya. Mei hanya menganggukan kepalanya.


"Kamu tidak kehabisan nafas?." Tanya Xing lagi yang di balas dengan gelengan.


Xing hanya bisa menghela nafas pelan saat mendapat jawaban yang hanya berupa gelengan dan anggukan dari Mei.


'Dasar Mei.' Batin Xing.


"Tentu saja aku emosi, bagaimana bisa kamu terlihat tidak merasa bersalah setelah kamu melakukan hal sekeji itu. Kamu justru malah menggoda dan memprovokasi kita berdua saat itu. Dan livia, tentu saja dia sangat marah. Keluarganya yang jadi korban, sedangkan pelakunya malah seperti itu. Tentu saja reaksinya jauh lebih nyata dan keras. Saat itu aku hanya berusaha untuk tenang saja." Jelas Xing dengan lembut.


Mei menundukkan kepalanya, dia tidak mampu menatap mata Xing. Dia sangat menyesali perbuatannya dahulu, dia hanya bisa merutuki kebodohan yang dia lakukan.


'Bagaimana bisa aku sebrengsek itu. Sangat tidak berguna dan bodoh.' Batin Mei mencaci dirinya sendiri.


Xing yang mengelus pipi Mei dengan lembut hingga membuat Mei menatap dirinya. Terlihat jelas mata Mei yang sudah berembun.


"Tidak perlu merasa bersalah lagi, kamu sudah menebusnya. Aku hanya ingin memberitahu mu jika aku adalah makhluk yang memiliki emosi. Meski tidak terlihat, tapi aku tetap merasakan emosi. Aku masih memiliki detak jantung, jika suatu saat detak jantungku terpaksa berhenti. Masih ada kamu yang menjadi detak jantung ku. Aku harap kamu mau menjadi detak jantung ku dan cinta ku, selamanya." Ucap Xing dengan lembut.


Mei ikut bersimpuh dan langsung memeluk Xing. "Kita adalah satu. Aku akan menjadi apa pun untuk kamu selamanya." Ucap Mei lembut.

__ADS_1


...****************...


Jangan lupa dukungannya teman-teman 😘😘


__ADS_2