
"Baiklah jika kamu tidak mau." ucap king sungguh sungguh sambil menaikan kembali kaca mobilnya .dan Amin juga tidak punya pilihan lain .
" Tu...tunggu saya akan naik ." ucap Amin kemudian . Ada kepuasan di wajah dan hati king melihat Amin berlari mendekati mobilnya . Tapi itu hanya sesaat , dengan cepat ia merubah raut wajahnya kembali datar .
Amin telah membuka pintu mobil dan bersiap untuk masuk , tapi tepat saat ini aura mencekam terpancar dari tatapan King di kaca spion . Sungguh amin tidak tau salahnya di mana .
"Bukannya tadi dia sendiri yang menawari tumpangan pada ku , ini juga belum ada lima menit , apa dia sudah lupa dengan ucapan nya sendiri ."
"Duduk di depan ." amin masih terpaku memegangi pintu mobil belakang matanya menatap ke kursi samping kemudi . Dan raut wajahnya perlahan berubah .
"Kamu pikir aku sopir kamu , ayo cepat pindah ke depan ." King telah memotong lebih dulu saat Amin akan berbicara .
Mau tidak mau ,amin kembali menutup pintu mobil belakang dan pindah duduk di kursi depan samping kemudi . Sambil membenahi kaca matanya amin memangku tasnya di antara kedua kakinya .
King tidak lagi berbicara ia segera menginjak pedal dan meluncurkan mobilnya meninggalkan Perusahaan .sepanjang perjalanan benar benar hening tidak ada pembicaraan , king sedang fokus dengan mengemudi .amin juga ragu untuk memulai pembicaraan .
Tiga puluh menit kemudian king membuka suara , ia tau letak alamat amin mata hitam legamnya menatap jauh menembus kegelapan malam menembus hujan yang semakin lebat .
"yang mana ." pertanyaan king menghentikan gerak amin yang akan membuka pintu mobil .ia mengangkat wajahnya menatap ke arah king . Sesaat kemudian ia paham maksud ucapan king , yang mungkin menanyakan letak rumahnya .
"Ada di dalam gang .." jawab amin .king menautkan keningnya mengikuti arah telunjuk amin yang mengarah ke suatu gang yang gelap tanpa penerangan atau mungkin listriknya sedang padam .
"Trtaplah duduk aku akan mengantarmu ." amin terhenyak sampai lidahnya kelu ,mendengar kalimat ucapan king yang begitu perhatian .
__ADS_1
"Benarkah pria angkuh dan dingin ini mengatakan sesuatu? Sulit di percaya ."
"nomor berapa ." suara king kembali bergema , amin cepat cepat menggelengkan kepala .
"terimakasih presdir sampai sini saja , saya akan pulang dengan jalan kaki saja ." king memicingkan matanya .
"kamu tidak melihat atau lupa kalau di luar sedang hujan deras ." ucap king . Spontan amin melirik ke luar , tentu saja ia tau kalau di luar sedang turun hujan .suara hujan yang turun dan jatuh di atas mobil juga petir yang bersautan semua jelas baginya .
Tentu Amin tau , semua juga salah Bos dia yang ngasih kerjaan tambahan sampai larut malam , dan harus terjebak hujan . Ingin sekali amin mengatakan itu semua secara langsung kepada Bosnya itu , tapi amin tidak kuasa ia masih butuh pekerjaan untuk menghidupi keluarganya .
Amin menarik nafas agak dalam dan tersenyum kepada king . " Terimakasih presdir King , tidak usah saya jalan kaki saja , tubuh saya masih kuat dan kebal kok , ngak akan mudah sakit ."jawab Amin .
King juga tidak mau banyak bicara ia melepas mantel hitam nya dan ia lempar ke pangkuan amin ." kamu pakai itu ." ucap King .
Amin menatap mantel di pangkuan nya , ia tidak menyangka Bos berwajah dingin dan berbicara seperti cabe rawet itu masih punya sisi lain , dan begitu perhatian pada karyawan nya .
