REY (ISTRI KEMBAR CEO  1 )

REY (ISTRI KEMBAR CEO 1 )
108 Dari mata


__ADS_3

Pimpinan rombongan itu berhenti lima langkah di depan Maxsim dan bibi indah .ia menelisik bocah kecil itu dari atas hingga bawah sampai keningnya berkerut .


Bibi indah melihat rombongan itu dengan rasa takut , dengan segera ia menarik tangan Maxsim untuk segera menjauh . Walau sudah menjauh mata King tidak bisa lepas dari sosok Maxsim .


"Tuan bukankah dia anak kecil yang menumpahkan es krim di sepatu Tuan waktu di kedai es krim ." ucap Haris mengingatkan King .


King menarik pandangan nya lurus kedepan ." Benarkah ."


"Benar Tuan , dia anak yang sama ."


King semakin mengerutkan keningnya ,entah kenapa ada perasaan akrab dan familiar dengan anak laki laki itu .


"Presdir King kebetulan anda sudah kembali , ini hasil dari pemeriksaan Nona Amin . " ucap Asisten Dokter yang menangani Amin . Kebetulan mereka bertemu di lorong rumah sakit . Dan tidak begitu banyak orang . Asisten Dokter segera menghampiri King .


King mengalihkan pikiran nya dari anak laki laki itu dan menerima kertas hasil laporan pemeriksaan milik Amin . Ia segera melihat hasilnya .


"Apa dia sudah boleh pulang ." tanya King setelah diam beberapa saat .


Asisten dokter diam merenung sejenak ." Boleh , kami akan segera mengurusnya , sekitar satu jam lagi Nona Amin sudah boleh pulang ." ucap asisten dokter .


"Lebih cepat lebih baik ." ucap King sambil menyimpan hasil pemeriksaan Amin dan tidak lama.kemudian ia langsung masuk ke ruangan Amin .


 "Bersiaplah setengah jam lagi kamu sudah boleh pulang ." ucap Amin


Saat king masuk ke dalam ruangan Amin . Amin sedang bercermin melihat perban yang melingkari keningnya . Ia terkejut mendengar suara King yang telah berada di ruangan nya , ia hampir terlonjak .


"Sudah boleh pulang ?." gumam Amin .


King melirik kepada Haris yang berdiri.di ambang pintu ." Siapkan mobilnya dan tunggu di bawah ."


"Baik Tuan ." jawab Haris .


Amin sejak kemarin ia tidak turun ranjang . Sekarang ia akan turun dari ranjang karena ini pertama kali turun dan langsung berdiri . karena kepalanya yang masih berdeyut dia hampir jatuh dan tersungkur .


Dengan cekatan King meraih tangan amin dan membawanya ke dalam pelukannya .


"Kamu mau kemana .?


"ka ..kamar mandi ." ucap Amin sambil menunjuk salah satu pintu kamar mandi yang sedikit terbuka

__ADS_1


King menatap pintu kamar mandi , sejurus kemudian muncul lengkungan senyum di wajahnya .


" Ayo ,akan aku temani ." ucap King langsung membopong badan Amin .


"Ehh .." mata Amin membulat saat sampai depan pintu tangan nya berpegangan daun pintu .


"Cukup sampai sini saja , turun kan aku ." ucap Amin . King diam menatap mata Amin lekat .


"Presdir King , sampai di sini saja , aku bisa sendiri , kamu tunggu di sini saja ." ucap Amin menyadarkan King .


"Kamu yakin tidak membutuhkan bantuan ku . Berdiri saja kamu tidak bisa , jadi biar aku bantu ." ucap King sambil menurunkan Amin dari bopongan nya .


"Tidak perlu , aku bisa sendiri ." ucap Amin dan langsung masuk ke dalam kamar mandi dan menutup pintunya dengan cepat .


Sikap panik Amin yang seperti itu benar benar menarik di mata king . Pria itu kembali mengulum senyumnya di antara bibir nya .


Seperti seorang ABG yang sedang jatuh cinta ,di dalam hatinya berdendang sambil menyandarkan badan nya di dinding .


Matamu melemahkanku saat pertama tama kali ku lihatmu


Dan jujur , ku tak pernah merasa ku tak pernah merasa begini .


