
"oh kamu to , aku kira siapa , pantas saja , begitu angkuh ." ketika bicara seperti itu wanita itu memutar bola matanya seakan merasa jijik menatap Amin .dan lalu keluar dari dalam lift .
Kalimat dia yang nyaring membuat semua karyawan di kantin menatap amin , satu persatu dari mereka mengeluarkan tatapan sinis dan hina .
Amin mencoba untuk tidak menhubrisnya dan berjalan menuju ke meja sudut kantin .namun beberapa saat dia duduk di sana . Datang seorang pria yang kira kira berumur tiga puluhan tahun datang menghampirinya .
" hai kamu.aminah ya , sekretaris baru presdir ya ." tanya pria itu .
"Benar , apa yang kamu butuhkan ." tanya Amin . Tapi pria itu malah tertawa mendengar pertanyaan amin .
Tak berdelang lama dia menghela nafas dan mengeluarkan sebuah kartu nama dari sakunya ." Namaku adalah Ben ....Ruben.aku seorang Direktur di.perusahaan ini ." ucap pria itu .
Amin awal nya mengira dia datang karena sebuah pekerjaan . Ternyata dia tidah lebih dari laki laki mata keranjang . Tak mau berlama lama dengan laki laki bernama Ruben . Amin menyodorkan kembali kartu nama itu .
" Maaf anda menganggu kenyamanan saya , silahkan anda pergi .?." ucap Amin .
Ruben memerah wajahnya , mendengar pengusiran dari Amin .ia merasa terhina , akan tetapi sebisa mungkin dia menahan nya .
"Kamu anak baru di sini , jadi kamu tidak tau siapa saya ." ucap Ruben .
Amin dengan cepat membalas ucapan Ruben ." saya tidak perduli siapa.anda ."
Ruben mengeraskan rahangnya .sambil menatap horor pada Amin ." kamu benar benar ..." tangan Ruben telah terangkat berniat untuk menampar Amin . Tapi dari belakang nya sebuah tangan lebih dulu menahan nya .
"Aku adalah Ruben , siapa yang berani menghalangi aku , untuk memberi pelajaran pada wanita ini ." ucap Ruben tanpa menoleh dan melihat siapa orang yang ada di belakangnya .dengan suara tinggi Ruben bicara sambel membalikan badan nya .
Ketika melihat wajah dingin pria yang bertubuh kekar di hadapan nya , seketika keberanian nya yang membara entah hilang kemana .
__ADS_1
"Pres....presdir King .? ." mulut Ruben bergetar dan secara berlahan dan spontan ia mengambil langkah mundur ke belakang .
Kedatangan King ke kantin tidak hanya membuat Ruben terkejut , juga Amin serta puluhan karyawan yang ada di kantin .
Amin yang tidak sempat bereaksi dengan pukulan Ruben dia hanya bisa diam dan pasrah , tapi siapa yang mengira King akan datang tepat waktu . Dan menahan tangan ruben sebelum benar benar melayang di pipinya .
Dalam diam Amin merasakan perasaan nyaman dan hangat .menyaksikan wajah simetris dan menawan yang di miliki oleh King . Ia mulai berharap jika pria itu benar benar Ayah kandung dari anaknya .?
Namun Amin dengan cepat sadar .ia menggelengkan kepalanya menepis jauh jauh tentang pikiran yang dia anggap tidak akan masuk akal iyu .
Sementara King masih berdiri dengan wajahnya yang mengelap , matanya tajam dan ada aura mencekam yang keluar dari dalam tubuhnya .
"Apa yang akan kamu lakukan ? Melukai karyawan lain .? ." kalimat itu terucap sangat santai tapi bwgiyu menakutkan di telinga Ruben .
Pria itu semakin jauh menjaga jarak dari King ." Maa ....maafkan saya presdir King , saya hanya .."
Mata Ruben terbelalak ." Presdir King , anda tidak bisa melakukan ini , Apa ini semua karena wanita culun ini . Kamu tidak bisa melakukan nya ."Ruben berusaha mempertahankan hasil keringatnya . Yang di dapatkan setelah bertahun tahun bekerja di menteng group .
