REY (ISTRI KEMBAR CEO  1 )

REY (ISTRI KEMBAR CEO 1 )
39 mengundurkan diri


__ADS_3

Sempat amin berpikir kalau kejadian semalam hanyalah mimpi , tapi setelah melihat bercak merah di atas seprai , amin bagai mendapatkan sebuah tamparan yang sangat keras .


"kenapa , kenapa jadi begini ..." amin menunduk dan memeluk erat kedua lututnya , ia masih tidak percaya dengan apa yang telah dia alami . Kesucian yang ia jaga dan pertahan kan , kini hilang begitu saja oleh laki laki yang tidak ia kenal .yang harusnya ia berikan kepada suaminya kelak , tapi sekarang yang bisa amin lakukan hanya penyesalan .


Tiba tiba ponsel amin yang tergeletak di lantai bergetar , amin segera mengambilnya dan melihat beberapa pesan dari Ridwan kekasihnya . Beberapa saat Amin berpikir , Ridwan menyesali keputusan nya beberapa jam yang lalu dan kini ingin kembali kepadanya .


Namun sepertinya Alloh juga telah menutup semua jalan kebaikan untuknya . Ternyata Ridwan mengirimkan dua buah foto , satu foto adalah foto surat undangan pernikahan Ridwan . Dan satu foto lagi adalah foto USG .


Amin tidak bisa berkata apa apa , hanya bisa merasakan gemuruh di dadanya , saat melihat kedua foto itu . Ia merasa dirinya menjadi orang yang sangat menyedihkan di dunia ini , hingga dia punya pemikiran untuk bunuh diri saat itu juga ....tapi


"Mama...."Maxsim datang membangunkan amin dari lamunan nya . Ternyata dirinya terlalu lama melamun hingga putranya bangun pun ia tidak tau .


Maxsim mendekatinya dengan membawa selembar kertas dengan wajah yang berseri dan senyum yang mempesona . Amin menatap wajah putranya yang tampan . Mungkin wajah itu adalah wajah laki laki malam itu .karena kejadian itu di hotel samudra maka Amin memberi dia nama bintang idolanya dengan tambahan samudra di belakangnya ,


"Coba mama lihat , putra mama sedang gambar apa sayang ." ucap Amin menyambut putranya , padahal hari masih gelap tapi Maxsim tidak tidur lagi tapi malah pergi mengambar .


Maxsim menyerahkan kertas gambarnya kepada Amin seorang anak kecil jongkok di samping raja singa hutan atau leon . Amin berpiking kenapa putranya mengambar raja hutan yang juga di sebut sebagai king leon .


"Wah bagus sekali xim ," Amin mengacak acak rambut putranya . Walau ia sempat membenci pria yang telah merenggut kesuciannya ,tapi Amin tidak membenci putra nya . Dia tidak salah . Dan kini Maxsim adalah malaikat kecilnya , juga alasan dia untuk tetap hidup .


***


Pagi itu Amin kembali menitipkan Maxim kepada julia seperti biasa . Tapi kali ini Amin bukan nya untuk mengajar tapi ia pergi untuk menyerahkan surat pengunduran diri .


Orang pertama yang amin temui adalah pak Darma , pak Darmalah orang yang sangat berjasa dalam pendidikan nya dan orang yang selalu mendukungnya .

__ADS_1


"Aku tidak tau apa yang membuatmu begitu cepat merubah keputusan ini . Tapi aku percaya kamu punya alasan untuk semua ini ." ucap pak Darma . Amin mengangguk pelan .


"Saya sudah memikirkan berulang kali pak , terimakasih karena bapak telah membimbing saya selama ini , saya mohon pamit ." ucap Amin .


"Baiklah kalau itu sudah jadi keputusan kamu , hati hati jaga diri baik baik ." ucap Pak Darma .


Setelah berpamitan dengan pak Darma , dan menyerahkan surat pengunduran diri Amin segera meninggalkan kampus dan menghentikan taxsi untuk pulang .