Amin melotot kan matanya mendengar ucapan Bosnya . ia baru saja selesai memakai mantel hitam milik bosnya di tubuhnya . Dirinya baru saja menyelesaikan tugas yang bukan pekerjaan nya , sehingga ia pulang begitu larut malam . Dan barusan Bos nya bilang , besok pagi ada tugas lagi untuk dirinya .
"Gila ! Baru saja ku puji , ternyata dia ngak bisa di puji ." gumam Amin dalam hati . Amin benar benar menarik kembali penilaian terhadap Bosnya . Yang memiliki sisi kebaikan perhatian pada karyawan nya . Semua yang dia lakukan pasti ada imbalan nya .dia tidak lebih dari diktator yang berwajah arogan .
"kenapa , diam . Kamu dwngar apa yang aku katakan ." tanya king yang melihat tak ada respon dari amin .
Amin kembali menarik nafas dalam dan menghembuskan perlahan ia mencoba untuk tersenyum walau berat ia lakukan .
__ADS_1
"Baik , seperti yang anda ingin kan presdir King ." jawab Amin . Dan langsung keluar dari mobil . Setelah mobil di tutup kembali , king menurunkan kaca jendela mobilnya dan berkata .
"Aku akan menyuruh haris mengirimkan fiel presentasinya , kamu pelajari dulu rapat akan di mulai pukul delapan , tapi kamu harus datang dua jam lebih awal ." ucap King langsung menaikan kaca mobilnya dan meninggalkan amin sebelum mendapat protesan dari amin .
Amin menoleh menatap kepergian mobil King .kepala amin benar benar ingin pecah amin berteriak dalam hujan .
" Dasar Bos tidak berperasaan ." teriak amin mengeluarkan apa yang tadi tidak bisa ia keluarkan . Amin menghentak kan kakinya ,mengeluarkan amarah yang selalu tak dapat ia ungkapkan .
Setelah berteriak Amin merasakan ada ketenangan . Gemuruh di dadanya seperti telah menguap tanpa sisa .
"Amin ." tiba tiba ada sebuah suara menyapa nya , amin segera membalik kan badan nya , di depan nya dalam jarak dua langkah seorang wanita baya sedang berdiri sambil membawa payung sambil meneteng plastik kresek di tangan satunya .
"Bibi indah .? Apa yang kamu lakukan malam malam di luar sedang hujan . Kamu membeli apa ." tanya Amin dengan rentetan pertanyaan buat bibi indah .
Amin mendekati bibi indah ia melihat kresek di tangan bibi indah . Di sana ada beberala obat obatan dan sirup penurun panas .
"Bibi indah siapa yang sakit ." tanya amin khawatir .
Bibi indah kelihatan gugup dan menyesal , tapi ia tetap harus mengatakan nya ." maaf kan bibi , Maxsim demam ." jawab Bibi indah .
"Apa ! , Maxsim demam ." tiba tiba pikiran Amin menjadi kosong mendengar ucapan bibi indah , Maxsim demam . Tiba tiba dadanya bergemuruh , wajahnya juga pucat . Satu detik kemudian , setelah sadar amin langsung berlari pulang untuk menemui Maxsim .
Seluruh kepalanya hanya ada Maxsim , bibi indah melihat kekhawatiran di wajah Amin , merasa semakin bersalah . Bibi indah segera mengejar Amin dengan membawa payung dan obat obatan yang masih ada di tangan nya .
__ADS_1
sampai di rumah Amin segera melepas mantelnya juga tas kerjanya ia letak kan begitu saja di ruang tamu . Amin segera berlari menemui putranya di kamar tidurnya .
Sementara King yang masih ada di perjalanan ia sedang menunggu lampu merah berjalan .tiba tiba lewat di gendang telinganya suara seorang anak kecil ." papa axsim sakit ." King terkejut bersamaan dengan suara klakson dari mobil di belakangnya .