
Setelah mengurus Maxsim dan menyiapkan semua kebutuhan Maxsim , Amin segera ke restoran yang di kirim oleh Ridwan di antar oleh sopir taxsi langganan Amin .
"Pak , tolong tunggu Aku di sini ya . Aku hanya sebentar ." ucap Amin kepada sopir taxsi langganan nya .
"Baik non . Anggap saja sebagai permintaan maaf saya kemarin ." ucap Pak sopir . Amin tersenyum dan segera turun dari mobil . Sebelum pergi ia mengatakan sesuatu .
"Tenang pak , saya akan tetap akan bayar sesuai tarip kok ."
Sopir taxsi melebarkan senyum nya , ada rasa haru dan bahagia punya langganan seperti Amin .
"terimakasih banyak mbak ." ucap sopir
"sama sama pak . Sebelum benar benar pergi amin melihat penampilan nya , dompet dan ponsel juga telah ada di dalam tasnya . Baru amin melangkah masuk ke dalam restoran .
"Nona Aminah ?." sapa seorang pelayan yang mungkin sudah di tugaskan oleh Rojak untuk menunggunya di pintu masuk restoran .
"Benar , saya sendiri ." jawab Amin .
"Kalau begitu mari ikuti saya nona ." ucap pelayan itu lalu melangkah di depan Amin menuju ke lantai dua , di sana rojak tidak datang seorang diri di sampingnya duduk seorang wanita . Amin menyaksikan dari postur tubuhnya ia tau kalau dia istrinya Rojak , sempat Amin menghentikan langkah kakinya kalau ingat dengan silvia .
""Sebenarnya apa yang ingin mereka bicarakan .? Batin Amin . Mengingat sekarang hubungan nya dengan Silvia tidak lah sebaik dulu . Sehingga Amin pertanyakan akan keberadaan wanita itu di pertemuan kali ini bersama paman Rojak .
"Aminah , kamu sudah datang ." sapa Rojak yang langsung berdiri menghampirinya dan segera mengajak Amin duduk bersama .
"Maaf paman , saya tadi sedikit sibuk di rumah . Sehingga datang sedikit terlambat .? Basa basi Amin .
"tidak apa apa kami juga baru saja sampai ."ucap Rojak sambil menarikan kursi untuk Amin agar duduk lebih dulu .
"Kamu mau makan apa ." tanya Rojak
"Tidak perlu paman ,tadi saya dari rumah sudah makan , terimakasih ." ucap Amin .
__ADS_1
"Baiklah setidak nya pesanlah minuman ." ucap Rojak . Amin juga merasa tidak enak untuk menolak terus menerus .
"Jus mangga saja " jawab Amin .
"Jus mangga , baik ." Rojak langsung memanggil pelayan untuk mengambilkan jus mangga pesanan Amin .
"Cepat ya ngak pakai lama ."Sambil menunggu jus pesanan Amin Rojak mulai basa basi dengan Amin .
"Paman dengar dengar sekarang kamu bekerja di perusahaan menteng group . Sebagai sekretaris presdir apa benar itu " tanya Rojak
"Ya kira kira hampir satu bulan ." jawab Amin . Rojak manggut manggut mendengarnya , beda dengan Silvia yang sudah tidak sabar dan langsung menyela .
"kenapa pakai basa basi segala , langsung saja katakan apa tujuan mu panggil dia datang ke sini ." ucap Silvia .
Rojak melotot pada silvia ." kamu bicara apa , bisa tidak diam saja ."
"Paman , sebenarnya ada apa , katakan saja langsung kenapa paman ingin bertemu di sini ." jujur saja amin juga lebih suka to the point ,ia tidak ingin berbelit belit .
"Jika kamu tidak mau bicara biar aku yang mengatakan nya ." ucap Silvia .
"Silahkan saja bini katakan ." ucap Amin .
"Huh tidak usah kamu sok akrap , semua masalah ini juga gara gara kamu ."ucap Silvia dengan tatapan sinis .
Amin tidak mengerti dengan ucapan Silvia ." Bibi , Apa maksud ucapan bibi . Saya tidak melakukan apa pun ,bahkan saya juga tidak tau masalah apa yang yang bibi katakan ."
