
King kembali memicingkan matanya .
"Apa kamu datang ke sini untuk jadi pembantu ." tanya King .
Kalimat King yang kedua kali , lagi lagi membuat Amin kehabisan kata kata .ekspresi wajahnya lebih buruk dari tadi ."Jika bukan karena terpaksa , aku juga tidak mau jadi sistenmu , Tuan king yang terhormat , aku tidak punya pilihan ." ucap Amin dalam hati .
"Baiklah karena kamu percaya diri bisa buatkan aku kopi . Sekarang buatkan aku kopi americano ." setelah diam begitu lama , sepertinya King tidak mau melihat Amin lama lama di sampingnya , king melambaikan tangan nya .
Amin mengatupkan giginya , tapi tetap tersenyum kepada King . Setelah itu dia keluar dan menuju ke pantry lantai lima puluh lima .
Sekitar lima belas menit kemudian Amin keluar dari pantry dengan secangkir kopi di atas nampan . Kemudian mendekat ke meja King dan meletak kan kopi itu di meja king .
"Silakan presdir ." ucap Amin .
Tanpa menatap dan melirik , king langsung meraih cangkir kopi dan mencicipi kopi buatan Amin . Tapi baru satu kali sruput king langsung menyemburkan kopi itu .
Phuahh!
Amin mundur beberapa langkah untuk menghindar , tapi ternyata kakinya kakinya tidak cukup cekatan sehingga kopi itu mengenai ujung rok dan sepatunya .
Pada saat itu Amin ingin benar benar marah tapi ia masih menginginkan pekerjaan itu . Jadi hanya bisa menanyakan pada bosnya .
"Presdir King , apa yang kurang dengan kopinya ." tanya Amin sopan .
King mengusap bibirnya dengan tisu . Dan membuangnya ke tempat sampah , matanya melirik dengan tajam lalu berkata .
" apa kamu ingin mencelakaiku , kamu tidak memeriksa suhunya kalau itu terlalu dingin ."ucap King .
Spontan Amin meraih sendok kecil dan mencoba suhu kopi buatan nya .ia teteskan di pergelangan tangan nya .
"Ini tidak dingin ." gumam Amin . Ia yakin kopi buatan nya dengan suhu panas sekitaran 60 derajat , ia mengira king tidak akan menyukai kopi yang terlalu panas sehingga ia ini siatip untuk membuatkan kopi hangat . Tidak ia sangka kalau king akan mengkomplin kopi buatan nya terlalu dingin . Amin masih merenung , dan King yang tidak sabaran segera berteriak .
__ADS_1
"Cepat buatkan lagi kopinya ." bentak King .
"Baik ." ucap Amin sambil meraih cangkir dengan enggan untuk segera pergi ke pantry lagi .
King melirik dengan acuh tidak acuh ." begitu saja tidak bisa." dengus king .
Amin hanya diam pura pura tidak mendengar cibiran dari king .dengan segera meninggalkan ruangan .sampai di luar tak henti hentinya Amin mengomel merutuki king Ceo yang menjengkelkan .
"Hah...
"Belum jadi sekretarisnya saja sudah seperti ini . Kalau jadi sekretaris beneran jadi apa aku nanti ? ."tiba tiba amin merasa kasihan dengan nasibnya sendiri .padahal maksudnya kembali ke ibu kota untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih baik .tapi malah seperti ini .
Amin juga tidak habis pikir dengan dirinya . Dari sekian banyak pelamar di menteng group , kenapa harus dirinya yang kebetulan mendapatkan kesempatan menjadi sekretaris CEO .
"oh ,ini bukan kesempatan , tapi ini ujian ." Amin telah sampai di pantry ia segera menyeduh kopi americano pesanan King .tapi ia tiba tiba menjadi ragu . Amin tidak tau dengan suhu kopi yang di inginkan oleh king . Jelas ini bukan hal yang dapat di sepelekan .
Terlalu dingin ia pasti akan mendapat amukan .terlalu panas ia juga pasti akan di marahi .
