REY (ISTRI KEMBAR CEO  1 )

REY (ISTRI KEMBAR CEO 1 )
85 perang batin .


__ADS_3

Mobil lexus yang di tumpangi Uti Aisyah pergi meninggalkan kawasan mall. Ia menekuk wajahnya dengan kesal karena tidak berhasil melihat wajah dari anak yang di anggap mirip dengan cucunya itu .


" nyonya uti kenapa , apa ada yang mengganggu mu ." tanya erik dari kaca spion melihat perubahan wajah nyonya tua nya .


Uti Aisyah menyipitkan matanya menatap erik lewat kaca spion depan ." tidak ada ! Tidak ada yang menganggu ku ." jawab Uti Aisyah .tapi di akhir kalimatnya uti Aisyah mendengus pelan .


"Dasar cucu tidak pengertian . Padahal aku sedang mencari tau , apa dia benar benar anaknya atau bukan , sungguh tidak berguna ." ucap Uti Aisyah sambil melirik King yang duduk di sampingnya,.


King yang mendengar gumaman Neneknya pura pura tidak dengar . Dan hanya menyuruh erik segera membawa neneknya segera masuk ke rumah utama menteng .


***


Sementara amin dan maxsim dan bibi indah yang sudah masuk ke dalam taxsi . Sang sopir bertanya ." Nona apa kita akan langsung pulang ." sang sopir melihat luka yang ada di tangan Amin ..


Bibi indah juga memegang tangan Amin ." kita ke rumah sakit dulu ya ." pinta Bibi indah .


Amin melihat lukanya lalu menggeleng kepalanya ." tidak perlu khawatir bi , ini cuma luka kecil nanti juga akan sembuh dengan sendirinya ." tolak Amin


" Tapi Min ..ini bukan luka kecil , ini luka baret yang lumayan lebar dan panjang ." memang luka amin hanya baret dari siku hampir sampai pergelangan tangan . Belum lagi sepedanya ada titanusnya tidak .tapi Amin tetap bergeming .


"Pak , nanti mampir ke apotik sebentar ya ." ucap Bibi indah kepada sopir taxsi .


"Baik nyonya ." saat melihat apotik di tepi jalan pak sopir menghentikan taxsinya . Bibi indah keluar taxsi untuk membeli obat anti septi , ia tau sekarang amin tidak merasakan sakit di lukanya . Mungkin tengah malam atau besok pagi dia pasti akan merasakan nya .


Rasa sakit yang berkali kali lipat , di tambah besok Amin masih harus bekerja .jika tidak segera di obati pasti akan menganggu pekerjaan nya ,karena tidak nyaman .

__ADS_1


Sampai di rumah bibi Indah langsung berubah menjadi seorang perawat , ia membersihkan luka amin memakai alkohol untuk menghilangkan kuman kuman nya , setelah itu baru ia oles dengan obat merah , bibi indah juga membalut luka Amin terlalu heboh karena dia perawat amatiran sehingga tidak bisa membalut dengan rapi .


Amin merasa tidak perlu seheboh ini , tapi melihat kecemasan di wajah bibi indah terpaksa ia biarkan bibi indah melakukan apa yang ingin dia lakukan .


Pada Akhirnya tangan Amin di balut seperti mumy , bahkan saat akan pergi kerja pun bibi indah melarang amin membuka perban dan membasahi lukanya .


Sesampainya di kantor banyak karyawan yang menatap Amin aneh tapi Amin tidak perdulikan mereka ia langsung menuju ke lantai lima puluh lantai tempat ia bekerja .


"Benar apa yang di katakan oleh bibi indah , luka ini semakin lama swmakin perih ." gumam Amin . Amin swgera melwtak kan tasnya dan membuka komputernya ia melihat agenda yang harus di lakukan King hari ini .


