
"Wanita tuan muda ." amin mengerutkan alisnya mendengar ucapan bibi idah .
"Ini pasti ada yang salah paham , aku dan presdir king tidak ada hubungan apa apa ." ucap Amin .
"Nona tidak usah malu dan sungkan . Karena ini yang pertama kalinya tuan muda membawa pulang seorang wanita ke villa . Bahkan sampai membawanya masuk ke kamar pribadinya . Ini bahkan belum pernah terjadi sebelumnya . Nona adalah wanita pertama ."jelas bibi idah .
..."Wanita pertama ."...
Sekali lagi ucapan bibi idah membuat Amin tertegun .lalu ia memberanikan diri untuk bertanya kepada bibi Idah.
"Apakah semalam presdir king juga tidur di kamar ini ." tanya Amin .
"Ya ..tuan muda semalam juga tidur di kamar ini , apa ada yang salah dengan hal itu Nona ." tanya bibi Idah sedikit heran dan binggung .
Amin tidak mengatakan apa pun . Tapi banyak hal yang seliweran di otak nya . Semalam Amin bermimpi memeluk seorang pria dengan erat , dan tidak mau melepaskan nya . Bahkan tidak hanya sampai di situ , ia dengan berani nya mencium bibir pria itu . Tapi dia kini menjadi ragu .
" itu mimpi atau kenyataan .? Benar mimpikan ." amin menghibur diri sendiri .
Sementara di lantai bawah King sedang duduk di meja makan dengan santai dan tenang menikmati sarapan nya .
Begitu tenang dan elegan siapa saja yang melihatnya pasti terpesona . Dengan ketampanan nya .
Bibi idah baru saja turun dari lantai dua dan segera mendekati King melaporkan semua yang terjadi .
"Tuan Nona Amin sudah bangun , sekarang dia sedang mandi , mungkin sebentar lagi dia akan turun ." ucap Bi idah .
Benar tidak selang lama , terdengar langkah kaki menuruni tangga , dan dia tidak lain adalah Amin . Amin turun dengan pakaian terusan yang tampak sempurna di tubuhnya . Dia menuruni tangga dengan kaki jenjangnya dan berjalan menuju meja makan .
"cepat sarapan dan berangkat ke kantor ." ucap King datar .
__ADS_1
Seperti tidak bisa menolak , Amin segera duduk di kursi sebrang meja yang berhadapan dengan King . Dia segera meraih piring dan mengisi sarapan segera memakan nya . Tapi tanpa sengaja tatapan nya tertuju pada bibir king yang merah seperti di gigit serangga .
Amin kembali mengingat mimpinya , dan langsung menundukkan kepalanya ." oh tidak , benar ini bukan mimpi ."
Setelah sarapan Amin segera mengikuti King je kantor . Karena waktu sudah hampir terlambat terpaksa Amin tidak ada pilihan lain selain berangkat satu mobil dengan King .
Mereka berdua duduk di belakang . Seperti Biasa Haris yang menjadi sopirnya . Tapi hari ini terasa berbeda , hanya ada suasana kecanggungan tak ada suara yang keluar dari mulut mereka .
"Nona Amin , kemarin kamu menjatuhkan ponselmu di mobil. Kamu periksa dulu mungkin ada maslah dengan layarnya ." Haris memecah keheningan , dan mengeluarkan ponsel Amin dari dasboard mobil dan ia berikan kepada Amin .
"Terima kasih , asisten Haris ."
Amin meraih ponselnya dari Haris , pantas ia mencari carinya di tas tidak ada ternyata ia menjatuhkan nya di mobil .mungkin pada saat perjalanan pulang dan ia tidak sadarkan diri .
Hal pertama yang Amin lakukan adalah menghubungi bi indah . Semalam ia tidak pulang jelas akan membuat bibi indah khawatir . Terlebih dengan putranya , kesulitan bagaimana yang di alami bibi indah yang di sebabkan oleh putranya .