Amin masuk ke dalam taxsi dan duduk di jok belakang . Taxsi berjalan meninggalkan kampus , pandangan amin tertuju pada map coklat yang ada di pangkuan nya .


"kemarin sore saat di rumah sakit , Amin sempat menghubungi pihak perusahaan menteng , melalui nomor costumer yang tertera di dalam dokumen itu . Setelah sampai di rumah ia mendapatkan sms kalau dirinya di terima dan di terima di Menteng group . Pagi ini di suruh untuk datang ke kantor tapi jam berapa belum di tentukan , tapi sekarang sudah hampir jam sepuluh .dia belum juga mendapat balasan .


"Ini sudah hampir jam ban dari mereka ." ucap Amin sambil mengecek notifikasi di ponsel nya .


Ting .


"Ini pasti pesan dari Menteng group . Yang memberitau kapan aku harus datang ke menteng group ." gumam Amin sambil mengeluarkan ponsel nya lagi .


"15 september , bukankah itu besok ." Amin mengerak gerak kan jarinya menghitung tanggal yang tercatat di ponselnya .


"Benar , benar besok dan jam sembilan pagi sudah harus ada di sana ." Amin menghela nafas kesal ,ia benar benar ingin mengumpat tapi itu hanya bisa ia keluarkan dalam hatinya saja . Ia mengambil nafas dan menghembuskan dengan perlahan .


***


Amin berangkat ke ibu kota menaiki pesawat dengan Maxsim malam hari . Pesawat yang di tumpangi Amin dan Maxsim mendarat di ibu kota tepat pukul 03 ; 00 . Amin tidak ada tujuan selain kembali menemui ibu kostnya yang dulu sekalian untuk menyewa kos kosan .

__ADS_1


Ibu kost Amin bernama ibu indah , wanita paruh baya yang memiliki beberapa ruko dan kos kosan . Saat sekolah di sekolah menengah atas amin mendapat beasiswa , tapi untuk tinggal dan jajan amin harus mencari uang sendiri .


Kadang di sekolah ada sebuah extra kurikuler yang mewajibkan dia mengeluarkan uang . Jadi amin sambil sekolah ia bekerja paruh waktu . Dan bu indahlah yang membantu Amin mendapatkan uang juga tempat tinggal . Dengan membantu bu indah membersihkan kos kosan .


Ting tong ..


Amin menekan bel rumah bu indah berulang kali tapi tidak ada sahutan sama sekali . Maxsim yang tertidur dalam gendongan nya pun terbangun oleh suara bel pintu yang sering ia tekan .


"Mama.. ." Amin membaringkan Maxsim di sofa teras bu indah , maxsim merentangkan kedua tangan nya dengan mata yang masih berat untuk di buka mungkin karena ia masih mengantuk .


Amin meninggalkan pintu untuk menghampiri maxsim . Bersamaan dengan itulah pintu rumah bu indah terbuka . Munculah seorang wanita tua dengan kulit putih dan rambut yang di sanggul .


"Maaf , permisi apa ada yang bisa saya bantu ." tanya Bu indah kepada Amin yang duduk membelakanginya .


Amin mengenal suara itu , ia swgera mengendong maxsim dan membalikan badan nya .


"Bik indah , ini aku Aminah ." ucap Amin .


Bibi indah tampak mengerutkan keningnya hingga kerutan di dahinya nampak kelihatan ." aminah ." bibi indah mencoba menginggat nama itu tak lama kemudian bibi indah berteriak dengan pelan .


"Siti aminah , amin ." ucap bibi indah sambil menatap Amin dari atas hingga ke bawah .


"ini benar kamu min ." tanya Bibi indah dengan tatapan yang rumit .


"tentu saja ini aku bik , mungkin penampilan badan aku bisa berubah . Tapi cincin alami di jari tengahku tidak akan berubah dan tidak ada yang punya ." amin menunjuk kan tai lalat di jari nya .

__ADS_1


Mata bibi indah semakin lebar , kini ia yakin kalau gadis yang ada di depan nya adalah gadis yang pernah bekerja paruh waktu di kos kosan nya dulu .


__ADS_2