
Waktu berjalan dengan cepat sesuai permintaan King , jam pulang telah tiba , Amin masih menunggu King di ruangan .sampai Haris datang menjemputnya .
"Nona Amin , mari kita pergi , Tuan king akan segera menyusul ." ucap Haris .
Amin membereskan barang barangnya kemudian pergi mengikuti Haris . Sambil berjalan Amin lalu bertanya pada Haris .tentang masalah kerugian dan kerumitan masalah yang di hadapi oleh perusahaan .
"Asisten haris apa masalah kali ini benar benar sangat serius .".
Haris tidak langsung menjawab pertanyaan Amin ,tapi ia menekan tombol pintu lift dan mempersilahkan Amin untuk masuk terlebih dahulu kemudian menekan tombol tutup untuk pintu lift tertutup .
"Maaf Nona tapi ini saya tidak bisa mengatakan nya ."ucap Haris .
"Apa itu yang presdir King katakan padamu ." tebak Amin .
"Ya , tapi Nona tidak perlu memikirkan tentang perusahaan , menteng group lebih kuat dari apa yang Nona bayangkan ." setelah itu Haris diam tidak bicara lagi .
Amin menatap pantulan nya dirinya di dinding lift ." tidak perlu memikirkannya ?, bagaimana mungkin ? ."
Sesampainya di parkiran haris dan Amin menunggu di dalam mobil . Tapi sejak masuk ke dalam mobil Haris tidak ada bicara dia tetap lurus memandang ke depan .
"Asisten Haris ." Amin ingin bertanya tentang pertemuan para pemegang saham . Tapi pada saat itu ia melihat King yang datang menuju ke mobil . Wajah pria itu kelihatan sangat serius seperti di landa masalah yang sangat berat .
"Haris , kita pulang ke villa ." ucap King yang langsung duduk di samping Amin .
Amin tidak bisa menolak pastinya tidak berani protes . Bahkan bicara atau sekedar mengangkat wajahnya pun tidak berani . Pada akhirnya ia ikut kembali dengan king ke Villa .
Tiga puluh menit kemudian mereka sudah sampai di Villa .
"Tuan anda sudah kembali ." sapa bibi Idah yang kebetulan ada di depan langsung menyambut kedatangan King , Bibi Idah tidak menyadari keberadaan Amin , saat matanya menangkap bayangan Amin bibi Idah langsung menyapanya ." Nona Amin selamat datang kembali ."
Amin ingin menjawab sapaan Bibi Idah , tapi keburu tangan nya di saut oleh King dan langsung di bawa ke lantai dua .
"Presdir King , kamu....
Amin belum sempat menyelesaikan ucapan nya , king sudah menutup pintu kamarnya dan mengambil kuncinya . Raut wajah Amin seketika berubah , dan menjadi waspada .
__ADS_1
"Bagaimana ? Apa kamu sudah memikirkan nya kembali .? ." tanya king kepada Amin . Ini adalah pertama kalinya King menginginkan seorang wanita . Terlepas dari kejadian empat tahun yang lalu yang menjadi tanda tanya dalam hidupnya .
Amin tertegun karena ia tidak percaya jika King masih menunggu jawaban dari nya .padahal jawaban nya siang tadi sudah cukup jelas .apa dirinya masih harus menjawab .?
"Aku...
Terlalu lama Amin untuk menjawab King langsung mempertemukan bibirnya dengan bibir Amin . Amin terkejut dan berusaha mendorong dada King . Tapi semakin kuat ia mendorong King semakin rakus menggerakkan bibirnya .
Amin kesulitan bernafas , ia memukul dada King agar melepaskan nya . Tapi King seolah tidak mengerti dan ia tetap tak bergeming melanjutkan aksinya .
Lima menit kemudian King baru menarik wajahnya dan menatap wajah Amin . Amin berusaha mengatur nafasnya , sepersetujuan detik baru ia menguasai kesadaran nya .
Amin langsung menjauh dari King dan menyilangkan kan kedua tangan nya di depan dada ." presdir King , kamu keterlaluan ." ucap Amin .