Amin melihat layar ponselnya , Ponsel bibi indah tidak bisa menjangkau mungkin sinyalnya yang jelek , dia audah menelpon berulang kali , akhirnya Amin memutuskan unyuk.mengirim pesan .
"Haihhh ..aku jadi merasa sangat bersalah dan merepotkan bibi indah , saat pulang nanti aku harus membelikan dia sesuatu ." gumam Amin dalam hati . Sambil menutup ponselnya .
Amin tidak menyadari bila gerak geriknya sejak tadi di perhatikan oleh King . Semenjak ia mencoba melakukan panggilan dan mengirim pesan . Ekspresi wajah pria itu berubah menjadi kesal . Tapi ketika Amin mengangkat wajahnya ia segera mengalihkan tatapan nya ke lain tempat
Amin menyipitkan mata nya melihat sikap King . Perhatian nya tertuju kembali pada bibir pria itu .
"Apa itu sungguh bukan mimpi ?."
Beberapa kali Amin menarik nafas dalam , ia memberanikan diri untuk bertanya ." Presdir king , ada apa dengan bibir anda ? ."
King menaikan alisnya ." sungguh , kamu tidak tau , kenapa dengan bibir aku ." King balik bertanya .
__ADS_1
"Sa..saya sungguh tidak tau , karena itu saya bertanya ." ucap Amin sambil memalingkan wajahnya .
"Karena kamu tidak tau dan ingin tau kenapa , maka aku akan menunjukan dan memberi tau kamu ." ucap King .vt
"Ha , menunjukan ."? Belum sempat Amin memahami kata kata King . King sudah menyambar bibir Amin dan ********** dengan lembut . Ia kembali merasakan bibir mungil Amin pjyang telah menjadi candu baginya
setelah ciuman singkat itu .king mengigit bibir Amin hingga wanita itu meringis .
"Apa sekarang sudah tau ." tanya King sambil mengusap sudut bibirnya dengan jempolnya .
Amin seperti baru saja mendapatkan kesadaran nya . Dia dengan cepat mengusap bibirnya dan kembali membuang pandangan nya keluar jendela .
Haris yang duduk di kursi kemudi.hanya bisa memasang kaca mata.kuda dan fokus menyetir dan jalanan di depan nya . Walau terkadang sebenarnya ada rasa penasaran yang datang tanpa di undang . Dan Haris mencoba untuk tidak mengintip apa yang terjadi , dan apa yang di lakukan oleh dua manusia di kursi belakang sana .
suasana kembali hening , tiga puluh menit kemudian mereka hampir sampai di perusahaan tiba tiba Amin menghentikan mobilnya .
" Asisten Haris , bisa berhenti di sini ." ucap Amin .
"Nona Amin , kenapa kamu turun di sini ?. Masih ada satu persimpangan lagi , kita baru sampai di perusahaan ."tanya Haris heran . tapi tetap menepikan mobilnya dan berhenti di bahu jalan .
"Saya ada barang yang ingin saya beli , jadi Asisten Haris antar presdir king ke perusahaan dulu ." ucap Amin sambil turun dari mobil , lalu jalan menuju ke toko optik yang ada di sebrang jalan .
Karena ia telah menghilangkan kacamatanya , entah ketinggalan di rooftop atau jatuh di mana ia lupa , yang jelas Amin merasa ada yang kurang jika tidak memakai kacamata .
Selain ingin membeli barang , Amin juga punya alasan lain . Yaitu tidak mau datang ke kantor naik mobil King . Iya tidak mau akan ada gosip lagi untuk jilid kedua .
Meskipun ia tidak akan ambil pusing dengan orang orang yang suka bergosip tentangnya . Tapi itu akan menjadi masalah , sebagai sekretaris presdir King , tak jarang ia harus berhubungan dengan berbagai departemen yang ada di perusahaan .
Setelah selesai membeli kacamata dan berjalan kurang lebih seratus kilo meter . Amin sampai juga di perusahaan , baru saja ia menapak kan kakinya di pelataran kantor dari kejauhan ia telah melihat banyak karyawan berkumpul di lobby sedang membicarakan sesuatu .
__ADS_1