"Cihh..Ternyata selama ini aku tidak salah menilai kamu . Benar benar musang berbulu domba . Sudah seperti ini juga masih belum mau mengaku ." Silvia melempar sebuah berkas ke depan Amin .
"Jangan kamu bilang ,kamu tidak tau tentang kerja sama menteng gruop dan Rojak kontruksi . Kerja sama ini sudah mendapatkan titik final dan sebentar lagi sudah akan di sepakati. Tapi karena kamu semua jadi sia sia." gertak Silvia.
" Tapi saya tidak ada hubungan nya ,dan memang saya tidak tau ,kenapa bibi menyalahkan saya ." amin mencoba membela diri . Tapi Silvia tambah semakin marah .
__ADS_1
"Kalau bukan kamu , lalu siapa lagi? Kamu kan yang telah membujuk presdir King untuk membatalkan kerja sama ini ? Kamu menggodanya dengan tubuhmu . Kamu wanita kotor , wanita licik yang mengunakan segala cara untuk menghancurkan Rojak kontruksi ." suara Silvia sangat keras hingga mengundang perhatian pengunjung yang ada di lantai dua .
Hingga semua.orang mengarahkan pandangannya kepada mereka . Dan orang orang mulai berbisik bisik mengatakan sesuatu yang buruk tentang Amin . Amin hanya bisa menundukan kepala nya .
Rojak berusaha menahan Silvia agar tidak bicara lagi . " Apa yang kamu katakan . Bukan nya kamu sudah berjanji tidak akan bicara berlebihan .kamu benar benar keterlaluan ." ucap Rojak
Silvia mendengus sambil ngedumel ."Aku mengatakan yang sebenarnya ." Rojak terpaksa minta maaf atas nama Silvia .
"Aminah , maaf kan bibimu ya , jangan masukan ke hati apa yang barusan dia katakan ."
Amin menarik nafas panjang ." tidak apa apa paman . Tapi untuk bibi aku benar benar tidak tau menahu tentang keputusan kerja sama itu , jadi jangan pernah bibi menuduh saya , dengan kata kata dan tuduhan yang tidak pernah saya lakukan . Semua tuduhan bibi tidak benar ."
"Tidak benar ." Silvia mencibir .
"Itu semua adalah fakta kalau kamu wanita tidak baik baik . Mana ada wanita baik baik yang memiliki anak tapi tidak tau siapa Ayahnya ." Amin tersentak dan menatap silvia .
" Kerja sama antara menteng group dan Rojak kontruksi kamu harus bertanggung jawab untuk mengembalikan nya ." tambah Silvia .
Rojak melihat kemarahan yang di tahan oleh Amin di sorot matanya .Rojak segera berdiri dan mengusir istrinya ." sebaiknya kamu keluar terlebih dahulu , masalah ini biar aku dan Amin yang menyelesaikan nya .
"Tidak mau ..
"keluar ? ..
"Ak.." kalimat silvia terhenti saat melihat tatapan tajam Rojak . Sejak tau apa yang terjadi antara Ayahnya terhadap keluarga menteng Rojak berhenti menjadi laki laki yang sangat menghormati wanita dan selalu setia pada silvia walau selisih umurnya sangat jauh .
Dengan enggan silvia mengambil.tasnya dan berdiri dari tempat duduknya , kaki silvia melangkah satu langkah dia berhenti dan mengatakan kepada Amin .
"Keluarga Rojak sudah sangat baik kepadamu, Beasiswa kamu keluar negri kalau bukan karena bantuan kami.kamu tidak bisa mendapatkan nya , dan tidak akan pernah bisa kuliah sampai luar negri .kamu pikir , pintar saja sudah cukup . Itu semua karena Papanya Ridwan yang mengajukan langsung ke pihak kampus , sebelum kamu berangkat keluar negri . Swtidak nya kamu tau diri ,bagaimana caranya untuk balas budi ."
Amin termenung dengan ucapan Silvia , ya ia tau semua itu memang tidak akan bisa ia pungkiri ,akan bantuan Rojak saat itu . Juga karena alasan itu Amin mau menemui Rojak di restoran itu . Juga karena alasan itu Aminah menahan Amarah dengan segala kata kata Silvia .
__ADS_1