
"Tuan , bagaimana dengan kedua penculik itu ." tanya Haris kepada King .
King terdiam sejenak , pandangan nya masih tertuju pada Amin ." Tangkap mereka ."
"Baik Tuan ." jawab Haris yang langsung mengeluarkan ponselnya dan mengaktifkan Gps yang terpasang di antara koper koper uang yang di bawa lari oleh Abraham , tentu semua telah di rencanakan oleh king sebelumnya . Ada tiga buah koper yang telah di pasang microcip .
Mereka yang telah berani mengancamnya atau mengusik ketenangan nya tidak akan berakhir dengan baik , sejak awal memang ia tidak ingin membiarkan mereka pergi .
"Sudah dapat ." Haris tersenyum.puas setelah menemukan keberadaan kedua penculik itu . Lalu dia membagi tugas kepada Bodyguardnya .
"Kalian separuh ikut dengan saya dan separuh lagi ikut Tuan muda ke rumah sakit ." ucap.Haris .
"Siap ."
Haris segera masuk ke dalam mobil." Tuan kami akan segera membawa mereka ke hadapan Tuan ." ucap haris sebelum berangkat .
"Jangan kembali tanpa membawa mereka ." ucap King
King membawa Amin ke rumah sakit dan menempatkannya di ruang vvip .
Keesokan harinya Amin membuka matanya secara perlahan . Dan menemukan dirinya berada dalam ruangan yang bernuansa putih , ia sadar itu adalah rumah sakit yang pekat dengan aroma disinfektan
"Rumah sakit ." Amin mendudukan dirinya . Tiba tiba sudut matanya menangkap seseorang sedang tertidur di sofa dalam posisi duduk dengan tangan sedekap .
"Presdir King ?
Pikiran Amin kembali melayang pada saat dirinya masih terikat di sebuah kursi dan kepalanya di tutup oleh kantong hitam . Di mana ia mendengar langkah kaki dan seseorang memanggil namanya .
"Jadi itu bukan halusinasi ?
Amin kembali berbaring tapi ia sengaja menghadap ke arah King tertidur , agar bisa memandang sosok King yang tertidur .
"Dia benar benar datang ,menyelamatkan aku , ini kali keduanya ."
"Sampai kapan kamu terus akan menatapku ? Sangat tampan kan ." Tiba tiba King sudah membuka matanya .Amin yang terkejut segera menarik bantalnya dan menutup wajahnya .kedua pipinya sudah agak memerah karena menahan malu , sudah ketahuan sedang memperhatikan diam diam .
"Ini memalukan apa dia sudah bangun sejak tadi ? ." Amin merutuki diri sendiri di dalam bantal . Tak lama kemudian Amin merasakan suasana hening .
__ADS_1
"kok diam saja sekarang ." Amin mengerutkan kening karena suasana sepi ia mencoba mengintip dari celah bantal . Tapi tidak menemukan nya
"eh kemana dia .?
" kamu mencariku ?"
Sangat mengejutkan tidak tau sejak kapan king sudah naik ke atas ranjang . Amin menarik wajahnya ke atas dan King semakin merangkak mendekat
"Pres...presdir King kita akan jatuh bila kamu tidak segera turun ." ucap Amin
King mengulas senyum nya ," ini ruangan vvip , bahkan tidak akan jatuh bila di gunakan tiga orang ,sekarang apa yang perlu kamu khawatirkan .?
"A....aku
 Suasana hati King saat ini sedang dalam keadaan bahagia ,belum sempat amin menyelesaikan kata katanya ponsel King telah berdering , king melihat siapa yang sedang menghubunginya .raut wajahnya jadi kesal
" Haris dia pengangu ."
"hallo ."ekspresi wajah King sangat tenang saat menerima telepon dari haris . Tapi tahap demi tahap berubah jadi serius .seiring kalimat yang di sampaikan oleh Haris . Dia segera turun dari atas ranjang .
Amin tidak tau apa yang di katakan oleh king " jangan sampai terlepas .
"kamu teteplah di sini , aku akan segera kembali ." king memegang puncak kepala Amin . mengelus nya sekali lalu berjalan keluar ruangan .
