Reinkarnasi Belahan Jiwa

Reinkarnasi Belahan Jiwa
82. Korban Film


__ADS_3

Xing melesat menghampiri mei, meski punggungnya masih sakit karena jatuh dari atas rumah pohon.


"Tenaganya besar juga.. Sampai sesakit ini." Gumam xing.


Setelah sampai di samping mei xing langsung duduk di samping mei. "Sayang, kok malah marah sih? Memangnya salah ya?." Tanya xing dengan wajah tanpa dosanya.


Mei langsung menatap xing dengan tajam. "Kamu pikir aku pabrik anak hah?." Teriak mei dengan sinis.


"Kamu kan serigala, bukan pabrik." Ucap xing, sebenarnya dia tahu apa yang di maksud oleh mei. Tetapi dia sengaja menjahili mei, menurutnya mei yang sedang marah akan semakin menggemaskan.


Mei kembali memukul xing dengan keras. "Dasar gak peka." Ucap mei dengan marah.


"Aww.. Kamu kok mukulin aku terus sih dari tadi, sakit tahu." Ucap xing kesal.


"Kamunya yang cari gara gara tuan xing yang terhormat." Sarkas mei.


"Aihh.. Kamu itu, kamu tahu ngak. Serigala di hotel transylvenia, mereka memiliki 300 anak. Aku juga pengen tau, kan jadi rame nanti rumahnya." Ucap xing dengan senang.


Mata mei terbelalak ngeri saat mendengar apa yang di katakan oleh xing barusan. "Hey, kamu itu korban film buatan bangsa manusia ya. Kita bangsa serigala memang memiliki tenaga dan kekuatan di atas rata rata manusia, tapi ya tidak seperti itu juga. Bangsa manusia itu imajinasinya di luar nalar tahu." Ucap mei sewot. Dia benar benar tidak habis pikir dengan xing yang bisa bisanya berpikir seperti itu.


"Hehe.. Aku tahu, tapi kan lucu aja kalau punya anak sebegitu banyaknya." Kekeh xing.


Mei hanya geleng geleng kepala saja. "Xing xing, kamu itu dosen tapi bisa bodoh juga ya." Ucap mei.


"Hey.. Aku tidak bodoh, aku hanya berpikir jika memang itu terjadi pasti akan seru tahu." Protes xing tidak terima di katai bodoh oleh mei.


"Tapi itu mustahil xing, aihh.. Kamu itu ngaco lama lama, yang melahirkan aku yang sakit aku, kamu cuma enaknya saja." Ucap mei sewot.


"Memangnya kamu mau punya anak berapa nanti?."


Mei menatap xing sejenak. "Aku ingin punya anak lima saja." Ucap mei yakin.


Xing tersenyum. "Mau berapa pun kamu memiliki anak, aku akan tetap menyetujuinya. Yang mengandung adalah kamu, dan anaknya ada di dalam perut kamu. Aku tidak ingin membebanimu dengan segala tuntutan yang pada akhirnya akan membuatmu menderita." Ucap xing dengan tulus.


Mei menatap xing dengan bahagia. 'Kok malah dia jadi sweet sekali sih.'


"Trus 300 anaknya bagaimana?."


"Aku hanya bercanda sayang. Mana mungkin aku menyuruhmu memiliki anak sebanyak itu, memangnya kita mau membuat klan baru apa." Ucap xing dengan geli.


Mei langsung cemberut, "Kamu itu ya,sudah membuatku hampir serangan jantung tahu tidak. Masa mau punya akan sebanyak itu, mana sanggup aku. Bayangin saja rasanya sudah mengerikan." Sungut mei.

__ADS_1


"Maaf maaf habisnya melihatmu marah itu justru membuatmu semakin menggemaskan tahu." Ucap xing sembari mencubit pipi mei.


Wajah mei langsung merona merah saat xing mengataka jika dia sangat menggemaskan. "Ishhh.. Menyebalkan." Gumam mei.


Xing kembali tersenyum manis saat dia melihat wajah mei yang sudah sangat memerah layaknya tomat matang.


'Sangat menggemaskan.' Batin xing gemas sendiri saat melihat mei.


"Emhh.. Xing, lebih baik kita ke tempat livia yuk. Kasihan dia kamu kurung seperti itu." Ucap mei tiba tiba.


Senyum xing langsung luntur saat mei mengatakan mengenai livia. Dia sebenarnya masih sangat kesal dan marah kepadanya. "Ok, kita ke rumahnya sekarang juga." Ucap xing datar.


Mei menganggukan kepalanya, kemudian mereka berdua melesat menuju ke rumah livia. Sebenarnya mei sangat deg degan, pasalnya dia hanya bertemu dan bertatap muka langsung dengan livia hanya dua kali, dan itu tidak menyenangkan sama sekali. Dia tidak ingin melihat amarah livia kepadanya, itu sangat menyakitkan dan membuat rasa be4salah itu kembali datang dengan mudah.


'Semoga setelah ini livia kembali menjadi orang yang baik.' Batin mei penuh harap.


Tak lama kemudian mereka berdua telah sampai di rumah livia. Tampak sekali jika rumah tersebut banyak penjaganya.


Para penjaga yang melihat kedatangan xing dan mei pun langsung menghampirinya, mereka langsung membungkukkan badannya sebentar di hadapan mereka berdua.


"Apakah dia berhasil kabur?." Tanya xing langsung to the point.