"Aku kan bukan cenayang . Atau peramal ." Dia tidak akan tau jika tidak ada yang memberi taunya .
"Presdir king hanya mau kopi dengan suhu 90 derajat , selain itu dia tidak akan mau menyentuhnya ."
Amin tersentak ia segera mengangkat wajah nya , ia tidak tau sejak kapan asisten Haris sudah berdiri di samping mesin pembuat kopi .namun amin tidak memiliki kata untuk di ucapkan .ia segera menyetel suhu air dan mulai membuat kopi .
Amin segera beranjak menuju ke ruangan King ia takut kelamaan dan kopi kembali dingin dan dirinya akan mendapat semprotan lagi .
"Presdir King , silahkan kopi anda ." seperti sebelumnya Amin meletakkan cangkir kopi di meja sebelah kanan King . King yang sedang mengetik sesuatu di layar laptopnya segera berhenti dan menatap Amin .
"Kalau sampai tidak panas lagi , sebaiknya kamu pulang saja , buat kopi saja tidak bisa ? Bagaimana dengan melakukan pekerjaan lain ." dengus King sambil menggeser laptopnya dan meraih cangkir kopi buatan Amin .
Amin tidak mengatakan apa pun .ia hanya menampilkan senyum alaminya yang dia miliki , lagi lagi king mendengus .
__ADS_1
King mulai mengecek suhu kopi yang di buat oleh amin , ketika merasakan itu sudah memenuhi standar khualitasnya ,perlahan ia memulainya meminum satu sruputan pertama . King berhenti menatap Amin .
"Tak ku sangka americano buatan dia begitu nikmat , sedangkan pelayan di rumah aku yang sudah sering membuat tidak senikmat ini ." gumam King dalam hati .
"Presdir bagaimana , apa anda menyukainya ." tanya Amin membuyarkan lamunan King .
King berkedip dua kali untuk mengatur ekspresinya .lalu meletak kan cangkir itu di atas meja ." Biasa saja ." ucap king tanpa embel embel pujian .
Hal ini membuat amin memicingkan mata . Ia menarik nafas dan menghembuskan perlahan . Agar tidak terpengaruh dengan sikap bosnya yang arogan .
Dan King kembali sibuk dengan laptopnya . Keningnya mengkerut saat menyadari Amin masih berdiri di samping meja kerjanya .
"Apa yang kamu tunggu di sini ? , cepat pergi temui Haris dia yang akan mengatur semua kerjaan kamu ." ucap King .
"oh ...Baik ." Amin segera berlari keluar , ia baru bisa bernafas lega setelah keluar dari ruangan yang ia rasa penuh dengan pengawasan dan penekanan .dan kini ia baru bisa keluar dengan selamat .
Percaya atau tidak pandangan dingin king seakan mengintimidasi .
"Bagaimana ." tanya Haris yang melihat Amin baru keluar dari ruangan King .Haris berdiri tepat di samping pintu ruangan king sambil melipat tangan dan bersandar di dinding .
"Apanya ? ."tanya Amin .
Haris berdecak menurutnya Amin sedang berpura pura bodoh .
"Tentu saja hasil nya , apa kamu berhasil menyakinkan presdir King .?." tanya Haris .
"Presdir King menyuruh saya menemui anda , apa ini sudah di anggap berhasil ." ucap Amin sambil memainkan anak rambutnya yang ada di bawah telingga dengan tatapan binggung .
Haris juga diam sejenak mendengar kata kata itu , walau sebenarnya ia juga berharap banyak kepada Amin. tapi ia tidak menyangka Bosnya itu dengan begitu mudah nya menerima Amin sebagai sekretarisnya .
Terlebih Amin seorang wanita . Dalam sejarah hidup baru kali ini dia dekat dan mempunyai sekretaris wanita . Karena king sangat mempercayai dan mendambakan gadis yang dia temui dua puluh empat tahun yang lalu , di makam bundanya adalah jodoh yang di pilih bundanya untuknya .
__ADS_1