Kar'na apa yang kurasa ini tak biasa


Jika benar ini cinta , mulai dari mana , Oh darimana .


Dari matamu ,matamu , ku jatuh cinta


Ku melihat melihat ada bayangannya


Dari mata ,kau buatku jatuh


Jatuh , terus jatuh ke hati .


***


Tidak jauh berbeda dengan Amin yang masuk ke kamar mandi ia langsung bersandar di dinding , ia memikirkan ucapan King yang begitu sembrono tanpa di filter dulu . Benar benar tidak masuk akal seorang King samudra yang dingin dan arogan mampu mengucapkan kata kata yang begitu Ambigo .


Amin merasa dirinya tak selemah itu , sampai sampai mandi juga harus di bantu , terlebih bagaimana bisa seorang pria tanpa ikatan mengatakan itu semua dengan enteng .

__ADS_1


Amin mendengus kesal dan melangkah menuju ke sower mulai membasuh tubuhnya . Sepuluh menit kemudian Amin telah selesai mandi. Tapi ia lupa kalau ia tidak mempunyai baju ganti .


Dengan membalut badan nya dengan handuk amin mendekat ke pintu , tanpa membuka pintu ia memanggil king .


"presdir King , apa kamu masih di sana ." panggil Amin tapi tak ada jawaban .Amin mondar mandir gelisah di kamar mandi . Lima menit kemudian terdengar suara pintu di ketuk .


Tok ..tok..tok


Dengan ragu ragu Amin membuka sedikit pintu untuk mengintip . Ternyata King menyodorkan sebuah paper bag berisi baju untuknya .


" Sungguh perhatian sekali , aku belum mengatakan apa yang aku butuhkan ,dia sudah menyiapkan nya untuk ku . Andai aku masih singel mungkin aku akan meleleh , tapi ahh sudah lah ." gumam Amin .


Amin segera memakai bajunya , tiga menit kemudian amin keluar dari kamar mandi .ekspresi wajahnya berubah datar melihat King sudah berdiri di depan nya dengan sebuah kursi roda .


"presdir king ...


"Duduk ." ucap King memerintah bahkan tidak memberinya kesempatan untuk protes . Suara bariton nya seperti tidak mau di bantah .


Amin melirik ke beberapa arah . Karena tatapan mata King padanya semakin tajam .


"Mau duduk atau gendong ..


"Du...duduk ."potong Amin yang langsung duduk di kursi roda .


"Sudah duduk ."


"hemm ..pinter ." puji King sambil tersenyum dan mendorong kursi roda amin keluar meninggalkan bangsal . Di depan pintu mereka berpapasan dengan petugas kebersihan . Tak lama kemudian petugas itu berlari mendekatinya .


"Tuan , anda meninggalkan sesuatu ." ucap petugas kebersihan itu . Dan menyodorkan sebuah sapu tangan . King menerimanya dan mengucapkan terimakasih . Saat akan menyerahkan sapu tangan itu kepada Amin .ia melihat ada gambar leon dan tulisan nama Maxsim .muncul banyak pertanyaan di benak King .


"Barang apa yang tertinggal ." tanya Amin sambil menoleh penasaran menatap King . King hanya tersenyum segera menyimpan sapu tangan nya ke dalam saku jasnya .


"Tidak penting , kita kembali ke Villa sekarang ." jawab King . Amin juga hanya mengendikan bahu acuh tak acuh . Mereka berdua turun ke bawah sampai ke lobby rumah sakit masih memakai kursi roda .


"Yang terluka bukan kaki aku , tapi kening dan pergelangan tangan aku , tapi kenapa kulkas dingin ini , memaksa aku duduk di kursi roda . Aneh kan ." batin Amin frustasi .


Malu dan risih karena banyak pasang mata yang menatapnya penuh dengan tanda tanya .karena kakinya baik baik saja masih juga pakai kursi roda . Mungkin biasa biasa saja kalau kakinya terluka . Tapi saat ini kakinya baik baik saja tanpa luka .


"Kenapa hanya diam saja ? Apa tidak ingin pulang ." suara King membuyarkan lamunan Amin . Amin segera masuk ke mobil tanpa bicara .

__ADS_1


__ADS_2