
Pimpinan rombongan itu berhenti lima langkah di depan Maxsim dan bibi indah .ia menelisik bocah kecil itu dari atas hingga bawah sampai keningnya berkerut .
Bibi indah melihat rombongan itu dengan rasa takut , dengan segera ia menarik tangan Maxsim untuk segera menjauh . Walau sudah menjauh mata King tidak bisa lepas dari sosok Maxsim .
"Tuan bukankah dia anak kecil yang menumpahkan es krim di sepatu Tuan waktu di kedai es krim ." ucap Haris mengingatkan King .
King menarik pandangan nya lurus kedepan ." Benarkah ."
"Benar Tuan , dia anak yang sama ."
King semakin mengerutkan keningnya ,entah kenapa ada perasaan akrab dan familiar dengan anak laki laki itu .
"Presdir King kebetulan anda sudah kembali , ini hasil dari pemeriksaan Nona Amin . " ucap Asisten Dokter yang menangani Amin . Kebetulan mereka bertemu di lorong rumah sakit . Dan tidak begitu banyak orang . Asisten Dokter segera menghampiri King .
King mengalihkan pikiran nya dari anak laki laki itu dan menerima kertas hasil laporan pemeriksaan milik Amin . Ia segera melihat hasilnya .
"Apa dia sudah boleh pulang ." tanya King setelah diam beberapa saat .
Asisten dokter diam merenung sejenak ." Boleh , kami akan segera mengurusnya , sekitar satu jam lagi Nona Amin sudah boleh pulang ." ucap asisten dokter .
"Lebih cepat lebih baik ." ucap King sambil menyimpan hasil pemeriksaan Amin dan tidak lama.kemudian ia langsung masuk ke ruangan Amin .
"Bersiaplah setengah jam lagi kamu sudah boleh pulang ." ucap Amin
Saat king masuk ke dalam ruangan Amin . Amin sedang bercermin melihat perban yang melingkari keningnya . Ia terkejut mendengar suara King yang telah berada di ruangan nya , ia hampir terlonjak .
"Sudah boleh pulang ?." gumam Amin .
King melirik kepada Haris yang berdiri.di ambang pintu ." Siapkan mobilnya dan tunggu di bawah ."
"Baik Tuan ." jawab Haris .
Amin sejak kemarin ia tidak turun ranjang . Sekarang ia akan turun dari ranjang karena ini pertama kali turun dan langsung berdiri . karena kepalanya yang masih berdeyut dia hampir jatuh dan tersungkur .
Dengan cekatan King meraih tangan amin dan membawanya ke dalam pelukannya .
"Kamu mau kemana .?
"ka ..kamar mandi ." ucap Amin sambil menunjuk salah satu pintu kamar mandi yang sedikit terbuka
__ADS_1
King menatap pintu kamar mandi , sejurus kemudian muncul lengkungan senyum di wajahnya .
" Ayo ,akan aku temani ." ucap King langsung membopong badan Amin .
"Ehh .." mata Amin membulat saat sampai depan pintu tangan nya berpegangan daun pintu .
"Cukup sampai sini saja , turun kan aku ." ucap Amin . King diam menatap mata Amin lekat .
"Presdir King , sampai di sini saja , aku bisa sendiri , kamu tunggu di sini saja ." ucap Amin menyadarkan King .
"Kamu yakin tidak membutuhkan bantuan ku . Berdiri saja kamu tidak bisa , jadi biar aku bantu ." ucap King sambil menurunkan Amin dari bopongan nya .
"Tidak perlu , aku bisa sendiri ." ucap Amin dan langsung masuk ke dalam kamar mandi dan menutup pintunya dengan cepat .
Sikap panik Amin yang seperti itu benar benar menarik di mata king . Pria itu kembali mengulum senyumnya di antara bibir nya .
Seperti seorang ABG yang sedang jatuh cinta ,di dalam hatinya berdendang sambil menyandarkan badan nya di dinding .
Matamu melemahkanku saat pertama tama kali ku lihatmu
Dan jujur , ku tak pernah merasa ku tak pernah merasa begini .