"Keterlaluan ."King menaikan alisnya tatapan nya nampak ambigo .
Wajah Amin memerah ia tidak bisa berkata kata .lalu memalingkan pandangan nya .
"A..aku ingin pulang ." ucap Amin .
"Baiklah aku akan mengantar mu ." ucap King sambil mengeluarkan kunci dari sakunya dan membuka pintu kamarnya . Suasana hatinya benar benar baik saat ini .
"Tidak repot ." baru saja mengucapkan kata itu , tiba tiba ponsel King berdering . King segera melihat siapa gerangan yang menghubunginya . tak lama kemudian raut wajah King telah berubah .
"Kamu pulang dengan Haris , dia yang akan mengantarmu ." Haris ...?
Tanpa menunggu jawaban dari Amin king langsung memanggil Haris untuk datang .
"Ya tuan , ada yang anda butuhkan ."tanya Haris dari balik pintu kamar .
"Aku di sini ada urusan .kamu yang bertugas antar kan dia pulang dengan selamat ." ucap King .
Haris melirik Amin setelah itu ia mengerti ." mari Nona Amin ." ajak Haris .
Amin diam sejenak , ia tau ia tidak akan bisa pergi bila menolak di antar oleh Haris . Jadi hanya bisa menutut .
__ADS_1
***
Dalam perjalan pulang Amin terus memikirkan apa yang telah di lakukan oleh King .
ciuman yang begitu intens , mengingatkan dirinya terhadap sosok pria empat tahun yang lalu , terlebih pada saat pria itu menciumnya , entah kenapa seperti ada dorongan yang lain membuatnya sulit untuk menolaknya
Ini benar benar aneh , padahal sudah jelas Amin berusaha untuk menolaknya . Tapi secara tidak sadar ia menginginkan sesuatu yang lebih .
"Nona Minah kita sudah samapai .kamu tinggal di mana ." pertanyaan Haris membuyarkan lamunan Amin .
Spontan Amin melihat ke luar jendela , benar itu adalah wilayah luar komplek tempat ia tinggal ." cukup sampai di sini saja , jalan menuju tempat aku tinggal tidak dapat di lewati oleh mobil . Jadi saya turun di sini saja . Terimakasih ." ucap Amin dan segera turun dari mobil King .
"Baiklah nona hati hati ." ucap Haris .
"ya terimakasih atas perhatian nya ."
***
Keesokan harinya Amin berangkat kerja sekalian mengantar bibi indah yang mengajak Maxsim pergi ke rumah teman nya yang sedang punya acara . Karena Maxsim tidak mungkin ikut Amin kerja . Mereka bertiga duduk di bangku belakang .
"Axsim , ikut nenek bertamu ke rumah seseorang tidak boleh nakal ya , harus sopan , dengar kata nenek. Kalau nenek bilang tidak ya tidak , mengerti ." ucap Amin .
"Axcim anak baik tidak nakal ." celetuk maxsim yang ada di pangkuan bibi Indah .
Amin tertawa sambil mengelus puncak kepala maxsim ." mama tau Axsim anak yang baik ."
Rumah tempat tinggal bibi Indah tidak berada di jalan utama . Swhingga harus lewat jalan alternatif yang tidak rata . Tapi tetap saja sampai dengan selamat .
Maxsim turun dari pangkuan bibi indah dan berjalan sendiri dengan kaki pendeknya dalam gandengan tangan bibi indah melambaikan tangan kepada Amin .
"Mama ." Maxsim menaruh ke dua tangan nya di bibirnya untuk Amin dan melambaikan tangan nya lagi .
"Ey Mama ."
"Bey bey sayang ." Amin ikut melambaikan tangan pada maxsim . Setelah Amin menutup pintu mobil nya sang sopir segera menjalan kan mobilnya .
__ADS_1
Setelah sampai dikantor Amin langsung menuju ke lantai Lima puluh .Akan tetapi ia merasa penasaran dan langsung menuju ke ruangan king .
Amin mengendap endap menoleh kanan dan kiri seperti seorang pencuri .