"Ah jam 9 nanti ada jadwal pertemuan dengan perusahaan indo raya group ,apakah presdir king akan hadir , sejak kemarin dia tidak masuk ke kantor ." gumam Amin .


Sejak kemarin Amin tidak melihat King , saat datang ke kantor tadi ia juga tidak melihat kehadiran King . Ruangan nya juga kelihatan sepi tidak ada tanda tanda kehadiran dia .


"Sepertinya dia akhir akhir ini sibuk dan aku tidak bisa membantunya sama sekali . Jadi aku hanya bisa untuk mengatur ulang jadwal pertemuan ini ." gumam Amin sambil meraih krosur komputer nya .


"Aku tidak tau kalau kamu begitu peduli dengan ku ."


Mata Amin membulat sempurna saat mendengar suara seseorang di ruangan nya . Amin segera mengangkat wajahnya dan mencari empu dari suara itu . Ia melihat seorang pria telah berdiri di depan meja kerjanya .


"pres...presdir King ? , sejak kapan anda berdiri di situ ." tanya Amin gugup .


"Sejak kamu mengatakan ingin membantuku , dan mengatur ulang jadwal pertemuan hari ini . Aku tidak menyangka kamu begitu peduli padaku ."


Mata Amin membulat kembali ." Bu ...bukan begitu , anda salah paham . Memang ini sudah tugas saya sebagai seorang sekretaris ." jelas Amin .

__ADS_1


"Eee....presdir King , apa anda membutuhkan sesuatu ." Amin mencoba untuk merubah topik pembicaraan . Beranjak dari tempat duduknya dan menawarkan sesuatu .


King ingin mengatakan sesuatu tapi tatapan matanya tersangkut pada tangan Amin yang terbalut perban .King mengerutkan dahinya .


"Terluka ." gumam King .


Amin mengerti dan paham dengan gumaman King . Ia segera menyembunyikan tangan nya ke belakang badan nya .


"Tidak apa apa , hanya luka biasa ." ucap Amin .


King tidak puas dengan jawaban Amin . Ia segera meraih tangan Amin dan memeriksanya karena panik tanpa sengaja ia menarik terlalu kasar .


"Ah...


Amin meringis menahan sakit dari tarikan tangan King . Sampai sampai air matanya akan jatuh . King menatap nya dengan tatapan dingin . Sontak Amin segera menunduk tak berani menatap tatapan itu .


Tanpa bicara King ingin membuka perban itu dan Amin menghalangi dengan tangan satunya .


"Presdir King ,apa yang akan anda lakukan ?


King tidak menghiraukan pertanyaan Amin , ia tetap terus membuka perban itu .ketika perban telah terbuka semua , yang mulanya hanya luka lecet kini menjadi luka yang melebar , berair dan memerah . Spontan Amin menarik tangan nya dan ia tiup tiup karena terasa perih dan panas .


King langsung mengeluarkan ponselnya dan menghubungi seseorang ." cepat datang ke kantor aku , aku beri kamu waktu tiga puluh menit ." ucap King langsung mematikan telepon nya . Bahkan tidak memberi waktu lawan bicaranya .


Sambil masih meniup niup lukanya amin melirik King ." Apa sebenarnya yang akan di lakukan oleh dia .? Tidak mungkin kan dia memanggil seseorang untuk mematahkan tangan aku , aku masih ingin bekerja untuk membayar hutang ." gumam Amin dalam hati .ia benar benar sedang perang batin .

__ADS_1


Tatapan mata yang begitu dingin benar benar membuat aliran darah Amin membeku . Hal itu membuat dirinya seperti seorang tersangka yang telah melakukan kesalahan yang amat fatal .


"Ikut ke ruangan aku ." ucap King dan meninggalkan Amin . Amin hanya bisa menelan ludah dengan sarat , ingin hati menolak ajakan King . Tapi di bawah alam sadar kakinya malah melangkah mengikuti langkah King keluar dari ruangan kerjanya .


__ADS_2