Meski gerakan itu spontan , tapi ada perasaan hangat yang di rasakan oleh Amin . Jantungnya berdegup kencang , dan ada perasaan aneh yang tidak bisa di ungkapkan .
"Amin ada apa denganmu , bukankah kamu ingin menjaga jarak darinya .?," amin kembali mengingatkan batasan di antara dirinya dan King .
Namun kenyataan benar benar berkata lain . Bukan nya semakin jauh tapi mereka malah semakin dekat .
Drt.....drt...
Tiba tiba ponsel yang ada di atas nakas nya bergetar . Amin melihat ternyata ponselnya , bibi indah yang menghubunginya .
"Bibi indah pasti sudah mengkhawatirkan aku ." gumam Amin .
"Hallo bi , maaf semalam tidak bisa pulang dan tidak bisa mengabari bibi ." ucap Amin .
__ADS_1
"kamu baik baik saja kan ." tanya bibi indah . Amin menelan ludahnya susah payah dan menceritakan apa yang telah terjadi pada bibi indah .agar bibi indah tidak kawatir .
"Bibi jangan khawatir , aku baik baik saja , titip Maxsim ya bi ." ucap Amin .
Tapi tidak di sangka , setelah tau dirinya ada di rumah sakit ,satu jam kemudian bibi indah datang bersama Maxsim . Amin tidak bisa berkata apa apa .ia hanya bisa menatap bibi indah dengan bingung .
Bibi indah paham dengan tatapan Indah , bibi indah nyengir kecil." Maxsim rewel terus sejak kemarin malam . Perasaan bibi juga tidak enak , nyatanya kamu benar benar mendapat bencana .Dia terus merengek ingin bertemu denganmu , bibi tidak tega melihatnya terus menangis ."
Amin menghela nafas dia mengulurkan tangan nya yang kemudian di sambut dengan gembira oleh Maxsim .
"Mama sakit ." tanya Maxsim dengan polosnya .
"Mama sudah sehat . Axsim tidak boleh nakal ya sama nenek indah .? Katanya Axsim anak baik .?." Amin mengelus kepala Maxsim sambil memberi pengertian .
Maxsim matanya berkaca kaca . " Axsim anak baik , Axsim tidak nakal lagi , janji ." ucap Maxsim sambil menjulurkan jari kelingking nya dan di sambut oleh Amin dengan jari kelingking juga dan ibu jari keduanya bertemu sebagai stempel .
"Ya mama percaya nanti kalau mama sudah pulang kita beli eskrim ya ." ucap Amin .
"Es krim Vanilla ." Maxsim langsung bersorak gembira . Bibi Indah dan Amin tertawa melihat kegembiraan maxsim .
Keluarga kecil itu berbincang bersama .tak j!rang pula bercanda . Saking asyiknya tidak terasa mereka ngobrol sudah hampir tiga jam berada di bangsal vvip Amin .
Bibi indah melihat jam di tangan nya ia seperti melupakan sesuatu ." Ini sudah hampir jam dua belas Min . Bibi harus pulang . Karena siang ini akan datang tamu yang akan menyewa baru di salah satu kontrakan ." ucap bibi indah .
"Tidak apa apa bi , maaf aku yang sudah merepotkan bibi . Nanti aku akan segera pulang kalau dokter sudah mengijinkan nya ." ucap Amin .
"Baiklah ." bibi indah mengangguk kecil sambil melihat Maxsim yang sepertinya berat untuk berpisah dengan Amin .
"Axsim pulang dulu ya sama nenek . besok mama pasti sudah kembali kok ." ucap Amin untuk membujuk Maxsim .
"Mama biar istirahat dulu di sini . Maxsim tunggu mama di rumah sama nenek ya ." tambah bibi indah sambil menurunkan Maxsim dari atas ranjang .
Maxsim sangat patuh ia tersenyum lebar sambil melambaikan tangan nya kepada amin .
"Mama cepat sembuh ya , Axsim tunggu di rumah ." ucap maxsim Amin tersenyum dan mengangguk .
Maxsim dan bibi indah pergi meninggalkan ruangan amin dan berjalan di lorong rumah sakit . Di sana bibi indah melihat rombongan pria berseragam hitam . Dan salah satunya berpakaian rapi dengan sosoknya tinggi semampai , gagah nan tampan dan berjalan paling depan .
__ADS_1