Kar'na apa yang kurasa ini tak biasa
Jika benar ini cinta , mulai dari mana , Oh darimana .
Dari matamu ,matamu , ku jatuh cinta
Ku melihat melihat ada bayangannya
Dari mata ,kau buatku jatuh
Jatuh , terus jatuh ke hati .
***
Tidak jauh berbeda dengan Amin yang masuk ke kamar mandi ia langsung bersandar di dinding , ia memikirkan ucapan King yang begitu sembrono tanpa di filter dulu . Benar benar tidak masuk akal seorang King samudra yang dingin dan arogan mampu mengucapkan kata kata yang begitu Ambigo .
Amin merasa dirinya tak selemah itu , sampai sampai mandi juga harus di bantu , terlebih bagaimana bisa seorang pria tanpa ikatan mengatakan itu semua dengan enteng .
__ADS_1
Amin mendengus kesal dan melangkah menuju ke sower mulai membasuh tubuhnya . Sepuluh menit kemudian Amin telah selesai mandi. Tapi ia lupa kalau ia tidak mempunyai baju ganti .
Dengan membalut badan nya dengan handuk amin mendekat ke pintu , tanpa membuka pintu ia memanggil king .
"presdir King , apa kamu masih di sana ." panggil Amin tapi tak ada jawaban .Amin mondar mandir gelisah di kamar mandi . Lima menit kemudian terdengar suara pintu di ketuk .
Tok ..tok..tok
Dengan ragu ragu Amin membuka sedikit pintu untuk mengintip . Ternyata King menyodorkan sebuah paper bag berisi baju untuknya .
" Sungguh perhatian sekali , aku belum mengatakan apa yang aku butuhkan ,dia sudah menyiapkan nya untuk ku . Andai aku masih singel mungkin aku akan meleleh , tapi ahh sudah lah ." gumam Amin .
Amin segera memakai bajunya , tiga menit kemudian amin keluar dari kamar mandi .ekspresi wajahnya berubah datar melihat King sudah berdiri di depan nya dengan sebuah kursi roda .
"presdir king ...
"Duduk ." ucap King memerintah bahkan tidak memberinya kesempatan untuk protes . Suara bariton nya seperti tidak mau di bantah .
Amin melirik ke beberapa arah . Karena tatapan mata King padanya semakin tajam .
"Mau duduk atau gendong ..
"Du...duduk ."potong Amin yang langsung duduk di kursi roda .
"Sudah duduk ."
"hemm ..pinter ." puji King sambil tersenyum dan mendorong kursi roda amin keluar meninggalkan bangsal . Di depan pintu mereka berpapasan dengan petugas kebersihan . Tak lama kemudian petugas itu berlari mendekatinya .
"Tuan , anda meninggalkan sesuatu ." ucap petugas kebersihan itu . Dan menyodorkan sebuah sapu tangan . King menerimanya dan mengucapkan terimakasih . Saat akan menyerahkan sapu tangan itu kepada Amin .ia melihat ada gambar leon dan tulisan nama Maxsim .muncul banyak pertanyaan di benak King .
"Barang apa yang tertinggal ." tanya Amin sambil menoleh penasaran menatap King . King hanya tersenyum segera menyimpan sapu tangan nya ke dalam saku jasnya .
"Tidak penting , kita kembali ke Villa sekarang ." jawab King . Amin juga hanya mengendikan bahu acuh tak acuh . Mereka berdua turun ke bawah sampai ke lobby rumah sakit masih memakai kursi roda .
"Yang terluka bukan kaki aku , tapi kening dan pergelangan tangan aku , tapi kenapa kulkas dingin ini , memaksa aku duduk di kursi roda . Aneh kan ." batin Amin frustasi .
Malu dan risih karena banyak pasang mata yang menatapnya penuh dengan tanda tanya .karena kakinya baik baik saja masih juga pakai kursi roda . Mungkin biasa biasa saja kalau kakinya terluka . Tapi saat ini kakinya baik baik saja tanpa luka .
"Kenapa hanya diam saja ? Apa tidak ingin pulang ." suara King membuyarkan lamunan Amin . Amin segera masuk ke mobil tanpa bicara .
__ADS_1