Akan tetapi King memiliki keputusan mutlak , karena dia ingin menurunkan Ruben .ke departemen kebersihan .hanya dengan satu perintah ia bisa melakukan .
"Haris , hubungi departemen kebersihan untuk.menyiapkan satu set pakaian tambahan ." 0erintah King .
Haris yang berdiri beberapa langkah di belakang King segera mengeluarkan ponselnya dan menghubungi kepala pimpinan departemen kebersihan .
"Sudah tuan ." jawab Haris . Mendengar ini tubuh Ruben jadi lemas seketika. Ia terduduk dilantai dengan tatapan mata kosong .
"Tidak ! , ini tidak mungkin , aku seorang direktur di sini ." Ruben menangisseperti orang gila . Tapi King tidak perduli . Orang orang dikantin juga tidak ada yang berani bersuara . Begitu juga dengan Amin .
__ADS_1
Mata bulat amin menatap kasihan pada Ruben .meski dia senang laki laki itu mendapat hukumam atas perbuatan nya . Tetapi kebaikan hatinya bersimpati di dalam hatinya .
"Ayo ikut dengan ku ."Amin seperti orang linglung mendengar kalimat King . Dia menoleh ke beberapa arah ia ingin memastikan jika dia yang di maksud
"Apa kamu tidak dengar ." suara King semakin dingin . Amin bagai anak itik yang mengikuti induknya , Berdiri dari tempat duduknya dan berjalan dibelakang mengikuti langkah king . Di saksikan oleh puluhan karyawan , tapi mereka juga tidak berani berkomentar .mungkin inilah yang di namakan kekuatan absolut .
"Pres ...presdir king ,! Ki...kita mau kemana ." Amin memberanikan diri untuk bicara , setelah mereka berada di dalam lift . Masalahnya ia baru saja sampai di kantin dan belum mengisi perutnya . Akan sangat tidak nyaman bekerja dalam keadaan perut lapar . Amin juga tidak biasa melakukan itu .
Tapi sayangnya King tidak menjawab , dia hanya melirik melalui ekor matanya dan kembali menatap ke depan .pintu lift telah tertutup ,amin baru menyadari jika di dalam lift hanya ada mereka berdua . Seketika raut wajah amin berubah , dia mulai.cemas dengan pikiran nya sendiri .
Beberapa saat kemudian pintu lift terbuka ,yang membuat amin terkejut adalah ia melihat sebuah ruangan yang belum pernah ia lihat di gedung menteng group ini .
"Ternyata gedung ini memiliki Roftop yang begitu mewah ." batin Amin sambil melihat lihat isi dan pemandangan di sekitarnya . Mulai dari kolam renang dan mini bar semua ada di sini . Begitu lengkap layaknya sebuah rumah pada umumnya .
"Apa kamu hanya akan diam di sana ? Ayo cepat ke sini.? Panggil King
Amin mengangkat wajahnya , ia melihat king yang berdiri di tepi kolam dengan membawa kotak P3K .
Lagi lagi amin melangkah dengan patuh .seakan dia tidak bisa menolak setelah mendengar perintah nya .
"Obati lukamu dan tunggu di sini ." ucap King sambil menyodorkan obat P3K .
"Luka ." gumam Amin . Ia tidak menyadari bila mempunyai luka di anggota badan nya . Amin mengeryitkan matanya memperhatikan tangan nya yang ada luka sedikit .
"Bagaimana aku bisa terluka ." amin mencoba menginggatnya . Ya saat pria bernama Ruben akan memukulnya , ia terjengkit dan tanpa sengaja tangan nya tergores oleh ujung meja .
Amin segera meraih kotak P3K dan segera mengobati lukanya , ia duduk di tepi kolam renang sendirian , di sebuah kursi santai .
__ADS_1
Saat ia mengoleskan obat merah pada lukanya , tiba tiba amin teringat dengan alasan King , kenapa dia melakukan semua ini .