"Tidak tuan, nona livia tidak bisa kabur. Dia memang berusaha untuk keluar, tetapi dia langsung terpental saat akan melakukannya. Dia juga terus berteriak ingin keluar, tapi mungkin sekarang dia sudah lelah hingga dia tidak lagi mencoba untuk kabur." Jawab seorang penjaga, dia mengatakan bagaimana livia berusaha kabur dan terus berteriak meminta di bebaskan.


"Baik tuan." Ucap mereka semua, mereka semua membungkuk kepada xing dan mei sebentar, lalu mereka melesat ke tempat masing masing.


"Kita masuk." Xing langsung mengajak mei masuk ke dalam rumah tersebut. Mereka langsung melesat mencari livia, tak lama kemudian mereka telah menemukan livia yang sedang berbaring di kamarnya.


Xing dan mei saling memandang dan mereka mengangguk. Mereka berdua memilih untuk duduk sembari menunggu livia bangun dari tidurnya.


Mereka berdua menunggu livia cukup lama hingga livia mengerjapkan mata. Dia samar samar melihat xing dan juga mei yang tengah duduk di sofa dengan xing yang memeluk pinggang mei.


"Siapa?." Gumam livia, saat dia sudah bisa melihat dengan jelas dia langsung berdiri dan menatap mereka berdua dengan tajam, terutama saat melihat mei dia menatapnya dengan sorot mata yang penuh kebencian.


'Apa apaan dia. Kenapa xing memeluk mei seperti itu, dasar ****** sialan.' Umpat livia dalam hati dengan kesal.


"Jangan menatapnya seperti itu!." Ucap xing dingin. Dia sangat tidak menyukai bagaimana livia menatap mei.


"Kenapa xing? Aku hanya menatapnya, kenapa kamu bisa semarah ini." Protes livia tidak terima dengan teguran dari xing.


"Jangan sok tidak tahu dengan apa yang saya maksud nona livia." Ucap xing dengan tajam.

__ADS_1


Mei sedikit terkejut saat xing berkata seformal itu kepada livia.


'Sepertinya dia sangat marah dengan livia.' Batin mei cemas.


"Xingg.."


Xing menatap mei dengan lembut. "Jangan coba coba sayang, tadi aku sudah mengatakannya bukan." Ucap xing dengan lembut, sangat berbanding terbalik dengan perkataannya kepada livia barusan.


Livia yang melihat pemandangan di depannya semakin marah dan cemburu. 'Kenapa harus dia terus yang di perhatikan oleh xinggg.. Harusnya aku yang dia perhatikan.' Batin livia dengan iri.


Dia sangat tidak suka dengan seluruh perhatian yang xing berikan untuk mei, menurutnya mei sangat tidak pantas mendapatkan seluruh perhatian dari xing.


Setelah mengatakan hal tersebut xing langsung berdiri melesat menuju livia, dia langsung mencekik leher livia dan mendorongnya hingga livia membentur tembok.


"Xingg.." Teriak mei, dia sangat terkejut saat xing tiba tiba mencekik livia dan mendorongnya hingga dia membentur tembok.


Xing melihat ke arah mei dan tersenyum. "Aku tidak akan menyakitinya sayang.." Ucap xing dengan lembut.


"Tapii..."


"Aku janji, kamu duduk saja." Potong xing. Mei terpaksa duduk dan melihat apa yang akan di lakukan okeh xing. Dia tahu xing tidak akan menyakiti livia.


"Akhhh.. Xingg.. Lep... Pashh.." Ucap livia terbata bata, lehernya sakit akibat cekikan dari xing.


Xing lalu melepas cekikannya dan menatap livia dengan tajam. "Jangan pernah menunjukkan tatapan seperti itu lagi kepada mei. Anda memang sudah sangat keterlaluan, anda harus mengingat peringatan yang sudah saya berikan kepada anda. Jika anda lagi lagi tidak mengindahkannya, saya tidak akan segan segan menyeretmu ke dalam hutan di puncak gunung prist." Desis xing tajam.


Mata livia terbelalak saat mendengar ancaman dari xing, dia sudah merasakan bagaimana mengerikannya serangan yang di berikan oleh roh roh pengguni hutan tersebut. "Kamu tidak akan melakukan itu kepadaku bukan?." Tanya livia, dia tidak percaya jika xing berani melakukan hal itu kepadanya.


"Cihh.. Anda pikir saya main main, jangan lupa apa yang sudah saya lakukan kepada anda. Saya masih melepaskan anda karena itu keinginan mei, jika dia tidak ingin melepaskanmu sudah saya kurung anda sampai mati di sini." Ucap xing dingin.


Tangan livia langsung terkepal menahan amarah. 'Lagi lagi mei, kenapa dia selalu saja yang di utamakan oleh xing, xing bahkan berani mengancam dan menyakitiku hanya demi dia.'


Kebenciannya terhadap mei semakin tajam dan besar. Xing yang melihat hal tersebut langsung menatap livia sangat tajam. "Jika anda benar benar menyakitinya lagi. Anda akan mendapatkan balasan yang jauh lebih menyakitkan dari saya." Desis xing.


"Aku tidak akan menyakitinya." Ucap livia dengan engan. Dia terpaksa mengatakan hal tersebut agar xing tidak menyakitinya.


'Jangan kamu pikir aku akan berhenti untuk menghancurkan hidupmu mei.' Batin livia degan penuh kebencian.


***


Bab baru telah di buat~

__ADS_1


Jangan lupa dukungannya ya😘😘


__ADS_2