
"Kenapa dia melakukan semua ini , " Amin binggung kenapa dia membelanya saat di katin sampai memberinya kotak P3K .
"Apa semua karena aku ." amin menggelengkan kepala dengan kuat menepis pikiran nya .
"Tidak mungkin kan dia suka dengan aku , wanita culun seperti aku ?."
Tanpa Amin sadari kalau sejak tadi , dari kejauhan King telah memperhatikan tingkah lakunya .
"Apa yang sedang kamu lakukan ." ucap King .
"Presdir ..king .? Amin menundukkan wajahnya yang merasa konyol .
"Sejak kapan dia ada di sana ." gumam amin . Ia mulai khawatir , presdirnya pasti merasa aneh , karena dirinya sejak tadi ngedumel sendiri .
"kamu belum makan siang bukan ? Ini makan lah ." pinta King sambil meletakan satu porsi sepageti di meja dekat ia duduk .
Amin menatapnya dengan lapar ,Sepageti dengan potongan ayam yang besar besar membuat air liurnya akan menetes .
"Bahkan dia tahu aku belum makan siang ." sambil membatin Amin menatap king .ternyata pria itu sudah duduk tepat di depan nya .
Ada dua kursi di dekat kolam renang dengan posisi saling berhadapan .amin duduk di kursi sebelah kanan dan king ada di sebelah kiri . Dia menyilangkan kakinya dengan santai . Dan tatapan matanya tidak lepas dari wajah Amin
Membuat amin merasa seperti tahanan bebas bersyarat .ingin memakan pun jadi tidak tenang .
"Presdir king ,kenapa kamu bawa saya ke tempat ini ,apa ada yang harus saya lakukan ." tanya Amin .
King menaikan satu alisnya ." habiskan dulu makanan kamu , setelah itu aku akan katakan padamu ."jawab king .
Amin tersenyum kaku , dalam hati dia ngedumel dengan kesal ." Bagaimana aku akan makan , kalau kamu menatap aku seperti itu , aneh .." gumam Amin .
Diam diam King mengulum senyum , melihat amin yang hanya mengaduk aduk makanan nya . Ia yakin saat ini amin sedang mengumpat sesuatu yang buruk tentang dirinya dalam hati .
Sepuluh menit kemudian Amin telah menghabiskan makanan nya , dan kembali mengulang pertanyaan nya , King membawa dia ke Roftop .
__ADS_1
Tapi King tidak menjawab malah menelpon seseorang dengan ancaman ." cepat kalian kemari , aku beri kamu waktu lima menit ."
Singkat padat dan jelas . Membuat amin menatap dwngan bingung . King berdiri dari tempat duduknya ." Ayo ikut dengan ku ." pinta King .lagi lagi ucapan pria ini sebuah perintah yang mutlak . Bahkan Amin tidak berani membuang waktu terlalu lama , dan segera mengikutinya .
Mereka berdua memasuki sebuah ruangan yang ada di pojok Roftop . Ruangan yang luas seperti apartemen yang lengkap dengan fasilitas nya .
"Kamu tunggu di dalam ruangan sana ." ucap King menunjuk salah satu ruangan . Dan dia sendiri duduk di sofa dengan menyilangkan kakinya , Dengan elegan .
Amin melihat ke arah yang di tunjuk oleh king , perlahan kening nya mengerut di sana adalah sebuah kamar yang lengkap dengan spring bed nya berukuran king size .
Dalam waktu yang bersamaan amin menjadi cemas , muncul pikiran pikiran buruk yang kemungkinan akan terjadi. Tanpa sadar kakinya melangkah mundur , dan tanpa sengaja tangan nya menyenggol sebuah guci porselen .
Untung kesadarannya sangat peka , dengan cekatan ia menangkap guci itu sehingga tidak jatuh dan pecah berantakan di lantai .masih dengan raut wajah penuh kecemasan masih begitu nyata .
"Apa yang kamu pikirkan ." tanya King , satu kalimat pertanyaan dari king membuat Amin sadar .
"Ini salah , ya salah ,apa yang sedang aku pikirkan." Amin mulai merutuki dirinya sendiri . Apa lagi ini masih kawasan perkantoran , tidak mungkin dia akan melakukan sesuatu .
Amin mengambil tempat untuk duduk di kursi sebuah meja bulat .sementara king masih tetap duduk di sofa ruang tamu dengan sesekali ia menatap ke arah pintu .
Tak lama kemudian muncul dua orang wanita dengan membawa sebuah koper hitam besar . Ia menunjuk kan wajah penuh penyesalan saat melihat King duduk di sofa .salah satu dari mereka segera meminta maaf pada king .
"Maaf kan kami Presdir , yang baru bisa datang ."
King tampak kesal ,ingin rasanya ia memarahi mereka , tapi pandangan king langsung tertuju pada ruangan di mana Amin telah menunggu .
"Cepat kalian masuk ke ruangan itu , dan lakukan tugas kalian . Kalau tugas kalian memuaskan aku akan melupakan kesalahan kalian yang telah terlambat satu menit ." ucap King .
Kedua wanita itu sejenak saling pandang .kemudia segera menuju ke dalam ruangan itu dengan cepat .
Jreng..
Amin terlonjak kaget . Tiba tiba mendengar suara pintu di tutup , awalnya ia mengira itu perbuatan king . Tapi tatapan matanya menangkap bayangan dua orang wanita berpakaian merah muda berseragam .
__ADS_1
"siapa kalian ? Dan apa yang akan kalian lakukan ." tanya Amin .
"Nona , kami penata rias yang di panggil oleh presdir king , untuk merias anda ." ucap salah satu dari mereka .
Amin linglung beberapa saat mendengar ucapan mereka .
"tata rias ? Merias .maksud nya apa ." tanya amin yang tidak tau masalah sebenarnya .
"tunggu , mungkin kalian salah orang . Saya hanya sekretaris presdir King ." ucap amin sambil.menjaga jarak dari dua wanita itu dengan hati hati .
Tapi kelihatan sekali , dua wanita penata rias itu sangat berpengalaman sekali .
"Nona tidak mungkin kita salah orang . Presdir King sendiri yang telah menunjuk ruangan ini . Jadi kami mohon nona mau kerja sama , ini menyangkut masa depan kami berdua ."
"Apa maksud kalian ? Apa hubungan nya kerja sama saya dan masa depan kalian ." ucap Amin sambil.menyipitkan mata .
"Presdir King telah meminta kami untuk mendadani nona , jika kami tidak melakukan dengan benar . Presdir king akan menutup usaha kami ." jelas dari salah satu wanita itu .
Setelah mendengar ucapan mereka Amin tidak bisa ,untuk tidak simpati kepada mereka berdua . Dia yang awalnya menghindar kini dengan langkah pelan tapi pasti kembali duduk di tempat duduk semula untuk di rias .
"sebenarnya untuk apa saya di rias ." tanya Amin
"Maaf Nona , kami juga tidak tau .kami juga tidak punya hak untuk tau atau bertanya . Kalau nona ingin tau ,nona bisa tanya langsung sama Presdir King ."
Amin memutar bola matanya dengan malas . Ia juga sudah berusaha tanya , tapi tidak mendapat jawaban , malah berakhir di tempat itu bersama dua wanita untuk merias dirinya .
"sebenarnya apa rencana dia ." gumam Amin.
***
Sementara Haris datang menemui king melaporkan tentang tegang waktu yang di tentukan dengan perusahaan Rojak kontruksi .
"Tuan , perjanjian kita dengan perusahaan Rojak kontruksi telah jatuh tempo , jadi sudah waktunya kita untuk mengambil keputusan .
__ADS_1